Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
The Guardians Of Dark And Light

The Guardians Of Dark And Light

Arcadia | Bersambung
Jumlah kata
30.3K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / The Guardians Of Dark And Light
The Guardians Of Dark And Light

The Guardians Of Dark And Light

Arcadia| Bersambung
Jumlah Kata
30.3K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
FantasiIsekaiBalas DendamSihirReinkarnasi
Richard Alaric adalah seorang pangeran dari kerajaan Eria dan putra kedua dari raja Leonard Alaric dan Elena yang merupakan seorang budak. Richard adalah seseorang yang berbakat dalam magic maupun ilmu pedang. Sayangnya, penindasan dan tekanan dari Putra Mahkota anak dari ibu tirinya sekaligus ratu kerajaan Eria membuat Richard menjadi sosok pangeran tak berguna. semakin hari penindasan itu semakin menjadi-jadi hingga pada akhirnya Richard terbunuh oleh Theo dan ksatria bawahannya. Lalu, kesempatan pun datang, Richard kembali hidup pada saat dia berumur 10 tahun. "aku akan membalaskan dendamku pada kalian berdua!!".
Bab 1

Dia adalah Richard Alaric, Pangeran dari kerajaan Eria. Anak dari Raja Leonard Alaric dan mantan budak yang dinikahi yang mulia raja, Elena. Di lain sisi, juga memiliki Ibu tiri yang merupakan seorang ratu kerajaan Eria bernama Adela Alaric. Dia memiliki seorang anak yang merupakan putra mahkota bernama Theo Alaric.

Theo dan ibunya Adela sangat membenci kehadiran aku dan juga ibuku yang merupakan seorang budak.

Adela begitu sering menghina Elena, dan melakukan berbagai tindakan jahat untuk menghancurkan ibuku hingga berakhir meninggal di racuni oleh salah satu pelayan suruhannya.

Begitu pun Richard yang setiap harinya di rundung dan di siksa sang putra mahkota, Theo Alaric. Sering kali Theo mengunjungi mansionnya hanya untuk melakukan segala macam pembulian, penyiksaan, dan penghinaan kepada Richard hanya untuk bersenang-senang.

Sejak kecil Richard di tekan Adela dan Theo agar ia tak memiliki kesempatan untuk mempelajari berbagai macam pengetahuan. Hingga pada akhirnya Richard di kenal luas sebagai pangeran pecundang.

Malam ini umurnya tepat 40 tahun. Tanpa kemampuan magic dan ilmu pedang yang hebat, tanpa pengetahuan yang luas. Richard hanya berdiam di mansion lusuh mengasingkan diri dari dunia.

Seperti biasanya, pintu terbuka dengan keras. Theo masuk bersama para ksatrianya.

"Orang rendahan dengan darah budak di tubuhmu membuatku ingin membunuhmu setiap harinya." Ujar Theo dengan pandangan penghinaan. Tangannya memegang pipiku, membuatku terpaksa melihat wajah busuknya.

"Theo, maafkan aku," ucap Richard memohon.

"Kau benar-benar menjijikkan setiap kali aku melihatmu," ucap Theo dengan tatapan penuh kebencian.

Theo melepaskan tangannya dari Richard, lalu menendang perutnya dengan sangat keras.

"Dasar bajingan menjijikkan! Hancurkan dia seperti biasanya!" perintahnya pada para bawahannya.

Para bawahannya langsung mengerumuni, memukul, juga menendang Richard. Mereka bahkan tak perlu menggunakan sihir mau pun ilmu bela dirinya hanya untuk menyiksa Richard.

Semakin lama Richard di pukuli, semakin kabur penglihatannya, rasa sakitnya semakin tak bisa ditahan, darah bercucuran dari sekujur tubuh, bahkan wajahnya sangat sulit di kenali karena banyaknya lebam dan luka.

"Cukup!! Kita sisakan untuk besok." perintahnya dengan ekspresi muka yang puas setelah menyiksaku.

Theo pun pergi dari kamar Richard, bahkan pelayan pun tak sudi merawatnya.

Richard terbaring sendirian di lantai kamar dengan tubuh penuh luka dan lebam.

"Theo, kau harus merasakan apa yang aku rasakan" ucapnya dengan suara yang lemah.

Kesadaran Richard kian memudar, aroma darah di tubuhnya semakin menghilang. "Ah... Jadi begini akhir dari hidupku," pikirnya.

Ditengah kesadaran yang menghilang sepenuhnya, Richard tiba tiba terbangun. Ia membuka mata di kasur empuk, melihat sinar matahari yang menyelinap masuk dari balik jendela kamar.

Richard duduk dan melihat tubuh bersih tanpa luka, tanpa rasa sakit, dan terlihat begitu kecil.

"Tunggu, apa yang terjadi??" Tanya Richard kebingungan.

Richard bangun dari kasur lalu berjalan ke depan cermin.

"Apakah aku kembali?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Ku lihat tanggal di kalender.

"Ini masih tahun 3015 tahun sihir. Apakah aku kembali ke umur 17 tahun?"

Masih dalam kebingungan, tiba-tiba pintu kamar terbuka, seseorang masuk membawa nampan dengan sepasang cangkir dan teko di atasnya. Aroma dari dalam teko menyebar ke seisi ruangan, aroma teh yang sangat Richard kenal.

"Oh Arnold?" tanyanya terkejut, tapi ada rasa bahagia yang mengalir. Sosok pria berumur 30 tahun dengan wajah teduhnya. Arnold, dialah pelayan setia Richard.

"Tuan muda, ada apa? Apakah aku melakukan kesalahan?" jawab Arnold kebingungan.

"Tidak, tidak ada yang salah," jawabnya.

Air mata menetes tanpa ia sadari. Arnold mendekat, duduk berjongkok di hadapan Richard lalu menghapus air matanya.

"Ada apa tuan muda? Apakah semalam anda bermimpi buruk?" Tanyanya dengan penuh kelembutan.

"Iya, mimpi yang sangat buruk." jawab Richard dengan air mata semakin deras.

"Tak apa, tuan muda. Sekarang semuanya sudah terlewati. Mari duduklah, akan kutuangkan teh kesukaanmu," ucap Arnold menenangkan.

Richard duduk di sofa, Arnold menuangkan secangkir teh hangat dengan aroma dan rasa yang selalu Richard rindukan di kehidupan sebelumnya. Arnold membawakannya ke meja.

"Silahkan di nikmati, tuan muda.." serunya.

Richard mengambil cangkirnya, menghirup seteguk teh hangat itu.

"Ini rasa terbaik yang pernah ada, Arnold."

"Terima kasih, tuan muda." jawabnya dengan senyum hangatnya.

Richard bangun dari duduknya karena teringat akan sesuatu.

"Arnold, bukankah hari ini harusnya jadi hari kedatangan raja dari kerajaan Elf?"

"Benar, tuan muda. Ada apa?" tanyanya.

"Arnold, bawakan aku pakaian. Aku harus menyambut tamu kita" ucap Richard sambil memandang jendela dan senyum penuh semangat di wajahnya.

"Tuan? Apa anda yakin? Ini pertama kalinya anda bersikap seperti ini" tanya Arnold terharu.

Richard tak menyalahkannya, di kehidupan sebelumnya, ia memang tak akan bersikap penuh percaya diri seperti ini.

Pagi itu, Richard tiba di gerbang tempat menunggu penyambutan rombongan kerajaan Elf. Disana Theo sudah berdiri bersiap menyambut rombongan kerajaan Elf.

Theo menoleh kebelakang, melihat Richard berjalan penuh percaya diri kearahnya. Wajah terkejutnya membuat Richard makin bersemangat.

"Hei darah rendahan, apa yang kau lakukan disini? Cepat pergi sebelum aku menghancurkanmu!" ucapnya penuh penghinaan dan rasa jijk.

Richard tersenyum.

"Saya juga seorang pangeran, tentu saja saya harus memenuhi kewajibanku sebagai pangeran kerajaan Eria."

Raut wajahnya menegang, tangannya mengepal. Sesaat Theo akan memukul, suara gemuruh langkah kaki para rombongan kerajaan Elf pun terdengar. Theo mengurungkan niatnya, mengambil posisi untuk menyambut sang raja dari ras Elf. Aku pun ikut berdiri di samping Theo. Berdiri berdampingan tapi penuh kebencian.

Richard kembali mengingat bahwa di kehidupannya yang dulu. Kerajaan Elf ini bernama Sylphania dengan Raja para Elf bernama Aelfric Galadriel, Ratunya bernama Nindia Galadriel, dan putrinya yang sangat cantik, Cynthia Galadriel. Nama seorang putri yang nantinya akan menjadi sangat terkenal karena kebijaksanaan dan kecantikannya. Dan hari ini, para tamu terhormat yang bahkan tak pernah Richard temui dulu, hadir di depan matanya.

Kereta pun berhenti, raja elf bersama ratu dan putrinya turun dari kereta. Richard dan Theo sama sama menundukkan diri menunjukkan sikap kehormatan kepada raja, ratu dan putri dari para elf.

Gemuruh terompet dan penghormatan dari para barisan ksatria di kedua sisi jalan membentuk lorong mengiringi penyambutan dari aku dan Theo.

Putri Elf yang kira kira semuran denganku memegang kedua sisi roknya lalu menundukkan dirinya membalas salam hormat Richard.

"Sambutan yang sangat meriah," ucap raja Elf dengan senyuman hangat di wajahnya melihat kedua pangeran dari ras manusia menyambut kehadirannya.

"Yang Mulia, perkenalkan saya Richard Alaric, putra terakhir dari raja Loenard Alaric. Saya merasa sangat terhormat kedatangan raja dari para elf." ucap Richard seraya memberi salam penghormatan.

"Manusia selalu memberikan saya kejutan. Melihat seorang pangeran begitu cakap di usianya yang masih semuda ini membuatku sangat kagum." Ujar Raja Elf memuji.

Richard tersenyum lalu sedikit melirik Theo sebelum akhirnya kembali menatap Raja Aelfric.

"Terima kasih atas pujiannya, yang mulia."

Theo masih dalam rasa terkejutnya, mengepalkan tangan dengan raut wajah memerah menahan amarah.

"Apa-apaan ini? Sejak kapn bajingan ini berubah sejauh ini?" pikir Theo.

Lanjut membaca
Lanjut membaca