

Di sebuah dermaga di bagian tengah negeri ini, Bermula saat langit kelabu menggantung rendah, memayungi dermaga yang nyaris kosong. Bau asin laut bercampur karat dari kapal-kapal tua yang berlabuh menciptakan aroma yang menyengat hidung. Ombak kecil bergulung perlahan, memecah kesunyian yang terasa terlalu aneh untuk sebuah pelabuhan besar. Hanya beberapa burung camar yang melintas, suaranya terdengar melengking dari kejauhan.
Kapten Jeffry berdiri di dek kapal Rante Mario, sebuah kapal ekspedisi besar yang terlihat tangguh, meski usianya tak lagi muda. Matanya tajam menatap ke arah cakrawala yang samar, seolah-olah mencari sesuatu yang tak terlihat. Di tangannya, sebuah peta lusuh tergenggam erat. Garis-garis di peta itu memudar, tetapi Jeffry tahu ke mana arah tujuan kapal ini: Makassar. Sebuah wilayah yang terletak di bagian tengah Indonesia dan tentunya akan melintasi wilayah segitiga bermuda yang telah merenggut lebih banyak nyawa daripada yang bisa dihitung oleh buku sejarah.
Langkah kaki terdengar dari arah dermaga, mengalihkan perhatian Jeffry. Seorang wanita muda berambut panjang yang terikat rapi mendekat. Mantel hitamnya berkibar terkena angin laut yang dingin. Ia membawa sebuah tas kecil di tangan kanannya, sementara langkah kakinya penuh keyakinan, meski sesekali angin mendorong tubuhnya ke belakang.
“Kapten Jeffry, saya ingin bicara dengan Anda.” Ucap wanita muda itu pada sang kapten.
Jeffry memalingkan pandangan, alisnya berkerut tajam. “Apa yang Anda butuhkan?” Suaranya berat dan dalam, seperti gemuruh badai di laut.
“Saya ingin ikut dalam ekspedisi ini. Saya seorang jurnalis. Ini adalah kesempatan yang sangat penting bagi saya untuk mengungkap misteri Segitiga Bermuda.” Ucap wanita itu dengan nada terdengar tegas.
Mata Jeffry menyipit. Ia mengamati wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Segitiga Bermuda bukan tempat untuk seorang jurnalis, Nona. Ini bukan perjalanan wisata. Anda tidak akan bertahan sehari pun.” Ucap Kapten Jeffry sembari memalingkan wajahnya.
Wanita itu nampak speechless dengan mata mengerjap seakan berpikir.
“Saya paham risiko ini. Saya sudah melakukan penelitian selama bertahun-tahun. Orang-orang berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Misteri ini telah merenggut banyak nyawa, termasuk keluarga dan teman-teman dari orang-orang yang menunggu kepulangan mereka.” Ucap wanita itu terdengar tegas.
Jeffry menghela napas panjang. Angin dingin menusuk kulitnya, tetapi ia tidak bergeming. “Saya sudah kehilangan cukup banyak kru di misi sebelumnya. Dan saya tidak akan menambah jumlah korban dengan membawa seseorang yang tidak tahu apa yang dia hadapi.” Balas Kapten Nindar tak kalah tegasnya.
Wanita bernama Salma menggenggam tasnya lebih erat, berusaha menahan emosinya.
“Itulah sebabnya saya ingin ikut. Saya ingin memastikan cerita ini terungkap. Jika saya tidak pergi sekarang, mungkin saya tidak akan pernah mendapatkan kesempatan lagi. Anda tahu bagaimana perasaan keluarga yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai di sana. Saya ingin membawa harapan bagi mereka, Kapten !!?" Jelas Salma dengan tatapan penuh harap.
Jeffry mendekat, tatapannya menembus mata Salma. “Harapan tidak akan menyelamatkan nyawa Anda jika laut memutuskan untuk menelan Anda.” Balas Kapten Nindar dengan nada ringan namun terdengar penuh tekanan pada wanita berparas cantik itu.
Suara stong kapal terdengar di kejauhan, mengiringi keheningan yang muncul di antara mereka. Salma menelan ludah, tetapi tidak memalingkan pandangannya dari mata Nindar.
“Saya akan menemukan cara untuk naik ke kapal ini, dengan atau tanpa izin Anda. Tapi akan lebih baik jika Anda menerima saya secara resmi.” Ucap Salma juga dengan suara pelan seperti berbisik di telinga Kapten Jeffry.
Jeffry mendengus pelan, hampir seperti tawa pendek yang penuh ironi. Ia berbalik, langkah kakinya berat saat menuju tangga dek.
“Jangan mencoba menyusup. Jika Anda melakukannya, saya akan memastikan Anda dikembalikan ke dermaga secepatnya.” Tegas Kapten Jeffry sembari mengacungkan telunjuknya.
Salma tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, memandang punggung Jeffry yang menjauh. Di dalam hatinya, ia tahu pria itu tidak mudah digoyahkan. Tapi ia juga tahu bahwa dirinya tak akan menyerah begitu saja.
Beberapa jam kemudian, suasana dermaga semakin sepi. Malam mulai merangkak naik, membawa dingin yang menusuk tulang. Salma berdiri di sudut dermaga, memperhatikan awak kapal yang sibuk mempersiapkan keberangkatan. Ia sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan.
Dengan langkah hati-hati, Salma berjalan mendekati salah satu awak kapal yang membawa peti-peti besar ke dalam lambung kapal. Ia sudah mempelajari gerak-gerik mereka sejak siang tadi. Ia tahu kapan harus bergerak dan kapan harus bersembunyi.
"Maaf apa stok logistik semuanya sudah di derek ke dalam !!?" Tanya Salma pada awak dengan tegas.
"Semuanya sudah lengkap, bu !?" Ucap awak itu sembari menunduk hormat pada Salma.
"Baik sebelum kapal ini berlayar, aku akan memeriksa untuk memastikan stok logistik yang kita butuhkan. Kamu silahkan kembali bekerja !!?" Ucap Salma sembari berjalan dengan cepat memasuki lambung kapal tempat peti-peti logistik itu tersimpan.
Di dalam lambung kapal, suara mesin yang mulai bergetar menyambutnya. Salma menyelinap masuk ke salah satu ruang penyimpanan kecil, tempat ia bisa bersembunyi sampai kapal benar-benar meninggalkan dermaga. Jantungnya berdegup kencang, tetapi senyum kecil tersungging di bibirnya. Ia tahu bahwa ia sudah selangkah lebih dekat ke tujuan.
"Sepertinya tempat ini aman untuk bersembunyi, semoga saja ABK di kapal ini tidak memergoki aku. Kalaupun ada yang nemeroki aku pastilah kapal ini sudah berada jauh di tengah lautan." Gumam Salma sembari berjongkok di antara tumpukan-tumpukan peti kayu berisi logustik yabg dibutuhkan selama dalam pelayaran.
Di anjungan, Jeffry berdiri di atas ruang kendali, matanya menatap gelapnya laut di depan. “Angkat jangkar !!?” Perintahnya dengan suara tegas.
"Siap kapten !!?" Jawab para kru serempak.
Beberapa kru nampak sigap bekerja sesuai tugas mereka masing-masing hingga Kapal Rante Mario mulai bergerak, meninggalkan dermaga yang kini hanya bayangan samar di kejauhan. Angin laut menerpa wajah Jeffry, membawa serta perasaan ganjil yang menyelinap ke dalam dadanya. Sesuatu tentang perjalanan ini terasa berbeda, tetapi ia tidak bisa menjelaskan apa.
Sementara itu, di bawah dek, Salma duduk di sudut ruangan gelap, merasakan kapal bergerak untuk pertama kalinya. Ia merapatkan mantel ke tubuhnya, mencoba mengusir dingin yang menyelimuti. Perasaan lega bercampur gugup memenuhi pikirannya. Ia tahu, apa yang ada di depan adalah bahaya yang belum pernah ia alami. Tapi ia juga tahu, bahwa ia tidak punya jalan untuk kembali.
"Huh hawa di sini sangat dingin !?" Gumam Salma seakan mengumpat dirinya sendiri.
Di atas gelombang yang bergulung tenang, Rante Mario melaju meninggalkan pelabuhan. Langit berbintang menjadi saksi awal perjalanan mereka menuju Segitiga Bermuda. Jeffry berdiri di geladak dengan tatapan kosong, sementara jauh di bawah sana, Salma memulai langkah pertamanya ke dalam misteri yang akan mengubah segalanya.