Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
raja kartel cocain

raja kartel cocain

vinsmoke adi | Bersambung
Jumlah kata
33.6K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / raja kartel cocain
raja kartel cocain

raja kartel cocain

vinsmoke adi| Bersambung
Jumlah Kata
33.6K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
18+PerkotaanAksiGangsterRajaMafia
SINOPSIS: “Raja Kartel Kokain” mengisahkan kehidupan seorang pria miskin di pedesaan yang melesat menjadi penguasa dunia bawah tanah paling ditakuti di negerinya. Dengan kecerdikan dan ketegasan yang luar biasa, dia membangun kerajaan narkoba yang hampir tak tersentuh hukum, mengendalikan politik, ekonomi, dan teror dengan tangan besi. Namun, di balik kekuasaan dan kekayaan yang melimpah, dia harus terus berlari dari kejaran hukum internasional, berseteru dengan rival-rival kejam, dan menghadapi pengkhianatan dari dalam lingkaran terdekatnya. Kisah ini menelusuri ambisi, keserakahan, cinta, dan pengorbanan seorang “raja” yang naik ke puncak, hanya untuk menyadari bahwa takhta yang dibangunnya dibayar dengan darah, keluarga, dan akhirnya, takdirnya sendiri. ---
prolog

Di dunia yang kejam ini, takdir hanyalah ilusi bagi mereka yang tak berdaya. Realitas sejati adalah pilihan..

dan setiap pilihan meminta pembayaran. Vinsmoke Adi, selama tujuh belas tahun, sudah muak menjadi penonton dalam hidupnya sendiri.

Hari ini, ia akan memilih.

Dan pembayarannya akan ditagih dengan darah..

---

Kabut pagi yang menggantung di antara rimbunnya pepohonan kopi di selatan Jawa bukanlah pemandangan yang romantis.

Bagi Adi, itu adalah selimut yang menyembunyikan kemiskinan yang membusuk.

Butiran embun di daun-daun hijau tua berkilau seperti janji palsu, seperti mata ibunya yang masih berbinar meski tubuhnya terkikis tuberkulosis.

"Lima karung lagi, Nak," suara ayahnya, yang bernama Darmo, pecah seperti kayu lapuk yang patah.

Tangannya yang bergetar ringan..

gejala awal Parkinson yang tak diakui..

menunjuk ke tumpukan karung goni.

"Semoga cukup buat nyicil utang ke tengkulak bulan lalu."

Adi mengangguk, lidahnya terasa pahit.

Lima karung kopi berkualitas teriakan ketiga..

hanya layak untuk pasar lokal.

Di kepalanya, angka-angka berputar liar: lima puluh kilo, sepuluh ribu per kilo, lima ratus ribu rupiah.

Dua ratus lima puluh ribu untuk tengkulak serakah.

Seratus dua puluh lima ribu untuk beras, minyak, garam, dan obat pereda batuk ibunya. Sisanya..? Untuk menggerogoti utang yang seperti ular, memakan ekornya sendiri namun tak pernah kenyang..

"Tidak akan pernah cukup, Pak," gumamnya, suaranya tenggelam dalam desir angin yang menyapu kabut.

Sepanjang perjalanan turun dari bukit dengan gerobak kayu yang berderit, Adi memandangi rumah-rumah kayu di desanya.

Atap-atap seng yang berkarat, dinding bambu yang reyot, anak-anak berlarian dengan baju lusuh.

Ini bukan kehidupan...

Ini penantian akan kematian yang lambat.

Di rumahnya di ujung desa, aroma obat tradisional dan keputusasaan memenuhi ruang tamu sempit.

Ibu Adi, Sari, terbaring di dipan bambu. Napasnya berbunyi seperti kertas

di gosok-gosok, setiap tarikan nafas adalah pertarungan.

Seminggu lalu, dokter dari puskesmas kecamatan hanya menggeleng.

"Butuh rumah sakit. Butuh antibiotik khusus. Butuh uang yang banyak."

"Berapa banyak, Dok..?" tanya Adi waktu itu.

Dokter itu menghindari pandangannya. "Puluhan juta, Nak."

Sungguh itu Angka yang mustahil.

dan Mimpi buruk yang terjaga.

---

Dua jam kemudian, di pasar desa yang ramai dengan kesibukan semu.

Adi duduk di tepi truk tua yang mengangkut nasib keluarganya dalam bentuk

karung-karung kopi.

Matanya tidak pada transaksi jual-beli, tetapi pada seorang pria yang duduk santai di balik warung kopi sederhana..

Ia adalah Rico, mantan TKI yang pulang dari Malaysia tiga tahun lalu.

Pulang bukan dengan tangan kosong, tetapi dengan arloji emas yang berkilau di pergelangan tangan kanannya, sepatu kulit Italia yang tak ada debu menempel, dan senyum yang tahu terlalu banyak.

Di desa ini, di mana kemewahan tertinggi adalah sepeda motor Honda Grand tua, Rico adalah teka-teki yang menarik..

dan berbahaya.

Pria itu menangkap pandangan Adi.

Ia mengangkat cangkir kopinya sedikit, senyum tipis melengkung di bibirnya seperti pisau yang baru diasah.

Undangan tanpa kata.

Malam itu, ketika desa tertidur dalam kemiskinannya, Adi melangkah ke warung Rico yang masih menyala satu lampu neon.

"Sudah kuduga kau akan datang," sapa Rico tanpa menoleh, sedang membersihkan gelas. Suaranya dalam, berkarat seperti besi tua.

"Duduklah."

Udara di warung itu terasa berbeda.

Lebih padat. Lebih berbahaya.

"Kopi..?" tanya Rico.

"Tidak, terima kasih."

Rico tetap menuangkan secangkir minuman hitam pekat, meletakkannya di depan Adi. "Minumlah. Kau akan butuh ini."

Setelah Adi menyesap..kopinya pahit, kuat, seperti racun yang perlahan-lahan..

Rico menyalakan rokok kretek.

Asap membentuk pola-pola hantu di udara.

"Kau lihat bapakmu hari ini..?"

mulai Rico, matanya menatap tajam.

"Bekerja dari subuh sampai maghrib, hasilnya cukup untuk bertahan hidup satu hari.

Itu bukan hidup, kawan..

Itu sistem penjara yang dirancang sempurna. Kerja, bayar utang, sakit, mati. Dan mereka menyebutnya takdir."

"Lalu alternatifnya..?"

tanya Adi, mencoba menahan getar suaranya.

Rico membuka laci kecil di bawah meja. Gerakannya lambat, penuh teater.

Dari dalam laci, ia mengeluarkan kantong plastik bening seukuran telapak tangan.

Di dalamnya, butiran-butiran kecil berwarna cokelat keemasan bergerak seperti pasir halus ketika dipindahkan.

"Kau tahu ini apa..?"

Adi menggeleng, tetapi jantungnya berdetak kencang.

Ia pernah mendengar bisik-bisik

di warung-warung, tentang "emas hijau" yang tumbuh di daerah pegunungan terpencil, tentang orang-orang yang tiba-tiba kaya, dan tentang mayat-mayat yang ditemukan di sungai dengan tanda-tanda tertentu.

"Emas hijau," bisiknya, hampir tak terdengar.

Rico menggeleng, senyumnya semakin lebar. "Bukan, sobat.. Ini lebih berharga dari emas. Ini coca paste.

Bahan baku sesuatu yang di kota-kota besar mereka sebut kesenangan, pelarian, atau kutukan..tergantung sisi mana kau berdiri."

Ia mendorong kantong itu lebih dekat.

"Di laboratorium di kota, setelah diolah, satu kilogram bahan baku ini bernilai setara dengan..." Rico berhenti, menikmati ketegangan di wajah Adi,

"seluruh kebun kopi di desamu. Bahkan mungkin seluruh kecamatan."

Angin malam berdesir melalui celah-celah dinding kayu warung.

Suara jangkrik di luar terdengar seperti detak jam waktu yang tak sabar, menghitung mundur menuju keputusan yang akan mengubah segalanya.

"Kenapa kau memilihku..?" tanya Adi, matanya tak lepas dari kantong itu.

Dari benda yang bisa menyelamatkan ibunya. Dari benda yang bisa menghancurkan hidupnya.

"Tiga alasan," jawab Rico, menghabiskan rokoknya.

"Pertama, kau pintar. Aku perhatikan caramu menghitung, caramu melihat peluang...

Kedua, kau lapar...bukan lapar perut, tapi lapar akan perubahan.

Dan ketiga..." Ia menarik napas dalam,

"yang paling penting, aku lihat matamu.

Mata yang sudah muak dengan penderitaan.

Mata yang sudah siap berkompromi dengan iblis sekalipun asal bisa mengangkat derajat keluarganya."

Di luar, dari kejauhan, cahaya lampu minyak dari rumah Adi berkedip-kedip.

Adi bisa membayangkan ibunya terbaring, batuk-batuk dengan tubuh yang semakin kurus.

Adik bungsunya, Rina, delapan tahun, mungkin menangis lagi karena lapar.

"Bang, aku mau makan daging," pintanya seminggu lalu dengan mata besar yang polos. Adi hanya bisa mengusap kepalanya..

"Risikonya?" tanya Adi, suaranya kini tegas, seperti baja yang baru ditempa.

Rico mematikan puntung rokoknya dengan gerakan pasti.

"Tiga kemungkinan:

penjara seumur hidup...

Mati di ujung senjata rival...

Atau hidup kaya raya dengan bayangan ketakutan yang tak pernah pergi."

Ia menatap Adi. "Tapi lihat sekelilingmu sekarang, sobat. Apa bedanya..? Hidupmu sekarang juga penjara..penjara kemiskinan.

Lambat laun juga mati..

mati karena penyakit, mati karena putus asa. Setidaknya pilihanku memberi peluang untuk mati dengan perut kenyang dan keluarga terselamatkan..."

Diam.

Sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh tahun.

Adi mendengar detak jantungnya sendiri, suara angin, suara jangkrik, dan dari kejauhan, suara batuk ibunya yang seolah menggema di kepalanya.

"Berapa modal awalnya..?"

Rico tersenyum lebar, giginya kuning oleh nikotin. "Aku yang modal. Kau yang tanam, rawat, panen.

Hasilnya bagi dua..lima puluh lima puluh. Tapi ada satu syarat, dan ini non-negosiable."

"Apa..?"

"Begitu kau masuk," kata Rico, suaranya tiba-tiba rendah dan berbahaya seperti desis ular, "tidak ada jalan keluar.

Satu-satunya cara keluar adalah masuk tanah. Tertutup rapat. Paham..?"

Adi menatap secangkir kopi di hadapannya. Cairan hitam itu memantulkan bayangannya sendiri..wajah kurus dengan mata yang

tiba-tiba terlihat sepuluh tahun lebih tua.

Ia melihat bayangan ayahnya yang bungkuk, ibunya yang sekarat, adik-adiknya yang polos.

"Untuk keluarga," bisiknya pada dirinya sendiri, doa sekaligus kutukan.

Lalu, dengan gerakan yang akan ia ingat dalam mimpi buruk dan mimpi indahnya di tahun-tahun mendatang, ia meraih kantong plastik itu.

Beratnya tak lebih dari setengah kilogram. Tapi di tangannya, terasa seperti memegang takdir...

takdir yang akan ia tulis sendiri, dengan tinta darah dan kokain.

"Aku masuk..."

Dua kata. Sederhana. Biasa. Tapi begitu keluar dari mulutnya, udara di warung itu seakan berubah selamanya.

Rico mengangguk perlahan, seperti pendeta yang baru saja menerima pengikut baru ke dalam agama yang gelap.

"Selamat datang di dunia nyata, kawan"

---

Tiga minggu kemudian, di ladang tersembunyi di balik bukit yang bahkan kambing gembala pun jarang melintas, tunas-tunas hijau muda dengan daun oval khas mulai menembus tanah vulkanik yang subur.

Tanaman itu tumbuh dengan kecepatan yang tak wajar, liar, haus akan sinar matahari dan kehidupan.

seperti penanamnya.

Adi berdiri di tengah ladang terlarang seluas setengah hektar itu, tangan terkepal.

Udara pagi di sini terasa berbeda dari udara di kebun kopi..lebih tajam, lebih berbahaya, lebih penuh janji.

Di saku celananya, ia menggenggam uang lima juta rupiah uang muka dari Rico.

Cukup untuk membawa ibunya ke rumah sakit di kota besok pagi.

Harapan.

Ketakutan.

Ambisi.

Tiga rasa itu berperang di dadanya.

Dari kejauhan, di jalan tanah berdebu yang melingkari bukit, mobil pick-up berwarna putih dengan strip hijau dan tulisan "POLISI" samar terlihat mendekat.

Jantung Adi berhenti sejenak, lalu berdetak kencang seperti genderang perang.

Pertemuan pertama dengan hukum, pikirnya, keringat dingin membasahi punggungnya. Ini awal dari akhir.

Tapi yang keluar dari mobil bukan polisi berseragam lengkap dengan senjata.

Hanya seorang pria berpakaian preman sederhana..

kemeja lengan pendek dan celana kain..

dengan kumis tebal yang terpelihara rapi dan tatapan tajam seperti elang...

Pria itu melambai pada Rico yang sudah berdiri di pinggir jalan, menunggu.

Rico menoleh ke arah Adi yang bersembunyi di balik pepohonan, memberikan anggukan kecil, senyum tipis di bibirnya.

"Semuanya terkendali," bisik Adi pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hati yang berdebar kencang.

Tapi tangannya gemetar.

Ia tidak tahu..

bahwa hari ini adalah hari terakhir hidupnya sebagai Vinsmoke Adi,

anak petani kopi yang jujur, remaja yang hanya bermimpi bisa menyekolahkan

adik-adiknya dan menyembuhkan ibunya.

Besok, dan semua esok setelahnya, ia akan berubah menjadi seseorang yang berbeda.

Seseorang yang akan ditakuti di lorong-lorong gelap dan kantor-kantor mewah.

Seseorang yang akan dibenci oleh hukum dan dicintai oleh mereka yang ia lindungi.

Seseorang yang akan dikenang bukan sebagai Adi, tetapi sebagai RAJA.

Dan setiap raja, sebagaimana ia pelajari nanti, memulai kekuasaannya dengan satu langkah kecil menuju kegelapan.

---

Dan...

Pria berkumis tebal itu ternyata adalah AKP Hendrawan, kepala polisi sektor setempat.

Transaksi pertama terjadi di dalam mobil polisi itu sendiri..

sekantong coca paste ditukar dengan lima puluh juta rupiah tunai.

Uang yang cukup untuk menyelamatkan nyawa ibu Adi. Tapi malam itu, ketika Adi pulang dengan kantong uang di pelukan, seorang rival dari desa sebelah..

anak buah bandar narkoba wilayah kota

telah menunggu di depan rumahnya dengan golok di tangan dan mata yang penuh darah. "Rico kirim salam," kata pria itu, sebelum mengayunkan goloknya...

Bersambung...

Lanjut membaca
Lanjut membaca