

Hujan badai mengguyur puncak tebing Marunda dengan brutal, seolah alam pun murka melihat pengkhianatan yang sedang terjadi. Arka Adijaya terkapar di tanah berlumpur, napasnya tersengal-sengal di sela batuk darah yang tidak kunjung berhenti. Tulang rusuknya terasa remuk setelah dihantam balok kayu berkali-kali, namun rasa sakit fisiknya tak sebanding dengan perih di hatinya saat menatap sosok pria yang berdiri di depannya.
"Kenapa, Rendy?" suara Arka parau, nyaris hilang ditelan suara guntur. "Aku sudah memberikan segalanya untuk Adijaya Group. Lima tahun aku bekerja bagai budak agar kalian bisa hidup mewah!"
Rendy, sepupu yang selama ini Arka anggap sebagai saudara kandung, hanya menyesap cerutunya dengan tenang. Di bawah payung hitam yang dipegangi anak buahnya, Rendy menatap Arka dengan pandangan yang lebih rendah daripada menatap kotoran.
"Itu masalahnya, Arka," balas Rendy dingin. "Kamu terlalu hebat. Kakek jadi pikun dan mau memberikan tujuh puluh persen saham utama padamu. Padahal kita semua tahu, kamu itu cuma anak pungut yang dipungut dari panti asuhan karena paman kasihan."
Rendy melangkah maju, ujung sepatu pantofel mahalnya menekan luka terbuka di bahu Arka. Arka mengerang kesakitan, tapi ia tetap mencoba mendongak.
"Keluarga Adijaya tidak butuh kecerdasanmu lagi. Kami hanya butuh hartamu. Surat pengalihan aset sudah ditandatangani—yah, meski dengan sidik jarimu yang terpaksa kami ambil saat kamu pingsan tadi," Rendy menyeringai licik. "Malam ini, namamu akan dihapus. Besok, berita akan mengabarkan bahwa Arka Adijaya bunuh diri karena stres akibat korupsi yang sebenarnya kami yang lakukan."
"Kalian... monster!" kutuk Arka.
Rendy tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Arka. "Di dunia ini, yang Maha Kaya adalah yang Maha Kuasa, Arka. Dan kamu? Kamu hanya sampah yang sudah tidak berguna."
Rendy memberikan isyarat kepada dua orang algojonya. Tanpa banyak bicara, mereka menyeret tubuh lemah Arka ke bibir tebing. Arka mencoba melawan, tapi tenaganya sudah habis. Dengan satu dorongan kasar, tubuhnya terlempar ke kegelapan jurang yang sangat dalam.
"Selamat tinggal, Kakak sepupuku yang malang," sayup-sayup Arka mendengar teriakan Rendy sebelum suara angin dan hantaman air sungai di bawah melenyapkan segalanya.
BRAKK!
Tubuh Arka menghantam bebatuan sungai yang tajam dengan keras. Dinginnya air langsung meresap ke dalam luka-lukanya. Ia merasa setiap tulang di tubuhnya pecah. Kesadarannya mulai memudar, dan di saat ia sudah pasrah pada maut, tangan kanannya yang bersimbah darah menyentuh sebuah benda keras di bawah lumpur.
Sebuah kotak kayu hitam kecil dengan ukiran aneh terbuka karena tetesan darah Arka. Tiba-tiba, sebuah cahaya emas gelap meledak dari dalam kotak itu dan merasuk ke dalam dadanya.
[Ding! Deteksi Inang dengan Tingkat Kebencian Maksimal Terdeteksi!]
[Mensinkronisasi Sistem Penyiksaan Maha Kaya... 100%!]
[Memulai Restorasi Tubuh Vajra... Harap Tahan Rasa Sakit!]
Arka yang tadinya hampir mati tiba-tiba merasakan panas yang luar biasa membakar seluruh tubuhnya. Rasanya seperti dibakar hidup-hidup dari dalam. Tulang-tulangnya berderak, menyatu kembali dengan struktur yang jauh lebih kuat. Jantungnya berdenyut kencang, memompa darah yang kini mengandung energi murni.
[Restorasi Selesai!]
[Tuan: Arka Adijaya]
[Level: 1 (Kekuatan Fisik Manusia Super)]
[Kekayaan Awal: Rp 10.000.000.000,00 (Sepuluh Miliar Rupiah)]
Arka tersentak bangun. Ia tidak lagi merasakan sakit. Ia meraba dadanya yang tadi remuk, kini justru terasa sangat kokoh. Ia berdiri di tengah aliran sungai yang deras, matanya yang dulu lembut kini memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
BIP!
Ponselnya yang hancur di saku celana tiba-tiba menyala kembali dengan sendirinya. Sebuah pesan singkat muncul di layar yang retak.
"Saldo Masuk: Rp 10.000.000.000,00. Selamat menggunakan, Tuan."
Arka menyeringai. Sebuah seringai dingin yang bisa membuat nyali siapa pun menciut. Ia baru saja menyadari bahwa ia bukan lagi Arka yang lemah dan pemaaf. Arka yang itu sudah mati terkubur di dasar sungai ini.
"Sepuluh miliar?" gumam Arka. Suaranya kini terdengar berat dan penuh wibawa. "Ini bahkan tidak cukup untuk membeli nyawa satu orang keluarga Adijaya."
Ia menatap ke arah tebing yang menjulang tinggi. Di atas sana, keluarga Adijaya mungkin sedang merayakan kematiannya dengan sampanye mahal. Mereka mengira telah memenangkan segalanya.
"Rendy, Siska, dan kalian semua..." Arka meremas sebuah batu besar di pinggir sungai. Batu keras itu hancur menjadi debu hanya dalam hitungan detik. "Nikmatilah kekayaan yang kalian curi dariku. Karena setiap sen yang kalian gunakan sekarang adalah hutang nyawa yang akan kutagih dengan cara yang paling menyakitkan."
Arka mulai berjalan keluar dari sungai. Langkahnya mantap, setiap injakannya meninggalkan bekas di atas batu. Sistem di kepalanya terus memberikan informasi tentang "misi" pertamanya.
[Misi 1: Kembali ke Kota dan Ambil Alih Perusahaan Saingan Adijaya!]
[Hadiah: Keterampilan Intimidasi Dewa!]
"Identitas baru?" Arka meraba wajahnya yang kini terasa lebih tajam dan tampan dengan aura yang sangat dominan. "Tidak perlu. Aku ingin mereka melihat wajah orang yang mereka bunuh ini kembali, tapi dalam bentuk mimpi buruk yang paling nyata."
Arka Adijaya telah bangkit. Bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penyiksa bagi mereka yang merasa Maha Kaya di atas penderitaan orang lain.
Malam itu, di bawah guyuran hujan, seorang pria dengan pakaian koyak namun dengan tatapan mata seperti predator melangkah menuju jalan raya. Takdir baru telah dimulai, dan kota ini tidak akan pernah sama lagi.
Arka akan menuju ke sebuah diler mobil mewah untuk membeli kendaraan pertamanya dengan uang 10 Miliar tersebut. Bagaimana reaksi orang-orang saat melihat seorang "gelandangan" berdarah-darah masuk dan ingin membeli mobil paling mahal secara tunai? Dan siapa orang pertama dari masa lalu Arka yang akan ia temui secara tidak sengaja di sana?