Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sang Perkasa Penakluk Dunia

Sang Perkasa Penakluk Dunia

Ainin | Bersambung
Jumlah kata
33.7K
Popular
1.2K
Subscribe
387
Novel / Sang Perkasa Penakluk Dunia
Sang Perkasa Penakluk Dunia

Sang Perkasa Penakluk Dunia

Ainin| Bersambung
Jumlah Kata
33.7K
Popular
1.2K
Subscribe
387
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurHaremPendekarPria Dominan
Alvaro Dinarta adalah murid terakhir dari Perguruan Naga Langit yang kini berada di ambang kehancuran. Gurunya yang cantik jelita namun ringkih, Arum Sekar, memaksanya pergi demi menyelamatkan diri dari kepungan sekte musuh. Berbekal wasiat terakhir, Alvaro menemui sosok mitos, Dewi Naga, di hutan terlarang. Bukannya pedang pusaka atau kitab sakti biasa, Alvaro justru diwarisi sebuah pusaka kuno: Permata Naga Pemikat Wanita. Permata ini memberikan karisma yang tak tertahankan dan energi spiritual tanpa batas yang hanya bisa diperkuat melalui hubungan intim dan penaklukan musuh. Kini, Alvaro kembali ke dunia kota dan persilatan untuk membalas dendam, membangun kembali kejayaan perguruannya, dan menciptakan "kekaisaran" wanitanya sendiri.
Bab 1

Langit di atas puncak Gunung Meru tampak memerah, seolah-olah awan sedang berdarah. Bau hangus kayu terbakar bercampur dengan aroma amis darah yang menusuk hidung.

Di aula utama Perguruan Naga Langit yang kini luluh lantak, Alvaro Dinarta berlari cepat dan menghentakkan lututnya ke lantai, lalu dengan tangan gemetar dia mendekap tubuh wanita yang paling dihormatinya di dunia ini.

"Guru... Bertahanlah, aku akan menyelamatkanmu..." pintanya lirih dengan wajah panik.

Arum Sekar, wanita berusia tiga puluh tahun yang kecantikannya tak memudar meski wajahnya pucat pasi, terbatuk darah. Napasnya tersengal, namun matanya yang indah tetap menatap Alvaro dengan keteguhan yang memilukan.

"Lupakan niatmu itu. Masih ada waktu, pergilah, Alvaro... lari sekarang juga," bisik Arum, tangannya yang gemetar mengusap pipi murid terakhirnya itu.

"Tidak, Guru! Aku tidak akan meninggalkanmu di sini sendirian menghadapi anjing-anjing Sekte Harimau Hitam!" teriak Alvaro dengan suara serak.

Amarah dan keputusasaan bercampur menjadi satu di dadanya. Melihat bagaimana wanita yang sudah menjaganya sejak umur 13 tahun, kini terbaring dengan luka dimana-mana.

"Aku tidak akan pergi sebelum membunuh mereka semua!" tekannya lagi, penuh ambisi. "Tidak akan kubiarkan mereka menghancurkan kita!"

Arum menggeleng lemah. "Kau tidak mengerti, Alvaro. Mereka menghancurkan perguruan ini bukan hanya untuk membunuhku. Mereka mencarimu. Kau adalah satu-satunya manusia dalam seratus tahun yang memiliki 'Jiwa Naga Murni'. Hanya kau yang memiliki kualifikasi untuk menyatu dengan Permata Naga. Jika mereka menangkapmu, dunia ini akan menjadi neraka di bawah kaki mereka."

Di kejauhan, ledakan energi spiritual merobohkan gerbang luar. Suara tawa jahat para tetua sekte musuh mulai terdengar mendekat.

"Tapi aku tidak mau meninggalkanmu!" sentak Alvaro, wajah marahnya bercampur dengan mata berkaca-kaca.

"Alvaro, dengarkan aku!" Arum mencengkeram kerah baju Alvaro dengan sisa tenaganya, matanya berkilat tajam. "Aku telah menyegel sebagian energi hidupku untuk menahan mereka selama sepuluh menit. Masuklah ke Hutan Kabut Abadi. Cari pohon beringin kembar yang menjaga gua air terjun. Di sana, Dewi Naga Saraswati menunggumu. Mintalah perlindungan, mintalah kekuasaan!"

"Tapi Guru-"

"Pergilah!" Arum mendorong Alvaro dengan dorongan energi terakhir yang membuat pemuda itu terlempar ke arah pintu rahasia di belakang altar. "Hidupmu bukan lagi milikmu sendiri, Alvaro. Kau adalah raja yang tertidur. Bangunlah, dan balas dendam untukku!" teriak Arum lalu terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah.

Dengan air mata yang mengalir deras, Alvaro melihat pintu rahasia itu tertutup, memisahkan dirinya dari sosok wanita yang dia cintai secara diam-diam itu. Raungan kemarahan musuh dan dentuman jurus Arum yang meledak, menjadi suara terakhir yang dia dengar sebelum dia harus berlari menembus kegelapan hutan.

"Tolong tetap bertahan, Guru... Tunggu aku datang menyelamatkanmu!" teriaknya ditengah keputusasaan dan tekad.

***

Hutan Kabut Abadi adalah tempat di mana logika manusia mati, kesunyiannya membuat manusia tak berani bahkan hanya menatap ke arah Hutan terlarang ini.

Tapi, Alvaro berlari memasukinya hingga paru-parunya terasa terbakar, melewati pepohonan yang seolah bergerak menghalangi jalannya. Luka-luka di tubuhnya akibat tebasan pedang musuh sebelum dia kabur mulai terasa perih, namun dia tak berhenti.

Sampai akhirnya, Alvaro tiba di depan sebuah air terjun yang mengalirkan air berwarna perak. Di sana, duduk seorang wanita di atas batu besar.

Alvaro terpaku. Napasnya yang memburu bukan lagi karena lari jarak jauh, melainkan karena pemandangan di depannya yang seolah merampas seluruh oksigen di paru-parunya.

Di atas batu besar yang basah oleh uap air, duduk seorang wanita yang kecantikannya terasa tidak nyata.

Dia adalah Saraswati. Kain sutra hijau yang membalut tubuhnya begitu tipis dan transparan hingga saat terkena percikan air terjun, kain itu melekat erat, menjiplak sempurna lekuk payudaranya yang penuh dengan puting yang menegang karena dinginnya udara hutan.

Belum lagi kemben sutra hijau zamrud yang dikenakannya sangat tipis, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu sempurna hingga mampu membuat pria manapun kehilangan akal sehatnya.

Alvaro menelan ludah dengan susah payah. Matanya secara insting meluncur turun, memperhatikan pinggangnya yang ramping dan paha mulus yang terekspos karena belahan kainnya tersingkap hingga ke pangkal paha.

"Sial, apakah aku sudah mati dan masuk surga?" pikir Alvaro tampak seperti orang bodoh.

Di tengah duka kehilangan perguruannya, bagian bawah tubuhnya justru memberikan reaksi pengkhianatan. Darahnya berdesir panas, berpusat di satu titik yang kini terasa menyesakkan celananya.

Pikiran kotor itu melintas tanpa bisa dibendung. Alvaro seketika membayangkan bagaimana rasanya menyentuh kulit porselen itu, atau bagaimana suara wanita ini jika mengerang di bawah tubuhnya.

"Pasti sangat lembut..." gumamnya tanpa sadar.

"Jadi... ini adalah 'benih' yang dijanjikan Arum?" suara Saraswati terdengar mendayu, merangsang syarafnya Alvaro hingga berdiri. "Matamu sangat jujur, Alvaro Dinarta," ucap Saraswati.

Dia turun dari batu, melayang mendekat hingga aroma tubuhnya yang seperti perpaduan melati dan gairah merasuki indra penciuman Alvaro.

Alvaro segera sadar dan langsung berlutut, napasnya masih terengah-engah, berusaha menjaga niat awalnya. "Dewi... Guru Arum Sekar... memintaku datang. Perguruan kami... telah hancur."

Senyum cantik dan memikat tersungging dibibir merah merona wanita itu. "Aku tahu," balasnya membuat Alvaro menunduk merasakan sakit dihatinya. "Kau menginginkan kekuatan... atau kau menginginkan aku?" bisik Saraswati.

Wanita itu mencondongkan tubuhnya, membuat belahan dadanya yang indah terpampang jelas di depan mata Alvaro.

Alvaro merasa otaknya mendidih. "Aku... aku butuh kekuatan untuk membalas dendam."

Saraswati tertawa kecil, tawa yang indah. "Bagus sekali, jiwamu masih murni, namun penuh dengan api dendam dan gairah yang terpendam," gumam Saraswati dengan senyum tipis yang menggoda sekaligus mematikan. "Kau menginginkan kekuatan untuk membalas dendam? Kau menginginkan kekuasaan untuk mendudukkan dunia di bawah kakimu?"

Alvaro mengangguk cepat. "Apapun... aku akan melakukan apapun," jawab Alvaro tegas.

Saraswati kembali tertawa kecil, suara tawanya seolah mengandung daya pikat yang membuat darah Alvaro berdesir panas. Sial! Celananya terasa sesak!

"Kekuatan yang kuberikan tidaklah gratis, anak muda. Permata Naga Pemikat Wanita bukan sekadar batu sakti. Permata Naga adalah kutukan sekaligus berkah. Permata Naga akan memberimu karisma yang tak bisa ditolak oleh wanita mana pun, dan setiap kali kau menaklukkan hati dan tubuh wanita yang memiliki energi spiritual, kekuatanmu akan berlipat ganda."

Alvaro menelan ludah mendengarnya.

"Kau masih menginginkannya, Alvaro?" tanya Saraswati, menguji dengan tatapan matanya yang indah menggoda itu.

"Ya," balasnya kemudian, lalu mendongak. "Guruku masih menunggu untuk kuselamatkan! Apapun itu, aku harus dapatkan untuk membalaskan dendam pada mereka yang sudah berani menyakitinya!"

Saraswati tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah permata merah menyala dari dalam dadanya. Energi panas seketika menyelimuti gua itu.

"Aku suka tekadmu yang kuat dan penuh ambisi. Setelah ini, kau akan menjadi pusat dari badai. Musuh pria akan membencimu karena kekuasaanmu, dan para wanita akan memujamu seolah kau adalah Tuhan mereka. Apakah kau siap memikul beban nafsu dan kekuasaan ini?"

Alvaro mengeraskan wajahnya, teringat lagi gurunya yang bersimbah darah, teringat kehancuran rumahnya. "Tidak usah bertele-tele, berikan saja padaku! Aku akan menjadi pemangsa, bukan lagi mangsa!"

Saraswati mendekat, bibirnya nyaris menyentuh telinga Alvaro. Dia membisikkan mantra kuno sebelum menekan permata merah itu tepat ke tengah dada Alvaro.

"Aaaarrghhh!"

Alvaro berteriak saat rasa panas yang luar biasa menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Dia merasa jantungnya berhenti berdetak, lalu berdenyut kembali dengan kekuatan sepuluh kali lipat.

Di dalam kepalanya, dia melihat bayangan ribuan wanita berlutut di hadapannya, dan musuh-musuhnya bersujud memohon ampun.

Ribuan wanita yang berlutut itu sebagian menggunakan pakaian terbuka, dan sebagian menggunakan pakaian yang memperlihatkan belahan dada mereka, dan lekuk tubuh yang seakan meminta untuk dipuaskan.

Para musuh pria tampak bersujud menangis, memohon-mohon dengan wajah penuh penyesalan. Sementara musuh-musuh wanita mohon ampun agar bisa diterima menjadi bagian kerajaan Alvaro untuk dipuaskan.

Saat rasa sakit itu mereda, Alvaro membuka matanya. Pupil matanya kini memiliki guratan emas. Dia merasa tubuhnya lebih ringan, lebih kuat, dan memiliki aura yang sangat dominan.

Saraswati mengelus dada Alvaro yang kini memiliki tanda naga merah. "Sekarang kau adalah milikku, dan seluruh wanita di dunia ini adalah mangsamu. Sebelum aku melepaskanmu untuk menyelamatkan gurumu. Ikuti aku, kau harus masuk dan menghabiskan dulu waktumu denganku sebagai ucapan terima kasih," ujarnya sambil membantu Alvaro berdiri.

"Apa maksudmu?" tanya Alvaro wajahnya serius.

"Kau harus bercinta denganku pertama kali, agar Permata Naga itu semakin menyatu dengan dirimu."

Lanjut membaca
Lanjut membaca