Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
STREAMER NERAKA: PENONTONKU BUKAN MANUSIA!

STREAMER NERAKA: PENONTONKU BUKAN MANUSIA!

Muhammad Farhan Fadhillah | Bersambung
Jumlah kata
43.0K
Popular
100
Subscribe
18
Novel / STREAMER NERAKA: PENONTONKU BUKAN MANUSIA!
STREAMER NERAKA: PENONTONKU BUKAN MANUSIA!

STREAMER NERAKA: PENONTONKU BUKAN MANUSIA!

Muhammad Farhan Fadhillah| Bersambung
Jumlah Kata
43.0K
Popular
100
Subscribe
18
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalUrbanSupernaturalSistem
"Satu Gift dari penonton, satu nyawa hantu melayang!" Bara, seorang pengangguran yang terlilit hutang pinjol, tidak sengaja mengunduh aplikasi misterius bernama "Underworld Live". Syaratnya sederhana: Lakukan streaming di lokasi angker, dapatkan penonton, dan tukarkan saweran (Gift) menjadi uang tunai. Bara yang skeptis mengira ini hanyalah aplikasi prank dengan teknologi AR (Augmented Reality) canggih. Maka, saat dia melihat "Hantu Kuntilanak Merah" di layar HP-nya, Bara tidak lari. Dia malah memaki hantu itu karena riasannya dianggap jelek dan aktingnya kaku. Dia bahkan menampar hantu itu dengan sandal jepit! Siapa sangka, di kolom komentar, ribuan akun dengan nama seperti [Raja Iblis Utara] dan [Dewa Kematian Magang] bersorak kegirangan! [Raja Iblis Utara] mengirim Gift: "Tongkat Penumbuk Jiwa"! [Hantu Janda] mengirim Gift: "Mata Batin Level 1"! [Dewa Kematian] mengirim Gift: "Umur +10 Tahun"! Bara mendadak kaya raya di dunia nyata. Namun dia tidak sadar, aksi "beraninya" telah membuatnya diangkat menjadi Pejabat Tinggi di Dunia Bawah. Sekarang, hantu-hantu di kota itu bersujud setiap kali dia lewat, sementara manusia normal (dukun, ahli spiritual) bingung melihat pemuda biasa yang ditakuti para demit. Ini adalah kisah kesalahpahaman terbesar antara Manusia dan Hantu!
Bab 1: Aplikasi Penjemput Ajal

Hujan deras mengguyur kota Jakarta malam itu. Airnya bukan membasuh luka, melainkan menambah perih nasib Bara yang sedang meringkuk di balik tumpukan kardus bekas di gang sempit daerah Glodok. Bau sampah busuk, air comberan, dan amis darah dari sudut bibirnya bercampur menjadi satu aroma kegagalan yang pekat.

Bara menahan napas. Matanya menatap tajam ke ujung gang.

Derap langkah sepatu bot terdengar berat menginjak genangan air.

"Cari bajingan itu sampai dapat! Bos bilang kalau dia nggak bayar malam ini, ambil ginjalnya!"

Suara teriakan itu membuat jantung Bara berdegup kencang. Dug-dug-dug. Iramanya seperti genderang perang yang ditabuh tepat di telinganya. Preman penagih hutang dari aplikasi pinjol ilegal "Dana Cepat Cair" itu tidak main-main. Lima puluh juta rupiah. Itu angka yang mustahil bagi Bara, seorang sarjana pengangguran yang baru saja dipecat dari pekerjaan sebagai admin gudang karena difitnah mencuri.

Bara meraba saku celananya yang basah kuyup. Ponsel retak layar miliknya bergetar. Bukan pesan dari teman atau keluarga, melainkan notifikasi tagihan yang terus masuk seperti teror tanpa henti.

"Sialan..." desis Bara pelan. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena amarah yang tidak bisa dilampiaskan. "Gue cuma butuh waktu. Kenapa dunia ini nggak pernah kasih gue napas sedikit aja?"

Dia membuka ponselnya, berniat mencari lowongan kerja darurat atau apapun yang bisa menghasilkan uang instan. Namun, layar ponselnya tiba-tiba berkedip aneh. Warnanya berubah menjadi merah darah, lalu hitam pekat.

Sebuah ikon aplikasi yang tidak pernah dia unduh muncul di tengah layar. Gambarnya sederhana: sebuah mata yang meneteskan darah, dengan tulisan "Underworld Live" di bawahnya.

"Virus?" gumam Bara panik. Dia mencoba menekan tombol home, tapi tidak berfungsi. Tombol power juga macet.

Tiba-tiba, sebuah kotak dialog muncul dengan font yang seolah ditulis menggunakan kapur barus di atas papan tulis hitam.

[Apakah Anda butuh uang?]

[YA / TIDAK]

Bara mendengus sinis. "Pertanyaan bodoh."

Jari telunjuknya yang kotor oleh lumpur menekan tombol [YA]. Dia pikir ini mungkin iklan judi online atau scam terbaru. Dia sudah tidak peduli. Kalaupun ini penipuan, apa yang bisa mereka ambil dari orang yang sudah tidak punya apa-apa?

Layar berubah lagi.

[Selamat Datang, Host Baru ID: 9981]

[Misi Tutorial Terdeteksi: Rumah Sakit Umum Pusat Lama (Terbengkalai)]

[Durasi Streaming: 30 Menit]

[Target Penonton: 10 Viewer]

[Hadiah Penyelesaian: Rp 50.000.000 (Tunai/Transfer)]

Mata Bara terbelalak. Lima puluh juta? Angka itu tepat sebesar hutangnya.

"Ini pasti prank..." Bara menggelengkan kepala, air hujan menetes dari rambutnya yang lepek. "Siapa yang mau bayar lima puluh juta cuma buat live streaming di rumah sakit kosong? YouTuber terkenal aja nggak segede itu bayarannya buat pemula."

Namun, di sudut layar, ada timer hitung mundur berwarna merah yang terus berkurang.

[Waktu tersisa untuk menerima misi: 00:59]

[Peringatan: Menolak misi akan berakibat pengurangan Umur sebanyak 50 tahun.]

"Gila! Aplikasi apaan ini ngancem umur?" Bara tertawa hambar. Tapi rasa putus asa membuatnya tidak rasional. Preman di ujung gang sana membawa parang. Aplikasi ini cuma membawa ancaman teks. Pilihan yang mudah.

Dia menekan [TERIMA].

Seketika, sebuah peta muncul di layar, menunjukkan lokasi RSUP Lama yang hanya berjarak dua blok dari tempat persembunyiannya. Tanpa pikir panjang, Bara bangkit. Dia menarik tudung jaketnya lebih dalam dan berlari menembus hujan, mengambil jalan memutar lewat atap-atap seng rumah warga untuk menghindari preman.

Lima belas menit kemudian.

Bara berdiri di depan gerbang besi tua yang sudah berkarat. Rantai gemboknya besar, tapi sudah putus separuh. Di depannya, bangunan RSUP Lama berdiri seperti raksasa tidur yang siap menelan siapapun. Jendela-jendelanya pecah, menyisakan lubang-lubang gelap yang tampak seperti mata kosong.

Rumor mengatakan rumah sakit ini tutup sepuluh tahun lalu karena kasus malpraktik massal yang menewaskan ratusan pasien dalam satu malam. Tapi bagi Bara, yang lebih menakutkan adalah suara perutnya yang lapar dan bayangan preman penagih hutang.

"Oke, mari kita lihat apa maunya aplikasi gila ini," gumam Bara sambil melompati pagar. Kakinya mendarat di atas tanah becek yang dipenuhi ilalang setinggi pinggang.

Tepat saat kakinya menyentuh tanah, ponselnya bergetar hebat. Aplikasi Underworld Live terbuka otomatis. Kamera depan menyala.

[LIVE STREAMING DIMULAI]

[Judul Room: Manusia Bodoh Mencari Mati di RSUP Lama]

"Judul macam apa itu?" protes Bara. Dia mencoba mengganti judulnya, tapi fiturnya terkunci.

Dia mengarahkan kamera ke wajahnya yang pucat dan basah. "Halo? Tes, tes. Ada orang di sini? Gue Bara, dan... yah, gue bakal keliling di sini buat nyari... entahlah, hantu mungkin?"

Bara berbicara dengan nada skeptis dan malas. Dia yakin ini adalah aplikasi Augmented Reality (AR) canggih buatan developer iseng.

Di pojok kiri bawah layar, angka penonton mulai bergerak.

[Jumlah Penonton: 1]

Sebuah komentar muncul.

[Hantu Air Selokan]: Wah, ada daging segar! Baunya enak sekali. Sayang dia jelek.

Bara membaca komentar itu dan mendengus. "Heh, user dengan nama Hantu Air Selokan. Mulut lo dijaga ya. Gue belum mandi dua hari karena dikejar rentenir, bukan karena gue jelek. Lagian ini filter kameranya gelap banget, wajar kalau gue kelihatan kusam."

[Jumlah Penonton: 3]

[Kepala Tanpa Badan]: Manusia ini bisa melihat komentar kita? Bukankah biasanya mereka butuh Mata Batin?

[Setan Kredit Macet]: Mungkin dia punya bakat. Atau dia cuma orang gila. Ayo kita lihat berapa lama dia bertahan sebelum dikunyah oleh Suster Ngesot di Lantai 2.

Bara terkekeh membaca chat itu. "Suster Ngesot di Lantai 2? Oke, makasih infonya, Bro Setan Kredit. Kebetulan gue juga lagi kredit macet nih, kita satu nasib. Gue bakal ke lantai 2 buat nemuin aktor bayaran kalian."

Bara melangkah masuk ke lobi rumah sakit. Udara di dalam jauh lebih dingin daripada di luar. Bau antiseptik tua bercampur dengan bau bangkai tikus menyengat hidungnya. Di lantai, ada bercak-bercak kecokelatan yang tampak seperti darah kering yang sudah menahun.

"Propertinya niat banget," puji Bara sambil menyalakan senter dari ponselnya. "Baunya juga real. Pasti pakai bangkai tikus beneran buat efek. Totalitas."

Dia berjalan melewati meja resepsionis yang penuh debu. Kakinya menendang kaleng bekas infus, menimbulkan suara klontang yang menggema keras di lorong sunyi itu.

[Jumlah Penonton: 15]

[Ratu Kuntilanak Merah]: Berisik! Manusia lancang!

[Tuyul Suka Nyolong]: Hihihi, dia cari mati. Dia nggak tahu kalau Suster Penjaga Lobi sedang menatapnya dari atas lemari?

Bara tidak membaca komentar itu karena dia sibuk memperhatikan sebuah pintu lift yang sedikit terbuka. Di dalamnya gelap gulita.

Tiba-tiba, suara desisan terdengar dari arah belakangnya.

Sreett... Sreett...

Suara sesuatu yang menyeret di lantai. Bara berbalik perlahan, mengarahkan kamera ponselnya ke sumber suara.

Di ujung lorong, sesosok bayangan putih dengan rambut panjang terurai ke depan sedang merangkak mendekat. Kakinya terlihat patah dan tertekuk ke arah yang tidak wajar. Darah segar, atau setidaknya sirup merah, mengalir dari matanya.

Bara tidak menjerit. Dia tidak lari. Dia justru menyipitkan mata, mendekatkan wajahnya ke layar ponsel untuk melihat lebih jelas.

"Itu Suster Ngesotnya?" tanya Bara pada penonton di live chat. "Jalan ngesotnya kok kaku banget? Itu kaki kanannya kurang diseret, Mbak! Kelihatan banget kalau Mbak masih pakai lutut buat numpu berat badan!"

Hening.

Sosok hantu itu berhenti merangkak. Kepalanya perlahan mendongak. Matanya yang merah menyala menatap Bara dengan kebencian murni. Hawa dingin yang menusuk tulang tiba-tiba menyebar, membuat kaca-kaca jendela di lobi bergetar.

Bara mengerutkan kening. "Wah, efek suaranya keren. Pakai speaker di mana tuh?"

Tanpa rasa takut sedikitpun, Bara melangkah maju, menjulurkan tangannya seolah ingin membenarkan posisi rambut si hantu.

"Sini, biar gue benerin rambut lo. Nutupin kamera nih."

Di detik itu, tangan hantu itu melesat cepat, mencengkeram pergelangan kaki Bara dengan kekuatan besi. Dingin. Sangat dingin sampai rasanya membakar kulit.

"Cukup main-mainnya, Manusia..." suara itu bergema langsung di dalam kepala Bara.

Bara terdiam sejenak. Matanya menatap tangan pucat yang mencengkeram kakinya. Lalu dia menatap kamera.

"Guys, dia megang kaki gue. Erat banget. Kayaknya dia naksir."

[Bersambung ke Bab 2]

Lanjut membaca
Lanjut membaca