Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
penghuni kamar 13

penghuni kamar 13

yanuar abidin | Bersambung
Jumlah kata
39.5K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / penghuni kamar 13
penghuni kamar 13

penghuni kamar 13

yanuar abidin| Bersambung
Jumlah Kata
39.5K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
HorrorHorrorDunia Gaib
Bagi Arga, mendapatkan kamar kos dengan harga sangat murah di tengah kota Jakarta adalah sebuah keberuntungan besar. Meskipun bangunan kos itu tua dan lorongnya selalu terasa lembap, Arga tidak peduli. Setidaknya sampai ia menerima kunci dengan gantungan tembaga bertuliskan angka 13. Awalnya, hanya hal-hal kecil yang mengganggu. Bau melati yang muncul di jam tiga pagi, suara ketukan pelan dari balik dinding yang seharusnya adalah gudang kosong, dan suhu kamar yang bisa berubah menjadi dingin menusuk tulang secara tiba-tiba.Namun, keadaan mulai berubah menjadi teror nyata ketika Arga menemukan sebuah coretan di balik pintu kamarnya: "Jangan biarkan dia masuk, atau kamu tak akan pernah keluar." Satu per satu penghuni kos lainnya mulai bertingkah aneh. Mereka menatap Arga dengan tatapan kosong, seolah-olah mereka tidak lagi melihat Arga sebagai manusia, melainkan sebagai mangsa selanjutnya. Arga pun menyadari bahwa kamar nomor 13 bukan sekadar tempat tinggal; itu adalah sebuah "penjara" bagi sesuatu yang sangat tua dan lapar.Ketika pintu kamar mulai terkunci dari luar dan bayangan hitam mulai muncul dari sudut langit-langit, Arga hanya punya satu pilihan: mengungkap rahasia kelam pemilik kos sebelum ia menjadi bagian dari penghuni abadi di kamar tersebut. Karena di kamar nomor 13, kamu tidak pernah benar-benar sendirian.
kunci tembaga yang dingin

Lampu neon di lorong lantai dua berkedip-kedip dengan suara berdengung yang mengganggu telinga. Arga berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Di tangannya, sebuah kunci tembaga kuno terasa sangat dingin, seolah-olah baru saja keluar dari lemari es.

"Ini kamarnya. Paling pojok, paling tenang," ucap Pak Salim, pemilik kos yang tubuhnya membungkuk dan langkahnya nyaris tak terdengar.

Arga melihat angka yang terpaku di pintu itu. Angka '1' dan '3' yang terbuat dari logam gelap. "Nomor tiga belas, Pak? Biasanya gedung begini tidak pakai nomor itu," gurau Arga mencoba mencairkan suasana.Pak Salim tidak tertawa. Matanya yang keruh hanya menatap lurus ke arah pintu. "Hanya sebuah angka, Nak Arga. Selama kamu tidak mengundang 'tamu' masuk, semuanya akan baik-baik saja."

Tanpa menunggu balasan, pria tua itu berbalik dan menghilang ke dalam remang-remang lorong, meninggalkan Arga sendirian dengan tas ransel besarnya.

Ceklek.

Pintu terbuka dengan derit panjang yang memilukan. Aroma pertama yang menyambut Arga bukanlah bau debu, melainkan bau apek yang bercampur dengan sisa-sisa wangi bunga melati yang sangat samar. Kamar itu cukup luas untuk ukuran harga semurah yang ia bayar. Ada satu tempat tidur besi, satu lemari kayu besar, dan sebuah meja belajar yang menghadap ke jendela.Arga melempar tasnya ke kasur. Buk! Debu beterbangan di bawah cahaya lampu bohlam kuning yang redup. Ia berjalan menuju jendela, berniat membukanya agar udara segar masuk. Namun, gerakannya terhenti saat ia melihat sesuatu di sudut meja belajar.

Ada sebuah gelas berisi air putih yang masih penuh, lengkap dengan sekuntum bunga kantil yang tenggelam di dalamnya.

"Mungkin Pak Salim lupa membuangnya," gumam Arga menenangkan diri.

Ia memutuskan untuk segera mandi agar rasa lelahnya hilang. Namun, saat ia berada di dalam kamar mandi kecil di sudut kamar, suara itu terdengar.Srak... srak... srak...

Suara itu seperti sesuatu yang diseret di atas lantai kayu tepat di area tempat tidurnya. Arga mematikan kran air. Jantungnya berdegup kencang. Ia menunggu dalam diam selama beberapa detik. Hening.

Arga segera keluar dengan handuk melilit pinggang. Kamarnya kosong. Tidak ada siapa-siapa. Namun, matanya tertuju pada tas ranselnya yang tadi ia letakkan di tengah kasur.

Tas itu sekarang tergeletak di lantai, terbuka lebar, dengan seluruh isinya berhamburan seolah-olah ada seseorang yang mencarinya dengan paksa. Dan di tengah kasur yang kosong, kini ada bekas lekukan tubuh, seolah-olah baru saja ada seseorang yang duduk diam di sana sambil mengawasinya mandi.Arga menelan ludah. Suhu di kamar nomor 13 tiba-tiba merosot tajam, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa di balik pintu yang tadi ia kunci rapat, ia tidak benar-benar sendirian.Meskipun Arga berusaha mengabaikan perasaan tidak nyamannya, suasana di dalam Kamar Nomor 13 seakan menolak kehadirannya. Cahaya lampu bohlam yang redup itu tidak hanya sekadar bergoyang karena angin; cahayanya seolah berdenyut mengikuti irama jantung Arga yang kian cepat. Setiap kali lampu itu meredup, bayangan benda-benda di dalam kamar—lemari, tempat tidur, meja belajar—tampak memanjang dan berubah bentuk menjadi jemari hitam yang berusaha menggapai kakinya.Arga melangkah menuju jendela kayu yang catnya sudah mengelupas. Ia berharap dengan melihat keramaian jalan raya di bawah sana, perasaan terisolasinya akan hilang. Namun, saat ia menyentuh gerendel jendela yang terbuat dari besi tua, rasa dingin yang menusuk kembali menyambar telapak tangannya. Besi itu terasa seperti es yang baru saja dikeluarkan dari dasar sumur terdalam. Dengan susah payah, ia menyentak jendela itu terbuka.Bukannya suara bising kendaraan Jakarta yang masuk, melainkan kesunyian yang mencekam. Jalanan di bawah sana tampak berkabut, padahal ini adalah malam musim kemarau yang seharusnya panas dan berdebu. Lampu-lampu jalan di luar pun tampak aneh, cahayanya berwarna kuning pucat dan seolah-olah ditelan oleh kegelapan yang pekat. Arga menarik napas panjang, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa lembap dan berbau tanah basah, persis seperti bau liang lahat yang baru digali.Ia membalikkan badan, mencoba memfokuskan pikirannya pada tugas merapikan barang. Ia membuka lemari kayu besar di sudut ruangan. Pintu lemari itu berderit sangat nyaring, sebuah suara parau yang terdengar seperti rintihan seseorang yang sedang menahan sakit. Di dalamnya, Arga menemukan selembar koran tua yang sudah menguning, bertarikh tahun 1990. Judul utamanya sudah kabur, namun ia masih bisa membaca potongan kalimat di paragraf pertama: "...hilang tanpa jejak di dalam kamarnya sendiri."

Arga melempar koran itu ke lantai dengan perasaan kesal yang dipaksakan. "Ini hanya bangunan tua, Arga. Jangan jadi penakut," gumamnya pada diri sendiri. Suaranya terdengar asing di telinganya, seolah-olah dipantulkan oleh dinding-dinding yang terlalu tebal.Ia kemudian memutuskan untuk duduk di tepi tempat tidur besi. Kasurnya mengeluarkan suara berderit yang aneh, seolah-olah ada per yang patah tepat di bawah beban tubuhnya. Saat itulah, ia merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah bantalnya. Arga merogoh pelan dan menarik sebuah benda kecil. Itu adalah sebuah sisir kayu tua yang masih menyisakan beberapa helai rambut panjang berwarna hitam legam. Rambut itu tampak berkilau, seolah-olah baru saja jatuh dari kepala pemiliknya beberapa detik yang lalu.Tiba-tiba, suara ketukan itu kembali. Kali ini bukan dari dinding, tapi dari bawah tempat tidurnya.

Tok... tok... tok...

Tiga ketukan yang lambat, berat, dan berirama. Arga membeku. Ia tidak berani bernapas. Ia menunduk perlahan, mencoba mengintip ke kolong tempat tidur yang gelap gulita. Di sana, di antara debu dan kegelapan, ia melihat sepasang mata—bukan mata manusia, melainkan dua titik cahaya merah yang sangat kecil yang menatapnya balik dengan penuh kebencian.Arga terlonjak berdiri, jantungnya kini seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia mundur hingga punggungnya menabrak pintu kamar. Ia mencoba memutar gagang pintu untuk keluar, namun gagang itu tidak bergerak. Terkunci. Padahal ia ingat betul tadi tidak menguncinya dari dalam.

Panik mulai mengambil alih akal sehatnya. Ia memukul-mukul pintu kayu itu. "Pak Salim! Pak! Buka pintunya!" teriaknya parau.

Namun di lorong luar, tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara langkah kaki yang terseret perlahan, mendekati pintunya, lalu berhenti tepat di depan kamar nomor 13. Arga menempelkan telinganya ke pintu, mencoba mendengarkan apa yang terjadi di luar. Yang ia dengar hanyalah suara napas yang berat dan serak, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menciumi celah pintunya, mencari celah untuk masuk.Di saat yang sama, suhu di dalam kamar turun drastis. Napas Arga mulai membentuk uap putih di udara. Ia menoleh kembali ke arah tempat tidurnya, dan di sana, di atas bantal tempat ia menemukan sisir tadi, kini muncul sebuah bercak basah yang perlahan melebar menjadi warna merah tua yang kental. Darah itu menetes dari langit-langit, tepat dari sebuah retakan yang menyerupai bentuk tangan manusia yang sedang mencengkeram beton.

Arga menyadari satu hal yang terlambat: Kamar nomor 13 tidak pernah kosong. Penghuni lamanya tidak pernah benar-benar pergi, mereka hanya sedang menunggu seseorang untuk menggantikan posisi mereka di dalam kegelapan yang abadi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca