Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Aku Menjadi Yang Terkuat

Aku Menjadi Yang Terkuat

Texas073 | Bersambung
Jumlah kata
54.2K
Popular
354
Subscribe
47
Novel / Aku Menjadi Yang Terkuat
Aku Menjadi Yang Terkuat

Aku Menjadi Yang Terkuat

Texas073| Bersambung
Jumlah Kata
54.2K
Popular
354
Subscribe
47
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPertualanganKekuatan SuperZero To Hero
Alex, penambang miskin, terpilih memasuki dunia berbahaya bernama Hamparan Primordial. Dengan status "Rakyat Biasa" tanpa kekuatan khusus, ia harus bertahan dari serangan makhluk mengerikan dan persaingan sengit. Dengan hanya mengandalkan insting dan tenaga kasar, Alex berjuang untuk bertahan hidup dan menemukan rahasia tersembunyi dalam dirinya yang bisa mengubah takdirnya menjadi yang terkuat.
1. Yang Terpilih.

Alex duduk di bangku kayu reyot yang sudah setengah roboh, tepat di pinggir mulut tambang raksasa yang menganga seperti luka terbuka di perut bukit. Badannya yang keras penuh kapalan dan urat, basah keringat bercampur debu arang yang lengket, membuat kaos oblong hitamnya tampak seperti kain pel bekas.

Di tangan kanannya tergenggam erat beliung tua, gagangnya sudah licin karena minyak tubuh bertahun-tahun. Besi mata beliungnya berkarat parah, tapi masih cukup tajam untuk mengoyak batu bara. Alat itu sudah jadi bagian dari tangannya, seperti jari keenam.

Biasanya jam segini dia sudah masuk ke dalam perut bumi, mengayun beliung sampai telinga berdengung dan paru-paru terbakar. Tapi hari ini berbeda. Alex tidak bisa memaksa kakinya melangkah ke lift tambang yang berderit itu.

Bukan karena capek. Tenaganya masih banyak.

Yang bikin berat adalah perasaan aneh yang menyesak sejak mata terbuka tadi pagi. Seperti ada tangan dingin yang meremas jantung dari dalam. Firasat bahwa hari ini akan menjadi hari terakhirnya hidup di dunia ini.

'Andai tahu bakal begini, dari dulu aku tidak akan dekat dengan lubang maut ini,' batinnya pelan.

Alex menatap gelapnya mulut tambang yang seperti terowongan tanpa ujung. Dia menghela napas panjang, merogoh tas kain lusuh di samping, mengeluarkan botol plastik berisi larutan nutrisi murahan warna kuning kecoklatan. Dia tuang ke gelas timah penyok, mencium bau kimia yang menyengat, lalu menenggak separuh.

"Hah… tiap hari minum sampah begini," keluhnya sambil meringis.

Tapi dia tetap menghabiskannya sampai tetes terakhir. Mau nggak mau, itu sudah dibayar pake keringat dan punggungnya yang nyaris patah tiap shift.

Tiba-tiba pikirannya melayang ke makanan-makanan yang cuma pernah dia lihat di feed sosmed orang kaya. Steak wagyu, ramen tonkotsu level premium, es krim gelato impor.

'Lebih baik aku puaskan perut dulu sebelum semuanya berakhir…'

Dia buka aplikasi bank di ponsel bututnya. Layar retak menampilkan saldo: 147.820

Alex cuma bisa mendengus getir.

"Ck… dasar miskin!"

Dengan langkah gontai, dia meninggalkan area tambang. Beberapa mandor dan temen se-shift meliriknya dengan alis terangkat. Belum pernah ada penambang yang seenaknya cabut begitu saja di jam kerja.

Tanpa tujuan jelas, kakinya membawanya sampai ujung jalan beraspal retak. Di sana ada pos polisi kecil yang catnya sudah mengelupas. Alex masuk tanpa ragu.

Di dalam, seorang bintara berbaju coklat lusuh sedang asyik scroll tablet sambil minum kopi instan. Dia melirik Alex sekilas, lalu menunjuk bangku panjang di pojok dengan dagu. Di sana sudah ada tujuh orang lain duduk dengan muka lelah dan pasrah.

Ruangan itu pengap, bau debu dan rokok elektrik murahan. Alex tidak langsung duduk. Dia berdehem keras.

Bintara itu mendongak kesal.

"Liat nggak aku lagi sibuk? Duduk, antre kayak yang lain, sana!"

Alex mengabaikan. Suaranya keluar datar tapi tegas.

"Berdasarkan Peraturan Darurat Federasi, saya melaporkan diri sebagai target malapetaka yang akan datang."

Seketika suasana berubah. Wajah bintara itu langsung memucat. Matanya melebar, tangannya gemetar saat menekan tombol darurat di bawah meja.

"DARURAT! EVAKUASI LOBI! ULANGI, EVAKUASI LOBI SEKARANG!" teriaknya ke speaker, suaranya pecah karena panik.

***

Tak sampai sepuluh menit, Alex sudah dipindahkan ke ruangan pengamanan paling dalam di kompleks polisi kecil itu. Ruangan berbentuk kubus beton bertulang baja, hanya ada satu kursi logam di tengah. Alex diikat dengan tali pengikat berbahan paduan khusus yang bahkan dia, penambang veteran, nggak pernah lihat sebelumnya.

Di balik kaca tebal anti peluru, puluhan wajah penasaran menatapnya seperti melihat binatang langka di kebun binatang. Bisik-bisik terdengar samar.

Tiba-tiba speaker di sudut ruangan mendengung.

"Kenapa kau bisa setenang ini, Nak?"

Alex sedikit kaget. Dia nggak nyangka pertanyaan pertama bakal begitu… manusiawi.

"Panik bakal nambahin apa, Pak?" jawabnya enteng.

Pria paruh baya di seberang kaca mengangguk pelan.

"Nama kamu?"

"Alex. Cuma Alex. Nggak punya nama belakang, nggak punya keluarga."

"Baik. Kapan tanda itu muncul?"

"Baru pagi ini."

Beberapa orang di belakang pria itu menghela napas iba. Alex tahu tatapan itu. Tatapan buat orang yang dikatakan memiliki nasib apes.

"Kita nggak punya banyak waktu. Jawab secepat mungkin, oke?"

Alex mengangguk.

"Seberapa banyak yang kau tahu tentang Primordial Expanse? Bukan yang di forum atau video pendek, tapi yang sebenarnya."

Alex mengerutkan kening.

"Bukannya aku hanya akan dilempar ke sana, bunuh beberapa monster, dapet kekuatan gila, terus balik jadi orang hebat? Yang terpilih, seperti yang sering di ceritakan orang-orang?!"

Pria itu menggeleng pelan, wajahnya kelihatan muak adengan sistem pendidikan Federasi.

"Dengerkan baik-baik, Nak. Ini hidupmu sendiri yang dipertaruhkan."

Dia menarik napas dalam.

"Begitu dua garis hitam itu sampai di atas kepala, kau bakal terseret masuk ke Hamparan Primordial. Di sana penuh dengan makhluk-makhluk yang harus kau bunuh, betul. Tapi kau juga tidak sendirian. Ada ratusan, mungkin ribuan orang lain sepertimu. Semuanya berebut sumber daya, berebut kekuatan. Mungkin beberapa dari mereka akan membantumu, namun ada juga yang membunuhmu dari belakang tanpa ragu."

Alex menelan ludah.

"Yang paling penting," lanjut pria itu, "kau hanya bisa balik ke sini kalau sudah jadi Evolver. Dan kalau mau hidup lebih aman saar balik, langsung cari tempat penampungan manusia. Paham?"

Alex cuma bisa mengangguk lemas. Informasi itu terlalu banyak, terlalu cepat.

Pria itu memperhatikan garis hitam di tubuh Alex yang sudah naik sampai leher.

"Banyak hal di sana tergantung keberuntungan. Anak tambang seperti mu biasanya sedikit lebih beruntung dibanding anak kota yang manja. Jangan menyerah!"

Detak jantung Alex semakin kencang. Garis hitam itu terasa seperti ular dingin yang merayap ke otaknya.

Pria itu berteriak ke speaker.

"Ingat! Begitu sampai di sana, langsung cek data dirimu!"

Pandangan Alex mulai buram. Dunia menjadi gelap, suara pria itu semakin menjauh.

"Berusahalah hidup, Nak… alangkah enaknya kalau kali ini kita nggak perlu berurusan sama monster lagi…"

Kata-kata terakhir itu lenyap.

Alex menghilang dari kursi. Ruangan kembali sunyi seperti tak pernah ada siapa-siapa di sana.

***

[Selamat datang di Hamparan Primordial.]

Suara itu menggema di kepala Alex, diikuti tulisan yang melayang di depan matanya.

Dia langsung terlonjak kaget, "Hah... Aku- aku sudah di sini?"

Kebingungan masih menguasai saat kesadarannya perlahan kembali. Punggung dan pahanya terasa kebas karena getaran keras. Dia duduk di bangku kayu keras sebuah kereta kuda kuno yang bergoyang-goyang di jalan berbatu.

Di depannya ada pria kekar berotot, mengenakan pakaian compang-camping mirip Alex. Di sebelah kiri, cewek kecil bertubuh ramping dengan mata setajam pisau duduk diam menatap keluar jendela kecil.

Alex melirik ke luar. Puluhan kereta lain berjejer di jalan setapak sempit. Semuanya ditarik makhluk besar berbulu yang mirip kuda, tapi lebih besar dan punya tanduk pendek melengkung.

Sesekali lewat pasukan berzirah lengkap menunggangi makhluk yang sama, pedang dan tombak berkilau di pinggang mereka.

'Ini… sangat berbeda dengan cerita di forum,' pikir Alex sambil berusaha menahan ekspresi kaget.

Di cerita-cerita yang pernah dia baca diam-diam, newbie biasanya dilempar sendirian ke tempat terpencil, tanpa petunjuk, dan tanpa teman.

Tapi dia? Langsung dijebloskan ke kereta bareng puluhan orang lain, di jalan yang jelas-jelas menuju suatu tempat ramai.

Entah ini pertanda baik… atau malah lebih buruk.

Alex menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantung yang masih berdegup kencang.

'Oke… apa pun yang bakal terjadi, aku harus berjuang.'

Dia memejamkan mata sejenak, merasakan getaran kayu di bawah pantatnya, bau keringat, bau hewan, dan bau debu jalanan yang asing. Tak lagi mengganggunya.

Hamparan Primordial.

Lotere terbesar dan termaut di alam semesta.

Dan tiketnya baru saja dia tebus dengan dua garis hitam yang kini sudah lenyap dari kulitnya.

Sekarang tinggal satu pertanyaan...

'Apakah dia bisa kembali pulang sebagai pemenang… atau hanya menjadi nama yang ada di daftar para korban?'

****

Lanjut membaca
Lanjut membaca