Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
aplikasi biru

aplikasi biru

vinsmoke adi | Bersambung
Jumlah kata
34.8K
Popular
100
Subscribe
14
Novel / aplikasi biru
aplikasi biru

aplikasi biru

vinsmoke adi| Bersambung
Jumlah Kata
34.8K
Popular
100
Subscribe
14
Sinopsis
18+HorrorHorrorTumbalHaremUrban
APLIKASI BIRU" Bayangkan ada aplikasi yang bisa mengubah hidupmu dalam semalam—tapi dengan harga yang harus dibayar dengan nyawa orang lain. Kang Hafidz hanyalah seorang tukang bangunan miskin yang terbelit utang judi. Hidupnya berubah total ketika ponsel tuanya tersambar petir misterius dan muncul Aplikasi Biru—sebuah program ajaib yang memberinya segalanya: kekayaan tak terhingga, kecerdasan super, bahkan kekuatan gaib. Tapi setiap fitur hebat itu punya sisi gelap. Untuk mempertahankan kekuatannya, Hafidz harus menjadi pemburu perawan setiap Malam Jumat Kliwon. Aplikasi itu lapar tumbal, dan nyawa wanita-wanita di sekitarnya menjadi mata uangnya. Kini, Hafidz terjebak antara: · Kekuatan tak terbatas vs hati nurani yang tersiksa · Harem wanita cantik yang mendatanginya vs tumbal yang harus dia serahkan · Kesempatan menjadi dewa vs risiko menjadi monster Dia bisa memiliki siapa pun, menyembuhkan apa pun, dan pergi ke mana pun. Tapi bisakah dia mempertahankan sisa kemanusiaannya ketika aplikasi itu mulai menunjukkan keinginannya sendiri—dan ternyata, aplikasi itu hidup, dan punya agenda yang lebih mengerikan dari sekadar tumbal biasa? Pertaruhan terakhirnya bukan lagi soal hidup atau mati, tapi: apakah dia masih pantas disebut manusia?
aplikasi biru

Keringat dingin mengalir dari pelipis Kang Hafidz saat ia menatap layar laptop bututnya. Angka-angka merah di spreadsheet keuangan berkedip seperti tanda bahaya: utang 47 juta. Itu belum termasuk bunga rentenir yang terus membengkak setiap minggu.

"Dua juta dari Bang Juki, lima juta dari rentenir pasar, sepuluh juta dari kartu kredit..." gumamnya sambil menggaruk kepala yang sudah tiga hari tidak keramas.

Dari luar, suara hujan mulai menggema. Hafidz menutup laptop dan menghela napas panjang. Kamar kosnya yang berukuran 3x3 meter terasa seperti penjara. Dindingnya retak-retak, atapnya bocor di sudut kiri, dan bau apek campur asap rokok menggantung di udara.

BRRNG! BRRNG! Jeddar...jeddar ...!

HP murahnya bergetar. Hafidz melihat layar—panggilan dari Bang Juki, debt collector yang paling ditakutinya. Ia diamkan. Lima detik kemudian, SMS masuk:

"Besok jam 10 pagi duitnya harus ada. Kalo enggak, kita selesaikan pake cara aku."

Hafidz mengutuk dalam hati. Ia tahu "cara" Bang Juki: ancaman, teror, sampai penyitaan paksa barang-barang satu-satunya yang masih layak—TV LED 32 inch dan kulkas mini.

"Bodohnya aku main slot lagi, hafidz..kamu goblok..judi gak akan bisa buat kamu kaya..dasar tolol..otak udang ..pengen mati aja aku.. " gerutnya sendiri.

Ingatannya melayang ke tiga bulan lalu, ketika ia pertama kali mencoba situs judi online itu. Awalnya cuma iseng, deposit seratus ribu. Menang dua juta di hari pertama. Sejak itu, ia terjebak. Kini, semua gajiannya sebagai tukang bangunan habis di sana. Bahkan ia meminjam dari rentenir demi mengejar kerugian.

Hujan semakin deras. Hafidz membuka browser dan, dengan rasa putus asa yang sudah jadi rutinitas, mengetik alamat situs film biru favoritnya. Mungkin ini satu-satunya pelarian yang masih terjangkau.

---

Dua jam kemudian, film sudah selesai. Layar laptop menampilkan iklan pop-up yang tak henti-hentinya. Hafidz menguap lebar. Jam sudah menunjukkan pukul 01.43 dini hari. Di luar, hujan masih lebat, tapi petir dan kilat sudah reda.

Ia berdiri, meraih ponsel murahnya yang sedang di-charge di dekat jendela. Batterai sudah 98%. Saat ia mencabut kabel charger—

KRR...jdar..jdar..jjjjduarrrrrr..!

Suara petir menggelegar begitu dekat, seakan-akan menyambar tepat di atap kos-kosannya. Cahaya putih menyilaukan membanjiri ruangan melalui celah jendela. Hafidz terkejut, telponnya terlepas dari genggaman.

DEG!

Ponsel itu jatuh..bukan ke lantai, tapi tepat ke genangan air dari rembesan atap.

"Anjir.. hape edan...!" Hafidz bergegas mengambilnya.

Ia sudah membayangkan yang terburuk: ponsel mati total, layar retak, atau paling tidak rusak dan harus ganti yang baru—padahal uang untuk makan besok saja belum tentu ada.

Tapi anehnya...

Ponsel itu masih menyala seperti semula tanpa lecet tanpa ada bekas kesambar petir..

Layarnya malah lebih terang dari biasanya, memancarkan cahaya biru pucat yang tidak wajar. Tidak ada retakan. Tidak ada kerusakan.

"Lho?" Hafidz mengusap layar dengan ujung baju. Airnya masih menempel, tapi ponsel berfungsi normal. Malah, ada sesuatu yang berbeda.

Di antara ikon-ikon biasa—WhatsApp, Facebook, YouTube—ada sebuah ikon baru.

Ikon berbentuk kotak biru solid, tanpa label, tanpa nama. Warna birunya begitu dalam, seperti lautan di malam hari. Di tengahnya, ada simbol seperti mata yang tertutup sebagian.

Hafidz mengernyit. "Aplikasi apa ini? VPN baru? Tapi aku gak install apa-apa..."

Ia mencoba menekan ikon itu.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia tekan lagi. Tetap diam.

"Gak bisa dibuka?" gumamnya kesal. Mungkin cuma glitch karena kesetrum listrik statis dari petir tadi.

Hafidz berniat mematikan ponsel dan menyalakannya kembali. Tapi saat jarinya bergerak ke tombol power—

BRT!

Ikon biru itu tiba-tiba terbuka sendiri.

Layar ponsel berubah total.

Latar belakang hitam pekat, dengan teks berwarna biru elektrik yang tertulis dalam font futuristik:

PENGENALAN BERHASIL.

PENGGGUNA TERPILIH: HAFIDZ.

STATUS: MISKIN, TERBELIT UTANG, PUTUS ASA.

KESESUAIAN: 99,7%.

Hafidz membeku. Jantungnya berdegup kencang.

"Apa-apaan ini?" suaranya bergetar.

Teks itu menghilang, digantikan oleh tampilan seperti dashboard aplikasi. Ada beberapa menu:

1. KAMERA PENGODA - Status: AKTIF

2. SLOT GACOR MAXWIN - Status: TERKUNCI (butuh tumbal pertama)

3. PREDIKSI SAHAM - Status: TERKUNCI

4. FITUR GAIB - Status: TERKUNCI

5. AI SUPER PINTAR - Status: AKTIF TERBATAS

Di bagian bawah, ada pesan berkedip:

"Selamat, Pengguna Terpilih. Hidupmu akan berubah. Tapi ingat: semua hadiah ada harganya. Tumbal pertama dibutuhkan dalam 7 hari. Jika gagal, kau akan mati."

Hafidz tertawa getir. "Ini pasti virus. Atau maybe Bang Juki iseng kirim aplikasi scam begini."

Tapi sesuatu mendorongnya untuk mencoba. Ia membuka menu pertama: KAMERA PENGODA.

Layar berubah menjadi mode kamera biasa. Tapi di sudut kiri atas, ada tulisan kecil: "Arahkan ke target wanita. Sistem akan menganalisis kemungkinan penaklukan."

Hafidz geleng-geleng. Iseng, ia membuka galeri dan memilih foto mantan pacarnya—Sari, yang akan menikah minggu depan dengan pria lain.

Kameranya mengarah ke foto di layar.

BZZZT!

Sebuah kotak analisis muncul di atas foto Sari:

**Nama: Sari Wulandari

Status: Bertunangan

Tingkat Kesulitan: Sedang

Strategi Rekomendasi:

1. Tunjukkan perubahan drastis dalam 3 hari

2. Hadir di acara pertunangan dengan penampilan memukau

3. Gunakan "Charm Whisper" (fitur terkunci)

Kemungkinan Berhasil: 68%**

Hafidz terkesima. Detailnya terlalu spesifik untuk jadi kebetulan.

Tiba-tiba, ponsel bergetar lagi. Notifikasi baru muncul:

"PERINGATAN: Tumbal pertama ditetapkan.

Target: Sri (22 tahun), tetangga desa.

Status: Perawan.

Batas waktu: 7 hari (Malam Jumat Kliwon).

Konsekuensi kegagalan: KEMATIAN."

Di bawahnya, muncul foto Sri—gadis penjual gorengan di pinggir jalan yang selalu menyapanya dengan ramah setiap pagi.

Hafidz merasa tenggorokannya kering. Ini bukan lagi kelucuan atau virus biasa.

BRRNG! BRRNG!

Ponsel berdering lagi. Kali ini, nomor yang muncul adalah ibunya di kampung.

Dengan tangan gemetar, Hafidz mengangkat.

"Ha... halo, Bu?"

"Fidz, Nak," suara ibunya terdengar lemah. "Aku di rumah sakit. Dokter bilang harus operasi... tapi uangnya..."

Hafidz menutup mata. Dunia seperti runtuh sekaligus menawarkan jalan keluar yang gelap.

Ia melihat lagi layar ponsel. Aplikasi biru itu masih terbuka, berkedip-kedip seperti hidup sendiri.

Di luar, hujan sudah reda. Langit masih gelap, tapi di kejauhan, ada kilatan biru samar—bukan petir, tapi sesuatu yang lain.

Hafidz menarik napas dalam.

"Apa ini beneran..." gumamnya, suara hampir tak terdengar. "Atau cuma halusinasi orang stres?"

Tapi ketika ia melihat angka utang di spreadsheet, lalu foto ibunya yang tersimpan di galeri, dan akhirnya tatap lagi ke aplikasi biru itu...

Sebuah keputusan mulai terbentuk di benaknya. Sebuah keputusan yang akan mengubah segalanya.

Ponsel bergetar sekali lagi. Kali ini, hanya satu pesan pendek dari aplikasi itu:

"Selamat datang di dunia baru, Hafidz. Mari kita mulai."

---

TO BE CONTINUED...

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca