Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Perisai Langit

Perisai Langit

Royal Junior | Bersambung
Jumlah kata
79.9K
Popular
329
Subscribe
89
Novel / Perisai Langit
Perisai Langit

Perisai Langit

Royal Junior| Bersambung
Jumlah Kata
79.9K
Popular
329
Subscribe
89
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeUrbanBalas DendamPewaris
Jace Aldric mencapai titik terendah hidupnya di sebuah apartemen sempit di Jakarta. Namun, takdir memaksanya berhenti mengasihan diri saat kakaknya, Riana, tewas dalam kecelakaan yang disengaja. Jace ditinggalkan bersama Arka, bayi laki-laki berusia empat bulan yang membawa beban 20% saham Wiraatmaja Group.Konflik pertama meledak saat Marcus, mantan kepala keamanannya, datang untuk merebut Arka atas perintah Barata—pria yang mencuri perusahaan Jace. Di koridor rumah sakit yang dingin, Jace harus bertarung dengan tangan kosong sambil mendekap bayi di dadanya. Ia menyadari bahwa Arka bukan sekadar beban, melainkan satu-satunya alasan baginya untuk kembali menjadi singa. Jace melarikan diri ke dalam kegelapan kota, membobol brankas rahasia bank untuk mengambil data konspirasi, dan mendeklarasikan perang terbuka terhadap siapa pun yang mencoba menyentuh keponakannya.
RERUNTUHAN HARGA DIRI

Jakarta, 02:00 WIB.

Jace Aldric Wiraatmaja tidak sedang bertahta. Ia sedang tenggelam dalam residu kehancurannya sendiri. Di sebuah apartemen sempit yang luasnya tak sebanding dengan ruang ganti di mansion masa lalunya, Aldric duduk di atas lantai marmer yang dingin. Di tangannya bukan lagi kristal berisi wiski single malt berusia tiga puluh tahun, melainkan sebotol bir murahan dengan label yang sudah terkelupas.

Ruangan itu gelap. Hanya cahaya lampu jalanan Jakarta yang masuk melalui jendela besar, membiaskan bayangan jeruji di dinding—sebuah metafora sempurna bagi hidupnya yang kini dipenjara kemiskinan.

"Sialan," umpatnya lirih. Suaranya serak, parau oleh amarah yang membeku. Ponsel di sampingnya bergetar hebat. Nama 'Riana' berkedip di layar. Aldric ragu. Ia sudah memutus kontak dengan kakaknya selama berbulan-bulan karena harga dirinya yang hancur tak sanggup menerima belas kasihan. Namun, getaran itu tak berhenti.

"Mau apa lagi kau, Ri?" gumamnya seraya menggeser layar. "Bukankah sudah kukatakan jangan hubungi aku sampai aku kembali ke atas?"

"Apakah ini Jace Aldric?" suara di ujung telepon bukan Riana. Suara itu datar, dingin, dan profesional layaknya suara kematian. Jantung Aldric berdegup kencang. "Siapa ini? Di mana kakak saya?"

"Segera ke Rumah Sakit Medika, Tuan. Pasien atas nama Riana Wiraatmaja terlibat kecelakaan beruntun di Tol Dalam Kota. Kondisinya kritis."

Dunia Aldric yang sudah retak, kini hancur berkeping-keping. Tanpa pikir panjang, langkahnya melesat ke rumah sakit. Beberapa saat kemudian di Unit Gawat Darurat, bau antiseptik menyengat indra penciumannya. Aldric berlari menyusuri koridor, mengabaikan tatapan orang-orang pada kemejanya yang berantakan. Ia menemukan tirai putih yang kusam di sudut ruangan. Di baliknya, Riana terbaring lemah di tengah hutan kabel dan selang.

"Ri? Riana!" Aldric menerjang maju, mencengkeram tangan kakaknya yang dingin.

"Jace ...," suara Riana hampir tidak terdengar, kalah oleh desis mesin oksigen. "Kau ... datang ..."

"Jangan banyak bicara. Aku akan panggilkan dokter terbaik. Aku akan, aku akan mengurus semuanya!" Suara Aldric gemetar. Untuk pertama kalinya, sang predator bisnis itu tampak seperti bocah kecil yang ketakutan.

"Tidak ada waktu, Jace. Dengar aku," Riana menggunakan sisa kekuatannya untuk menarik tangan Aldric mendekat ke wajahnya. "Arka ... dia hanya punya kau sekarang."

"Apa maksudmu? Kau akan sembuh! Kita akan membesarkannya bersama!"

Riana menggeleng lemah. Air mata jatuh di sudut matanya yang memar. "Jangan biarkan mereka, Jace ... Jangan biarkan dewan direksi mengambilnya. Mereka hanya menginginkan warisannya."

"Warisan apa? Siapa yang mau mengambil bayi?" Aldric bertanya dengan nada mendesak.

"Surat itu ... di dalam tas bayi," napas Riana mulai pendek dan memburu. Garis di monitor jantung di belakangnya mulai berfluktuasi liar. "Jace ... bangunlah. Jangan mati sebelum waktunya hanya karena harga dirimu. Demi dia ... jadilah singa lagi. Kembalilah ke Wiraatmaja ...."

"Riana! Jangan tinggalkan aku! Riana!"

Tit.

Bunyi panjang itu adalah lonceng kematian. Garis hijau di monitor itu menjadi datar. Aldric terdiam, tangannya masih mencengkeram jemari Riana yang perlahan kehilangan kehangatannya. Di tengah riuh rendah suster yang datang menyerbu, Aldric hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang kini dipenuhi rasa benci yang murni.

Dua jam kemudian, Aldric berdiri di koridor rumah sakit yang sepi. Di pelukannya, ada sebuah beban yang terasa lebih berat dari seluruh utang dan kegagalannya yakni seorang bayi laki-laki berusia empat bulan bernama Arka Langit Wiraatmaja.

"Aku bahkan tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri, kecil," bisik Aldric pahit sambil menatap wajah Arka yang terlelap. "Bagaimana aku bisa menyelamatkanmu?"

Ia duduk di bangku kayu yang keras dan membuka tas bayi yang diberikan perawat. Di dalamnya terselip amplop biru tebal. Begitu membacanya, napas Aldric tertahan. Itu adalah sertifikat saham nominee—kepemilikan rahasia atas 20% saham induk Wiraatmaja Group yang selama ini disembunyikan Riana sebagai jaring pengaman. Ada catatan kecil di sana berbunyi, 'Saham ini hanya bisa diaktifkan oleh wali sah Arka. Kembali ke takhtamu, Jace. Rebut kembali milik kita.'

Langkah kaki yang berat dan teratur menggema di ujung koridor. Aldric mendongak. Tiga pria berpakaian jas hitam rapi berjalan ke arahnya. Di depan mereka berdiri Marcus, mantan kepala keamanannya.

"Tuan Aldric," Marcus menyapa, namun suaranya tidak lagi memiliki rasa hormat. "Kabar duka menyebar cepat di kalangan dewan."

"Apa yang kau lakukan di sini, Marcus?" tanya Aldric, suaranya dingin dan tajam. "Barata mengirim anjingnya untuk mengendus darah?"

Marcus tidak tersenyum. "Saya punya perintah resmi dari Dewan Direksi Wiraatmaja Group. Mengingat kondisi keuangan Anda yang tidak stabil dan catatan hukum Anda, Anda dianggap tidak kompeten untuk mengasuh ahli waris."

"Ulangi lagi kalimatmu," desis Aldric.

"Berikan bayi itu pada kami, Tuan. Kami diperintahkan untuk membawanya ke fasilitas perwalian yang ditunjuk perusahaan demi 'keamanan' aset perusahaan." Marcus melangkah maju, tangannya terulur.

Aldric berdiri perlahan. Ia mengeratkan pelukannya pada Arka. "Langkah kaki kalian terlalu berisik untuk sebuah rumah sakit. Dan mulutmu terlalu kotor untuk menyebut nama keponakanku."

"Jangan mempersulit ini, Jace," ujar Marcus, kini nada suaranya berubah menjadi ancaman. "Kau tidak punya uang, tidak punya pengacara, serta tidak punya kekuasaan. Berikan anak itu sebelum kami menggunakan kekerasan."

"Kau pikir aku sudah mati, Marcus?" Aldric maju selangkah, menatap tepat ke mata pria yang tingginya sepuluh sentimeter di atasnya itu. "Aku adalah orang yang membangun karirmu. Dan aku adalah orang yang bisa menghancurkannya."

"Itu Jace yang dulu. Sekarang, kau hanya pecundang dengan bayi yang malang. Ambil anak itu!" perintah Marcus pada dua anak buahnya.

Saat tangan salah satu pengawal mencoba menyentuh bahu Aldric, insting predatornya meledak. Dengan satu tangan tetap mendekap Arka erat ke dadanya, tangan lainnya melesat, mencengkeram pergelangan tangan pengawal itu dan memutarnya hingga bunyi krek terdengar.

"Jangan. Sentuh. Dia!" Aldric mendesis.

"Tahan dia!" teriak Marcus.

Aldric tidak menunggu. Ia menendang lutut pengawal pertama hingga pria itu tersungkur, lalu menggunakan momentum itu untuk menerjang pintu darurat. Arka mulai merintih, terbangun oleh gerakan kasar pamannya.

"Diamlah, Arka. Paman di sini," bisik Aldric sambil berlari menuruni tangga darurat.

"Kejar dia! Jangan sampai dia keluar dari gedung ini!" suara Marcus menggema dari atas.

Aldric berlari menembus rasa sakit di paru-parunya. Ia menerjang keluar dari pintu belakang rumah sakit, langsung disambut oleh hujan gerimis yang dingin. Ia tidak punya mobil. Ia tidak punya arah. Namun, ia punya tujuan. Ia berlari menyusuri gang-gang sempit di belakang rumah sakit, menghindari sorot lampu mobil hitam yang mulai menyisir jalanan. Akhirnya, ia sampai di bawah sebuah jembatan layang yang gelap dan pengap. Ia bersandar di pilar beton, terengah-engah, peluhnya bercampur dengan air hujan.

Arka mulai menangis keras. Suaranya memecah kesunyian malam.

"Shhh ... maafkan aku, Arka. Maafkan aku," Aldric mendekap bayi itu, mencoba memberikan kehangatan dari tubuhnya sendiri yang gemetar. Ia menatap wajah Arka di bawah cahaya lampu merkuri yang remang. Bayi itu memiliki mata yang persis seperti Riana. Di saat itu, rasa kasihan pada diri sendiri yang menyelimuti Aldric selama setahun terakhir musnah, digantikan oleh kemurkaan yang murni.

"Mereka pikir mereka bisa mengambil semuanya dariku?" Aldric bergumam, suaranya kini dipenuhi otoritas yang selama ini hilang. "Mereka pikir mereka bisa menyentuh apa yang ditinggalkan kakakku?"

Ia berdiri tegak, meski pakaiannya basah kuyup dan hatinya hancur. Ia menatap ke arah gedung pencakar langit Wiraatmaja Tower yang terlihat samar di kejauhan.

"Sampaikan pada Barata, Marcus," bisik Aldric pada kegelapan malam. "Masa liburannya di kursiku sudah berakhir. Sang pemilik sah sudah kembali, dan kali ini, aku tidak akan bermain menurut aturan kalian."

Malam itu, di bawah kolong jembatan yang kotor, Jace Aldric mati sebagai pecundang dan lahir kembali sebagai pelindung yang haus darah. Ia kini memiliki satu alasan untuk membakar dunia yaitu bayi di pelukannya.

"Ayo, Arka," katanya, suaranya kini sekeras baja. "Kita punya kerajaan yang harus direbut kembali."

Lanjut membaca
Lanjut membaca