

Aku seharusnya pulang malam itu.
Setelah seharian mengangkat semen dan besi tua di proyek bangunan mangkrak pinggir kota, tubuhku sudah nyaris roboh. Upah harianku bahkan belum dibayar penuh. Mandor hanya bilang, “Besok sekalian.”
Besok.
Kata yang selalu dipakai orang untuk menunda hidupku.
Namaku Raka.
Dua puluh tujuh tahun.
Dan malam itu, aku memilih lembur sendirian—membersihkan sisa puing di bagian belakang proyek, tempat yang selalu dihindari pekerja lain.
Katanya, tanah di sana “jelek”.
Aku tidak percaya hal-hal seperti itu. Orang miskin tidak punya kemewahan untuk takut pada cerita.
Lampu sorot satu-satunya menyala redup. Tanah becek karena hujan sore. Aku mencongkel papan tua yang menutup lubang bekas fondasi lama.
Lalu tanah di bawah kakiku ambles.
Aku tidak sempat berteriak.
Tubuhku jatuh, membentur sesuatu yang keras. Nyeri menjalar dari punggung sampai tengkuk. Napasku tercekat oleh bau yang langsung menyerbu hidung—bau tanah lembap bercampur sesuatu yang busuk… tapi tua.
Aku terbatuk, meraba sekeliling. Senter ponselku menyala.
Cahaya itu menyapu ruangan sempit di bawah tanah.
Dan saat itulah aku sadar—
Aku tidak jatuh ke ruang kosong.
Aku jatuh ke kuburan.
Tulang-belulang berserakan di lantai. Tengkorak manusia menumpuk, sebagian masih menyisakan rambut kusam. Dinding beton dipenuhi goresan nama, ratusan—ribuan—seolah seseorang mencakar dinding dengan putus asa sebelum mati.
“Ini… apa…” suaraku bergetar.
Tanganku gemetar saat menyentuh lantai. Tanahnya tidak kering. Lembap. Lengket.
Bukan lumpur.
Aku mundur dengan panik, senterku bergetar, lalu cahaya itu berhenti pada satu titik di sudut ruangan.
Sebuah tubuh manusia.
Masih utuh.
Tidak membusuk.
Kulitnya pucat keabu-abuan, seperti lilin. Matanya tertutup. Dadanya tidak bergerak—tapi anehnya, tidak ada bau bangkai segar.
Dan di dadanya, tertanam sesuatu.
Sebuah kepingan hitam legam, seperti logam retak, dengan ukiran asing yang terasa salah hanya dengan dipandang.
Aku ingin lari.
Sumpah, aku ingin lari.
Tapi kakiku tidak bergerak.
Udara di ruangan itu berubah berat. Dingin menjalar pelan, bukan ke kulit—tapi ke dalam dada.
Lalu aku mendengarnya.
Bukan dari telinga.
“Akhirnya… ada yang jatuh ke sini.”
Aku tersentak. Nafasku memburu.
“Siapa… siapa di sana?!” teriakku, suaraku memantul, terdengar kecil dan pengecut.
Mayat itu… tersenyum.
Perlahan. Kaku. Retakan halus muncul di kulit wajahnya.
Dadanya bergerak.
Aku mundur terlalu cepat. Kakiku tersandung tulang. Aku jatuh. Siku kiriku terhantam keras. Rasa perih menjalar—dan aku merasakan darah hangat mengalir.
Beberapa tetes darah menetes ke lantai… lalu mengalir ke arah tubuh itu.
Begitu darahku menyentuh artefak—
CAHAYA HITAM MELEDAR.
Ukiran di kepingan itu menyala merah gelap. Ruangan bergetar. Tulang-tulang berderak seperti disentuh sesuatu yang tak terlihat.
Mayat itu membuka mata.
Matanya hitam seluruhnya.
“Darah orang terbuang…”
Aku mencoba merangkak, tapi lantai seperti mencengkeramku.
“Kau boleh hidup.”
Senyumnya melebar, tidak manusiawi.
“Tapi kau akan membawa kutukan kami.”
Artefak itu terlepas dari dadanya, melayang… lalu menancap ke dadaku.
Rasa dingin menusuk jantungku. Aku menjerit, tapi suaraku tenggelam dalam bisikan ratusan suara lain—marah, putus asa, lapar.
“Bangkitlah…”
“Balas dunia…”
“Bayar dengan dirimu…”
Pandangan mataku gelap.
Detik terakhir sebelum kesadaranku hilang, aku sadar satu hal—
Tempat ini bukan kuburan.
Ini penjara.
Dan aku baru saja membuka segelnya.
Suara-suara itu tidak berhenti ketika aku terjatuh.
Mereka tidak berteriak. Tidak menjerit.
Mereka berbisik, ratusan bisikan yang saling tumpang tindih, seperti orang-orang yang berbicara terlalu dekat dengan telingaku.
Aku menekan tangan ke dada. Panas. Dingin. Dua rasa bertabrakan di satu titik—di tempat artefak itu menancap, seolah menjadi bagian dari tubuhku.
“Lepasin…” aku terengah. “Tolong… lepasin…”
Jawabannya adalah tawa pelan. Dalam. Berlapis.
“Kami sudah terlalu lama menunggu.”
Tulang-belulang di lantai mulai bergetar. Bukan bergerak, tapi beresonansi, seolah sesuatu di bawah tanah ikut bangun bersama artefak itu. Retakan merambat di dinding beton. Goresan nama-nama di sana mulai menghitam, mengeluarkan cairan pekat seperti tinta bercampur darah.
Aku melihat nama-nama itu lebih jelas sekarang.
Ada yang ditulis rapi.
Ada yang dicakar.
Ada yang hanya satu huruf berulang, seolah penulisnya sudah tidak mampu berpikir.
Aku ingin menutup mata, tapi pandanganku terkunci pada mayat yang tadi terbaring kaku.
Tubuh itu kini setengah duduk. Retakan di kulitnya melebar, memperlihatkan sesuatu yang bukan daging—lebih mirip bayangan padat, bergerak lambat di balik lapisan manusia palsu.
“Kau tahu kenapa tempat ini dikunci?”
Aku menggeleng lemah, meski tenggorokanku terlalu kering untuk bersuara.
“Karena kami bukan korban.”
Aku menelan ludah. Jantungku berdetak tidak beraturan.
“Kami adalah yang dipilih… lalu dibuang.”
Bayangan itu merayap keluar dari tubuh mayat, menyatu dengan dinding, lantai, tulang-tulang. Ruangan bawah tanah itu tidak lagi terasa seperti ruang—lebih seperti perut sesuatu yang hidup.
Aku terseret sedikit ke belakang tanpa menyentuh apa pun. Tubuhku melayang rendah di atas lantai, seolah gravitasi di sini punya kehendak sendiri.
Kenangan yang bukan milikku menghantam kepalaku.
Api.
Teriakan.
Doa yang dipotong paksa.
Aku melihat orang-orang berlutut, tangan terikat, wajah tertutup karung. Aku melihat simbol yang sama dengan artefak itu—digambar dengan darah segar. Aku merasakan ketakutan mereka, kemarahan mereka, kebencian yang dipendam sampai mati.
Aku berteriak.
Bukan dengan suara.
Tapi dengan pikiran.
“Berhenti! Aku bukan bagian dari ini!”
Ruangan bergetar keras. Debu runtuh dari langit-langit. Balok beton jatuh, menghantam lantai beberapa senti dari kepalaku.
Bayangan itu berhenti bergerak.
“Tidak,” jawab suara itu pelan.
“Tapi sekarang kau wadahnya.”
Aku merasakan sesuatu mengunci di dalam diriku. Bukan seperti borgol. Lebih seperti pintu yang ditutup dari dalam.
Artefak di dadaku berdetak—selaras dengan jantungku.
DUK.
DUK.
Setiap detak membawa sensasi asing: dingin yang menenangkan, lalu panas yang menyakitkan. Seolah tubuhku sedang ditulis ulang, sedikit demi sedikit.
“Kalau aku mati di sini…” pikirku kacau, “…tidak ada yang akan mencari.”
Wajah ibuku terlintas. Wajah ayahku yang lebih sering diam daripada peduli. Wajah Alya—datar, kecewa, lalu berpaling.
Tidak ada satu pun dari mereka yang akan turun ke lubang ini.
Kesadaran itu tidak membuatku sedih.
Ia membuatku kosong.
Dan dari kekosongan itu, sesuatu tumbuh.
“Bagus,” bisik suara itu, kali ini terdengar puas.
“Kau tidak menolak.”
Aku tertawa pendek. Serak. Hampir histeris.
“Apa gunanya menolak,” gumamku. “Aku sudah dibuang dari atas.”
Untuk pertama kalinya, suara-suara itu terdiam.
Bayangan berhenti bergerak.
Lalu—
“Kalau begitu,” kata mereka serempak,
“bangkitlah.”
Sebuah hentakan menghantam dadaku dari dalam. Aku memuntahkan darah hitam pekat. Rasanya seperti paru-paruku diremas, lalu dilepaskan paksa.
Aku jatuh ke lantai, tubuhku akhirnya menyentuh tanah lagi.
Artefak itu tidak lagi menonjol. Ia menyatu, meninggalkan bekas seperti luka bakar berbentuk simbol asing di kulitku.
Suara-suara meredup. Satu per satu, menghilang ke dalam keheningan yang menekan.
Lampu senter ponselku berkedip… lalu mati.
Gelap total.
Aku terengah, dada naik turun keras. Setiap napas terasa berat, tapi—anehnya—tidak sakit seperti seharusnya. Tubuhku terasa… utuh, meski kepalaku masih berdenyut.
Aku mencoba bangkit.
Kakiku gemetar, tapi menopang berat badanku.
Ruangan itu tidak berubah—tulang, dinding, goresan—namun atmosfernya berbeda. Seperti setelah badai besar berlalu, meninggalkan kehancuran yang sunyi.
Mayat di sudut ruangan telah runtuh menjadi debu hitam.
Tidak ada apa-apa di sana sekarang.
Aku berdiri terpaku beberapa detik, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Lalu aku menyadari sesuatu.
Aku mendengar.
Bukan suara dari ruangan ini—melainkan dari atas. Langkah kaki. Suara besi bergesekan. Suara orang berbicara.
“…di belakang proyek, cek lagi!”
“Cepetan, hujan mau turun lagi!”
Orang-orang.
Pekerja proyek.
Aku seharusnya lega. Tapi instingku berteriak.
Sesuatu di dalam diriku—sesuatu yang baru bangun—tidak ingin mereka melihatku keluar dari sini.
Aku menelan ludah.
Tanganku mengepal, dan tanpa aku sadari, simbol di dadaku terasa hangat—seolah merespons niatku.
Di kejauhan, aku mendengar suara papan ditarik.
Cahaya mulai merembes dari celah di atas.
Aku berdiri di tengah kuburan massal, napasku mulai stabil, pikiranku dingin secara aneh.
Aku tidak tahu apa yang aku bawa keluar dari tempat ini.
Tapi satu hal jelas—
Aku tidak lagi kosong.
Dan dunia di atas sana…
tidak siap.