Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Petani Muda Idaman Wanita

Petani Muda Idaman Wanita

Akarsana | Bersambung
Jumlah kata
42.0K
Popular
3.5K
Subscribe
677
Novel / Petani Muda Idaman Wanita
Petani Muda Idaman Wanita

Petani Muda Idaman Wanita

Akarsana| Bersambung
Jumlah Kata
42.0K
Popular
3.5K
Subscribe
677
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperHaremMengubah Nasib
Wira mendapatkan warisan Kitab Nagaraja dari Naga Kuno Besakih yang menghuni kalung liontin naganya saat dia nyaris mati karena menyelamatkan adiknya dari para pelaku pelecehan. Dia pun bangkit dan memiliki kemampuan supranatural hebat di bidang medis, tani, bela diri, dan ramalan. Bahkan, dirinya tak lagi bisu. Dia pun menghajar para pelaku pelecehan yang merendahkan adiknya. Dia menyembuhkan ibunya dari penyakit kanker. Dia berusaha memperbaiki kehidupannya dan melakukan seribu kebaikan yang mampu memikat hati para wanita di sekitarnya.
Wira, Si Pemuda Bisu

Wira mendongak ke angkasa. Dia bisa melihat bahwa langit sudah berubah warna dari biru cerah menjadi kuning keemasan. Tanda bahwa sudah saatnya dia pulang ke rumah.

Dia segera mengambil tali tambang lusuh yang selalu dia bawa setiap kali dia naik gunung untuk mengumpulkan kayu bakar serta mengambil buah dan sayur liar untuk kebutuhan rumah sehari-hari. Dia melakukan semua ini agar dia bisa berhemat sekaligus mengumpulkan tanaman herbal yang bisa mengurangi rasa nyeri di perut ibunya.

Senyuman di wajah Wira merekah saat dia melihat kayu bakar, sayur, dan tanaman herbal yang berhasil dia kumpulkan. Dia mengikat semuanya dengan erat lalu memanggulnya di punggung.

Syukurlah, aku bisa kumpulin sebanyak ini. Jadi, besok aku bisa fokus ngurusin tanaman di ladang. Aku harus pulang sekarang, pikir Wira. Kalau nggak pulang sekarang, hewan liar bisa memakanku.

Langkah Wira pun berjalan cepat menurun menyusuri jalan gunung. Tak berapa lama, dia mendengar suara teriakan minta tolong dari sisi kirinya.

Dia menghentikan langkahnya. Seharusnya dia tak perlu terlalu peduli pada suara teriakan itu. Namun, suara teriakan yang terdengar seperti suara seorang wanita renta itu membuat hatinya luluh.

Wira teringat akan ibunya. Oleh karena itu, dia segera pergi dan mendatangi sumber suara itu.

Tak berapa lama, dia melihat seorang wanita tua tengah terduduk di bawah pohon. Wanita tua itu mengeluh kesakitan, "Sakit sekali! Kakiku keseleo! Kenapa nggak ada yang datang menolongku?"

Wira menghampiri wanita tua yang mengenakan kebaya warna hitam lusuh dan jarit yang warnanya kuning memudar. Dia duduk jongkok dan menggerakkan tangannya untuk menanyakan apa yang terjadi pada wanita tua itu.

"Kau bisu ya?" celetuk wanita tua itu tanpa pikir panjang.

Wira mengangguk. Dia tak merasa sakit hati karena dia memang sudah lahir bisu sejak lahir. Masih untung dia tidak tuli dan buta. Itulah yang selalu Wira pikirkan untuk menghibur dirinya meski dia sering diejek oleh orang-orang desa.

"Nak, kakiku keseleo. Apa kau bisa membantu menggendongku sampai bawah?" pinta wanita tua itu. Dia kemudian mengeluarkan kalung dengan liontin berbentuk naga berwarna hijau. "Aku akan memberimu kalung ini sebagai bayaran."

Wira mengangguk karena menyukai kalung itu. Lagipula, dia juga mau turun ke bawah dan tak masalah jika membantu wanita tua itu.

Wira kemudian menata barang bawaannya lagi agar dia bisa menggendong wanita tua itu. Dengan sisa tenaganya, dia mampu turun gunung sambil menggendong wanita tua itu dengan kondisi selamat.

"Terima kasih ya, Nak," ujar wanita tua itu. Dia menyerahkan kalung itu pada Wira. "Pakailah kalung ini. Kamu pasti akan selalu beruntung."

Wira mengangguk dan menggerakkan tangannya untuk menanyakan ke mana wanita tua itu akan pergi. Seperti memahami ucapan Wira, wanita tua itu menjawab, "Nanti anakku akan menjemputku. Kamu pergilah dulu."

Wira mengangguk. Dia pun mengangkat barang bawaannya dan pergi pulang.

Sesampainya di rumah, Wira melihat ibunya tampak kesakitan di dapur. Dia segera menurunkan barang bawaannya dan membantu ibunya kembali ke kamar.

Wira menatap sedih ibunya yang kesakitan. Dia menggerakkan tangannya untuk memberitahu ibunya bahwa dia akan masak sekaligus membuatkan rebusan tanaman herbal yang baru dia temukan di gunung.

Ibu Wira yang bernama Sarni mengangguk sedih. Dia pura-pura tersenyum dan berucap, "Terima kasih, Nak. Kamu istirahat dulu saja. Ibu sudah masak nasi tadi. Tinggal bikin sayur dan goreng ikan tangkapanmu tadi pagi."

Wira mengangguk paham. Dia pun ke dapur untuk membuatkan rebusan tanaman herbal agar nyeri di lambung ibunya berkurang. Setelah 30 menit berlalu, dia pun mewadahi hasil rebusan obat di mangkok lalu membawanya ke kamar ibunya.

Seperti biasa, Wira menyuapi ibunya dengan rebusan tanaman herbal. Sarni menatap Wira dengan pandangan penuh syukur.

Semenjak suaminya meninggal dunia setahun lalu dan dia menderita kanker lambung, Wira yang mengambil alih semua pekerjaan rumah. Bahkan, Wira merelakan beasiswa S1-nya di universitas terbaik di kota demi bekerja di ladang dan mengurusi dirinya sakit. Mengingat semua itu, membuat hati Sarni semakin merana.

Sarni menyeka air matanya yang membasahi pipi. Wira menatap bingung ibunya lalu bertanya dengan bahasa isyarat, "Ibu, kenapa? Masih ada yang sakit?"

Sarni segera menggelengkan kepala. "Ibu baik-baik saja. Ibu cuma sedih karena nggak bisa bantu-bantu kamu," ujar Sarni dengan suara seraknya menahan tangis.

Wira tetap berusaha tersenyum dan menatap ibunya dengan pandangan optimis. Dia kemudian membalas ucapan ibunya dengan bahasa isyarat, "Tenang saja, Bu. Aku nggak pernah sedih dan aku akan bekerja keras untuk keluarga kita."

Hati Sarni semakin pilu sehingga tangisnya malah semakin menderas. "Kalau saja Ibu nggak sakit dan bapakmu masih hidup. Kamu nggak perlu kayak gini dan bisa fokus kuliah. Maafin Ibu dan almarhum Bapakmu ya, Wira?" ujar Sarni dengan perasaan bersalah.

Wira mengangguk agar ibunya tak lagi bersalah. Dia kemudian menggunakan bahasa isyarat lagi. "Ibu nggak usah sedih. Sekarang Ibu istirahat saja. Aku mau bantu Citra masak biar Citra bisa makan cepat dan fokus belajar," Wira kemudian melangkah keluar kamar ibunya. Dia berusaha untuk tetap tabah dan tak sentimental meski kondisinya begitu menyedihkan sekarang.

Dia memang sudah bertekad untuk fokus bekerja dan berbakti pada ibunya. Lagipula, sebagai orang bisu, dia sadar bahwa gelar sarjana tak akan terlalu membantunya. Lebih baik jika dia bekerja dan mengumpulkan banyak uang untuk biaya kuliah adik perempuannya, Citra. Dengan begitu, Citra bisa memiliki masa cerah.

Memikirkan adik perempuannya, Wira tersadar bahwa adiknya belum sampai di rumah. Perasaannya menjadi tak nyaman dan dia pun berpamitan pada ibunya untuk menjemput Citra ke sekolah.

Wira mengayuh sepeda tuanya melewati pematang sawah menuju ke sekolah adiknya. Saat akan menyeberang ke gedung sekolah adiknya, Wira melihat adiknya ditarik paksa oleh beberapa siswa menuju ke sebuah gedung tua di sebelah gedung sekolah.

Wira pun mengikuti mereka. Hatinya berdebar hebat penuh dengan pikiran buruk. "Mereka mau ngapain? Jangan sampai mereka bully Citra!"

Firasat Wira ternyata bukan hanya khayalan. Ketika dia berhasil mengejar rombongan siswa yang menarik Citra, dia bisa menyaksikan Citra didorong hingga jatuh ke tanah berlumpur.

"Aku nggak ambil uangmu, Tiko!" Citra membela diri atas tuduhan yang dilontarkan oleh teman satu kelasnya itu. "Aku memang nggak ikut olahraga karena perutku sakit. Tapi, aku di UKS aja. Aku nggak balik ke kelas sama sekali sampai pulang sekolah!"

"Omong kosong!" Tyas menatap tajam Citra. "Aku tadi lihat kok kamu di kelas dan ambil tasnya Tiko. Kamu pasti yang nyolong uang Tiko!"

"Bener itu! Kamu kan miskin. Kamu pasti sengaja nyolong uang Tiko biar bisa bayar field trip bulan depan, kan?" imbuh Dika.

"Udahlah. Mana ada maling mau ngaku maling. Kalau ngaku, penjara bakalan penuh, kan?" Tiko menyeringai menatap Citra. Dia mendekati Citra dan menarik kerah baju Citra dengan kasar. "Kita lihat apa lo bakalan ngaku!"

"Tiko! Hentikan! Jangan!" Citra berusaha mendorong Tiko yang hendak merobek kemejanya.

Wira mendelik marah. Dia berlari dan menendang Tiko. Pandangannya menatap tajam ke Tiko.

"Mas Wira!" Pandangan Citra berkaca-kaca melihat Wira datang menyelamatkannya.

Tiko bangun dengan bantuan Dika. Tyas yang pernah bertemu dengan Wira langsung berucap, "Itu Wira. Masnya Citra. Dia bisu. Pukulin saja."

"Oh, bisu ternyata!" Dika dan Tiko menyeringai licik. Mereka pun segera mengepung Wira dan menyerang balik Wira dengan pukulan dan tendangan keras.

Wira berusaha membela diri. Namun, dia tak memiliki dasar bela diri. Jadi, dia dengan mudah dikalahkan. Apalagi, Dika mengambil kayu lalu mengayunkan kayu itu dengan keras ke kepala Wira.

"MAS WIRA!" jerit Citra panik. Dia putus asa melihat Wira terjatuh di tanah dengan kepala mengucurkan darah segar.

Lanjut membaca
Lanjut membaca