

“Cih, sadar diri, Bara! Bau keringatmu itu bikin mual! Sampai kapan pun kamu itu cuma kuli panggul. Tidak punya masa depan, tahu!” teriak seorang gadis, sambil mendorong keras tubuh pemuda di depannya.
Ucapan itu menghantam telinga Bara Pradipa. Sekarang semua orang yang lewat menatap mereka, menjadikan Bara tontonan gratis di tengah debu pasar yang menyesakkan. Bara, pemuda yang tepat hari ini berulang tahun kedua puluh tahun itu berdiri mematung. Ia baru saja meletakkan satu karung beras terakhir di toko itu, ketika memberanikan diri menyatakan perasaan yang sudah dipendamnya sejak ia SMA dan satu kelas dengan gadis itu.
"Kenapa, Siska? Bukankah selama ini kita sudah dekat? Aku selalu ada buat kamu ...." Suara Bara parau.
Selama setahun tahun terakhir, gadis itu tidak pernah menolaknya. Siska selalu tersenyum manis setiap kali bertemu dengan Bara. Ia merasa bahwa status sosialnya yang rendah bukanlah penghalang.
"Dekat? Kamu pikir aku beneran mau sama kuli sepertimu? Bara, sadar! Aku cuma butuh ojek gratis buat antar jemput kuliah dan ke mall. Lumayan kan, aku tidak perlu bayar ongkos!" ungkap Siska sambil melipat tangan di depan dada.
Bayangan Bara saat ia rela kehujanan dan kepanasan demi menjemput Siska di pinggir kota, dengan meminjam motor bosnya. Ia menghemat uang makan tiga hari hanya untuk membelikan Siska bensin, berputar lagi di kepalanya. Ternyata, pengorbanannya hanya seharga tarif ojek di mata gadis itu.
Memang Bara hanyalah lulusan SMA. Ternyata prestasi yang dimiliki semasa sekolah saja tidak cukup. Ia tidak punya uang untuk lanjut kuliah seperti teman-teman lainnya. Apalagi, setelah Nenek jatuh sakit, bagi Bara mencari uang secepatnya adalah jalannya.
"Tapi Siska ... apa kamu tidak ingat kenangan kebersamaan kita?” Suara Bara bergetar.
“Tidak! Untuk apa ingat itu? Buang-buang tenaga saja! Kebersamaan itu cuma cara aku memanfaatkan kebodohanmu. Lagipula, makan tuh kenangan! Memangnya kenangan bisa bikin perut kenyang?" Siska mendengkus sinis dan matanya menatap tajam penuh penghinaan.
"Asal kamu tahu, Bara! Aku itu sudah dilamar sama Juragan Sugondo." Siska mengangkat tangan kanannya. Menunjukkan cincin berkilau di bawah sinar matahari terik siang ini. "Lihat ini! Kalau sama kamu, bisa kasih apa? Kerja aja serabutan, tinggal di rumah reot, dan mukamu juga jelek. Mending aku jadi istri ketujuh Juragan Sugondo. Juragan mau kasih aku mahar tiga hektar sawah, rumah di kota, mobil mewah dan biayai kuliahku, daripada hidup melarat sama kamu yang makan aja susah," lanjut Siksa yang tanpa hati mempermalukan Bara.
Caci maki Siska mengundang tawa dari orang-orang di sekitar. Beberapa pria berbadan besar dengan seragam serba hitam dan teman-teman gadis itu ikut menyoraki Bara.
"Nah, benar itu! Bara ... masih miskin jangan main cinta-cintaan! Tidak pantas!"
Benar-benar, tidak ada sedikit pun simpati di sana.
Seperti belum puas, Siksa melanjutkan, “Belum jadi istri saja aku sudah dikasih pengawal. Lihat kan? Juragan Sugondo sayang sama aku, Bar! Keamananku terjamin.”
Tidak tahan lagi, Bara langsung berlari masuk ke dalam gudang beras. Hinaan kembali terdengar keras dari teman-teman Siska.
“Awas, jangan sampai kamu gantung diri di gudang beras karena ditolak kembang desa!”
Bara duduk tersungkur di pojokan gudang yang gelap. Napasnya memburu dengan dadanya terasa sakit luar biasa. Ia meratapi nasibnya yang malang, memang hanyalah seorang kuli kasar yang tak punya apa-apa. Yatim piatu sejak kecil, Bara tumbuh dengan kasih sayang sang Nenek yang kini sudah renta dan sering jatuh sakit.
Setiap tetes keringat yang ia cucurkan, semuanya ia lakukan demi membelikan obat untuk neneknya dan berharap bisa menyisihkan sedikit uang demi masa depan bersama Siska. Namun sekarang, mimpinya hancur.
Bara mengusap wajah. Malu sekali untuk lanjut bekerja, tetapi bayangan neneknya yang menunggu di rumah berputar di kepala. Akhirnya sampai sore, Bara terus bekerja seperti kesurupan, meski tawa orang-orang terdengar bersahutan. Ia mengangkut karung demi karung tanpa istirahat, mencoba membunuh rasa sakit hatinya dengan kelelahan fisik.
Setelah semuanya selesai, Bara cepat-cepat pulang. Ia juga sempat beli nasi bungkus untuk neneknya. Namun, sampai di halaman rumahnya yang hanya tanah kosong dan becek bekas sisa hujan semalam, Bara melihat pintunya dijebol paksa, dan beberapa tetangga hanya mengintip dari teras mereka.
"Heh Tua Bangka! Kasih tahu cucumu yang miskin ini, jangan berani-berani nyolek calon bini Juragan kalau tidak mau mati!" teriak pria dari dalam.
Bara melangkah ke dalam dan melihat neneknya sudah terduduk di atas lantai sambil menangis.
“Nenek?!” teriak Bara, sampai tiga pria yang mengelilingi Nenek menatap ke arahanya. “Apa-apaan ini, Pak?” serunya, tidak terima.
Bara maju untuk melindungi Nenek. Namun, dua pria itu memegangi tangannya. Langsung menyeret Bara ke halaman rumah.
“Wah, datang juga kamu. Dasar anak miskin tidak tahu diri!” seorang pria yang Bara lihat tadi di pasar menedang lemari perabotan sampai hancur dan isinya berhamburan keluar.
“Juragan Sugondo marah, kamu melecehkan calon istrinya di gudang beras!” teriak pria itu, di depan muka Bara.
Tubuh Bara dilempar ke atas tanah becek. Kaus oblong lusuh dan jeans belelnya kotor sudah. Tiba-tiba kakinya ditendang keras. Bara meraung kesakitan, tetapi tidak ada yang menolongnya. Ia juga tidak berharap Nenek membantu, mengingat kondisinya.
“Itu fitnah, Pak. Saya tidak pernah melecehkan siapa pun, termasuk Siska,” bela Bara, tidak terima dituduh begitu saja.
“Ini hukuman sekaligus peringatan untukmu Bara! Jangan gangggu si Siska. Dia itu punyanya Juragan Sugondo! Kalau nekat, siap-siap saja tanah sempitmu diambil paksa. Ngerti kamu!” bentak pria yang menendang kaki Bara tadi.
Seperti belum cukup, Bara juga dipukuli oleh ketiga pria besar itu. Ia hanya melindungi kepalanya sambil meringis kesakitan. Setelah tubuhnya penuh lebam dan luka-luka, anak buah Juragan Sugondo langsung pergi. Meninggalkan Bara yang meringkuk sendirian di atas tanah basah.
Saat rasa sakitnya Bara belum hilang, ia mendengar rintihan dari dalam. Ia sekuat tenaga bangkit dan memaksa langkahnya masuk.
Neneknya melihat pada Bara, dan masih terduduk di lantai. "Nek ... Nenek tidak apa-apa? Maaf, Bara tidak berguna." Bara langsung merengkuh bahu wanita tua itu dan mendudukkan di atas dipan.
Sambil menangis Nenek mengusap pipi Bara dengan tangan gemetar. “Ambil kotak besi di kolong dipan.”
Bara menurut dan mengambilkannya, ia menyerahkan kotak kecil itu dengan hati-hati ke pangkuan neneknya.
Nenek membuka kunci kotak itu. Di dalamnya, tergeletak sebuah botol kecil berbahan perunggu dengan ukiran sulur-sulur kuno yang rumit.
"Ini Minyak Atar Galih," ucap Nenek. “Hanya boleh dibuka olehmu setelah usia dua puluh tahun. Ini warisan dari buyutmu.” Nenek memberikan botol itu ke tangan Bara. "Obati lukamu dengan ini. Jangan ada yang terlewat. Dan yang paling penting ... oleskan juga di alismu, Bar. Kalau kamu memang orang pilihan, minyak ini bisa bikin hidupmu lebih beruntung.”
Bara langsung saja mengobati luka-lukanya dengan minyak itu yang beraroma campuran kayu cendana tua dan wangi hujan yang segar. Entah kenapa rasa sakit di tubuhnya, perlahan hilang. Ia juga mengoleskan sedikit di alisnya.
Tiba-tiba saja kepalanya terasa dihantam gelombang panas yang dahsyat. Bara mengerang, “Aaarrgghh!”
Dari atas dipan, neneknya berseru, “Bara, lihat dirimu, Nak!”