

Hujan rintik-rintik di Ibukota Jakarta menjadi saksi keruntuhan dunia Jaka. Jaka tersungkur di aspal yang dingin. Nafasnya tersengal untuk mencari udara yang seolah hilang darinya. Jaka hanya dapat memandangi sebuah gerobak hijau di depannya. Gerobak hijau yang sudah menemani setiap langkahnya hampir 20 tahun terakhir. Gerobak hijau tua itu ikut berguling di atas aspal bersama dirinya. Kaca etalasenya yang setiap hari ia bersihkan dengan sungguh-sungguh kini pecah porak poranda. Butiran bakso harapannya terakhir, hari ini tak luput berserakan di aspal tanpa pemilik, bergulir dengan cepat bersamaan dengan tumpahnya kuah bakso yang masih tersisa. Jalanan Aspal yang dingin tersiram kuah bakso hangat.
“Baksoku … ” Rintih Jaka melihat harapan terakhirnya berserak tidak karuan. Darah segar mulai mengucur di keningnya. Jaka tidak dapat mengartikan rasa sakit di tubuhnya kini. Sebuah telepon genggam usang milik Jaka dengan layar pecah keluar dari saku Jaka, tangan Jaka masih dapat meraihnya. Sebuah notifikasi muncul yang masih sempat terbaca oleh Jaka.
“PINJAMAN ANDA TELAH JATUH TEMPO. TOTAL TAGIHAN Rp. 20.000.000. SEGERA LAKUKAN PEMBAYARAN!” Jaka tersenyum getir melihat notifikasi yang menyadarkan kesadarannya. Air matanya mengalir, hatinya lebih pedih daripada luka yang sedang ia rasakan kini.
Pikirannya melayang ke sebuah rumah kecil dipinggir kota, tempat ibunya terbaring lemah. Jaka merasa gagal menjadi anak yang berbakti. Semua usahanya sia-sia. Jangankan untuk membelikan obat jantung untuk ibunya yang kini semakin lemah. Untuk memenuhi gizi sehari-hari ibunya pun Jaka masih belum sanggup. Semua tabungan dan penghasilannya selalu habis untuk membawa ibunya ke rumah sakit saat penyakit ibunya kambuh. Tagihan pinjaman online yang ia ambil untuk menambah kebutuhan rumah sakit semakin hari semakin bertambah banyak.
Jaka menyesali tentang keputusannya 20 tahun yang lalu, andai dia meneruskan sekolahnya mungkin hidup mereka akan lebih baik.
“Ibu … Maafkan Jaka. Andai Jaka bisa hidup kembali Jaka berjanji akan hidup lebih baik dan berusaha lebih untuk kebahagiaan ibu.” rintih Jaka di akhir kekuatannya. Satu tetes air mata mengantar kepergiannya.
DUUUAKKK
Suara benda keras menghantam kayu membuat Jaka tersentak. Dinginnya malam tak lagi dirasakan oleh Jaka. Semua itu berganti dengan hawa pengap yang akrab di hidungnya. Bau nasi baru matang yang membangunkan perut keroncongnya. Jaka bangun dengan terburu-buru, satu sentakan hebat langsung menyadarkan kesadarannya. Nafasnya memburu, tangannya meraba-raba dadanya dan pelipisnya yang tadi mengeluarkan darah kini tampak bersih. Tubuh Jaka terasa segar dan bertenaga.
“Mana darah dan lukanya?” gerutunya dalam hati. ia menatap ke atas langit, langit kamarnya kini berayamkan bambu yang familiar di matanya. Bukan langit malam Jakarta melainkan kepulan asap yang menembus hingga kamarnya yang menghiasi atas tubuh Jaka.
Di lain ruangan sebuah radio tape tua mengalunkan suara pop melayu kesukaan ibunya , sebuah lagu yang sangat populer beberapa puluh tahun yang lalu.
“Jaka kenapa kamu hanya berdiri saja disitu? Kalau kamu gak segera bangun nanti kamu telat ke pasar!” terdengar suara wanita yang sangat dikenal oleh Jaka.
“Kalau kamu telat ke pasar nanti antrian di penggilingan semakin panjang!” Imbuh suara Ibu Jaka dari ruangan lainnya.
Jaka tidak menjawab. Tangannya gemetar. matanya tertuju pada sebuah kalender kertas usang yang ada menggantung tepat di hadapannya. Jaka berdiri dari tempat tidurnya. Ia melangkah maju ke arah kalender itu secepatnya.
Januari 2006.
Dua puluh tahun yang lalu. Kaki Jaka melemah, Jaka jatuh terduduk di lantai. Tangisnya pecah seketika, ia tidak percaya ia kembali kemasa dua puluh tahun yang lalu. Mendengar suara tubuh Jaka yang ambruk, Ibu Jaka segera berlari ke arah kamar Jaka untuk melihat anaknya.
“Ada apa Jaka?” suara Ibu Jaka gemetar takut terjadi apa-apa pada anaknya.
“Ibu … Ibu … ” teriak Jaka histeris.
“Istighfar Jaka, ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?” Ibunya panik, ia berlutut dan memeluk anak semata wayangnya tersebut. Tidak pernah Jaka menangis seperti ini, bahkan ketika ayahnya wafat pun Jaka tampak tegar tidak menangis menggeru seperti ini.
“Ibu sehat?” tanya Jaka tak percaya.
“Tentu ibu sehat-sehat Jaka, kamu bermimpi apa nak?” tanya ibunya khawatir. Jaka memeluk tubuh ibunya yang berbau minyak kayu putih itu dengan erat. Seolah jika ia melepaskan ibunya kali ini, wanita itu akan hilang dari pandangannya.
“Sudah Jaka lepaskan ibu. Sampai kapan kamu akan memeluk ibu seperti ini.”
“Jaka bahagia ibu sehat seperti ini.”
“Kamu ini bicara apa? Pasti mimpi buruk ya? Sudah hapus air matamu. Masak udah sebesar ini masih menangis seperti ini. Apa tidak malu jika calon istrimu tau.”
Jaka menghapus air matanya dengan kasar. Ia menarik nafas dalam-dalam. Aroma Kayu bakar terhidup olehnya. Membuat kesadaran Jaka kembali sepenuhnya.
Ingatan di kepalanya diputar cepat. Semua ini memang hal yang nyata, ia tidak lagi sedang bermimpi. Semua kejadian 20 tahun terakhir ini memang benar-benar terjadi. Ia ingat semua kejadian dengan sangat detail. Tentang ibunya yang mulai sakit jantung akibat pertunangannya yang gagal. Ia ingat tahun-tahun sulit yang ia lalui. Ia harus berjuang dengan pengobatan ibunya yang tidak sedikit. Tabungannya yang telah habis untuk biaya pertunangan dan pengobatan awal, harus membuat dia meminjam dari pinjol. Pinjaman online yang semakin besar membuat hidupnya semakin terpuruk dan berakhir mengenaskan.
“Aku tidak akan terpuruk lagi, aku tidak akan membiarkan ibu jatuh sakit dan tak berdaya seperti waktu itu.” gumamnya dalam hati. Semangat di hatinya berkobar.
“Ayo sudah segeralah sholat dan berangkat ke pasar.” Perintah ibunya yang melihat Jaka masih terpaku.
“Baik bu,.hari ini akan menjadi awal baru bagiku.” ucap Jaka dengan bersemangat. Ibunya tersenyum lebar.
“Ada-ada saja kau ini.” Ucapnya sambil meninggalkan kamar Jaka.
“Aku sudah diberikan kesempatan untuk bisa hidup kembali. Aku harus bisa memanfaatkan kehidupan ini dengan baik.” gumamnya sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Rumah lusuh peninggalan Ayah Jaka ini memang tampak sederhana. tapi rumah ini memiliki banyak kenangan yang Jaka rindukan. Sambil berjalan ke arah kamar mandi, Jaka melihat inci demi inci rumah ini. Rasa rindu yang besar terbanyar penuh.
“Karena ketidak becusan ku, aku dulu sampai harus menjual rumah ini. Aku tidak akan lagi membiarkan peninggalan ayah terjual tidak tersisa. Aku tidak akan membuat ibu tinggal di kontrakan kecil yang jauh dari kata nyaman lagi.” batin Jaka bergemuruh di dalam hati.
“Sudah mandi nak? Itu sarapannya sudah ibu siapkan.” Ucap ibu yang mengagetkan Jaka yang baru keluar dari kamar mandi.
“Bu, hari ini Jaka mau ke pasar, Jaka mau membeli bahan bakso tambahan. Apa ibu masih punya simpanan uang untuk tambahan modal Jaka?”
“Kamu mau beli bahan tambahan apa lagi Jaka?” Tanya Ibu Jaka yang penasaran dengan Jaka yang tiba-tiba berubah.