Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SABUK JIWA PEMIKAT

SABUK JIWA PEMIKAT

Chana Lee | Bersambung
Jumlah kata
25.9K
Popular
100
Subscribe
17
Novel / SABUK JIWA PEMIKAT
SABUK JIWA PEMIKAT

SABUK JIWA PEMIKAT

Chana Lee| Bersambung
Jumlah Kata
25.9K
Popular
100
Subscribe
17
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalBadboyKultivasiPria Miskin
Asep tumbuh sebagai pria yang tak pernah dipilih. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa biasa yang selalu kalah oleh mereka yang lebih berani, lebih kaya, dan lebih diinginkan. Wanita yang ia cintai tidak hanya menolaknya, tetapi juga menjadikannya bahan hinaan seolah kebaikan dan ketulusan tak pernah cukup bagi pria yang tak punya daya tarik. Saat hidupnya benar-benar mencapai titik terendah, Asep menemukan sebuah sabuk pusaka misterius bernama Sabuk Jiwa Pemikat. Artefak kuno yang mampu menggoyahkan perasaan siapa pun. Tatapan dingin berubah hangat, penolakan menjelma ketertarikan, dan orang-orang yang dulu meremehkannya kini takluk tanpa perlawanan. Namun kekuatan itu datang dengan harga. Semakin besar daya pikat yang ia miliki, semakin Asep tergoda untuk membalas semua luka lama. Ia mulai menikmati kuasa atas perasaan orang lain, sabuk Jiwa pemikat membuat Asep digilai, tak hanya oleh gafis-gadis di kampus, bahkan emak-emak hingga suami orang pun turut menggilai Asep. hingga perlahan Asep kehilangan jati diri yang dulu hanya ingin dicintai dengan tulus. Di persimpangan antara dendam dan empati, Asep harus memilih. Tetap menjadi pria baik yang terus diinjak, atau berubah menjadi sosok yang dipuja sekaligus ditakuti, meski harus kehilangan arah hidup dan kemanusiaannya sendiri. Ini bukan kisah tentang cinta yang indah. Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi ketika pria yang terlalu lama diremehkan akhirnya diberi kekuatan untuk menentukan siapa yang pantas merasakan sakit yang sama.
1. Sabuk Pemikat

Asep adalah mahasiswa yang secara administratif hidupnya baik-baik saja, tapi secara batin selalu tertinggal satu langkah dari semua orang. Ia belum pernah pacaran dan masih perjaka bukan karena terlalu pilih-pilih, tapi karena tak pernah dipilih dan selalu ditolak. Hari-harinya hanya diisi dengan duduk rapi di kelas, mengangguk saat dosen bicara, lalu pulang dengan kepala penuh pikiran yang tidak pernah ia ucapkan. Malam -malak berkhayal di kamar atau bahkan di toilet, mengkhayalkan Dian Sastro Wardoyo. Ya,Diam-diam, ia mengidolakan Dian Sastro, bukan karena berharap terlalu tinggi, melainkan karena mengagumi adalah satu-satunya cara mencintai tanpa ditertawakan dan tanpa ditolak.

Hari ini,Asep duduk di barisan tengah ruang kelas ketika suara kursi diseret terdengar dari depan. Sandi berdiri, mengangkat tangannya tinggi-tinggi seolah ingin memastikan semua orang melihat.

“Eh, lihat ini,” katanya lantang.

Beberapa kepala menoleh.termaduk Asep yang duduk di kursi tengah di kelas. Sandi memutar pergelangan tangannya perlahan, membiarkan cahaya lampu kelas memantul di permukaan jam yang melingkar di sana.

Sandi Adalah Mahasiswa tajir sekaligus idaman para wanita, selain berduit, sandi pun punya pengaruh kuat karena ayahnya adalah pemilik saham terbesar di kampus ini.

“Gue baru ambil kemarin. Limited. Masuk ke Indonesia cuma lima biji.”ucap Sandi.

Salah satu mahasiswi mendekat. “Serius? Asli? Lo memang hebat,Sand,”puji Siska,

Sandi lantas menyodorkan tangannya ke Asep. “Pegang aja. Tapi jangan sampai jatuh.pria miskin kayak lo gak mungkin bisa ganti meski hanya kacanya saja!” ucap Sandi sambil menatap Asep dengan tatapan merendahkan.

Asep menyentuh jam tersebut dengan hati-hati, seperti sedang memegang benda rapuh.

“Gila,” kata salah seorang mahasiswa. “Itu harganya pasti setara motor kan?”

“Motor bebek mungkin,” jawab Sandi santai. “Kalau sport, nambah dikit.”

Tawa pecah. Beberapa orang ikut mendekat. Asep melirik dari bangkunya. Jam itu tidak hanya berkilau karena mahal, tapi karena semua mata tertuju ke sana. Ia menunduk kembali, membuka ponselnya. Layar kosong. Tidak ada pesan. Tidak pernah ada padahal tadi ia mengirim pesan kepada Dina,wanita idamannya, tapi pesan Asep hanya dibaca tanpa dibalas.

“Sep,” seseorang menepuk mejanya. “Titip absen ya.”

Asep mengangguk. Ia mengambil kertas itu dan menandatangani. Orang itu bernama Heri, Heri langsung pergi tanpa menunggu, tanpa terima kasih,

Kelas dimulai. Dosen menjelaskan materi. Asep mencatat seperti biasa. Ia selalu mencatat, selalu hadir, selalu mengerjakan tugas tepat waktu. Namun tak satu pun itu membuatnya diperhitungkan.

Saat kelas selesai, mahasiswa berhamburan keluar. Di depan gedung, Dina berdiri. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya cerah, dan Sandi sudah berdiri di sampingnya. Tangannya bertumpu santai di bahu Dina, seolah itu tempat yang memang sudah disediakan untuknya.

Asep memperlambat langkah. Ia menarik napas, lalu mendekat.

“Din,” sapa Asep.

Dina menoleh. Pandangannya turun sekilas, dari wajah Asep ke tas ransel usang di bahunya, lalu ke sepatunya yang mulai pudar.

“Iya?” jawab Dina.

“Aku mau nanya soal tugas kemarin. Kamu sudah—”

“Sep,” Sandi memotong sambil tertawa kecil. “Serius nanya tugas ke Dina atau Cuma modus?”

Beberapa mahasiswa menoleh. Dina tersenyum tipis. Ia tidak menegur Sandi. Tidak juga membela Asep.

“Asep,” kata Dina akhirnya. “Kamu memang baik, tapi bukan tipe aku.”

Asep terdiam. Kalimat itu terasa seperti pintu yang pelan-pelan ditutup.

“Tapi jujur aja,” lanjut Dina. “Kebaikan doang tuh gak cukup.dan jangat chat aku lagi, ingat! Aku gak pernah punya perasaan lebih sama Lo!”

Sandi menyeringai. “eoy denger tuh,bego!Dunia butuh pria yang bikin deg-degan, Sep. Bukan yang ngajak bahas tugas.”

Tawa muncul. Tidak keras, tapi cukup jelas. Cukup ramai untuk membuat Asep merasa semua orang mendengar.

“Aku nggak bermaksud—” Asep mencoba bicara.

Dina mengangkat tangan. “Aku tahu. Tapi kita beda level.”

Kalimat itu diucapkan ringan. Seolah itu fakta sederhana. Tidak ada nada benci. Tidak ada emosi. Justru itulah yang paling menyakitkan.

Sandi menepuk bahu Asep. “Cari yang selevel aja. Biar Hidup jadi lebih gampang.”

Asep berdiri di sana beberapa detik. Ia ingin membela diri tapi melawan Sandi sama saja dengan bunuh diri. Karena selain Sandi itu kaya, orang tuanya juga adalah pemilik saham besar kampus ini. Bahkan dengar-dengar kakak Sandi pun adalah seorang petarung hebat dan preman jelas kakap divkota ibi. Sementara Asep hanyalah pria miskin dari desa yang dikuliahkan orang tuanya dengan modal nekad. Maka Asep pun pergi memilih menghindari Sandi, Tidak ada yang menunggunya. Tidak ada yang merasa bersalah. Dina sudah tertawa lagi. Sandi kembali menjadi pusat perhatian.

“Cih pria miskin mau bersaing denganku,dasar gila!” celetuk Sandi saat Asep berlalu.

Sandi menggandeng Dina dengan dada,membusung dan penuh kesombongan.

Sementara sep berjalan pergi dengan wajah menunduk. Dadanya terasa sesak, tapi tidak ada air mata. Ia sudah terlalu sering berada di posisi ini. Ditolak tdengan tegas, bahkan diludahi wanita pun sering. Dihina tanpa makian. Dibuat kalah tanpa perlawanan.tampang Asep sebenarnya cukup tampan jika dipoles dengan baik hanya saja ia kurang percaya diri dan miskin. Sehingga hal itu sangat tidK menguntungkannya saat menghadapi wanita.

Gerimis turun saat Asep berjalan pulang. Jaket tipisnya basah. Ia berhenti di dekat halte. Seorang kakek tua duduk di bangku lipat kecil. Di depannya terbentang kain lusuh berisi jam tangan lama dan beberapa sabuk.

Asep hendak lewat.

“Mas,” panggil sang kakek pelan.

Asep menoleh. Kakek itu tersenyum.

“Lihat-lihat saja. Tidak beli juga tidak apa-apa.”

Asep mendekat. Ia jongkok. Matanya tertuju pada satu sabuk hitam polos. Tidak mengilap. Tidak mencolok. Tapi utuh.

“Yang itu cocok,” kata sang kakek.

Asep tersenyum pahit. “Saya nggak butuh.”

“Tidak ada yang membeli karena butuh,” jawab sang kakek tenang.

Asep merogoh dompet. Isinya tipis. Ia menghela napas, lalu menyerahkan uang 100 ribu yang sebenarnya untuk bekalnya selama seminggu ke depan.

“Anggap sedekah,” gumam Asep.

Saat sabuk berpindah tangan, kakek itu menahan pergelangan Asep.

“Namanya Sabuk ini adalah sabuk Jiwa Pemikat,” katanya pelan. “Ia memperkuat niat terdalam pemakainya. Orang yang memakai sabuk ini akan memiliki daya pikat yang luar biasa. Wanita mana pun yang kau inginkan akan terpikat oleh pemakai sabuk ini.”

Asep mengernyit. “Kalau niat saya ingin dicintai?”

Kakek itu menatapnya lama. “Maka sabuk ini akan menolongmu.”

Asep mengangguk meski rasanya ucapan sang kakek itu tidak dapat diterima oleh logika. Tapi Saat Asep mengangkat kepala, bangku itu kosong. Kakek dan dagangannya sudah tidak ada.Asep terhenyak. Tapi tidak mau ribet dan memutuskN untuk bangkit dan berjalN kembLi menuju kostnya.

Malamnya, di kamar kos sempit, Asep duduk di tepi kasur. Sabuk itu tergeletak di pangkuannya. Ia menatap lama, lalu tertawa getir.

“Pemikat,” gumamnya. “Siapa yang mau terpikat sama aku.”

Ia memakainya. Tidak ada cahaya. Tidak ada keajaiban. Wajah di cermin tetap sama. Pria yang tidak pernah dipilih.

Namun kali ini, rasa kalah itu seakan berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin. Sebuah harapan.

Asep teringat tawa Sandi. Tatapan Dina. Kalimat, kita beda dunia.

Ia mengepalkan tangan.

“Kalau dunia cuma menghargai yang ber duit,” bisiknya, “dengan sabuk ini, aku akan jadi pria yang diinginkan meski tanpa duit. Bahkan akan kucoba pada Dian Sastro.”Gumam Asep yang benar-benar mengidolakanDian Sastro. Tak hanya mengidolakan bahkan kerap mengkhayalkannya, saat menjelang tidur atau bahkan saat hendak mandi di kamar mandi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca