Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dendam Kehidupan Kedua

Dendam Kehidupan Kedua

Evie Edha | Bersambung
Jumlah kata
22.4K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Dendam Kehidupan Kedua
Dendam Kehidupan Kedua

Dendam Kehidupan Kedua

Evie Edha| Bersambung
Jumlah Kata
22.4K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
18+PerkotaanAksiKonglomeratBalas Dendam21+
Max dan keluarganya dibu nuh oleh istri dan sahabatnya yang ternyata telah lama berselingkuh. Alam memberi dia kesempatan kedua, terlahir kembali, dia memutuskan untuk mengubah nasibnya, memberi pelajaran pada mereka yang sudah membuatnya menderita di kehidupan lalu.
1. Terbunuh

Hah ... hah ... hah ...

Pria dengan penuh luka di tubuh itu terus berlari tanpa alas kaki. Wajahnya penuh luka lebam sebuah pukulan dan garis merah. Tak hanya wajah, tetapi anggota tubuhnya yang lain.

Telapak kakinya berdarah karena menginjak benda asing. Dia mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuh untuk bisa lolos dari sesuatu. Terus berlari dan berlari di kegelapan malam.

Maximian. Pria berusia dua puluh lima tahun itu tengah berada di hutan yang gelap. Tangannya terus menyibakkan beberapa tanaman untuk membuka jalan. Tak lama, dia berhenti dan menyandarkan satu tangannya pada sebuah pohon.

Max mendudukkan dirinya sembari menyandar pada pohon di belakangnya. Dia mendongak dan memejamkan mata masih dengan napasnya yang tersengal.

Max menyibakkan lengan pakaiannya yang sudah compang-camping dan penuh darah, kita bisa melihat lengan bagian atasnya dibalut kain. "Aku harus segera lolos dari mereka dan mengobati luka ini."

Max meraih sesuatu dari saku celananya. Sebuah jam miliknya yang berhasil dia ambil kembali dari para penculik itu sebelum dia kabur dari tempat sekapannya. Max pun mengaktifkan fitur lokasi yang ada di jamnya itu.

"Semoga saja Liana bisa segera menemukanku," ujarnya kemudian. Dia kembali memejamkan mata dan menyandarkan kepala untuk beristirahat sejenak.

Liana adalah istrinya yang sangat dia cintai. Sudah sejak sekolah dia mencintai perempuan yang disebut putri di sekolah karena kecantikannya. Max mampu memberikan segalanya pada Liana.

***

"Kita menemukannya," ujar seseorang. Dia tersenyum melihat layar ponse yang menunjuk sebuah titik lokasi.

Seorang pria mendekat dan ikut menatap layar ponsel di tangan perempuan itu dan tersenyum. "Bagus. Sesuai dugaan kita," ujar Kael.

Keduanya saling tatap mengikis jarak wajah untuk bertukar ciuman. "Ciumanmu selalu membuat aku kecanduan dan lepas kendali. Kalau bukan karena ada sebuah pekerjaan penting, mungkin aku akan memasukimu di sini sekarang juga tanpa peduli kalau kita sekarang ada di mana," pria itu berujar dengan senyuman miring. Satu tangannya menyapu bibir perempuan di hadapannya pelan.

Perempuan itu mengalungkan lengan pada leher si pria. "Kalau masalah ini sudah selesai, kau bisa memasukiku kapan saja dan di mana saja," ujar perempuan itu dengan suara manja.

***

Baru saja Max terlelap untuk mengistirahatkan tubuhnya, tetapi dia harus kembali berlari karena orang-orang yang tadi mengejarnya datang lagi.

Hingga akhirnya dia sampai di sebuah jalan raya yang sepi. Apa yang kau harapkan pada jalan raya di tengah hutan malam hari? Dia terus berlari dan berlari agar bisa lolos dari kejaran orang-orang itu. Setidaknya sampai Liana menemukan dirinya.

Max melihat dua cahaya yang bergerak. "Itu mobil," serunya dengan senyuman lebar. Di tengah kegelapan dia hanya bisa melihat cahaya tanpa bisa melihat mobilnya. Lagi pun yang ada di pikiran Max saat ini adalah keselamatannya.

"Aku selamat." Max pun segera ke tengah jalan, mencoba untuk menghadang laju mobil itu sembari mengangkat tangan. Dia berharap pemilik mobil itu melihat keberadaannya.

"Tolong aku!" Max berteriak.

"Hei! Tolong aku! Beri aku tumpangan!" teriak Max ketika mobil itu semakin dekat padanya.

Namun, senyum Max pudar kala dia merasakan hal aneh. Pria itu tak lagi tersenyum bahkan menurunkan tangannya ketika sadar mobil itu tak menurunkan kecepatan. Bahkan terkesan semakin menambah kecepatan.

"Apa ada yang salah?" tanyanya pada diri sendiri. Max pun mencoba menghindar tetapi mobil itu malah mengikutinya.

"Ini tidak beres." Max mulai berlari dan ternyata mobil itu tetap mengejarnya. Hingga beberapa saat kemudian ....

Brak!

Tubuh Max terlempar cukup jauh ketika mobil itu baru saja menabraknya, membuat tubuh Max menghantam aspal jalan dengan sangat keras. Kepalanya mengeluarkan darah yang cukup banyak. max tak lagi merasakan sakit, tetapi dia masih sadar dan tahu benar darah mulai menggenangi tempat sekitar tubuhnya berasa.

Entahlah apa sebutannya untuk itu.

Lampu sorot mobil menyinari tubuh Max. Pria itu mendengar suara pintu terbuka dan langkah dari sebuah heels yang mendekat. Tak lama, sebuah wajah berada tepat di atas kepala maxim, memperlihatkan sebuah senyuman manis yang biasa Maxim lihat setiap harinya.

"Halo suamiku," ujar perempuan itu yang tak lain adalah Liana.

Sekuat tenaga Maxim mengangkat tangannya ke arah Liana. "Li ... Lia ... Liana." Bahkan untuk menyebutkan nama sang istri saja Maxim sudah merasa kesulitan, pertanda kalau pria itu tak lagi mampu.

"Kenapa? Sakit, ya?" tanya Liana. Pertanyaan itu tak menunjukkan sebuah kekhawatiran. Malahan, tgerdengar seperti sebuah ejekan.

Tak lama, seorang pria datang dan merangkul Liana sangat mesra. "Ups. Sorry ya, Max. Gue sengaja nabrak lo," ujar pria itu dengan tawa.

"Ka---el?" Ada raut terkejut di wajah Maxim yang penuh darah. Dia melihat kedua orang itu dengan berpikir berat. Apa maksud semuanya ini?

Tanpa memikirkan keadaan Max, Kael dan Liana langsung berciuman, semakin membuat Max merasa terkejut. Tak lama, ciuman mereka usai dan Lian berjongkok di samping tubuh Max yang tidak berdaya.

Liana memerhatikan Max untuk beberapa saat. Detik selanjutnya, dia menepuk pelan pipi suaminya pelan. "Terima kasih, Sayang. Karena kerja kerasmu, aku dan Kael bisa bersatu dan hidup dengan layak, bergelimang harta." Kedua orang itu tertawa bersama.

Kael mengulurkan tangan ke arah Liana. "Ayo, Sayang. Sudah waktunya kita pergi dan menikmati apa yang kita perjuangkan selama bertahun-tahun ini. Max sudah waktunya ke alam baka," ujarnya kemudian.

Liana pun bangkit. Dia berdiri di hadapan Kael. "Tapi sebelum itu, kau mengatakan setelah urusan kita selesai, aku bisa memasukimu di mana saja."

Liana mengangguk. "Iya, Sayang."

Kael menarik pinggang Liana cepat dan membuat tubuh mereka menempel. "Aku ingin memasukimu di sini, di depannya," ujar Kael sembari menunjuk ke arah Max yang tidak bisa apa-apa.

"Untuk hadiah perpisahan dengannya," lanjut Kael.

Liana menumpukan tangan pada bahu Kael lalu mengecup bibir pria itu singkat. "Apa pun untukmu, Sayang." Dia berujar. Dia pun segera mengikuti langkah Kael.

Max hanya mampu mendengar. Dia menatap keduanya pergi ke arah mobil. Tak lama, cahaya mobil itu tak lagi terang, redup sehingga dia bisa melihat itu adalah mobil kesayangannya.

Di atas kap mobil itu, Max melihat jelas bagaimana sang istri dan sahabatnya bermain dengan sangat brutal. Dia mendengar jelas teriakan dari Liana. Max menatap penuh kebencian dan kemarahan. Dalam hati dia berujar, "Kalau ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan membalas kalian." Detik selanjutnya dia menutup mata.

Waktu seolah berhenti, burung mengepakkan sayap dari bawah ke atas, semua jarum jam berputar cepat seolah mengejar sesuatu. Hingga sebuah cahaya yang sangat terang datang, menyilaukan itu membutakan semua penglihatan.

Waktu, telah berputar kembali ke masa lalu.

Tiba-tiba saja max membuka mata, dia terbangun di sebuah ruangan di mana di sekitarnya penuh dengan  barang-barang seserahan. "Seserahan pernikahan?"

Dia mengedarkan pandangan sembari berpikir akan sesuatu yang dia ingat terkahir kali. Sampai akhirnya pandangan pria itu mengarah pada seb uah kalender yang ada di dinding.

"Sepuluh Februari dua ribu dua puluh satu?" Bola mata Max melotot. "Apakah aku terlahir kembali?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca