

“Djancok! Malah jadi pengawal, cok!”
Wira Putra Ngadiono meraung, wajahnya bersungut tak terima. Satu jam yang lalu ia bangun linglung, sebab baju dan perabotan di sekitarnya semua terasa janggal.
Setelah berinteraksi dengan satu dua orang, akhirnya ia sadar: dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh seorang pengawal bernama Wirajaya.
Sebagai dewa kemalasan, penyandang status mulia bernama ‘pengangguran’, sudah tak terhitung berapa banyak novel fantasi yang dibaca Wira sambil rebahan.
Dari semua itu, ia tahu bahwa para transmigator biasanya masuk ke tubuh pemeran utama, figuran, atau paling buruknya tokoh antagonis.
“NPC sih NPC, tapi pengawal Raden Jatmika…”
Wira menatap tangan kapalan dengan urat menonjol, pengawal yang ia rasuki jelas terlatih bela diri.
Bayangan perkelahian sengit menyeruak di pikirannya. Si transmigator bergidik, memegangi leher sambil melirik sekeliling.
Di atas dipan keras, pria setinggi 192 cm itu meringkuk seperti macan ompong.
Selama sebulan penuh sebelum kejadian tak masuk akal ini, Wira terus memimpikan alur cerita yang sama. Semakin dipikirkan, tubuhnya semakin gemetar.
Dalam cerita yang terus berulang itu, kerajaan Candrabhumi, yang dikelilingi pegunungan tinggi, memiliki putra mahkota cerdas tapi lemah dan penyakitan.
Di sisi lain, Raden Aryawangsa, Pangeran pertama yang merasa dirinya lebih hebat, membangun aliansi dengan Bangsa Ruwatala di utara untuk melemahkan citra Putra Mahkota.
Tapi saat insiden serangan perbatasan tak berjalan sesuai rencana, segala bukti kejahatan itu ditemukan di kediaman Pangeran Kelima.
“Emoh!” Wira mengetuk dahinya, lalu mengetuk pinggiran dipan. “Amit-amit… amit-amit…”
Kejatuhan seorang atasan berarti kejatuhan semua bawahannya.
Dalam rentetan alur yang terus menghantuinya, bukan hanya Pangeran Kelima yang mati. Seluruh penghuni Pura Tirtaasmara, istana pribadi Raden Jatmika, juga ikut terancam.
“Gimana ya caranya biar si payah Jatmika nggak jadi kambing hitam,” gumam Wira, memejamkan mata dan mencoba mengingat mimpi sebulan terakhir.
“Hmm… seharusnya ada banyak hal mencurigakan… tapi apa?” Semangatnya membara, tapi otak buntu. Terbiasa hidup seperti remahan rengginang, tiba-tiba harus jadi jenius strategi memang sulit.
Meski memiliki alur mimpi sebagai pegangan, itu jauh dari cukup.
Tokoh sentral dalam kisah yang ia impikan adalah Pangeran Keempat, Raden Jayengrat. Praktis, kehidupan antagonis dan figuran hanya muncul seadanya.
“Ini sama aja aku cuma dikasih kisi-kisi,” keluhnya, entah untuk keberapa kali.
Setelah hening sesaat, satu pemikiran cemerlang muncul: “Berdasarkan penelitian panjang para ahli otak, perlu perut kenyang biar bisa mikir jernih. Baiklah, mari madang dulu.”
Wira merasa keputusannya sangat dewasa. Rasanya seperti ia telah selangkah lebih maju dari sedetik yang lalu.
Berjalan santai menyusuri halaman Pura Tirtaasmara, mata si transmigator menelusuri keindahan setiap sudut.
Istana itu megah, dengan atap berlapis genteng coklat gelap yang memantulkan cahaya matahari. Tiang-tiang kayunya dihias ukiran burung garuda dan macan.
Di halaman tengah, taman mini tersusun rapi dengan batu-batu abu-abu yang diukir menjadi jalan setapak berliku. Ada juga kolam ikan mas yang airnya jernih, memantulkan bayangan pohon beringin dan pohon kamboja di sekitarnya.
“Jadi begini suasana era kerajaan,” gumam Wira, sesekali menghirup udara yang dipenuhi aroma harum bunga cempaka.
“Beda banget sama panasnya Surabaya, cok.”
Di kejauhan, beberapa dayang berjalan mondar-mandir, mengenakan kain lurik berwarna coklat.
Wira terus berjalan, menyusuri lorong-lorong yang dindingnya dihiasi lukisan motif wayang. Sesekali, ia menoleh ke jendela-jendela besar dari kayu jati yang terbuka, melihat ruang aula megah yang dihiasi perabot perunggu.
“Dilelang mantap tuh,” komentarnya, hampir ngiler.
Jika bisa kembali ke zaman modern sambil membawa barang-barang mewah itu, duit tak berseri akan masuk ke kantongnya.
“Tapi gimana caranya balik?” Dalam sekejap, ilernya tertarik kembali.
“Apa setelah berhasil hidup sampai akhir cerita?” Sebenarnya, pertanyaan itu hanya untuk melupakan pemikiran impulsif yang sesekali muncul: jika pengawal ini mati, jiwaku mungkin akan langsung balik ke raga asal.
Mati. Siapa yang tidak takut menghadapinya? Jika ada, jelas itu bukan Wira Putra Ngadiono.
Saat hendak berbelok di persimpangan koridor, seorang pelayan cantik dengan malu-malu menghampiri Wira untuk menyampaikan,
“Pengawal Wirajaya, Raden Kelima memanggil.”
Wira refleks menoleh, memperhatikan wajah halus yang sedikit memerah. Di dunianya, ia sering dipandang sinis oleh beberapa gadis, bahkan jika hanya tak sengaja menatap.
Dengan senyum ramah, ia berujar, “Terima kasih, Nona.”
Pelayan itu semakin salah tingkah, pergi dengan kepala menunduk dalam, hampir terkubur di dada.
Pemandangan ini membuat senyum Wira semakin lebar. Tangannya tanpa sadar menggaruk kepala. Malu.
Sayangnya, rasa senang itu hanya berjalan sesaat. Teringat bahwa hidup harus terus berjalan, ketakutan berlebih menyeruak lebih ganas dari sebelumnya.
Bagaikan ditampar tangan jumbo tak kasat mata, Wira pias dan gemetaran.
“Gimana ini…”
Hilang sudah rasa lapar.
“Bangsa Ruwatala berkhianat… Raden Aryawangsa marah, tiba-tiba semua bukti mengarah ke Raden Jatmika.”
Sambil berjalan menuju kamar pribadi Pangeran Kelima, Wira tak henti menggumamkan alur mimpi yang ia ingat.
Pangeran Pertama membantu membuka akses bagi Bangsa Ruwatala agar bisa masuk ke desa Bayuwana di perbatasan utara.
Sang antagonis menitahkan mereka membuat kegaduhan. Dengan begitu, para warga yang terdampak akan mengharap bantuan, dan ialah yang datang sebagai pahlawan.
Pengaturan ini akan membuat rakyat memandang Pangeran Pertama lebih bisa diandalkan dibanding Putra Mahkota yang penyakitan.
“Namanya aja Bangsa Ruwatala, mungkin berasal dari kata ruwet,” cibir Wira, wajahnya dipenuhi aura julid.
Pada praktiknya, bangsa Ruwatala tak mematuhi rencana Raden Aryawangsa. Begitu berhasil memasuki desa Bayuwana, mereka menggila.
Tidak hanya menjarah, rumah-rumah warga dibakar habis. Perempuan dirudapaksa dan laki-laki ditebas tanpa ampun. Itu menjadi salah satu kekacauan terbesar dalam sejarah kepemimpinan Sri Baginda Prabu Cakrabhanu.
Menurut alur yang Wira ingat, Raden Aryawangsa sangat marah. Akan tetapi tak pernah ada adegan yang menunjukkan pergerakan sang Pangeran Pertama itu dalam menghadapi krisis.
Tahu-tahu, saat persidangan digelar, semua bukti fisik telah ditemukan di dalam Pura Tirtaasmara.
Saat itu terungkap, bukan hanya pemilik istana yang terkejut, seluruh ibu kota Mandragiri pun menganga.
Siapa itu Raden Jatmika? Pangeran payah yang bahkan membunuh semut pun tak berani. Namun bukti terlalu kuat, sementara rakyat di perbatasan menuntut keadilan.
Tak ada jalan lain. Meski banyak pihak tak percaya, eksekusi seluruh penghuni Pura Tirtaasmara tetap harus dilakukan demi meredam kemarahan rakyat.
“Masih ada enam bulan sebelum Raden Jatmika dijadikan kambing hitam.”
Wira menghela napas kasar, lalu memantapkan niat untuk bertahan hidup.
Bahkan kelinci pun akan menggigit ketika terpojok. Meski si transmigator tak kalah penakut dari Pangeran Kelima, setelah tahu hidupnya terancam, bagaimana mungkin ia tetap menjadi gulungan ikan asin?
Saat pintu kayu jati dibuka oleh seorang abdi dalem bernama Panji, sosok berwajah bulat adalah yang pertama kali Wira lihat.
Raden Jatmika mengenakan pakaian hijau muda, berdiri sambil memegangi sekantung besar kacang rebus. Mulutnya mengunyah tanpa henti.
Buset! Masih bocil!
Dalam bayangan mimpi, semua tokoh terlihat buram. Kini setelah melihat salah satunya secara langsung, Wira kesulitan menahan diri agar tidak mencubit pipi bakpao Pangeran Kelima.
“Wira, aku mendengar ada toko makanan manis yang sedang ramai di kalangan bangsawan. Bawa aku ke sana.”
Mata besar Jatmika menatap polos, sesekali berkedip lambat. Terlalu imut.
Serangan kelucuan semacam ini, bahkan pria sebesar King Kong pun bisa tumbang. Wira mengangguk, dan entah sadar atau tidak, nada suaranya ikut melembut. “Baik.”
Mendengar itu, Jatmika langsung bersorak. Ia melompat-lompat, mengangkat kedua tangan ke atas. Beberapa butir kacang rebus berhamburan akibat guncangan.
“Yeee! Wira, kamu selalu menjadi favorit Raden ini.”
Sebagai anak tunggal dari pasangan juragan cabai, Wira sering merasa kesepian. Ia pernah berharap punya adik yang lucu dan cerewet, agar bisa berbagi derita menghadapi auman Ibunya saat beliau marah.
Sekarang, melihat buntalan imut bernama Jatmika bersorak hanya karena hal sepele, hati Wira terasa meleleh.
Menjadikan anak selucu ini sebagai kambing hitam… si antagonis Aryawangsa benar-benar iblis.
Rasa manis di hati Wira lenyap seketika. Terbayang kembali nasib sial Jatmika enam bulan ke depan, tangannya mengepal kuat hingga urat-urat semakin menonjol.
Adik manis, Kakak ini akan menyelamatkanmu.
Semangat bertahan hidup Wira melesat ke titik tak terhingga.
Persetan dengan betapa menyeramkan jalan yang menanti, bukankah semua legenda berawal dari titik paling payah?
Jika mereka bisa, mengapa ia tidak?