Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Garis Batas Gairah

Garis Batas Gairah

Dear Zindagi | Bersambung
Jumlah kata
41.1K
Popular
417
Subscribe
117
Novel / Garis Batas Gairah
Garis Batas Gairah

Garis Batas Gairah

Dear Zindagi| Bersambung
Jumlah Kata
41.1K
Popular
417
Subscribe
117
Sinopsis
18+PerkotaanAksiKonglomeratPengawal21+
Bima Sakti adalah definisi pria sempurna dalam dunianya—tampan, gagah, dan memiliki reputasi sebagai bodyguard yang paling cekatan dan tangguh. Baginya, tugas adalah segalanya, dan emosi hanyalah gangguan yang harus diredam. Namun, prinsip itu goyah saat ia ditugaskan untuk mengawal Diana, seorang wanita anggun Diana Putri Adhitama yang hidup dalam "penjara emas" karena kondisi kesehatannya yang misterius. Kedekatan yang intens di bawah satu atap perlahan menumbuhkan rasa nyaman yang tidak seharusnya ada. Di balik kemewahan hidupnya, Diana menyimpan rahasia kelam: ia menderita sebuah penyakit langka yang menggerogoti vitalitasnya. Satu-satunya cara medis yang tidak lazim untuk meredakan rasa sakit dan memperpanjang hidupnya adalah melalui kontak fisik dan hubungan seksual yang rutin. Bima kini terjebak dalam dilema moral yang hebat. Di satu sisi, ia adalah pelindung profesional yang harus menjaga batasan. Di sisi lain, ia adalah satu-satunya orang yang mampu menjadi "obat" bagi wanita yang mulai ia cintai. Di tengah ancaman eksternal yang mengincar nyawa Diana, Bima harus memutuskan: Apakah ia akan tetap menjadi pengawal yang dingin, atau menyerah pada gairah demi menyelamatkan nyawa wanita yang menjadi kelemahannya?
Garis yang kabur

Malam itu, hujan turun deras di luar mansion keluarga Jendra Adhitama. Bima Sakti berdiri tegak di depan pintu kamar utama, tangannya bersedekap, matanya terus memantau setiap sudut lorong melalui layar monitor kecil di pergelangan tangannya. Ia adalah perisai hidup. Tak boleh ada celah.

Tugas barunya kali ini terlihat sederhana namun penuh teka-teki: mengawal seorang putri tunggal dari pengusaha farmasi raksasa Adhitama Group yang hidup dalam "sangkar emas" yang dijaga ketat.

Ketegangan memuncak saat sebuah serangan dari pihak musuh memaksa mereka bersembunyi di sebuah lokasi terpencil. Di tengah pelarian itu, penyakit wanita itu tiba-tiba kambuh dengan hebat.

Bima melakukan pemeriksaan rutin. Ia memeriksa setiap sudut, sensor gerak, hingga kamera pengawas. Ia sangat cekatan; gerakannya efisien, tanpa suara, dan penuh perhitungan.

Saat ia sedang memeriksa pintu balkon di lantai dua, pintu kamar utama terbuka. Aroma lavender dan obat-obatan yang samar menyeruak.

Seorang wanita keluar. Dia adalah Diana Putri Adhitama. Dia mengenakan gaun tidur sutra berwarna putih tulang yang jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya yang sintal namun tampak lemas. Rambut hitamnya tergerai berantakan di bahu.

"Bima..." suara Diana terdengar parau, hampir seperti bisikan putus asa. Bima berbalik, tetap menjaga jarak tiga langkah.

"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"

Diana bersandar di kosen pintu. Wajahnya yang biasanya anggun kini tampak berkeringat, napasnya pendek-pendek. Bima bisa melihat jemari Diana gemetar hebat. Ini bukan serangan jantung, bukan pula asma. Ini adalah efek dari penyakit langka yang selama ini dirahasiakan dari publik.

Diana berjalan mendekat. Langkahnya sedikit gontai. Saat jarak mereka hanya tersisa satu meter, Bima bisa mencium aroma lavender dan sesuatu yang sedikit... kimiawi. Obat-obatan.

"Sakitnya... datang lagi," rintih Diana.

Ia menatap Bima dengan tatapan yang menghancurkan pertahanan pria itu—campuran antara rasa malu dan permohonan yang amat sangat.

Bima mengepalkan tangannya. Ia tahu apa yang tertulis dalam kontrak medis rahasia yang ia tanda tangani. Ia bukan sekadar pengawal fisik; ia adalah "kunci" darurat jika pengobatan kimiawi gagal.

"Nona, apakah Anda sudah meminum dosis terakhir?" tanya Bima, suaranya sedikit bergetar, meski wajahnya tetap kaku bak batu karang.

"Sudah... tapi tidak bekerja. Tubuhku... rasanya seperti terbakar dari dalam," Diana melangkah maju, memperpendek jarak. Ia menyentuh lengan Bima yang keras dan berotot. "Tolong aku... Aku tidak ingin mati malam ini."

Sentuhan itu seperti sengatan listrik bagi Bima. Tugasnya adalah melindungi Diana dari dunia luar, namun kini, ia harus menghadapi musuh yang ada di dalam darah wanita itu sendiri. Dan untuk melawannya, ia harus melanggar batas paling suci dalam profesinya.

​Sentuhan jemari Diana di lengan Bima terasa seperti bara api yang menembus kain kemeja hitamnya. Bima bisa merasakan detak jantung Diana yang tidak beraturan melalui ujung jarinya—cepat, lemah, dan putus asa.

​"Bima... tolong," bisik Diana lagi. Kepalanya terkulai di dada bidang Bima. Suhu tubuh wanita itu naik drastis, panasnya terasa hingga ke kulit Bima.

​Tanpa berkata-kata, Bima melingkarkan lengannya di pinggang Diana yang ramping, menopang tubuh wanita itu agar tidak jatuh ke lantai. Dengan satu gerakan sigap, ia mengangkat Diana ke dalam pelukannya—gaya bridal style—dan membawanya masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu dengan tumit sepatunya.

Bunyi klik kunci pintu otomatis bergema, mengunci dunia luar.

​Bima membaringkan Diana di atas tempat tidur king-size berkelambu sutra. Kamar itu hanya diterangi lampu tidur temaram, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding.

​"Saya akan memanggil dokter pribadi Anda," ucap Bima dengan suara rendah, mencoba mempertahankan sisa-sisa kewarasannya.

Ia hendak berbalik, namun tangan Diana menahan pergelangan tangannya kuat-kuat.

​"Tidak ada waktu... dokter butuh tiga puluh menit untuk sampai ke sini. Aku tidak punya waktu tiga puluh menit, Bima," Diana terengah, matanya mulai berkaca-kaca karena menahan sakit yang luar biasa. "Kau sudah membaca kontraknya... Kau tahu apa yang harus dilakukan."

"Kalau begitu begitu biar saya memanggil ayah nona, ucap Bima."

​"Jangan... Ayah tidak boleh tahu ini kambuh lagi sesering ini," rintih Diana. Matanya yang sayu kini menatap Bima dengan penuh permohonan. "Sentuh aku... pegang tanganku yang kuat... aku butuh sesuatu untuk mengalihkan saraf-saraf ini..."

​Bima terpaku. Di bawah cahaya lampu yang redup, wajah Diana tampak begitu rapuh sekaligus memikat. Keringat dingin membasahi leher dan tulang selangkanya yang indah.

Sebagai seorang pria, pemandangan itu adalah ujian terberat. Sebagai seorang pelindung, ia dilatih untuk menghadapi serangan fisik, ledakan, dan penculikan. Namun, ia tidak pernah dilatih untuk menghadapi kerentanan yang begitu intim dari seorang wanita yang seharusnya ia lindungi dengan jarak profesional.

Ia merasakan detak jantung Diana yang tidak beraturan melalui telapak tangannya. Di saat itulah, Bima menyadari bahwa tugasnya kali ini tidak akan diselesaikan dengan senjata api. Ada sesuatu yang jauh lebih kompleks dan berbahaya yang tersembunyi dalam penyakit langka wanita ini.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Anda, Nona?" bisik Bima.

Diana tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik tangan Bima mendekat ke wajahnya, mencari kehangatan dan stabilitas dari pria yang baru dikenalnya itu. Bima, yang biasanya sedingin es, merasakan sebuah getaran aneh di dadanya. Rasa nyaman yang muncul di tengah situasi darurat—sebuah paradoks yang mulai meruntuhkan tembok pertahanannya.

Malam itu, di dalam kamar yang tertutup rapat, Bima menyadari bahwa musuh yang ia hadapi kali ini tidak bisa ditembak. Musuh itu ada di dalam darah Diana, dan hanya keberadaan Bima yang mungkin bisa menjadi penawarnya.

​Bima melepaskan dasinya dengan satu tangan, lalu membuka kancing kerah kemejanya. Napasnya mulai memberat.

"Nona, jika kita melakukan ini... segalanya akan berubah. Saya tidak akan bisa menatap Anda dengan cara yang sama lagi."

​Diana tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang penuh kepasrahan. "Maka jangan menatapku sebagai majikanmu. Malam ini... jadilah penyelamatku."

​Bima perlahan naik ke atas tempat tidur, memposisikan dirinya di atas Diana tanpa menindihnya. Ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh wanita itu. Saat mata mereka bertemu, Bima melihat bukan hanya rasa sakit, tapi juga binar gairah yang selama ini dipendam oleh Diana dalam kesendiriannya.

​Garis profesionalisme yang selama bertahun-tahun dijaga ketat oleh Bima akhirnya runtuh malam itu. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Diana, dan berbisik dengan suara yang dalam dan serak.

Bima dihadapkan pada dilema moral yang menghancurkan: menjaga profesionalitasnya sebagai pengawal, atau melanggar batas suci tersebut demi menyelamatkan nyawa wanita yang mulai ia cintai.

Antara tugas, rasa iba, dan gairah yang tak terbendung, Bima harus memutuskan apakah sentuhannya akan menjadi sekadar obat bagi Diana, atau justru menjadi awal dari kehancuran karier dan prinsip hidupnya.

​"Maafkan saya jika ini akan menyakitkan, Diana."

Lanjut membaca
Lanjut membaca