Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dulunya Loyo, Kini Jadi Paling Jago

Dulunya Loyo, Kini Jadi Paling Jago

Blidek | Bersambung
Jumlah kata
27.3K
Popular
1.9K
Subscribe
448
Novel / Dulunya Loyo, Kini Jadi Paling Jago
Dulunya Loyo, Kini Jadi Paling Jago

Dulunya Loyo, Kini Jadi Paling Jago

Blidek| Bersambung
Jumlah Kata
27.3K
Popular
1.9K
Subscribe
448
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremSupernaturalUrban
Alvin dibuang istrinya karena dia loyo. Setelah meminum obat misterius, dia mendapatkan keperkasaannya lagi. Dan bukan hanya itu, dia pun menjadi idaman wanita-wanita cantik nan seksi. Petualangan Alvin sebagai Si Paling Jago pun dimulai!
Suami Letoy

Kaki Alvin terhenti tepat di depan pintu kamar yang terbuka beberapa senti. Ia bahkan tidak berniat menguping—tapi suara itu terlalu jelas untuk diabaikan.

“Ouch… Edo… kamu benar-benar perkasa. Gak kayak suamiku yang lemah itu.”

Suara istrinya. Dinar.

Genggaman Alvin pada knop pintu mengeras, seperti ada sesuatu di dadanya yang ditarik hingga nyaris putus. Napasnya tercekat. Suara Dinar yang tadi terdengar lantang berubah lebih lirih, setengah tercekik tawa—atau sesuatu yang Alvin tidak sanggup namai.

Ia baru pulang dari bengkel. Punggungnya masih lengket oleh keringat, tangannya masih berlumur sisa oli. Yang ia bayangkan hanyalah mandi, makan, lalu tidur. Tidak pernah sedikit pun ia membayangkan pulang untuk mendengar… ini.

Dengan perlahan, seakan tubuhnya bergerak sendiri, Alvin mendorong pintu itu sedikit lebih lebar.

Dan di balik celah itu, dunia yang ia kenal runtuh.

Dinar menoleh. Wajahnya tersenyum—bukan pada Alvin, tapi pada pria lain yang tengah bersamanya. Senyum yang tidak pernah ia dapatkan sejak menikah dengan Dinar.

Derit ranjang terdengar, membuat Alvin tersentak dan sadar bahwa ia tidak seharusnya berada di sana. Tidak seharusnya melihat apa yang seharusnya hanya dimiliki oleh pasangan.

“Astaga…” bisiknya, nyaris tanpa suara.

Ia melangkah mundur. Perlahan. Hati-hati. Seakan jika ia bergerak terlalu cepat, hatinya akan benar-benar pecah dan berserakan di lantai.

Dengan tangan bergetar, Alvin menutup pintu itu kembali. Tidak ada bentakan, tidak ada kemarahan. Hanya keheningan yang menggigit sampai ke tulang.

Langkahnya menuju dapur terasa seperti berjalan dalam lorong panjang. Setiap tarikan napas terasa berat. Pikirannya kosong, tubuhnya seperti bergerak otomatis.

Di sana—dapur kecil yang selama ini menjadi saksi betapa kerasnya ia bekerja untuk rumah tangga mereka—Alvin berdiri mematung.

Ia menggenggam pinggiran meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya memucat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menegaskan bahwa ia masih nyata… bahwa semuanya bukan mimpi buruk. Sayangnya, rasa sakit di dadanya jauh lebih tajam daripada mimpi buruk mana pun.

Di dapur kecil itu, Alvin memasak mi instan. Gerakannya kaku, otomatis, seperti tubuhnya bergerak tanpa izin dari hatinya. Ia memilih untuk tidak melihat apapun—tidak mengingat, tidak merasakan—seakan dengan begitu harga dirinya yang sudah remuk bisa tetap ia tumpuk kembali. Padahal ia tahu, sebagai suami… semuanya sudah hancur.

Ia duduk dengan semangkuk mi panas yang mengepul tipis. Suapan demi suapan masuk ke mulutnya, tapi tanpa rasa. Hambar. Hampa. Yang memenuhi kepalanya hanya satu wajah—Dinar. Senyum itu, tatapan itu, dan terutama suara itu… suara yang kini menggema seperti bisikan yang tak mau berhenti.

Alvin terdiam, tenggelam di dalam pikirannya sendiri, sampai—

Suara langkah kaki terdengar di belakangnya, membuatnya tersentak sadar dari lamunan.

Edo menepuk pundak Alvin dengan santai—terlalu santai untuk seorang pria yang baru saja berbagi ranjang dengan istrinya sendiri. Senyumnya seperti milik teman lama yang sedang bercanda, tapi nada suaranya menusuk seperti pisau tumpul yang dipaksa masuk.

“Kamu lihat permainanku tadi, kan?” ucap Edo, suaranya ringan namun penuh sindiran yang menggema sampai ke dalam dada Alvin. Kepercayaan diri Edo menetes seperti racun.

Alvin tidak menjawab. Hanya napasnya yang turun naik—pelan, tapi terasa berat.

“Itu baru namanya cowok, Bro!” Edo menepuk dadanya sendiri, bangga, sombong, dan jelas mencari tepuk tangan. “Perkasa! Bisa bikin cewek klepek-klepek.”

Ia tertawa kecil, lalu mendekat, seolah memberi wejangan paling mulia di dunia.

“Harusnya kamu berterima kasih sama aku, Bro. Aku kan udah gantiin tugasmu… buat ngebahagiain Dinar.”

Terdengar bunyi krek pelan saat jari-jari Alvin menggenggam sendok semakin keras. Buku-buku jarinya memutih. Suaranya masih terkunci di tenggorokan, tapi amarahnya sudah bergolak.

Edo malah makin menjadi.

“Percuma aja jadi laki-laki kalau kamu gak bisa bangun.” Ia menunjuk Alvin dengan dagu, lalu terbahak, keras dan kasar. “Mending kamu ganti aja jadi perempuan!”

Tawa Edo memantul di ruangan, sementara Alvin hanya diam—diam yang jauh lebih berbahaya dari amukan mana pun.

Alvin melirik Edo dengan sinis. Dada itu—yang sejak tadi menahan dendam—terasa makin penuh, makin sesak, seperti ada bara yang bergerak liar di dalamnya. Satu tangannya mengepal, kuat, seolah hanya menunggu satu dorongan kecil untuk menghantam wajah Edo.

Tapi ia tak bergerak.

Logikanya teriak: jangan. Tubuh Edo jelas jauh lebih besar. Jika ia nekat memulai pertarungan, hasilnya sudah bisa ditebak—Alvin hanya akan jadi bulan-bulanan.

Dengan rahang yang mengeras, Alvin menarik napas panjang. Ia menahan semua kata yang ingin meledak keluar, lalu melangkah pergi meninggalkan Edo sendirian di dapur. Tidak menoleh. Tidak membalas sedikit pun.

Ia berhenti di depan pintu kamarnya—kamarnya dan Dinar. Tangan Alvin sempat menggantung di udara, ragu. Satu detik… dua detik. Ia menimbang. Namun pada akhirnya, ia tetap memutar gagang pintu. Ada masalah yang harus ia selesaikan.

Begitu masuk, aroma asap langsung menusuk hidungnya.

Dinar sedang duduk bersandar pada headboard, selimut menutupi tubuhnya sampai dada, sebatang rokok terselip di antara jarinya. Asapnya naik perlahan, ikut menciptakan jarak yang tak terlihat di antara mereka.

Tanpa menoleh penuh, hanya dengan lirikan malas, Dinar membuka suara—nada memerintah, dingin, seperti bos yang baru saja memberi tugas bawahannya.

“Minggu depan, aku dan Edo mau liburan. Kamu antar kami ke bandara.”

Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada sedikitpun bayangan penyesalan di wajahnya. Justru, sikapnya menunjukkan siapa yang benar-benar berkuasa di ruangan itu.

“Aku ini suamimu, Dinar. Bukan sopir. Dan kalau kamu mau bermain gila, setidaknya jangan di rumah ini… jangan di depan mataku.”

Suara Alvin pecah. Amarah yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak.

Dinar pelan-pelan menoleh. Tatapannya menusuk, seperti mengiris. Ia menghembuskan asap rokok, bibirnya menekuk sinis.

“Kamu gak punya hak buat protes,” ujarnya dingin. Jemari yang menjepit rokok itu naik, menunjuk tepat ke wajah Alvin.

“Kamu itu laki-laki gak berguna,” lanjutnya. Kali ini suaranya meninggi, menggema di kamar, penuh ejekan yang sengaja dipertegas. “Suami yang bahkan gak bisa kasih nafkah batin buat istrinya. Lemah!”

Kata terakhir itu ia ucapkan perlahan, seperti silet yang sengaja dibuat menyayat sedikit demi sedikit agar terasa sakitnya.

Alvin terdiam. Rahangnya mengeras, ototnya menegang di bawah kulit. Ia tidak membalas, tidak berusaha membantah—seolah sedang menahan badai yang mengamuk di dalam dadanya. Tatapannya tetap terarah pada Dinar, mencoba membaca apakah perempuan itu benar-benar serius atau hanya ingin membuatnya terlihat kecil dibandingkan Edo.

“Dan jangan lupa, Vin,” ucapnya pelan—getir, tapi tetap setajam belati. “Selama ini aku yang biayai hidup kita. Gajimu jadi montir cuma berapa, sih?”

Alvin mengangkat wajahnya sedikit, tapi tidak menjawab. Nafasnya memburu. Dinar belum selesai.

“Bahkan pakaian dalammu saja aku yang beliin.” Ia tertawa kecil, meremehkan. “Jadi jangan sok berlagak seperti suami. Kamu itu… gak menafkahi aku. Lahir maupun batin.”

Ucapan itu seperti tamparan yang tidak berbunyi.

Alvin terdiam. Memang itu kenyataannya—sejak ia di-PHK setahun lalu, Dinarlah yang menanggung hampir seluruh kebutuhan rumah. Gaji besar dari posisi strategis di perusahaan tempatnya bekerja membuat segalanya terlihat mudah bagi Dinar… dan justru semakin memperburuk rasa rendah diri Alvin.

Tangan Alvin mengepal kuat, sendi-sendi jarinya memutih. Ada sesuatu di dadanya yang retak—harga diri seorang laki-laki dan suami yang diinjak sampai tak berwujud.

Dinar menatapnya dingin, seolah menunggu ia meledak.

Alvin menarik napas panjang. Hening menggantung di antara mereka.

Lalu dengan suara serak yang mencoba tetap tegar, ia berkata, “Kalau begitu… kita cerai saja.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca