

Matahari baru saja terbit dari sebelah timur, suara adzan subuh mulai berkumandang. Pertanda dimulainya hari. Di saat penduduk kota perlahan terbangun, sebuah kamar hotel justru menyimpan akhir hidup seseorang.
Pagi itu di kamar 1602 Hotel De’ Marquess ditemukan sesosok mayat laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun. Tubuh korban terbaring kaku dengan posisi tertelungkup. Kondisinya masih mengenakan pakaian lengkap, namun tanpa alas kaki.
Dua orang laki-laki muda tampak memasuki kamar hotel tersebut dengan mengenakan sepatu yang terbungkus plastik. Keduanya berjalan dengan sangat hati-hati untuk memastikan tempat kejadian perkara tidak tercemar. Salah seorang di antara mereka berjongkok di samping korban dan mengamati tubuh yang kaku itu dengan seksama, sementara yang lainnya berkeliling kamar, mencoba menemukan bukti-bukti yang mungkin masih tertinggal.
Tidak lama kemudian, tiga orang petugas forensik tiba di tempat kejadian perkara. Tubuh korban dibalik ke posisi terlentang. Terlihat ada busa putih yang telah mengering keluar dari mulut korban, matanya melotot, sementara kedua tangannya mengepal dengan kondisi kuku membiru.
“Menurut dokter, apa penyebab kematian korban?” tanya Arya pada seorang dokter forensik yang tengah mengambil sampel air liur korban.
“Belum dapat dipastikan, Pak Arya. Kami harus membawa korban untuk dilakukan autopsi terlebih dahulu.” Jawab dokter tersebut.
Arya terdiam mendengar perkataan Maya Lestari, dokter forensik yang bertugas pagi itu. Ia mengangguk pelan. Dalam benaknya, Arya mencurigai penyebab kematian korban akibat racun, namun ia belum berani menarik kesimpulan pasti tanpa hasil pemeriksaan lebih lanjut.
“Tidak ditemukan tanda-tanda perlawanan, tadi aku juga cek pintu kamar. Sepertinya tidak ada bekas pembukaan secara paksa. Ini menunjukkan kemungkinan korban mengenal pelaku dengan baik dan mempersilakan pelaku masuk.” Ujar seorang pria muda bernama Raka.
Raka adalah seorang polisi muda yang bertugas sebagai penyidik di Satuan Reserse Kriminal Mabes Polri. Ia juga merupakan sahabat Arya sejak kecil. Sementara Arya adalah seorang jaksa muda yang bekerja di Divisi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.
Keduanya telah berteman sejak kecil. Berbeda dengan kebanyakan jaksa pada umumnya, Arya lebih memilih terjun langsung ke lapangan, meninjau korban dan tempat kejadian perkara secara langsung. Tujuannya agar ia bisa mencari sendiri bukti-bukti yang mungkin terlewat untuk dikumpulkan.
“Baik kalau begitu, kami akan bawa jenazah korban ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi.” Ujar Dr Maya.
Tidak lama kemudian, dua orang petugas ambulans memasuki kamar hotel sambil membawa kantong jenazah. Tubuh korban dimasukkan ke dalam kantong tersebut, lalu diangkat menuju mobil ambulans untuk selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati.
“Kira-kira berapa lama hasil autopsi akan keluar?” tanya Arya. Nada suaranya terdengar tidak sabar.
“Sekitar tiga hari. Nanti hasil autopsi akan kirimkan melalui email ke Pak Arya.” Jawab Dr Maya.
“Baik, saya tunggu.” Kata Arya singkat.
Setelah Dr Maya dan tim forensik meninggalkan tempat kejadian perkara, Arya dan Raka kembali menyelidiki kamar hotel itu.
“Rak, loe udah mengetahui identitas korban?” tanya Arya.
Raka mengangguk, “tim gue menemukan kartu identitas korban. Namanya Bima Maheswara, usia 45 tahun, seorang pengusaha perhotelan, keluarganya pemilik dari group hotel Accor, status menikah, dan tinggal di daerah Pondok Indah.”
Arya terdiam. Kecurigaannya perlahan mengarah pada istri korban. “Loe kenapa tiba-tiba diam, Ar?” pertanyaan Raka membuat Arya tersentak.
“Gak apa-apa, gue hanya curiga. Mungkin gak, kalau pelakunya adalah istrinya sendiri?” tanya Arya.
Raka memegang dagunya, tanda sedang berpikir. “Ada kemungkinan, tapi kita butuh bukti yang kuat.”
“Oh iya, gimana dengan rekaman CCTV hotel?” Arya tiba-tiba teringat sesuatu.
“Gue sedang mengurus Surat Permohonan Rekaman CCTV untuk Kepentingan Penyidikan.” Jawab Raka.
“Semoga surat itu segera keluar, gue khawatir jika terlalu lama. Pelaku bisa aja melarikan diri.” Kata Arya.
Setelah hampir satu jam melakukan penyelidikan di tempat kejadian perkara, Arya dan Raka akhirnya meninggalkan lokasi tersebut. Keduanya menuju kantor masing-masing untuk melanjutkan proses penyelidikan.
Sesampainya di kantor, Arya langsung menuju ruang kerjanya. Ia menyalakan komputer, lalu mulai mempelajari berkas kasus pembuhan Hotel De’ Marquess. Terdapat sekitar enam belas foto tempat kejadian perkara yang terpampang di layar monitor. Arya menajamkan penglihatannya, berusaha tidak melewatkan petunjuk sekecil apa pun.
Tok, tok, tok. “Arya.”
Arya tersentak ketika menyadari Ratna Wicaksono, atasannya, sudah berdiri di depan pintu masuk ruangannya. “Iya bu,” jawab Arya, sedikit terkejut karena tidak menyadari kehadiran atasannya.
“Tadi kamu sudah ke tempat kejadian perkara di Hotel De’ Marquess?” tanya Ratna.
Arya mengangguk. “Sudah bu.”
“Lalu bagaimana? Ada petunjuk?” lanjut Ratna.
“Sejauh ini belum ada bu, saya masih menunggu hasil autopsi.” Jawab Arya.
“Kapan hasilnya keluar?”
“Sekitar tiga hari, bu. Pihak forensik akan mengirimkan hasilnya melalui email.” Ujar Arya.
Ratna mengangguk pelan.“Baik. Saya ingin kamu menangani kasus ini sebaik mungkin. Kinerja kita sebagai jaksa sedang disorot saat ini. Kita harus menunjukkan bahwa kita mampu bekerja secara profesional dan maksimal.”
“Baik bu.” Jawab Arya tegas.
Tidak lama kemudian, Ratna meninggalkan ruangan tersebut. Arya kembali menatap layar komputernya dan melanjutkan pekerjaan, menelusuri setiap detail foto dengan lebih saksama. Bekas tamparan di pipi, bekas cakaran di lengan, serta tidak ada barang-barang pribadi korban yang hilang. Semuanya mengarah pada suatu kesimpulan awal yang paling masuk akal, kalau motifnya cemburu.
Korban ditemukan seorang diri di kamar hotel, sementara statusnya tercatat sebagai pria beristri. Tidak ada tanda pembobolan dan pintu kamar terkunci dari dalam. Senjata pembunuh tidak ditemukan, tetapi terdapat bekas busa yang telah mengering di tepi mulut korban.
“Apa mungkin korban berselingkuh? Lalu istrinya mengetahui hal tersebut, marah, dan akhirnya membunuh korban?” gumam Arya.
Arya membuka berkas identitas istri korban. Riwayat pernikahan yang bermasalah, laporan pertengkaran rumah tangga, serta pesan singkat bernada ancaman yang dikirim beberapa hari sebelum kejadian semakin menguatkan dugaan itu. Secara hukum, semua bukti awal mengarah pada istri korban. Namun entah kenapa Arya tidak sepenuhnya yakin.
Beberapa saat kemudian, Arya menerima berkas tambahan dari Raka melalui email berupa rekaman CCTV hotel. Ia segera membuka file tersebut dan menatap layar dengan seksama, waktu pada rekaman menunjukkan beberapa menit sebelum perkiraan waktu kematian korban.
“Semoga aku bisa menemukan jawabannya.” ujar Arya sebelum membuka file dari Raka.
Tampak pintu kamar hotel dibuka oleh korban, seorang perempuan masuk ke dalam kamar. Usianya diperkirakan sekitar empat puluh tahun. Tidak lama kemudian, perempuan itu keluar dengan wajah sembap, seolah baru saja menangis dan langkahnya terburu-buru.
Satu jam kemudian, perempuan lain datang dan masuk ke kamar hotel yang sama. Wajahnya tertutup masker dan memakai kacamata hitam, usianya terlihat jauh lebih muda dibandingkan perempuan yang pertama.
Arya membeku di depan layar. Bukan satu, melainkan dua orang perempuan yang keluar dari kamar hotel tersebut.