

Ritual Pagi Sang Penguasa
Lantai 42 gedung Arthemis Tower adalah sebuah akuarium kaca raksasa di mana hiu-hiu bisnis berenang dengan setelan jas seharga ribuan dolar. Di pusatnya, duduklah Ravindra. Di usia 28 tahun, dia sudah memiliki segalanya, rahang yang tegas, tatapan yang bisa membekukan rapat direksi, dan saldo bank yang tidak habis tujuh turunan.
Namun pagi ini, Ravindra merasa seperti mesin yang kehabisan oli.
"Pak, jadwal hari ini: Meeting dengan vendor dari Jerman jam 9, makan siang dengan Gubernur jam 12, lalu—"
"Vero," potong Ravindra tanpa mengalihkan pandangan dari jendela besar yang menampilkan kemacetan Jakarta. "Apa kamu pernah merasa ingin... menghilang saja?"
Vero, sekretaris pribadinya yang super efisien, terdiam. "Maksud Bapak, liburan ke Maladewa? Saya bisa pesankan tiket sekarang."
"Bukan. Aku ingin hidup seperti orang normal. Tidak ada target kuartal, tidak ada politik kantor. Cuma kopi saset, jam kerja sembilan-ke-lima, dan pulang tanpa membawa beban."
Ravindra mengeluarkan sebuah amplop cokelat. Di dalamnya ada sebuah kemeja biru muda yang agak kebesaran, kacamata bingkai hitam tebal, dan sebuah ID Card palsu yang sudah ia siapkan lewat bantuan 'orang dalam' di HRD.
Nama: Ravindra (Ravin)
Posisi: Junior Data Entry – Divisi Pengarsipan (Lantai 3)
"Pak, ini gila," bisik Vero saat melihat bosnya melepas jam tangan Rolex-nya dan menggantinya dengan jam tangan karet murah.
"Ini bukan gila, Vero. Ini strategi bertahan hidup," Ravindra menyisir rambutnya yang biasanya klimis menjadi sedikit berantakan. "Selama tiga bulan ke depan, CEO Arthemis sedang 'meditasi tertutup' di Tibet. Dan jangan pernah panggil aku Pak kalau kita berpapasan di lift."
Bau Kertas dan Senyum Pertama
Lift berdenting di Lantai 3. Pintu terbuka, dan Ravindra menghirup aroma yang sangat asing baginya, aroma kertas fotokopi yang panas, soto ayam dari meja pantry, dan parfum melati murah.
"Eh, kamu anak magang baru itu ya? Siapa namanya? Robin? Raven?"
Seorang wanita dengan rambut kecokelatan yang diikat asal-asalan berdiri di depannya. Namanya Maya. Dia membawa setumpuk map yang terlihat sangat berat.
"Ravin, Mbak," jawab Ravindra, mencoba melembutkan suaranya agar tidak terdengar seperti sedang memberi perintah.
"Oh, Ravin! Baguslah kamu datang. Ini, tolong rapikan berkas tahun 2022 ke gudang belakang ya. Santai aja ngerjainnya, nggak usah buru-buru kayak dikejar setan," Maya mengedipkan sebelah matanya lalu meletakkan tumpukan map itu ke pelukan Ravindra.
Ravindra tertegun. Di lantai 42, semua orang bergerak seolah-olah dunia akan kiamat jika mereka terlambat satu detik. Di sini? Dia justru disuruh "santai".
Dia berjalan menuju kubikel kecilnya di pojok ruangan. Di atas meja kayunya yang sedikit lecet, ada sebuah mug keramik bertuliskan "I Hate Monday". Ravindra tersenyum tipis. Dia duduk, menyandarkan punggungnya ke kursi yang tidak terlalu ergonomis, dan mulai membuka map pertama.
Baru lima belas menit dia bekerja, seorang karyawati lain bernama Siska menghampiri mejanya sambil membawa dua cup kopi plastik.
"Hai Ravin, baru ya? Kelihatannya serius banget. Mau kopi? Ini sasetan sih, tapi racikan kantin bawah paling juara," ujar Siska sambil duduk di pinggir meja Ravindra dengan gaya yang cukup berani.
Ravindra melihat kopi itu. Cairan hitam pekat dengan gula berlebih. Jauh dari single origin Arabika yang biasa ia minum. Dia menyesapnya sedikit. Manis sekali.
"Terima kasih, Siska," ujar Ravindra.
"Duh, suaranya ganteng banget sih buat ukuran anak magang," goda Siska sambil tertawa kecil, membuat karyawati lain di kubikel sebelah mulai melirik penasaran.
Ravindra mulai menyadari satu hal, menyamar jadi orang biasa ternyata jauh lebih sulit daripada memimpin perusahaan. Terutama saat kamu memiliki wajah yang sulit diabaikan.
Pesona "Mas Magang" yang Misterius
Ravin (Ravindra) baru tiga hari duduk di kubikelnya yang sempit, tapi dia sudah menjadi topik hangat di grup WhatsApp "Ghibah Lantai 3". Meski sudah memakai kacamata tebal dan kemeja murah, postur tubuhnya yang tegak dan cara bicaranya yang tertata membuat para wanita di sana merasa ada yang "berbeda" darinya.
Tragedi Galon dan Otot Tersembunyi
Siang itu, galon di dispenser sudut ruangan habis. Biasanya, para staf wanita harus menunggu petugas kebersihan yang lama datangnya.
"Aduh, haus banget tapi galonnya kosong," keluh Lala, staf admin yang selalu memakai lipstik merah menyala. Dia melirik Ravin yang sedang asyik merapikan dokumen dengan sangat santai. "Mas Ravin, bisa minta tolong? Kita semua lemas nih belum minum."
Ravindra mendongak. Di kantor atas, dia tidak tahu dari mana air minum berasal. Tapi di sini, dia adalah tumpuan harapan. Dia berdiri, membuka segel galon dengan satu tangan (kebiasaan gym-nya tidak bisa bohong), dan mengangkatnya dengan gerakan yang sangat efisien.
Saat otot lengannya tercetak jelas di balik kemeja tipisnya, terdengar suara tarikan napas serentak dari arah meja belakang.
"Eh, Mas Ravin ternyata... kuat ya," bisik Lala sambil pura-pura mengipasi wajahnya. "Padahal kelihatannya kalem."
"Hanya gravitasi, Mbak," jawab Ravindra datar, mencoba tetap slow. Dia kembali duduk dan melanjutkan kegiatannya: memandangi cicak di langit-langit, sebuah kemewahan yang tidak pernah bisa ia lakukan di lantai 42.
Konsultasi "Cinta" yang Salah Alamat
Sore harinya, Siska kembali mendekat. Kali ini dia membawa laptopnya.
"Vin, bantuin dong. Laptopku lemot banget, kayaknya dia capek kayak aku," curhat Siska sambil menyandarkan dagunya di tangan, menatap Ravindra dari samping.
Ravindra melihat layar laptop Siska. Isinya bukan kerjaan, tapi tab belanja online yang terbuka sampai 20 jendela. "Mungkin kalau Mbak tutup 15 tab sepatu itu, laptopnya bakal lebih bahagia," ujar Ravindra jujur.
"Ih, panggil Siska aja, jangan Mbak!" Siska mencolek lengan Ravindra. "Kamu kok pinter banget sih? Kamu tuh tipe cowok yang 'slow' tapi pasti ya? Tipe-tipe husband material."
Ravindra hampir tersedak kopi sasetnya. "Saya cuma magang, Siska. Cita-cita saya cuma satu: pulang jam lima tanpa sakit punggung."
Bekal dari Sang Senior
Maya, yang paling senior dan paling santai, tiba-tiba menaruh sebuah kotak makan di meja Ravindra.
"Nih, makan. Kamu pucat banget kayak kurang asupan nasi padang," kata Maya. Isinya adalah rendang buatan rumah. "Jangan terlalu rajin kerja. Di perusahaan ini, makin rajin kamu kerja, makin banyak dikasih tugas. Mending kita pura-pura sibuk aja sambil nunggu jam pulang."
Ravindra menatap rendang itu. Ini adalah pertama kalinya seseorang memberinya makanan tanpa ada maksud negosiasi kontrak atau lobi bisnis. Hanya murni karena dia dianggap "anak baru yang kurang makan".
"Kenapa Mbak—maksud saya, Maya—baik sekali?" tanya Ravindra heran.
Maya tertawa sambil menepuk bahu Ravindra keras-keras sampai kacamata Ravindra miring. "Karena kamu itu aneh, Vin. Kamu duduk di sini kayak pangeran yang nyasar di pasar loak. Lucu aja ngelihatnya."
Alarm Jam 5 Sore
Tepat pukul 17.00, sebuah bunyi alarm nyaring terdengar dari ponsel Ravindra. Dia langsung menutup mapnya, merapikan meja dengan kilat, dan berdiri.
"Wah, disiplin banget pulangnya!" seru Lala dari seberang ruangan.
"Maaf semuanya, waktu santai saya di rumah sudah memanggil," ujar Ravindra dengan senyum tipis yang mendadak terlihat sangat karismatik.
Saat dia berjalan keluar, ketiga wanita itu berdiri di depan pintu, menatap punggungnya dengan tatapan memuja. Mereka tidak tahu, bahwa pria yang baru saja mereka goda itu sedang berpikir,
'Besok saya harus belajar cara pura-pura tidak bisa angkat galon. Terlalu banyak perhatian tidak baik untuk program slow living saya.'