Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Di Bawah Bayangan Ardan

Di Bawah Bayangan Ardan

Senja Raveline | Bersambung
Jumlah kata
26.5K
Popular
100
Subscribe
7
Novel / Di Bawah Bayangan Ardan
Di Bawah Bayangan Ardan

Di Bawah Bayangan Ardan

Senja Raveline| Bersambung
Jumlah Kata
26.5K
Popular
100
Subscribe
7
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeHaremPria MiskinPria Dominan
Ardan tidak pernah melihat dirinya istimewa. Ia hanya lelaki sederhana, baik hati, mudah percaya, dan sering dimanfaatkan banyak orang sejak kecil. Sifatnya yang lembut membuatnya disukai semua orang… dan disakiti semua orang. Hingga ia diterima bekerja di perusahaan besar tempat Reza Dirgantara menjadi supervisor. Reza adalah kebalikan dari Ardan. Ia dingin, tajam, berbahaya, dan membawa aura gelap yang membuat siapa pun menjauh hanya dengan tatapannya. Tapi untuk alasan yang tidak dipahami siapa pun, Reza justru tertarik pada Ardan. Terobsesi, bahkan. Di awal, perhatian Reza terasa seperti perlindungan, membela Ardan di rapat, menghindarkan dia dari rekan kerja toxic, bahkan menjemputnya saat hujan. Namun semakin lama, Ardan menyadari bahwa Reza tahu terlalu banyak tentang dirinya, alamat kontrakan lamanya, mantan-mantan yang menyakitinya, bahkan nama-nama perempuan yang pernah memanfaatkannya. Dan itu hanya permulaan. Lelaki yang mendekati Ardan satu per satu tiba-tiba menjauh. Beberapa kehilangan pekerjaan. Beberapa menghilang dari media sosial. Beberapa mengaku “takut pada sesuatu”—tanpa berani menjelaskan apa. Ardan mulai curiga. Apakah Reza sedang melindunginya… atau sedang menguasainya? Dalam dunia yang penuh intrik, ambisi, dan bayangan kekuasaan, Ardan harus menemukan keberaniannya sendiri: bertahan di bawah bayangan Reza, atau melawan lelaki yang rela menghancurkan dunia hanya agar Ardan tidak pergi. Namun Reza telah membuat keputusan sejak awal. Ardan adalah satu-satunya cahaya yang pernah ia punya… dan cahaya itu harus tetap berada dalam genggamannya.
Hari Pertama yang Terlalu Tenang

Pagi itu dimulai dengan cara yang paling Ardan benci. Hujan deras, jalanan macet, dan payungnya patah sebelum ia sempat melangkah ke halte.

Langkahnya basah. Celananya lembap. Dan ia sudah terlambat lima belas menit untuk hari pertamanya bekerja di perusahaan yang menurut orang-orang “keras tapi menjanjikan”.

Nama Ardan Wiraputra ada di ID card barunya. Tulisan hitam yang seharusnya membuatnya bangga, tapi justru membuat dadanya sesak. Dia tidak ingin salah langkah lagi. Tidak ingin mengecewakan siapa pun lagi. Dan terutama, ia tidak ingin terlihat bodoh.

Tapi ternyata… mungkin itu sudah terlambat.

Lift menuju lantai tujuh hampir menutup saat Ardan sampai. Dengan napas ngos-ngosan, ia menyelipkan tangan dan masuk tergesa-gesa.

Di dalam lift, hanya ada satu orang.

Tinggi. Rapi. Wangi. Dengan tatapan yang… entah kenapa… terasa menusuk. Lelaki itu menoleh pelan, seakan sudah tahu Ardan akan masuk, seakan sedang menunggu.

Tatapannya turun ke ID card Ardan, lalu naik lagi ke wajahnya.

“Ardan Wiraputra.”

Nada suaranya dalam, datar, terdengar seperti seseorang membaca data kasus

Ardan mengangguk gugup. “I-iya, Kak.”

“Kak?” Lelaki itu menaikkan satu alis. “Kita seumuran.”

“Oh!”

Ardan tersenyum, meski pipinya memanas.

“Maaf… saya terlalu sering manggil orang begitu.”

Lelaki itu tidak membalas. Ia hanya menatap… lama.

Ardan merasakan jantungnya memukul dada dengan ritme tak normal, bukan karena tertarik, tapi karena… ditelanjangi.

Dipindai. Seolah lelaki itu bisa membaca seluruh hidupnya hanya dari cara Ardan menarik napas.

Lift berhenti di lantai tujuh. Pintu terbuka.

Namun lelaki itu tidak langsung keluar. Ia menunggu Ardan melangkah dulu.

Ardan sempat bingung, tapi ia keluar juga, dan baru sadar bahwa lelaki itu mengikuti tepat di belakangnya. Seolah bayangan. Begitu Ardan memasuki ruang divisi, semua orang yang tadinya sibuk langsung berdiri.

“Pagi, Pak Reza.”

Ardan berhenti. Menoleh perlahan.

Reza.

Nama yang bahkan HR sebut-sebut kemarin. Supervisor paling ditakuti, tapi paling banyak disukai para karyawan baru. Ada yang bilang dia dingin. Ada yang bilang dia terlalu protektif. Ada yang bilang… dia berbahaya.

Reza menatap Ardan, menunggu reaksi.

“Kamu… Pak Reza?” suara Ardan lirih, hampir tak terdengar.

Reza tidak menjawab.

Ia hanya menunduk sedikit, bukan anggukan ramah, tapi semacam pengakuan bahwa ya, dialah orangnya.

Ardan ingin meminta maaf karena sudah memanggilnya “Kak”, tapi lidahnya kelu.

Reza berbalik ke timnya. “Ada yang salah? Kerja kalian selesai?”

Spontan semua menunduk dan kembali sibuk.

Ardan mengikuti HR menuju meja kerjanya yang baru. Tempatnya lumayan nyaman, dekat jendela, jauh dari printer yang berisik.

Dia mencoba mengeringkan rambut dan lengan bajunya dengan tisu. Ia membuka laptop, menata pulpen, mencoba menenangkan diri.

Tapi kemudian yang membuatnya kaget terjadi.

Reza berdiri di samping mejanya. Tanpa suara. Tanpa aba-aba. Seolah muncul begitu saja.

Ardan refleks bangun dari kursi. “P-pak—”

“Reza.”

Tatapannya tetap dingin. “Jangan sebut saya Pak. Saya tidak suka.”

Ardan hampir tersedak napas sendiri. “O-oh, baik, Ka— Reza.”

“Ardan,” Reza bersandar di meja depannya, menatap tepat ke mata. “Kamu telat lima belas menit. Hujan tidak bisa dijadikan alasan. Di sini, telat itu menunjukkan kamu belum menghargai pekerjaanmu.”

Ardan menunduk, wajahnya memerah karena malu. “Maaf… benar-benar maaf.”

Reza menatapnya lama. Terlalu lama. Namun yang keluar dari bibirnya justru sesuatu yang membuat jantung Ardan berhenti sepersekian detik.

“Tapi kamu tidak bohong.”

Ardan mengangkat kepala. “Hah?”

“Wajahmu tidak dibuat-buat,” lanjut Reza tanpa ekspresi. “Kamu benar-benar merasa bersalah. Kamu benar-benar ingin memperbaiki kesalahan. Kamu bukan tipe yang pura-pura.”

Ardan menelan ludah, bingung bagaimana harus merespons.

“Orang seperti kamu,” Reza mendekat sedikit, suaranya menurun, “langka.”

Ardan mematung.

Hanya jadi sasaran tatapan gelap itu.

Reza meluruskan punggung. “Saya akan membantumu. Tapi kamu harus mengikuti aturan saya.”

“A—aturan?”

“Pertama,” Reza berkata sambil melangkah pergi, “jangan percaya siapa pun terlalu cepat di tempat ini."

Langkah Ardan terhenti. Itu bukan nasihat. Itu peringatan. Reza berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit.

“Kedua,” tatapannya menusuk dalam, “kalau ada yang mencoba dekat denganmu, lapor ke saya dulu.”

Ardan terkejut. “Kenapa?”

Reza tersenyum kecil, senyum yang lebih terasa seperti ancaman daripada kehangatan.

“Karena tidak semua orang menyukaimu seperti saya.”

Pintu tertutup.

Ardan berdiri kaku, bingung apakah ia baru saja mendapatkan penjaga…

atau seseorang yang harus ia waspadai.

Tapi hari itu belum selesai.

Siang harinya, saat Ardan sedang makan di pantry, seorang karyawan mendekat.

“Eh, kamu anak baru ya? Ardan, kan? Aku Rangga. Kalau mau, nanti pulang bareng aja”

“Tidak.”

Suara bariton itu muncul dari belakang.

Reza.

Rangga langsung pucat. “S-sorry, Pak”

“Pergi.” Hanya satu kata, dan Rangga kabur.

Ardan menatap Reza. “Kamu… kenapa begitu?”

Reza menunduk sedikit, wajahnya serius. “Karena saya tahu banyak hal yang kamu tidak tahu.”

“Seperti apa?”

"Mereka bukan temanmu.” Tatapannya mengeras. “Tapi saya… saya tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kamu.”

Ardan merasa bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut. Tapi karena entah bagaimana, di balik semua itu, ada rasa… aman. Rasa aman yang aneh. Yang tidak ia mengerti.

Reza mundur setengah langkah. “Mulai hari ini, kamu di bawah saya.”

Ardan menelan napas gugup. “Dalam hal pekerjaan?”

Reza menatapnya tanpa berkedip.

“Dalam hal apa pun.”

Reza melangkah pergi meninggalkan Ardan yang sedang kebingungan.

Ardan merasa ada sesuatu yang aneh terhadap atasannya itu. Ia mulai berpikir kalau apa yang dikatakan supervisor kemarin kepadanya bukan sekedar gosip, melainkan fakta. Sekarang rasanya Ardan tak tahu harus bersikap bagaimana di kantor.

“Baru hari pertama kerja rasanya seperti…” Ardan menggantungkan kalimat itu, mencoba mencari kata yang tepat. Ia mengernyitkan dahi, mendorong napas keluar panjang. “Ah sudahlah. Tapi dengan begini juga kehidupan di kantor jadi tenang, dan paling penting… gak ada yang bisa menggangguku.”

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Tapi tenang?

Tidak. Kantor itu terasa seperti ruangan yang dindingnya bergerak mendekat perlahan, tidak terlihat, tapi menekan

Dan pengganggu?

Ardan punya firasat bahwa satu-satunya orang yang bisa mengganggunya… justru orang yang baru saja pergi.

Sore menjelang pulang, Ardan menyusun berkas terakhir di mejanya. Hujan yang sejak pagi turun sekarang tinggal gerimis. Ia mengecek jam tangan, lagi-lagi ia jadi karyawan paling terakhir di divisinya. Semua sudah pulang, bahkan HR.

Ia hendak berdiri ketika lampu ruangan tiba-tiba meredup sebentar sebelum stabil kembali. Dari arah pintu, langkah perlahan terdengar.

Ardan menoleh.

Reza berdiri di sana. Tanpa suara. Tanpa ekspresi. Tangannya menyelip di saku celana, seperti seseorang yang sedang memeriksa ruangan yang menjadi wilayahnya.

“Kamu belum pulang.” Itu bukan pertanyaan. Lebih seperti observasi yang menuntut penjelasan.

“A—aku baru selesai, Reza.”

Reza melangkah mendekat, setiap langkah terdengar jelas di ruangan yang sudah kosong. “Kamu selalu bicara seakan minta izin. Santai saja. Saya tidak marah.”

"Aku bukan… takut,” Ardan spontan membela diri.

“Benarkah?” Reza berhenti tepat satu langkah di depan Ardan. Jarak yang terlalu dekat. “Karena gesturmu bilang sebaliknya.”

Ardan membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar.

Reza mengalihkan pandangannya ke jendela. “Hujan sudah reda. Tapi jalanan pasti licin. Kamu pulang naik apa?”

“Bus. Atau—jalan kaki sedikit ke halte.”

Reza menatapnya lagi. “Berbahaya.”

Ardan mengerutkan dahi. “Reza, semua orang jalan kaki ke halte.”

“Bukan kamu.” Tatapan Reza mengeras. “Saya antar.”

“A—apa?” Ardan hampir tersedak. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”

Reza tidak bergerak. Tidak mengubah ekspresi. Namun aura di sekitarnya seperti berubah—lebih padat, lebih gelap.

“Ardan,” katanya pelan, terlalu pelan, “tahu kenapa saya ingat nama setiap karyawan baru?”

Ardan menelan ludah. “K-kenapa?”

“Supaya saya tahu siapa yang harus dijaga.”

Reza bersandar sedikit pada meja Ardan. “Dan siapa yang harus diawasi.”

Jantung Ardan mencelos. “Aku… tidak mengerti maksudmu.”

“Tidak perlu mengerti sekarang.”

Reza meraih payung hitam panjang yang tadi ia letakkan di dekat pintu. “Ayo.”

Ardan menatap payung itu, menatap pintu, menatap Reza.

“Aku—serius, aku bisa pulang sendiri.”

Reza mendekat lagi. Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter. Ardan bisa mencium wangi aftershave Reza, dingin, tajam, seperti hujan yang baru selesai turun.

“Dan saya serius,” suara Reza merendah, “kamu pulang sama saya.”

Nada itu bukan perintah… tapi juga bukan permintaan.

Ardan terpaku. Ada ketakutan yang samar, tapi juga, entah kenapa ada sedikit rasa aman yang muncul tanpa izin. Kombinasi yang berbahaya.

Reza memiringkan kepala, menatapnya seolah membaca pikirannya lagi.

“Kamu masih berpikir saya ini apa, Ardan?” tanyanya, tidak tersenyum, tapi suaranya terdengar terlalu halus.

Ardan menunduk. “Aku… cuma bingung.”

“Bagus.” Reza membuka pintu sambil meliriknya. “Bingung berarti kamu masih waspada.”

Ardan menarik napas panjang dan akhirnya berdiri. Ia meraih tasnya dan berjalan pelan ke arah Reza.

Ketika ia melewati pintu, Reza menutupnya, lalu berkata pelan, hampir tidak terdengar—

“Mulai besok, jangan terlalu dekat dengan siapa pun. Beberapa orang sudah memperhatikanmu.”

Ardan berhenti. “Siapa?”

Reza menatapnya lama, sebelum akhirnya menjawab dengan suara rendah yang membuat tengkuk Ardan merinding.

“Orang-orang yang ingin mengambil sesuatu darimu.”

Ardan menelan napas. “Mengambil… apa?”

Reza berjalan duluan menuju lift.

Tanpa menoleh, ia berkata:

“Kamu.”

Lift berbunyi pelan ketika pintunya terbuka.

Ardan masuk. Reza masuk di belakangnya.

Pintu tertutup. Dan untuk pertama kalinya Ardan benar-benar merasa ia tidak tahu apakah ia sedang diselamatkan… atau sedang masuk ke dalam perangkap yang tidak bisa ia hindari.

Lanjut membaca
Lanjut membaca