
Jagad sang Penakluk Wanita
Kairav Orion|Tamat
- Jumlah kata
- 242.3K
- Popular
- 159.7K
- Subscribe
- 10.9K
- Jumlah kata
- 242.3K
- Popular
- 159.7K
- Subscribe
- 10.9K
Sinopsis
Jagad, pemuda desa dengan rahasia fisik yang luar biasa, mendadak memegang kartu as setelah memergoki skandal panas Kepala Desa di ladangnya. Menggunakan rahasia itu sebagai senjata, Jagad berhasil memeras restu untuk mendekati Alya, putri sang Kepala Desa yang cantik jelita. Namun, situasinya kian rumit saat ia harus menghadapi godaan janda penggoda dan gejolak hasrat terhadap kakak iparnya yang setia. Berbekal buku misterius Teknik Penakluk Wanita, petualangan Jagad dalam menaklukkan hati dan raga para wanita di desanya pun dimulai.
Ulasan
10 ulasan
NovelbyAsma
18/7/26 11:23
mohon maaf kak izin promosi, Judul baru . candu dalam pelukan dosa semoga kakak sehat selalu dan makin rame Rider nya🫶🫶
SyahrulM
9/7/26 14:02
Izinn yaa Thor yang berkenan yuk boleh mampir di cerita ku " Reinkarnasi Dewa Perang Terkuat " Terima kasih 🙏
Bab 1
Pagi ini, Jagad Wicaksono tengah mengayun sepeda tua berkaratnya dengan bersiul pelan. Ia bersenandung riang, dengan tekad dan semangat penuh menuju ladang miliknya.
"Eh.. eh…," gumamnya.
Sepeda tuanya harus berkelahi dengan jalanan rusak berbatu yang membuat lajunya menjadi sering tidak stabil. Jujur saja, Jagad takut kalau tiba-tiba saja sepedanya rontok di tengah jalan. Tapi, ia mana punya uang lebih untuk beli sepeda baru.
Dan benar saja. Hari apes yang ditakuti Jagad rupanya sudah menanti.
Saat melewati turunan, ban depan sepedanya copot. Jagad panik. Ia refleks mengendarai sepedanya dengan mengangkat setang dalam keadaan panik. Pandangannya fokus tertuju pada bannya yang copot. Dan ketika ia melirik ke depan, matanya seketika melotot. Tanpa ia sadari, sepeda itu meluncur cepat ke arah pohon mangga.
"Aduuh!! Waaahh…!!"
BRAK!!
Sepeda Jagad menabrak pohon mangga dengan sangat kencang. Tubuhnya terguling, ikut menabrak batang pohon yang keras. Kedua tangannya refleks memegang lutut yang membentur batang pohon.
Namun lebih dari itu, seekor kucing yang sejak tadi tiduran santai di atas dahan, terjatuh cepat karena tabrakan itu. Tubuhnya yang gembul mendarat mulus, tepat pada rudal Jagad. Kucing mengeong sekali, tampaknya heran karena ia mendarat dengan nyaman meskipun terjatuh dari pohon. Sementara Jagad meringis kesakitan.
Sudah terjatuh, masih tertimpa tangga. Bukan, lebih tepatnya tertimpa kucing di rudalnya yang besar.
"Kucing, sialan!" dengus Jagad.
Sepeda di sebelahnya telah teronggok rusak, dan kini dia mengkhawatirkan kondisi propertinya.
Rudal yang besar? Benar.
Pemuda berusia dua puluh tahun itu memiliki sedikit keistimewaan dalam tubuhnya. Saat umurnya remaja, ia ditinggalkan di Desa Anggrek dan diadopsi oleh Kakek Wicaksono. Kala itu namanya bukanlah Jagad. Namun karena Kakek Wicaksono melihat alat kelamin Jagad yang besarnya sangat tidak biasa, akhirnya ia dinamakan Jagad Wicaksono.
Jagad itu besar. Serupa dengan tubuh dan kelamin milik Jagad.
Dalam keluarga Kakek Wicaksono, Jagad tidaklah sendiri. Pria tua itu memiliki anak laki-laki lain. Namun malangnya, anak laki-lakinya meninggal dalam kecelakaan, tak lama setelah pernikahannya.
Kemalangan itu tak berakhir begitu saja. Tahun lalu, Kakek Wicaksono juga meninggal karena sakit, meninggalkan Jagad yang mau tidak mau harus siap menjadi kepala keluarga. Dan karena itulah, di umurnya yang masih 20 tahun, dia harus bekerja sendirian di ladang gandum peninggalan Kakek Wicaksono.
Kini, Jagad telah sampai di ladangnya. Setelah insiden sepeda yang membuatnya celaka, sekarang ia bisa memerhatikan satu-satunya sumber penghasilannya itu. Tak hanya gandum saja, di dekat ladangnya pun juga tumbuh tanaman bawang putih.
"Kalau hasil panen tetap melimpah seperti ini, aku tidak akan perhitungan lagi kalau mau merokok."
Jagad mengambil satu batang rokok dari sakunya, lalu menyalakannya cepat. Untung saja tidak patah karena jatuh tadi. Ketika asap beraroma tembakau itu masuk ke hidungnya, rasanya nikmat sekali. Karena miskin, ia belum merokok selama sebulan.
"Tidak perlu mewah, begini saja sudah nyaman," ucapnya, lalu menyesap dalam-dalam rokoknya dan mengembuskannya perlahan.
Pucuk gandumnya bergoyang terkena angin. Jagad mengangguk-angguk puas. Badannya bersandar di batang pohon yang teduh. Rokoknya sudah habis, ia hampir ketiduran saat tiba-tiba, terdengar suara samar dari ladang gandumnya.
Sontak saja, Jagad langsung berdiri. Pencuri? Atau ada yang mau merusak ladangnya?
Tidak bisa dibiarkan. Pasti itu pencuri. Jagad menyambar batu bata merah yang teronggok di dekatnya. Ia memilih dua yang paling besar dan kuat.
"Tidak akan kubiarkan ada yang mencuri di ladangku!" ucapnya geram.
Berbekal batu bata merah itu, ia berniat untuk menangkap mereka, siapa pun yang saat ini sedang berbincang di ladangnya.
Jagad berjalan cepat ke sumber suara. Kedua tangannya penuh dengan batu bata merah. Matanya membara, menatap tajam pada setiap gerakan yang tertangkap pandangan. Namun, semakin ia dekat dengan sumber suara itu, ia merasa ada yang aneh. Tak lagi berjalan cepat seperti tadi, kini ia merunduk, nyaris merayap perlahan.
"Ugh… Mas, cepetin."
Jantung Jagad berdebar kencang. Ia semakin menghaluskan gerakannya, menjangkau apa yang saat ini ada di hadapannya. Dua kekasih berguling-guling dengan penuh gairah di tengah ladang gandum. Celana sang pria melorot sampai lutut, dan wanitanya tak sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya.
"Kamu ternyata suka yang brutal, ya," ucap sang pria, sambil menghentak lebih dalam pusakanya.
"Aah! Mentok, Mas. Enak banget!"
Wanita itu melenguh kencang. Ia mencengkeram batang-batang gandum yang telah menguning. Jagad membelalakkan matanya. Namun bukan karena gandumnya yang dirusak, tapi karena pepaya wanita itu yang menyembul kenyal. Putih, lekuk tubuhnya montok sekali.
Pandangan Jagad turun ke bawah. Kaki putih wanita itu, jenjang dan mengangkang lebar. Saat pria itu melepaskan pusakanya, bagian bawah tubuhnya basah dan berkilau.
Jagad melihatnya, pusaka miliknya bergejolak cepat. Namun ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya.
"Kok warnanya bukan merah muda, ya?" batinnya.
Jagad tidak bisa melihat jelas wajah pria itu, tapi ia bisa melihat tangan pria itu meremas gundukan montok itu, sementara tangan sang wanita meraih pusaka yang panjang menegang dan membenamkannya kembali pada liang basahnya.
"Aaahhh…"
Sial.
Si otong milik Jagad semakin menjadi. Hawa panas berdesir cepat, menguasai tubuhnya dan membuat langkahnya menjadi semakin mendekat. Dan tepat saat itulah, ia mengenali sosok pria itu.
Kepala Desa.
Sementara wanita di bawahnya kini tersembunyi di balik tubuh kepala desa yang masih menindih. Gerakan mereka semakin cepat. Wanita itu terus melenguh dan mendesah, seiring dengan gerakan maju mundur dari kepala desa yang terlihat sangat nikmat.
Jagad terus mendengar teriakan nikmat itu. Namun yang semakin membuatnya heran lagi, entah kenapa suaranya terdengar familiar. Hatinya mendidih melihat adegan itu. Tak heran kakak iparnya terus memperingatkan bahwa kepala desa itu tidak baik. Pria itu doyan dan telah tidur dengan banyak wanita di Desa Anggrek.
Ia sempat tak percaya. Namun pada akhirnya, sekarang ia justru menangkapnya basah.
Kratak!
Jagad mematung. Kakinya tanpa sengaja menginjak ranting kecil kering. Kepala desa yang hampir mencapai puncak kenikmatan, langsung mendongak terkejut dan mencabut kasar pusakanya. Ia buru-buru menarik celananya sambil mengumpat kasar.
"Sialan kamu! Ngapain belasakan sampai sini?!" sentak kepala desa.
Jagad hampir tertawa mendengarnya.
"Loh, ini kan ladang saya. Harusnya saya yang tanya, kenapa kalian di sini? Saya kira tadi ada yang mau mencuri gandum," ucap Jagad, sambil mengarahkan pandangannya pada wanita yang sibuk meraih pakaiannya.
Ayu. Si janda itu. Sekarang Jagad bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dan jujur saja, janda itu terlihat cukup menggoda saat ini.
Ayu melotot. Ia cepat-cepat berpakaian. "Kamu lihatin apa??"
"Lihat kamu," jawab Jagad. "Kamu… Ayu, kan?"
Wanita itu belum selesai berpakaian. Ia masih terduduk, tak menyadari kakinya masih sedikit mengangkang. "Iya, aku Ayu Maharani. Suamiku sudah meninggal lima tahun lalu. Jadi, jangan pernah punya pikiran kalau aku selingkuh."
"Itu, ada air yang masih ngalir di bawah," kata Jagad sambil menunjuk ke arah bawah tubuh Ayu.
"Kurang ajar!" sentak Kepala desa.
Jagad menoleh ke arah kepala desa. Pria itu, dulu pernah menolak lamarannya yang ingin menikahi putrinya. Ucapan kasar yang menyakitkan itu kembali terngiang. Dan sekarang, Jagad akhirnya bisa membalas hal itu. Ini adalah kesempatannya untuk memanfaatkan kelemahan kepala desa itu dan mengeksploitasinya.
"Kepala Desa, saya sudah menyaksikan kelemahan Anda," ucap Jagad, lalu melihat ke bagian bawah kepala desa. "ya… kelemahan."
Kepala desa tidak terima. Ia merasa dipermalukan oleh Jagad. Tangannya terangkat cepat, hampir memukul kepala Jagad.
"Saya akan menuntut Anda!"
Ucapan Jagad berhasil membuat tangan kepala desa berhenti.
"Saya akan menuntut Anda untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah kalian lakukan di ladang gandum ini!"
Daftar bab
221 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
221 bab








