Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem : Kucing Naik Level

Sistem : Kucing Naik Level

Lucky888 | Bersambung
Jumlah kata
73.0K
Popular
819
Subscribe
159
Novel / Sistem : Kucing Naik Level
Sistem : Kucing Naik Level

Sistem : Kucing Naik Level

Lucky888| Bersambung
Jumlah Kata
73.0K
Popular
819
Subscribe
159
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHarem21+Sistem
Jingkara tiba - tiba terbangun di dalam tubuh kucing, ia marah, menangis bahkan menuduh Tuhan tidak adil. Siapa sangka dirinya malah tersambar petir dan berubah jadi seekor kucing! Di saat sedang kebingungan, seorang gadis cantik yang ternyata adalah CEO ternama se- ASIA, justru mengajaknya untuk ikut pulang, "Hm... kasian kamu meng sendirian di jalan, ikut aku pulang yuk. Nanti aku mandiin biar kamu bersih dan wangi. Kita mandi berdua biar seru!" ucap Arini, CEO cantik tersebut. Jingkara melongo "A-apaa? Mandi?? Berdua???" *********
Bab 1 Terbangun di tubuh kucing

Jingkara berdiri di depan urinoir toilet mal yang sedang sepi. Ia bersiul kecil, merasa lega setelah menahan buang air kecil selama hampir satu jam saat menemani pacarnya, Siska, belanja tas diskonan. Namun, ketenangannya pecah saat pintu toilet tiba-tiba terbuka dengan kasar.

"Jingka! Lo lama banget sih! Kita telat nonton---"

Siska mematung. Wajahnya yang penuh make-up mahal itu mendadak berubah pucat, lalu matanya melotot tajam ke arah bawah, tepat ke arah di mana Jingkara sedang memegangi burungnya.

"Si-Siska? Ini toilet cowok! Lo ngapain masuk---"

Jingkara tersentak, tangannya gemetar dan juga panik. Burungnya tanpa sadar ia arahkan ke siska hinga air seninya mengenai kaki pacarnya tersebut.

Siska tidak memperdulikan air kecil Jingkara yang mengenai kakinya, ada yang lebih membuat dirinya terkejut--

"Itu..." Siska menunjuk dengan jari gemetar, "Itu punya lo, Jingka? Serius? Itu burung apa cacing?"

Wajah Jingkara memerah padam sampai ke telinga. "Siska, ini... ini lagi posisi tegang!"

Siska tertawa hambar, tawa yang lebih menyakitkan daripada ditampar sandal jepit. "Apaa?? Tegangnya segitu terus semana pas dia lagi tidur, hah??? Maaf ya, Jingka. Gue nggak bisa lanjutin hubungan ini. Kita putus!"

"Siska! Tunggu! Siska!"

Jingkara berusaha mengejar sambil menaikkan resleting celananya dengan terburu-buru, tapi sial, kulitnya malah terjepit. Ia memekik kesakitan sementara Siska sudah melenggang pergi dengan langkah seribu, meninggalkan Jingkara dalam kehinaan yang luar biasa di tengah aroma karbol toilet.

"Akhhh, jingan!" batin Jingkara.

Malam itu, langit Jakarta seolah mengejek Jingkara. Ia berjalan gontai di taman kota yang sepi, tempat di mana terdapat kolam hias yang airnya hanya setinggi lutut orang dewasa. Pikirannya kacau. Kata-kata Siska masih terngiang-ngiang.

"Kenapa?! Kenapa dunia ini nggak adil!" teriak Jingka ke arah langit yang mulai mendung. "Kenapa orang-orang cuma liat fisik? Emang salah kalau punya gue minimalis?! Setidaknya anu gue bisa gaya helikopter, itu udah cukup!"

Jingka mengepalkan tinju ke angkasa. Amarahnya memuncak. Ia tidak hanya marah pada Siska, tapi juga pada takdir.

"Tuhan! Kenapa Engkau kasih gue beban seberat ini dengan ukuran burung yang se-mini itu?! NGGAK ADIL !"

Tepat setelah ucapan sombong dan penuh keluhan itu keluar, petir menyambar di kejauhan. Angin kencang tiba-tiba bertiup, membuat langkah Jingka goyah. Ia berdiri di pinggir kolam hias, kakinya menginjak lumut yang licin.

"Woi- eh!"

Splash!

Jingka terpeleset. Kepalanya membentur pinggiran beton kolam sebelum tubuhnya tercebur ke dalam air yang dalamnya bahkan tidak sampai setengah meter. Harusnya, ia bisa langsung berdiri, itu hanya kecelakaan kecil yang memalukan.

Namun, saat matanya terpejam di dalam air, sebuah cahaya putih menyilaukan menghantam kesadarannya. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya, tulang-tulangnya terasa bergeser, kulitnya terasa gatal luar biasa seolah jutaan jarum menusuk pori-porinya.

***

"Ekh... Uhuk! Uhuk!"

Jingka berusaha menghirup udara. Pandangannya kabur. Hal pertama yang ia rasakan adalah sensasi aneh di pantatnya, sesuatu yang panjang dan bisa digerakkan secara mandiri. Dan hidungnya entah kenapa bau rumput dan tanah jadi begitu menyengat?

Ia mencoba berdiri, tapi keseimbangannya kacau. Ia tidak berdiri dengan dua kaki, melainkan empat.

"Kenapa pandangan gue jadi rendah banget?" gumam Jingka. Tapi yang keluar dari mulutnya bukanlah kata-kata, melainkan... "Meong? Meooooong?!"

Jingkara tersentak. Ia melihat ke bawah. Bukannya tangan manusia dengan jemari yang kasar, ia justru melihat sepasang cakar kecil berbulu oren bercampur putih dengan bantalan merah muda yang empuk.

"Apa-apaan ini?!" Jingka panik. Ia berlari menuju genangan air di samping kolam untuk melihat pantulan dirinya.

Di sana, di atas permukaan air yang tenang, tidak ada lagi wajah Jingka yang kusam karena stres kerja. Yang ada adalah seekor kucing jantan berbulu oren yang sangat tampan, dengan mata biru safir yang jernih.

Jingkara terdiam seribu bahasaIa teringat doanya tadi. Ia minta keadilan. Ia minta sesuatu yang besar.

Ia segera membalikkan tubuhnya, memeriksa bagian bawah perutnya dengan penuh harap. Mata kucingnya melebar.

"TIDAAAAAAK! TUHAAAAN!! Kenapa engkau merubah aku menjadi kucing?? Maafkan aku, Tuhan... aku memang tidak bersyukur dengan diriku sebelumnya... aku memang protes dengan burungku yang kecil, tapi... sekarang juga tetap kecil bahkan lebih besar telurnya dibanding satelitnya!!"

Jingkara frustrasi. Ia berguling-guling di tanah, mencakar-cakar pohon, bahkan mencoba melakukan salto untuk memastikan ini hanya mimpi. Tapi sial, kemampuannya melompat justru meningkat drastis. Ia benar-benar telah dikutuk.

"Meooong! Meong... meonggggggg!"

Baru saja Jingka ingin meratapi nasib lebih jauh, sebuah cahaya lampu mobil mewah menyinari tubuh kecilnya. Suara decit rem terdengar halus. Sebuah mobil Rolls-Royce berkelir hitam berhenti tepat di samping taman.

Pintu mobil terbuka, dan dari dalamnya turun seorang wanita. Sepatu hak tinggi Stiletto merah menyentuh aspal, diikuti dengan kaki jenjang yang terbalut stoking hitam tipis. Wanita itu memiliki rambut hitam legam yang tergerai indah, wajah yang sangat cantik namun memancarkan aura kesepian yang mendalam.

Jingkara terpaku. "Gila, ini kan CEO dari perusahaan properti terbesar di Asia yang sering muncul di majalah Forbes! Arini Kusuma!" batinnya.

Arini menatap Jingka dengan mata sayunya. Ia berjongkok, membuat belahan dadanya yang tertutup blazer mahal sedikit terlihat di mata Jingkara yang sekarang posisinya sangat rendah.

"Eh, kucing manis... kenapa kamu sendirian di sini?" suara Arini terdengar begitu lembut, berbanding terbalik dengan citranya yang ia miliki di dunia bisnis.

Jingkara menelan ludah melihat pemandangan gunung kembar yang hampir keluar dari tempatnya.

Arini mengulurkan tangannya yang halus dan wangi parfum mahal ke arah kepala Jingka. "Kamu mau ikut aku? Di rumahku besar, tapi... aku nggak punya siapa-siapa buat diajak ngobrol."

Jingka bimbang, ia tidak bisa menolak. Karna yang keluar dari mulutnya hanya suara meong saja. Namun, sebelum Jingka memutuskan, tiba-tiba dari arah semak-semak muncul tiga ekor kucing preman bertubuh besar dengan telinga robek-robek. Mereka mengepung Jingka dan Arini dengan tatapan lapar dan mengancam.

"Meong! (Heh, kucing baru, berani-beraninya lo masuk wilayah kita!)" salah satu kucing preman itu mendesis.

Jingka gemetar. Jika ia masih menjadi manusia, ia mungkin bisa menendang kucing-kucing itu. Tapi sebagai kucing baru yang tidak tahu apa – apa mengenai dunia kucing, ia hanyalah camilan malam bagi mereka.

Arini terlihat panik. "Ssh! Pergi!"

Salah satu kucing preman melompat ingin menyerang Arini. Refleks pahlawan Jingka muncul. Ia melompat di depan Arini, mencoba melindungi wanita itu. Namun, sebuah fakta mengerikan baru saja ia sadari saat ia melayang di udara...

Jingka melihat ke arah belakang, dan benar saja, ketiga kucing itu menatap bagian belakang tubuhnya dengan tatapan yang sangat aneh.

Arini segera membawa Jingka masuk ke dalam mobil meninggalkan kucing – kucing nakal barusan.

"Kenapa kucing liar tuh rata – rata pada nakal?" ucap Arini kesal, ia lalu mengelus jingga yang ia dudukan di atas pahanya. Kebetulan rok yang Arini kenakan sangat pendek dan ketat. Membuat Jingka merasa cukup hangat disana.

"Kamu nggak nakal kayak mereka, kan? Kita pulang aja yuk, kita mandi bareng biar sama – sama bersih ya?" ajak Arini.

*********

Lanjut membaca
Lanjut membaca