

Desa Sido Utang memang bukan tempat biasa. Udara di sini selalu berbau kemenyan dan keputusasaan. Pohon beringin tua di perempatan dihiasi sesajen rokok kretek yang mengepul asapnya seperti nafas bumi. Setiap pintu rumah ditancapi paku penolak bala, dan bila hujan tak kunjung datang, para tetua akan menancapkan tusuk sate bawang merah di tanah—entah kenapa harus tusuk sate, tak seorang pun berani bertanya. Setiap bulan purnama, suara gemuruh dari hutan utara menjadi pengingat bahwa di tempat ini, manusia lebih percaya pada jin daripada pada tetangga sendiri.
Di tengah desa yang terbelenggu takhayul ini, Ipan hanya punya satu keinginan sederhana: kambing-kambingnya tidak kabur.
“Lho, si Kepet lewat! Wong ora duwe masa depan kuwi!”
Cemoohan dari warung kopi menyambutnya seperti ritual harian. Ipan, dua puluh tiga tahun, tubuhnya kurus seperti ranting kering, mengusap ingus dengan lengan baju yang sudah kusam. Julukan “Kepet” melekat sejak kecil—badannya krempeng, nasibnya pelat. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya hilang di hutan utara dua puluh tiga tahun lalu, ketika mencari “pinjaman tanpa agunan” dari makhluk halus untuk biaya persalinan yang tak pernah terwujud.
Kini, Ipan hidup sebatang kara, menggembalakan wedus gibas untuk Juragan Slamet yang pelitnya sudah legendaris se-Kecamatan. Upahnya pas-pasan, cukup untuk makan seadanya dan segelas kopi pahit di warung tempat ia selalu dihina.
Siang itu, matahari tepat di atas kepala, seekor kambing bernama Belang—karena loreng hitam-putihnya yang unik seperti harimau mini—melengos dari kawanan. Dengan sikap congkak layaknya bangsawan, ia menyelonong menuju batas hutan utara.
“Dasar wedus edan!” Ipan terengah, mengejar dengan jantung berdebar.
Ini larangan. Hutan utara adalah wilayah terlarang, tempat orang-orang Sido Utang melakukan ritual pesugihan—menukar nyawa orang lain demi kekayaan instan. Tapi Belang adalah kambing termahal di kandang, harganya setara dengan upah Ipan setahun. Jika hilang, Juragan Slamet akan memotong upahnya, dan Ipan benar-benar akan mati kelaparan.
Tanpa pilihan, Ipan menyusul masuk ke dalam hutan.
Suasana berubah drastis. Kabut tipis menyelimuti pepohonan, memotong cahaya matahari. Suara jangkrik dan burung hilang, digantikan oleh desau aneh yang seperti bisikan dari dalam tanah. Daun-daun bergoyang tanpa angin. Ipan merinding, tetapi langkahnya terus maju.
Belang menghilang di balik akar beringin raksasa yang meliuk-liuk seperti ular raksasa. Ipan menyusul, dan napasnya tercekat.
Di hadapannya terbentuk mulut goa yang lebar, gelap, dan mengeluarkan bau tanah basah bercampur sesuatu yang manis menjijikkan—seperti daging busuk yang dibumbui. Goa itu seperti rahang bumi yang sedang menganga, menunggu mangsa.
“Belang...? Mrene, ojo mlebu!”
Tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri yang memantul.
Dengan lutut gemetar, Ipan memasuki goa. Dinginnya menusuk tulang, berbeda dengan hawa sejuk biasa—ini dingin yang seperti hidup, merayap di kulitnya. Di dinding goa, lekukan batu alam membentuk pola yang mengerikan: wajah-wajah kesakitan, mulut terbuka dalam jeritan sunyi. Ipan berjalan pelan, tangan meraba dinding yang lembap dan berlendir.
Lalu, terdengar suara napas berat.
“Ghhooo...”
Bukan angin. Bukan ilusi.
Itu napas makhluk hidup—besar, dalam, dan penuh kuasa.
Ipan membeku. Dari kegelapan terdalam, dua titik merah menyala seperti bara. Lalu bentuk mulai terlihat: tubuh setinggi dua pohon kelapa, kulit hijau keabu-abuan seperti lumut batu, tanduk pendek di pelipis, dan mata yang memancarkan kecerdasan purba.
Buto Ijo.
Makhluk itu mengangkat kepala. Tulang-tulangnya berderak seperti ranting kering diinjak. Ia menatap Ipan, dan tatapannya bukan kemarahan, melainkan pengamatan mendalam.
Ipan tidak sempat lari. Dunia menjadi gelap saat tangan besar Buto Ijo menyentuh dahinya.
---
Ketika kesadaran kembali, kepalanya pening seperti habis dihantam batu. Tapi ada sensasi aneh yang mengalir di tubuhnya: hangat, berdenyut-denyut, seolah aliran listrik halus menyebar dari pinggang ke setiap ujung sarafnya. Energi itu terasa hidup, bernapas, dan... bersemangat.
Ipan membuka mata, duduk perlahan.
Lalu melihat ke bawah.
“Lha... celanaku?”
Celana komprangnya yang lusuh dan penuh tambalan hilang. Yang menempel di tubuhnya hanya sepotong kolor segitiga berwarna hijau zamrud, berpendar lembut dalam kegelapan. Kainnya aneh—halus seperti sutra terbaik, tapi terasa kuat seperti kulit naga. Dan yang paling membuatnya bingung: kolor itu hidup. Ia berdenyut pelan, mengikuti irama jantung Ipan, dan memancarkan kehangatan yang menembus kulitnya.
Belum selesai panik, perubahan fisik mulai terjadi.
Otot-ototnya yang krempeng mengencang dan mengisi. Tulang punggungnya yang sering membungkuk kini tegak lurus. Pandangannya menjadi tajam—dia bisa melihat dengan jelas setiap retakan di dinding goa yang jaraknya tiga puluh langkah. Pendengarannya menangkap suara tetesan air dari lorong goa yang jauh, dan suara jantungnya sendiri yang berdetak mantap.
Dan ada yang lain.
Di antara kedua pahanya, pusakanya yang biasa-biasa saja kini berdiri tegak dengan gagah, berubah bentuk—lebih besar, bergerigi halus di pangkalnya seperti ukiran tradisional, dan berwarna sedikit kehijauan. Mirip... terong hias yang terlalu bersemangat.
“DUH GUSTI, INI APA?!” teriaknya dalam hati, wajahnya memerah campur panik.
Suara berat tiba-tiba bergema, memenuhi ruang goa tanpa sumber yang jelas.
“Tenanglah, manusia.”
Cahaya hijau kebiruan muncul di dinding, membentuk bayangan wajah Buto Ijo. Tapi ekspresinya tidak mengancam. Malah terlihat... bijaksana, dengan sorot mata yang dalam dan memahami.
“Kolor itu telah memilihmu. Ia bukan sekadar kain penutup, melainkan pusaka peninggalan leluhur yang menjaga keseimbangan. Dari sekarang, kau bukan lagi gembala yang dihina. Kau adalah penegak keadilan di desa yang sudah terlanjur sesat ini. Kau adalah... COLOR IJO.”
Ipan terduduk lemas, tangannya meraba kolor hijau yang masih berpendar. “A-aku? Color Ijo? Itu... legenda cabul yang katanya suka hipnotis kambing muda dan istri tetangga?”
Bayangan itu seolah tersenyum, cahayanya berkedip lembut. “Legenda seringkali disalahpahami oleh lidah yang tak bertanggung jawab. Kolor ini adalah alat. Ia memberimu kekuatan untuk melihat keburukan yang tersembunyi, melawan energi pesugihan, dan menyelamatkan nyawa yang akan jadi tumbal. Desa Sido Utang butuhmu—bukan karena kau kuat, tapi karena kau masih memiliki hati yang bersih.”
“Tapi... aku cuma mau cari kambingku,” batin Ipan merintih, merasa semua ini terlalu berat.
“Pergilah. Kolor akan membimbingmu. Dan ingat—energi terbesarmu akan muncul saat kau membela yang lemah, bukan saat kau mengumbar nafsu. Ia adalah perpanjangan tekadmu, bukan alat pemuas hasrat.”
Cahaya itu meredup perlahan, dan bayangan Buto Ijo menghilang bersama gema suara terakhirnya.
Ipan berdiri, tubuhnya terasa ringan namun dipenuhi kekuatan yang belum pernah ia rasakan. Dia melirik “pusaka” barunya yang masih menunjukkan semangat tinggi. “Diam dulu, kowe,” bisiknya, merasa sangat aneh berbicara pada bagian tubuhnya sendiri.
Dia berjalan keluar dari goa. Sinar matahari menyilaukannya, tapi matanya cepat menyesuaikan. Semuanya terlihat lebih cerah, lebih detail—setiap daun, setiap serangga, setiap partikel debu di udara.
Tiba-tiba, pendengarannya yang baru menangkap sesuatu: suara tangisan perempuan muda dari arah desa, diselingi bisik-bisik mantra dalam bahasa kuno yang membuat kulitnya merinding. Suara itu seolah diperkuat oleh kolor hijau—denyutnya berubah cepat, hangatnya meningkat seperti alarm yang berdering.
Kambing Belang sudah berdiri di luar goa, menatapnya dengan mata bulat penuh ketakaguman, seperti tidak mengenali tuannya yang kini berotot, berdiri tegap, dan hanya mengenakan kolor hijau bersinar.
Ipan menghela napas panjang. Di kejauhan, asap hitam ritual pesugihan mengepul dari belakang rumah Mbah Darmo, orang terkaya di desa yang kekayaannya diduga dari tumbal manusia.
Dia memandang dirinya sendiri, lalu pada daun-daun besar di sekitarnya. Dengan gerakan cepat, ia merobek beberapa helai daun talas dan mengikatnya dengan rotan sebagai “celana darurat”. Kolor hijaunya tetap berpendar di baliknya, cahayanya menembus celah-celah daun.
“Ya sudah,” gumamnya, menatap desa di kejauhan. “Tugas mulia, alatnya kok... ya begitu-begitu.”
Dia melangkah meninggalkan hutan utara, dengan Belang mengikutinya setia. Kolor hijau di tubuhnya berpendar lembut, seperti menyetujui keputusannya.
Dan di Desa Sido Utang, tanpa seorang pun tahu—bahkan para dukun dan praktisi pesugihan yang merasa paling berkuasa—sebuah era baru telah dimulai. Era yang aneh, absurd, dan sedikit tidak sopan. Era di mana seorang gembala miskin, dengan kolor ajaib dan niat baik yang kikuk, akan menggoncang fondasi kegelapan yang telah mengakar puluhan tahun.
Ipan berjalan menuju desa. Tangisan perempuan itu semakin jelas terdengar di telinganya. ..
Bersambung...