

Hujan malam itu terus mengguyur salah satu panti asuhan yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Langit begitu kelam. Angin kencang pun tidak ingin kalah dari petir yang terus menyambar sisi demi sisi langit. Derasnya hujan seakan mengisyaratkan jika hidup tidak selalu indah. Ada kalanya kesedihan ataupun rasa pahit lebih pekat ketimbang hidup itu sendiri. Rasa yang terlampau akrab bagi Kale.
Lelaki muda yang kini memasuki usia dua puluh tahunan itu sudah membulatkan tekad. Tas ransel hitam yang berada di sisi tempat tidurnya sudah siap. Tidak banyak isinya. Hanya beberapa kaos dengan warna yang sudah pudar.
“Kale.”
Panggilan seseorang yang berdiri di balik pintu membuyarkan lamunan Kale. Ia beranjak dari sisi kaca jendela lalu mendekati pintu.
Dibukanya pintu itu perlahan, menimbulkan derit khas karena pintu kayu itu memang sudah cukup usang.
“Pak Arif,” sapa Kale dengan nada penuh hormat seperti biasanya.
Pria yang kini menginjak usia 70 tahunan itu balas memberinya senyum. Ada yang berbeda pada senyum yang kini dipandangi Kale. Muram.
“Silahkan masuk, Pak.”
“Kamu sepertinya sudah bersiap-siap, ya.” Pak Arif mengedarkan pandangan ke sekeliling.
“Jika Bapak datang ke sini untuk membujuk saya lagi, maaf Pak, tapi kali ini bujukan itu enggak akan berhasil.” Sebelum Pak Arif membuka suara lagi, Kale sudah membangun benteng. Dia tak boleh ragu lagi. “Saya sudah bertekad, Pak. Saya hanya mengharapkan ridho Bapak.”
Pak Arif menundukkan kepalanya. Satu gerakan tangan yang menyikut sudut mata pria itu dipahami Kale tanpa perlu penjelasan lagi. Pria itu baru saja menitikkan air matanya.
“Bapak tau. Bapak enggak akan membujuk kamu lagi, Kal. Bapak ridho.”
Jawaban itu seharusnya terdengar melegakan bagi Kale. Namun anehnya, ia malah seperti diusir dan tidak dibutuhkan lagi. Ah, kenapa kerelaan Pak Arif sekarang malah membuatnya sedih?
“Ini…” Pak Arif mengulurkan tangannya dan di sana Kale melihat sebuah amplop putih. “Ini, ambillah. Isinya mungkin enggak banyak, tapi setidaknya Bapak masih bisa memberikan sesuatu padamu, Kal. Anggap saja kalau ini bekal dari bapakmu sendiri buat anaknya yang mau pergi merantau dengan harapan jika suatu saat nanti anak itu akan kembali ke rumah.”
Kale ikut menitikkan air matanya. Dia bukanlah sosok yang mudah menangis. Bahkan sejak kecil setiap kali anak-anak lain mengganggunya, Kale tidak pernah membiarkan air matanya lolos.
Tetapi kali ini semua benteng yang dibuatnya selalu kokoh itu porak-poranda begitu saja karena satu kalimat dari seseorang. Bagi Kale yang sebatang kara, Pak Arif adalah satu-satunya orang tua. Ayah yang tidak pernah bisa dimiliki.
“Hati-hatilah kamu di sana, Kal. Dunia di luar sana mungkin akan jauh dari dugaanmu. Kalau memang Tuhan menakdirkanmu bertemu dengan orang tuamu lagi, bukalah hatimu selebar-lebarnya. Bapak tau semua itu pasti sulit, tapi Bapak yakin kamu punya hati murni yang penuh rasa sayang.”
Di samping tempat tidur Kale bersandar. Kepalanya sengaja ia rebahkan sehingga hanya langit-langit kamar yang kini ada dalam pandangan. Amplop yang diberikan Pak Arif tadi masih ada dalam genggaman. Dadanya naik turun teratur, meyakinkan diri jika semua akan baik-baik saja.
Kilasan demi kilasan bayangan masa kecilnya dulu muncul. Saat anak-anak lain menghinanya sebagai anak haram. Dulu, kemarahannya pada kedua orang tuanya begitu dalam. Ia terus mempertanyakan kesalahannya sehingga ia harus menerima semua hinaan itu. Tetapi sekarang semuanya hampa. Entah apakah kebencian itu masih tersisa dalam hatinya atau membusuk hingga tidak berbentuk lagi.
Angin sepoi-sepoi dari jendela yang terbuka mengusap wajahnya pelan.
Begitu jelas Kale bisa mendengar suara seseorang. Wanita itu terus memanggil namanya. Ia disuruh pergi. Lalu, tiba-tiba saja Kale berdiri di sebuah ruangan yang gelap. Ia menundukkan kepalanya. Tatapannya tepat mengarah pada benda bersinar kemerahan yang ada di atas telapak tangannya. Suara gonggongan anjing membangunkannya cepat. Dadanya berdegup sangat kencang. Napasnya terengah-engah seakan ia baru saja mengalami sesuatu yang sangat melelahkan.
Fajar menjelang. Namun matahari masih bersembunyi dalam gelap. Sepertinya langit akan mendung pagi ini.
Kale memandangi panti asuhan itu untuk terakhir kalinya. Papan berwarna putih yang sudah tidak begitu jelas bertuliskan ‘Panti Asuhan Mata Hati’ bergeming balas memandangnya. Senyum tipis Kale muncul di sudut bibir.
“Terima kasih untuk semuanya. Panti asuhan Mata Hati… selamat tinggal.”
Kale naik bus dengan berbekal uang seadanya. Kota besar itu baru kali ini didatanginya. Selama ini Kale hidup di panti asuhan dengan lingkungan yang begitu berbeda dengan suasana perkotaan yang hiruk-pikuk. Jalanan-jalanan besar dengan kendaraan mewah lalu-lalang adalah pemandangan yang belum pernah ia saksikan sendiri.
Kale turun di halte yang ia tahu dari pencariannya di internet. Halte yang ia tahu dekat dengan wilayah kampus yang pernah ia impikan dulu. Pandangannya terus beredar ke segala arah. Kekaguman merasuki. Senyum lebar pun muncul tanpa bisa ditahan.
Tetapi senyum itu tidak berlangsung lama. Kini ia tengah kesulitan mencari tempat berteduh. Dihitungnya lembar demi lembar uang rupiahnya, entahlah cukup untuk berapa lama.
Seolah langit sedang mengejek nasib buruknya, hujan turun deras tiba-tiba. Kale susah payah mencari tempat berteduh sambil menenteng kantong plastik berisi sebungkus nasi rames. Perutnya sudah mulai keroncongan. Sejak pagi tadi ia belum makan.
Menunggu hujan reda di depan toko yang sudah tutup sambil berjongkok membuatnya mengantuk. Kepalanya terasa semakin berat dan tanpa bisa ditahan lagi Kale tertidur dengan posisi kepalanya yang menunduk pada tumpuan dua tangannya.
“Kale… lari! Pergi, Kale! Sekarang!”
Suara itu terus berteriak namun Kale bahkan tidak bisa melihat sosoknya. Di sana hanya ada dirinya. Tepat di tengah jalanan sepi dan gelap. Hujan yang turun semakin deras, beserta kilatan-kilatan petir dan gemuruh yang saling bersahutan.
“Kau tidak akan bisa lari! Akan kubunuh kau sekarang juga!” Suara lain muncul dengan intonasi berat dan menyeramkan.
Kale panik. Tubuhnya mulai menggigil saking dinginnya. Tetapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Benda berwarna kemerahan yang begitu kontras menarik langkah Kale untuk mendekat. Kale menyipitkan matanya. Tangannya terulur pelan.
Tepat saat ia menyentuh benda itu, ledakan dashyat terjadi. Kale berteriak kencang takut. Tetapi, saat ia membuka mata semua tampak berbeda.
Di hadapannya masih turun hujan meski tersisa gerimis saja. Suasana gelap yang tadi menyelimuti hilang, terganti warna lembayung senja. Berkali-kali Kale mengedipkan matanya, meyakini jika yang dialaminya barusan adalah mimpi.
“Mimpi itu lagi. Kenapa semuanya terasa begitu nyata? Bahkan…” Kale menunduk dan menatap tangan kanannya yang tadi menyentuh permukaan benda yang diyakininya batu itu.
“Rasa panasnya masih terasa. Perih dan nyata.”