Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sang Pewaris Pura-Pura Buta

Sang Pewaris Pura-Pura Buta

Asher | Bersambung
Jumlah kata
57.9K
Popular
185
Subscribe
35
Novel / Sang Pewaris Pura-Pura Buta
Sang Pewaris Pura-Pura Buta

Sang Pewaris Pura-Pura Buta

Asher| Bersambung
Jumlah Kata
57.9K
Popular
185
Subscribe
35
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeKonglomeratPembunuhanBalas Dendam
Alvarendra mengalami kecelakaan mobil bersama keluarga yang mengakibatkan kematian kedua orang tua dan kakeknya. Hanya dia yang selamat, tetapi mengalami kebutaan. Mengetahui Alvarendra masih hidup, seseorang menyuntikan racun ke dalam tubuhnya. Lalu, membuangnya ke hutan belantara. Siapa sangka di sana dia bertemu dengan Bisma yang menolong dan mengobati kebutaan matanya. Selain itu Alvarendra juga diajarkan ilmu beladiri dan cara menggunakan senjata. Tiga tahun berlalu, Alvarendra berkenalan dengan Dirga, anak supir keluarganya dahulu. Dirga tidak terima mendiang ayahnya jadi kambing hitam atas kecelakaan yang menimpa keluarga Wijaya Kusumah. Maka melakukan penyelidikan kecelakaan itu demi memulihkan nama baik ayahnya, karena ternyata selama ini banyak sekali rahasia yang disembunyikan keluarganya.
Bab 1. Awal Petaka

Bayangan hitam itu bergerak cepat di antara deretan mobil mewah yang terparkir rapi di pelataran restoran eksklusif tersebut. Tubuhnya menyatu dengan gelap malam, nyaris tak terdeteksi kamera pengawas. Sesaat ia berhenti di dekat sebuah sedan hitam berlapis baja—mobil resmi keluarga Wijaya Kusumah—lalu menunduk, tangannya bergerak cepat di balik roda depan, seolah melakukan sesuatu yang telah sangat ia kuasai. Beberapa detik kemudian, bayangan itu menghilang.

Di dalam restoran, cahaya kristal lampu gantung memantul di gelas-gelas kristal dan peralatan makan berlapis emas. Tawa dan ucapan selamat bergema di ruang privat yang malam itu hanya diisi keluarga inti Wijaya Kusumah.

“Selamat ulang tahun, Alva,” ucap Ayudia Wirawardana dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk putra semata wayangnya erat, seolah tak ingin melepaskannya. “Mama bangga sekali sama kamu. Semoga kamu tumbuh jadi pria yang kuat, bijaksana, dan selalu berada dalam lindungan Tuhan.”

“Terima kasih, Mama,” balas Alvarendra sambil tersenyum tulus.

Jam tangan mewah yang baru saja dikenakan ibunya di pergelangan tangannya terasa dingin, tapi hangat di hati. Ia tahu, bukan soal harga, melainkan makna di baliknya.

Belum sempat Alvarendra berkata apa-apa lagi, suara berat dan berwibawa itu menyela.

“Kakek juga punya hadiah,” ujar Rajendra Wijaya Kusumah sambil menggeser map cokelat ke arah cucunya. Tatapannya tajam, namun sorot matanya penuh kebanggaan.

“Sepuluh persen saham perusahaan. Bukan hanya karena ulang tahunmu, tapi karena kamu membuktikan diri sebagai lulusan terbaik. Kamu layak.”

Ruangan itu seketika hening. Alvarendra terpaku, tangannya gemetar saat menerima dokumen tersebut. Selama ini ia dikenal sebagai cucu pengusaha legendaris yang tegas dan nyaris tak pernah memberi pujian secara terang-terangan. Pengakuan ini jauh melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan.

“Terima kasih, Kek,” ucap Alvarendra lirih, suaranya nyaris pecah. “Aku akan bertanggung jawab.”

Alvarendra tidak menyangka mendapatkan hadiah kejutan yang tak pernah dia sangka-sangka. Selama ini dia selalu berjuang keras dalam menekuni sesuatu, termasuk belajar dalam menuntut ilmu. Siapa sangka hasil jerih payahnya, selain menjadi lulusan terbaik di universitasnya.

“Kamu harus melakukan itu,” balas Rajendra singkat. “Karena mulai hari ini, namamu bukan sekadar pewaris. Kamu adalah bagian dari pengurus perusahaan dan harus siap berlaga di medan perang bisnis.”

Kalimat itu entah mengapa meninggalkan rasa dingin di tengkuk Alvarendra. Dia merasa belum siap jika harus berhadapan dengan saingan bisnis keluarganya.

“Semoga kamu semakin dewasa, menjadi orang sukses, Alva,” ucap Mahendra dengan penuh bangga kepada putra semata wayangnya itu.

“Kalian memberi hadiah yang sangat berharga. Papa jadi bingung. Hadiah Papa kelihatan kecil kalau dibandingkan pemberian Kakek,” lanjut Mahendra sambil tertawa keras, berusaha mencairkan suasana,

Mahendra lalu mengeluarkan sertifikat villa di sebuah pulau eksotis yang terkenal akan keindahan alamnya.

“Tempat buat kamu menenangkan diri. Dunia bisnis itu bising. Kamu perlu tempat untuk bernapas.”

“Terima kasih, Papa!” Mata Alvarendra berbinar, betapa senangnya dia menerima hadiah dari ayahnya.

Malam itu, Alvarendra merasa hidupnya sempurna. Dikelilingi orang-orang yang mencintainya, masa depan terbentang lebar, dan pengakuan yang selama ini ia dambakan akhirnya ia dapatkan.

Alvarendra tidak tahu, itu adalah malam terakhir kebahagiaan utuh dalam hidupnya.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat keluarga Wijaya Kusumah keluar dari restoran. Udara dingin menyambut mereka. Pak Agung, sopir pribadi keluarga, berlari kecil membukakan pintu mobil dengan sigap.

“Tuan, silakan.”

Mobil melaju meninggalkan kerlip kota. Di dalam, suasana masih hangat oleh tawa dan godaan ringan.

“Pewaris baru sudah siap menghadapi dunia nyata?” goda Mahendra dari kursi depan.

Alvarendra hanya tertawa kecil, bersandar santai. Namun, entah mengapa dadanya terasa sedikit sesak.

Beberapa menit kemudian, suara Pak Agung terdengar tegang. “Tuan, sepertinya kita dibuntuti.”

Rajendra menajamkan pandangan ke kaca spion. Dua motor melaju stabil di belakang mereka, menjaga jarak dengan terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Hal seperti ini sering terjadi dialami oleh Kakek Rajendra. Sebagai pengusaha besar dan terkenal, punya kawan atau lawan bisnis adalah hal yang lumrah. Tidak jarang ada permainan kotor demi mendapatkan sebuah tender, seorang pengusaha rela tega menyingkirkan lawannya.

“Biasa,” ucap Rajendra tenang, meski jemarinya mengencang di tongkat. “Tetap waspada.”

Pak Agung mengangguk dan menambah kecepatan.

Namun, detik berikutnya keringat dingin mengalir di pelipisnya. Rem tidak merespons.

"Ada apa, Agung?" tanya Rajendra.

“Remnya blong, Tuan!” seru Pak Agung panik.

“Apa?” Mahendra menoleh tajam.

Alvarendra langsung duduk tegak. Jantungnya berdegup keras saat melihat dua motor itu semakin mendekat. Dalam sekilas pandang, ia menangkap plat nomor salah satu motor dan memaksanya masuk ke dalam ingatan.

Di depan, jalan menurun dan tikungan tajam menanti. Jurang menganga di sisi kanan.

“Tenang!” perintah Rajendra tegas. “Kendalikan setir!”

Motor pertama menabrak bagian belakang mobil dengan keras. Guncangan hebat membuat Ayudia menjerit dan Mahendra refleks memeluk istrinya.

Alvarendra berpegangan kuat, tubuhnya terlempar ke kiri-kanan. “Ini bukan kecelakaan,” batin Alvarendra. “Ini serangan.”

Motor kedua menyusul, mencoba mendorong mobil ke sisi jurang.

Pak Agung memutar setir sekuat tenaga. Ban berdecit, mobil oleng, namun bisa mengendalikan arah laju mobilnya sehingga bisa berbelok. Mereka berhasil melewati tikungan pertama, walau jantung hampir terasa copot.

Terjadi aksi kejar-kejaran antara mobil keluarga Wijaya dengan dua orang misterius yang naik motor.

Jujur saja Alvarendra merasa takut dan tegang. Dia berpegangan erat agar tubuhnya tidak ikut terbanting ke kanan atau ke kiri.

Namun, keberuntungan tak berpihak lama. Di tikungan berikutnya, kedua motor itu beberapa kali berhasil menabrak bagian belakang mobil secara bersamaan. Sampai ditikungan selanjutnya, mereka menabrak lebih keras lagi, berusaha mendorong mobil biar jatuh ke jurang.

Kali ini Pak Agung tidak bisa mengendalikan lajunya, sehingga mobil pun menabrak pembatas jalan, lalu terbang, dan jatuh ke jurang. Di bawah sana adalah jurang curam dan ada sebuang sungai besar yang aliran airnya sangat deras.

Mobil keluarga Wijaya Kusumah jatuh ke dalam sungai di dasar jurang itu. Mobil pun tenggelam dan ikut terseret arus.

Waktu seolah melambat. Alvarendra hanya sempat melihat wajah-wajah orang yang ia cintai, ketakutan, pasrah, dan sebelum dunia terbalik. Air menelan segalanya.

Gelap.

Dingin.

Hening.

***

Tiga bulan kemudian.

Alvarendra merasa kepalanya nyeri seperti ditusuk-tusuk, saat kesadaran perlahan kembali. Tubuhnya terasa berat, seolah terkubur di bawah ribuan ton beban. Ketika dia membuka mata, hanya ada kegelapan.

“Apa yang terjadi padaku?” batin Alvarendra panik.

Ingatan malam itu menerjang tanpa ampun. Alvarendra mencoba berteriak, tetapi suaranya tercekat.

“Ada reaksi!” suara asing berseru.

Cahaya menyilaukan menyusup saat kelopak matanya terbuka perlahan.

“Anda sadar,” ujar seorang dokter berusia lanjut dengan nada lega. “Setelah koma tiga bulan.”

“K… koma?” suara Alvarendra serak dan nyaris tak terdengar.

“Anda selamat. Itu keajaiban.”

“Alva…” suara lain terdengar bergetar.

“Pa—man Hendra?”

“Ya. Paman di sini.”

Jantung Alvarendra mencelos. “Papa… Mama… Kakek…?”

Ruangan itu membeku. Keheningan menjawab lebih kejam dari kata-kata.

“Alva” Suara Pak Hendra pecah. “Mereka—”

Kalimat itu menggantung. Alvarendra tahu, hidupnya telah berubah selamanya. Namun satu hal bergaung kuat di kepalanya, kecelakaan itu bukan kebetulan.

Ketika menjelang malam, seorang cleaning service masuk ke kamar rawat Alvarendra, dengan diam-diam.

“Siapa itu?” tanya Alvarendra ketika mendengar suara pintu terbuka, tetapi tidak mendengar suara orang menyapa.

Lanjut membaca
Lanjut membaca