

Tubuh itu jatuh dengan suara ‘gedebug.’ Bukan karena bobotnya, melainkan karena tanah hutan yang lembab telah meredam seluruh bunyi. Hanya dedaunan yang bergetar sesaat, lalu kembali sunyi, seolah hutan baru saja menelan rahasia yang tidak ingin ia ceritakan.
Tampak dua lelaki yang berdiri di tepi jurang kecil itu. Salah satunya menyeka noda di tangan ke celananya yang lusuh dengan raut datar. Yang lain mengatur napas, matanya menyisir sekeliling, pada pepohonan raksasa, semak yang merapat, dan kabut tipis yang menggantung rendah seperti kain kafan.
"Sudah," kata lelaki yang pertama. "Tidak mungkin dia masih hidup."
"Pastikan sekali lagi," timpal temannya yang lebih waspada.
Lelaki pertama memungut batu sebesar kepalan tangan, lalu melemparkannya ke bawah. Batu itu menghantam tubuh di dasar jurang dengan bunyi ‘prak’ yang getir. Entah menghantam rusuk, entah mematahkan dahan kering. Tak ada teriakan. Tak ada gerakan.
"Hutan ini terlalu dalam," bisik lelaki kedua. "Kalaupun masih bernapas, besok dia sudah jadi bangkai.”
Mereka berbalik kemudian melangkahkan kaki untuk menjauh. Suara ranting patah perlahan menghilang ditelan keheningan pepohonan. Hutan kembali pada sifat aslinya, yaitu diam dan dingin.
Namun, tubuh di dasar jurang itu menolak menyerah.
Napas Jaka sudah tipis dan terputus-putus. Setiap tarikan udara terasa seperti sembilu yang menggores paru-parunya. Mulutnya menganga, namun hanya hening yang keluar. Lidahnya kelu, pekat oleh rasa besi dari darah yang gagal ia ludahkan.
Jaka. Bukan nama yang disegani. Hanya seorang lelaki yang hari itu kalah oleh keadaan.
Matanya terbuka separuh, menangkap bayangan langit hutan yang berputar seperti gumpalan hijau kehitaman. Ia tidak tahu sudah berapa lama dirinya tergeletak di sana. Rasa sakit pada tubuhnya datang seperti gelombang. Terkadang menusuk tajam, terkadang tumpul memuakkan.
Ia mencoba menggerakkan jemari tangannya, tetapi nihil. Sementara kakinya terasa jauh dan asing. Tubuhnya seolah-olah sudah bukan miliknya lagi. Seperti hanya seonggok daging yang kebetulan masih memiliki sisa nyawa.
Ingatan merayap masuk secara acak. Tangan yang mencengkeram kerah bajunya. Pukulan telak di rahang. Hantaman di perut yang menguras napasnya, dan sebuah serangan di tengkuk yang meruntuhkan dunianya dalam sekejap. Ia ingat bau tanah sawah di kaki mereka. Ia ingat aroma tembakau murahan. Ia ingat satu kalimat yang diucapkan dengan nada yang amat santai, "Buang saja. Biar alam yang mengurus sisanya."
Kini, alam sedang mengerjakannya.
Hutan itu lembap. Bau lumut busuk dan daun mati menyerbu indra penciumannya. Seekor nyamuk hinggap di kulitnya yang robek, namun Jaka tak mampu sekadar mengibas. Perlahan, rasa sakit yang tajam berubah menjadi dingin yang menjalar. Bagian dari dirinya ingin menyerah. Tidur saja, bisik sebuah suara di kepalanya. Biarkan semua selesai di sini.
Namun, ada percikan amarah di sudut hatinya. Ia menolak mati seperti ini. Dibuang seperti sampah, dianggap tak berarti.
Jaka mengerang. Suara itu lebih mirip desis udara dari ban yang bocor. Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, ia mencengkeram tanah. Kuku-kukunya tertanam di permukaan yang basah. Rasa sakit yang meledak saat ia menggerakkan tubuh justru menjadi pengingat bahwa ia masih ada.
Ia mulai merayap. Setiap sentimeter adalah negosiasi berdarah dengan rasa sakit. Akar pohon menggores perut, duri semak merobek lengan, tetapi Jaka tidak berteriak. Ia hanya mendesah pendek, berulang kali, menyerupai insting hewan yang terluka.
Waktu kehilangan bentuknya. Mungkin menit, mungkin jam. Kabut menebal dan suhu merosot tajam. Tubuh Jaka mulai menggigil hebat. Rasa dingin itu menyusup hingga ke tulang, mematikan sarafnya satu per satu.
Di titik itu, ia benar-benar yakin kalau saat ini adalah akhirnya. Ia berhenti merayap, dan … wajahnya terbenam di hamparan lumut.
"Ya," bisiknya dalam hati. "Selesai."
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar. Langkah kaki yang pelan, teratur, dan tidak terburu-buru.
Jaka mengira itu hanya halusinasi sebelum ajal. Namun, suara itu semakin nyata. Langkah kaki itu berhenti tepat di depannya. Sebuah bayangan jatuh menutupi sisa cahaya redup yang menembus kanopi hutan. Jaka memaksa agar kelopak matanya terbuka.
Seorang lelaki berdiri di sana. Rambutnya panjang terikat asal, wajahnya keras dengan gurat-gurat seperti ukiran kayu tua. Matanya tajam dan gelap, menatap Jaka tanpa sedikit pun rasa terkejut.
Lelaki itu berjongkok. "Belum mati," katanya datar. Suaranya tidak mengandung iba, tapi juga tidak dingin. Hanya sebuah fakta.
Jaka ingin bicara, ingin memohon. Namun, yang keluar hanya embusan napas yang berat.
Lelaki itu mengamati dada Jaka yang naik-turun tak beraturan, memperhatikan jemari yang penuh tanah dan darah.
"Kenapa kau di sini?" tanya lelaki itu.
Jaka merasa itu pertanyaan yang konyol, tetapi ia terlalu lemah untuk merasa kesal. "A ... ku ...." Bibirnya bergetar tanpa kata.
Lelaki itu mengangguk pelan. Ia berdiri dan menghela napas panjang. "Orang yang masih bernapas tidak boleh dibuang. Itu aturan lama."
Lelaki tua itu membungkuk lalu mengangkat tubuh Jaka dengan gerakan yang sangat efisien. Seolah-olah sudah terbiasa memanggul beban yang sangat berat. Kesadaran Jaka hampir putus saat tubuhnya diangkat, namun ia sempat mencium aroma asap kayu dan tanah kering dari pakaian lelaki itu sebelum semuanya menjadi gelap.
***
Jaka terbangun di sebuah tempat yang hangat.
Api unggun kecil berderak di dekatnya, membiaskan cahaya jingga pada dinding batu yang lembap. Aroma air mendidih dan dedaunan herbal memenuhi udara. Tubuhnya masih terasa remuk, namun rasa dingin yang mematikan itu telah pergi.
Ia mengerang kecil. Sosok lelaki tadi sedang duduk membelakanginya, mengaduk sesuatu di dalam panci kecil.
"Kau keras kepala," kata lelaki itu tanpa menoleh. "Itu bagus. Tapi keras kepala tanpa tubuh yang kuat hanya akan memperpanjang penderitaan."
Jaka menelan ludah dengan susah payah. "Kenapa ... menolong?"
Lelaki itu menoleh, memberikan senyum tipis yang terasa getir. "Karena kau belum mati. Dan karena biasanya, orang yang dibuang punya alasan yang sangat kuat untuk tetap bertahan hidup."
Ia menuangkan cairan hitam dari kuali tanah ke cangkir kayu, lalu mendekat. Ia menyangga kepala Jaka dan menyodorkan minuman itu. Rasanya pahit luar biasa dan panas, tapi saat melewati kerongkongan, dada Jaka terasa sedikit lebih lega.
"Minum. Kalau kau muntah, kau mati." Ancaman itu disampaikan dengan nada yang sangat tenang.
Jaka menelannya dengan susah payah. "Siapa ... Anda?"
Lelaki itu kembali duduk di depan api. "Hanya orang yang tinggal di sini. Itu saja yang perlu kau tahu."
"Kenapa di hutan ini?"
"Karena orang-orang takut pada tempat ini. Dan apa pun yang ditakuti, biasanya akan dibiarkan sendiri."
Api unggun terus berderak, sementara malam semakin larut. Jaka memejamkan mata, merasakan kesadarannya kembali hanyut oleh kelelahan yang luar biasa. Namun, sebelum ia benar-benar terlelap, ia mendengar suara lelaki itu. Kali ini, lebih berat dan penuh penekanan.
"Kalau kau sanggup bertahan sampai besok pagi, kau akan belajar satu hal."
"Apa?" bisik Jaka lemah.
"Bagaimana caranya untuk tidak mati, meskipun seluruh dunia menginginkanmu mati."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia dilemparkan ke jurang, Jaka merasa bahwa perjalanannya belum benar-benar berakhir.