

Angin dingin di waktu subuh tak membuat Damar berhenti menganyuh sepeda usang dengan kekuatan penuh menuju pasar yang jauhnya sekitar 7 kilometer dari rumahnya, semua itu demi membantu ibunya mencari nafkah dengan berjualan ikan asap.
Sebenarnya Damar yang nama lengkapnya Damar Aji Wijaya itu bekerja di bengkel sepeda motor milik pamannya, tapi karena ibunya sakitnya semakin parah, Damar sekarang kerja serabutan. Subuh ia mengantar ikan asap ke pasar, dan jam 8 pagi berangkat kerja ke bengkel yang ada di kota Kabupaten yang jaraknya 25 kilometer dan harus naik angkutan umum atau bis mini dari desanya.
"Kenapa juga sepeda motor mogok saat seperti ini, jadinya aku harus ngontel kayak gini. Huufh!"
Damar mendengus sambil mengusap peluh yang bercucuran di wajahnya. Tugas Damar hanya mengantarkan ikan asap dan bibinya yang menjualkannya di pasar, sedangkan tugas adik perempuannya yang memproses ikan asap itu di rumah.
Setelah bapaknya meninggal dunia saat Damar masih berusia lima tahun, ibunya yang bekerja banting tulang seorang diri. Sebagai ibu janda dengan dua orang anak yang masih kecil-kecil, ibunya bekerja mati-matian, bahkan berjualan ikan sambil menggendong adiknya yang waktu itu masih bayi.
Memori masa kecilnya yang melihat perjuangan berat ibunya, membuat Damar sekarang berjuang habis-habisan untuk mencari uang demi membayar biaya pengobatan ibunya yang sakit komplikasi diabetes.
Walau setiap jam 3 malam Damar harus mengantar ikan asap ke pasar, tapi tak pernah ia mengeluh. Pintu gerbang pasar ada di depan mata, Damar bisa bernafas lega karena sebentar lagi sampai parkiran.
"Kenapa naik sepeda onthel, sepeda motormu di mana?" tanya tukang parkir.
"Sepedanya mogok Pak."
"Sepeda motormu itu wes tua, minta ganti baru."
Damar tersenyum simpul sambil membuka penutup Bronjong bambu. Keranjang anyaman bambu itu penuh dengan ikan asap yang ditaruh dalam besek bambu segi empat.
"Permisi, saya mau antar ini ke Bulek," pamit Damar.
"Hati-hati jalannya licin."
"Inggih Pak."
Tanpa pedulikan pandangan bapak tua itu, Damar masuk ke dalam pasar. Suasana pasar sudah ramai orang-orang menata dagangannya walau baru jam 4 subuh.
Para tengkulak dan pedagang sayur keliling sudah banyak yang datang untuk membeli hasil bumi, sayuran segar, lauk pauk, dan kebutuhan dapur sehari-hari, dan akan mereka jual kembali di komplek perumahan.
"Kamu sudah datang? Taruh saja ikannya sana," ucap wanita paruh baya yang wajahnya terlihat judes.
"Bulek, apa bisa uangnya saya minta dulu, soalnya ibuk nanti mau kontrol ke dokter."
"Kamu itu ya, apa gak lihat aku lagi sibuk, hah! Ikannya juga belum laku, kok mau minta uang."
"Bukan begitu, Bulek."
Damar diam sejenak karena ragu untuk bicara, tapi mengingat ibunya butuh uang untuk berobat, ia pun memberanikan diri untuk bicara.
"Eemm, nganu Bulek, apa saya boleh pinjam uang dulu?"
Mendengar ucapan Damar, wanita paruh baya itu, langsung menaruh bawang daun yang dipegangnya dengan kasar. Tatapan matanya tajam mengarah pada Damar.
"Kamu tahu berapa hutangmu padaku, hah! Hutang lama saja belum dibayar, sekarang mau nambah hutang lagi, memangnya uangnya mbahmu, apa!"
Damar seketika diam, terlebih banyak mata yang melihat ke arahnya. Rasa sedih dan malu dilihat orang-orang yang ada di sana, membuat Damar menundukkan kepala.
"Maafkan saya, tapi saya terpaksa pinjam uang, soalnya ibuk sakit."
"Aku sudah tahu ibumu sakit, tapi aku juga bukan orang kaya raya yang punya banyak uang, jadi tolong jangan hutang aku lagi. Ngerti ...!"
"Iya Bulek."
"Nanti sore kalau ikannya laku, baru aku kasih uangnya. Sana pergi, jangan bikin aku pusing kepala."
"Saya permisi Bulek."
Melihat ekspresi wajah Bulek Jumi yang menahan marah, Damar balik badan dan segera pergi dari tempat itu, sedangkan orang-orang di sana saling kasak-kusuk membicarakan dirinya.
Perasaan Damar campur aduk tidak karuan, pikirannya kosong saat berjalan melewati jalan kecil di antara para penjual yang menggelar dagangannya. Sana-sini becek setelah tadi malam terkena air hujan, dan sandal jepit Damar pun kotor dan licin saat dipakai, tetapi ia terus berjalan dengan hati hancur lebur.
Suasana pasar mulai ramai penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli barang kebutuhan sehari-hari. Namun, keramaian pasar tidak membuat hati Damar tenang, justru ia merasa sendirian seakan berada di tengah kuburan, karena tak ada yang peduli dengan penderitaannya.
"Aku harus mencari uang ke mana lagi?"
Pikirannya berkeliling mencari orang yang bisa dimintai bantuan, tapi tetangga dan seluruh keluarganya menjauhi dirinya. Dadanya sesak saat memikirkan semua tanggung jawab yang harus ia pikul seorang diri.
"Heii, kamu mau ke mana? Sepedamu ada di sini!"
Teriakan Pak Kardi sang tukang parkir membuat Damar tersadar dari lamunan. Ternyata dirinya berjalan tanpa tahu sudah sampai di parkiran.
"Terima kasih Pak. Maaf, ini uang parkirnya," ucap Damar sambil menyerahkan uang dua ribuan.
"Gak usah bayar," jawab Pak Kardi sembari menepuk pundaknya, "bagaimana keadaan ibukmu?"
"Masih sakit, Pak."
"Sabar ya Le, seorang anak yang berbakti kepada orang tua, kelak akan hidup makmur dan diangkat derajatnya sama Allah."
"Aamiin, terima kasih doanya."
Damar lalu pergi membawa sepedanya, setelah di depan pintu gerbang pasar, Damar baru menganyuh sepeda onthel itu dengan cepat, karena matahari sudah terbit dari timur.
"Jam 7 aku harus berangkat kerja," gumamnya seraya menganyuh pedal sepeda dengan sekuat tenaga.
***
Setelah menganyuh selama satu jam, Damar baru sampai di rumahnya yang berdinding anyaman bambu yang sudah usang. Kanan-kiri sudah banyak tambalan dari anyaman bambu yang dipasang ibunya.
"Dayu ...!"
"Apa Mas!"
Seorang gadis cantik berambut panjang berkepang dua muncul dari dalam rumah, namanya Dayu Prameswari, ia adik perempuan Damar.
"Bajuku sudah disiapkan."
"Sudah Mas."
"Kamu cuci sepeda dan Bronjong bambu kamu taruh saja di samping rumah."
"Iya Mas," jawab Dayu sembari memegang sepeda onthel itu sebelum kakaknya masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Damar duduk sebentar di kursi yang terbuat dari bambu. Sambil menyandarkan kepala di bantalan kursi, Damar menatap langit-langit rumahnya yang terdapat banyak sarang laba-laba yang menempel di tiang penyangga genteng.
"Ke mana aku harus cari uang?" batinnya sembari memejamkan mata.
"Uhuuk Uhuuk Uhuuk!"
Dari dalam kamar, terdengar suara batuk dari ibunya yang terbaring lemah di atas dipan bambu beralaskan kasur kapuk.
"Damar, kamu sudah pulang, Le ..."
Terdengar suara lemah ibunya dari dalam kamar, spontan Damar bangkit dan pergi menemui ibunya.
"Ada apa Buk." Damar pelan-pelan duduk di tepi ranjang.
"Hari ini gak usah periksa, ibuk pingin istirahat di rumah aja. Uhuuk uhuuk uhuuk!"
"Batuk ibuk tambah parah, ibuk harus periksa ke rumah sakit sama Dayu, aku soalnya mau berangkat kerja."
"Gak usah, Le ... uhuuk uhuuk!"
"Sudah ibuk jangan bicara lagi, nanti batuknya tambah parah."
Ibunya Damar yang bernama Bu Parmi itu mengangguk perlahan.
"Aku mau siap-siap berangkat kerja dulu, Buk."
"Iya Le," jawab Bu Parmi dengan tatapan mata penuh kasih sayang.
Damar keluar kamar, tapi dengan cepat ditarik oleh Dayu untuk menjauh dari kamar ibunya.
"Dayu, ada apa ...?"
"Mas, nanti waktunya bayar angsuran pinjol," bisik Dayu.
Sebenarnya Damar ingin menangis dan berteriak sekuat tenaga karena tidak memegang uang sama sekali, tapi saat menatap wajah adiknya yang sendu, Damar tersenyum kecil untuk menguatkan hati adiknya yang rapuh.
"Nanti aku carikan uangnya," ucapnya seraya mengusap rambut Dayu.
"Mas harus cari uangnya, soalnya aku takut, orang-orang yang menagih hutang suka bicara kasar dan ibuk juga sampai ketakutan." Suara Dayu bergetar dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihan.
Mendengar cerita adiknya, Damar serasa tak punya tenaga untuk berdiri, tapi tangannya kuat memegang tiang rumah agar tubuhnya tak jatuh ke tanah.
"Dengan apa aku membayar hutang-hutangku ...?"