

Gerimis mulai turun membasahi aspal ibu kota yang masih menyisakan hawa panas siang hari.
Arkan merapatkan jaket denim lusuhnya, berusaha melindungi ponsel tua di saku celananya yang layarnya sudah retak seribu.
"Woi, Arkan! Kalo jalan pakai mata!" teriak seorang pria dari balik kemudi.
Sebuah mobil sport listrik berwarna perak melesat, hampir saja menyerempet kaki Arkan. Genangan air kotor di tepi jalan menciprat, membasahi celana kainnya yang sudah mulai menipis di bagian lutut.
Arkan hanya bisa menghela napas panjang.
Ia menatap mobil itu berhenti tepat di lobi gedung utama universitas yang megah.
Pintu mobil terbuka.
Bastian turun dengan gaya angkuh, mengenakan kacamata hitam meskipun hari sudah mulai gelap.
Tidak sendirian, seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang bernama Clarissa menyusul turun di sampingnya.
Clarissa adalah primadona fakultas hukum, tipe wanita yang biasanya hanya bisa dipandang Arkan dari kejauhan melalui jendela perpustakaan.
"Lihat itu, Clar. Si Sampah Kampus masih saja pakai jaket jelek," ejek Bastian sambil tertawa remeh ke arah Arkan.
Clarissa hanya melirik Arkan sekilas.
Tatapannya dingin, seolah sedang melihat kerikil yang tidak sengaja terinjak.
"Sudahlah, Bas. Ayo masuk, jangan buang waktu untuk hal tidak berguna," sahut Clarissa datar.
Arkan mengepalkan tangan di dalam saku jaketnya.
Saat ia duduk, ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar hebat. Suhu perangkat tua itu mendadak naik, terasa membakar telapak tangannya.
"Ah, sial! Jangan rusak sekarang!" umpat Arkan panik.
Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang sangat jernih bergema langsung di dalam kepalanya, membuat telinganya berdenging.
[Inisialisasi Protokol Alpha...]
[Memindai kecocokan inang...]
[Kecocokan 100%. Sinkronisasi Dimulai.]
"Siapa itu?!" Arkan melompat berdiri, menoleh ke sekeliling dengan waspada.
[Selamat datang, Arkan. Anda telah terpilih sebagai pewaris tunggal Protokol Alpha. Dunia ini tidak adil, dan aku di sini untuk memastikan Anda berada di puncaknya.]
Layar ponsel di tangan Arkan berubah menjadi biru neon yang menyilaukan.
Sebuah panel transparan muncul mengambang di depan matanya.
[Status Alpha: Level 1]
[Kekuatan: 5]
[Kharisma: 10 (Terkunci)]
[Keberuntungan: 99 (Aktif)]
[Misi Pertama: Penyelamatan di Lorong
Gelap. Hadiah: Peningkatan Fisik Dasar.]
"Protokol Alpha? Keberuntungan sembilan puluh sembilan?" gumam Arkan tidak percaya.
Ia mencoba menyentuh panel itu, namun jarinya menembus udara begitu saja.
Belum sempat ia mencerna keanehan itu, sebuah teriakan melengking terdengar dari arah gang sempit di balik gedung perpustakaan. Itu suara wanita.
Tanpa pikir panjang, kaki Arkan bergerak sendiri.
Anehnya, tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan bertenaga dari biasanya.
Saat sampai di lorong gelap itu, Arkan melihat tiga pria bertampang sangar sedang menyudutkan seorang wanita.
Arkan tersentak saat menyadari siapa wanita itu.
Elena Wiratmadja dosen muda jenius yang dikenal sebagai. Dewi Es di kampus karena kecantikan dan sifat dinginnya.
"Serahkan tas itu, atau wajah cantikmu ini yang jadi taruhannya," ancam salah satu preman sambil mengacungkan pisau lipat yang berkilat.
"Jangan mendekat! Saya sudah menekan tombol darurat!" seru Elena, meskipun suaranya bergetar hebat menahan takut.
"Keamanan tidak akan sampai ke sini tepat waktu," sahut pria lainnya sambil menyeringai.
Arkan menelan ludah, untuk memikirkan dengan cepat.
[Gunakan Keberuntungan Alpha. Ambil batu di bawah kaki kiri Anda.]
Arkan menunduk, melihat sebuah batu kecil yang tampak sangat biasa.
"Woi! Lepaskan dia!" teriak Arkan, mencoba memasang nada suara seberani mungkin.
Ketiga pria itu menoleh serempak lalu tertawa merendahkan. "Lihat siapa yang mau jadi pahlawan kesiangan?"
Salah satu preman merangsek maju, mengayunkan tinjunya ke arah wajah Arkan.
Arkan secara refleks memejamkan mata dan melempar batu di tangannya asal-asalan.
TUK!
Batu itu mengenai tiang listrik, memantul ke dinding, lalu menghantam tepat di saraf leher si penjahat.
Pria itu langsung tersungkur tak sadarkan diri dalam sekejap.
"Hah? Kebetulan macam apa itu?!" teman-temannya melongo kaget.
"Kurang ajar kau!" pria kedua menarik pisaunya dan menerjang membabi buta. Namun, ia terpeleset kulit pisang yang entah sejak kapan ada di sana.
Ia jatuh tersungkur dengan posisi wajah menghantam tong sampah besi hingga pingsan seketika.
Pemimpin preman itu mulai pucat pasi. Ia menatap Arkan seolah melihat setan. "Kau... mengerikan!"
Ia berbalik hendak melarikan diri, tapi kakinya sendiri malah tersangkut tali sepatunya.
Kepalanya membentur tembok dengan sangat keras hingga ia limbung dan ambruk di tempat.
Suasana lorong mendadak hening.
Arkan berdiri kaku, menatap ketiga pria yang tumbang hanya karena rentetan kejadian konyol.
[Misi Berhasil. Menghitung Hadiah...]
[Peningkatan Fisik Dasar Selesai. Kharisma meningkat +5.]
Tiba-tiba, rasa hangat menjalar ke seluruh otot tubuh Arkan.
Bahunya terasa lebih lebar, dan penglihatannya menjadi jauh lebih tajam.
Ia menoleh ke arah Elena yang masih terduduk lemas di tanah.
Arkan melangkah mendekat, mengulurkan tangannya yang kini tampak lebih kokoh. "Ibu Elena? Anda tidak apa-apa?"
Elena menengadah, matanya yang indah melebar menatap Arkan.
Ia meraih tangan Arkan dan merasakan aliran listrik halus yang membuat jantungnya berdesir.
"Arkan?" suara Elena lirih, hampir seperti bisikan. "Terima kasih. Aku tidak menyangka kamu akan datang menyelamatkanku."
"Hanya kebetulan saja, Bu," jawab Arkan rendah.
Elena berdiri, namun ia tidak melepaskan tangan Arkan begitu saja. "Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, Arkan. Kamu... kamu tampak sangat berbeda hari ini."
Arkan hanya terdiam, bingung harus merespons apa.
Ponsel Elena tiba-tiba berdering, membuatnya melepaskan tangan Arkan dengan sedikit enggan.
"Aku harus pergi, ada rapat dewan dosen. Tapi Arkan... ini nomor pribadiku." Ia menyerahkan sebuah kartu nama mewah. "Datanglah ke ruanganku besok sore. Aku ingin membalas budimu secara pribadi."
Elena memberikan senyuman kecil yang sangat manis, lalu berjalan pergi dengan langkah yang sedikit terburu-buru.
Arkan menatap kartu nama itu, beralih ke layar sistem yang kembali muncul.
[Wanita Pertama Terdeteksi: Elena Wiratmadja. Tingkat Ketertarikan: 35%]
[Peringatan! Musuh Terdeteksi di Area Kampus. Inisialisasi Mode Pertahanan.]
Arkan mengernyitkan dahi. Belum sempat ia menghela napas lega, sebuah bayangan hitam besar mendarat tepat di depannya, menghancurkan bangku taman hingga berkeping-keping.
Seorang pria mengenakan baju zirah modern dengan pedang bercahaya berdiri di sana, menatap Arkan dengan mata merah yang menyala-nyala.
"Jadi, kau yang memegang Protokol Alpha itu?" tanya pria itu dengan suara berat yang menggetarkan udara.
Arkan mundur selangkah, meraba saku celananya. "Siapa kau? Apa maumu?"
Pria itu tidak menjawab, ia justru mengangkat pedangnya tepat ke arah leher Arkan.
"Serahkan ponsel itu sekarang, atau kepalamu akan terpisah dari tubuhmu dalam hitungan detik!"
Arkan menelan ludah, menatap layar ponselnya yang mendadak berkedip dengan warna merah darah.
"Pilih sekarang, Bocah! Nyawamu, atau Protokol itu?"