

Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Kenzo, sebuah bau yang biasanya memberikan ketenangan profesional, namun pagi ini terasa seperti aroma kegagalan yang membusuk. Di lorong Rumah Sakit Pusat Medika yang berlapis marmer putih mengilap, langkah kaki Kenzo yang terbungkus sepatu kets usang terdengar sangat kontras dengan keheningan aristokrat tempat itu.
Sebagai perawat honorer, Kenzo adalah bayangan.
Ia adalah roda gigi yang tidak terlihat, yang membersihkan sisa-sisa kesakitan pasien saat para dokter spesialis menerima sanjungan di podium.
"Kenzo? Masih di sini?"
Suara itu melengking, memotong kesunyian koridor seperti pisau bedah yang tumpul. Kenzo menghentikan langkahnya. Jantungnya berdenyut sedikit lebih cepat, sebuah reaksi fisiologis yang ia benci. Ia menoleh perlahan dan mendapati Linda berdiri di sana.
Linda tidak lagi memakai seragam perawat yang dulu sering ia keluhkan sebagai 'pakaian rakyat jelata'. Pagi ini, dia mengenakan gaun sutra berwarna krem yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, memancarkan aura kemewahan yang sangat dipaksakan. Di lengannya, melingkar sebuah tas kulit burung unta berwarna merah darah dengan logo emas yang berkilau—sebuah barang yang harganya setara dengan tiga tahun gaji honorer Kenzo.
"Linda," sapa Kenzo datar. Matanya tidak sengaja melakukan diagnosa otomatis. Ia melihat rona merah yang terlalu pekat di pipi Linda; bukan karena kesehatan, melainkan karena aliran darah yang terburu-buru akibat lonjakan hormon adrenalin dan kesombongan yang meluap.
Linda tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti kepingan kaca yang beradu. Ia sengaja mengangkat lengannya, memutar tas itu di bawah lampu LED koridor agar kilau emasnya mengenai mata Kenzo.
"Kau lihat ini, Kenzo? Ini Hermes. Kau mungkin perlu mengeja namanya dulu sebelum bisa mengucapkannya dengan benar," sindir Linda. Ia melangkah mendekat, aroma parfum mawar mahalnya menabrak bau obat-obatan di sekitar Kenzo. "Dokter Wijaya yang membelikannya untukku kemarin malam. Katanya, seorang wanita cantik tidak pantas membawa tas kain murah seperti yang dulu sering kau berikan padaku."
Beberapa staf perawat yang sedang lewat mulai melambatkan langkah, telinga mereka memanjang, haus akan drama pagi hari. Kenzo hanya menatap Linda dengan tatapan yang sulit diartikan. Di matanya, Linda bukan lagi wanita yang dulu berbagi mie instan dengannya di kos-kosan sempit. Linda sekarang hanyalah sebuah subjek dengan sistem saraf yang sedang mengalami degradasi moral.
"Tas yang bagus, Linda," ucap Kenzo tenang. "Tapi sepertinya tali tas itu terlalu berat untuk bahumu. Kalau kau tidak hati-hati, saraf suprascapular-mu akan tertekan. Aliran energi di bahu kirimu mulai terlihat terhambat, seperti aliran air yang tersumbat sampah di parit kota. Itu bisa menyebabkan migrain kronis."
Wajah Linda berubah merah padam. Ia merasa diagnosa Kenzo adalah bentuk penghinaan tersembunyi. "Kau masih saja bicara sampah medis itu! Kau itu cuma perawat honorer, Kenzo! Kau bukan dokter! Berhenti bersikap seolah kau tahu segalanya tentang tubuh manusia sementara kau bahkan tidak tahu cara mengisi dompetmu sendiri!"
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu kulit yang mantap terdengar mendekat. Dokter Wijaya muncul dari balik pintu ruang VIP, mengenakan jas putih panjang yang sangat rapi. Senyumnya penuh kemenangan, jenis senyum yang dimiliki oleh pria yang merasa telah membeli seluruh dunia.
"Ada masalah di sini, Sayang?" Wijaya merangkul pinggang Linda dengan posesif, matanya menatap Kenzo dengan penghinaan yang tidak ditutup-tutupi.
"Tidak ada, Mas. Hanya saja... perawat ini mencoba memberikan saran medis padaku. Bayangkan, seorang honorer mengajari kita tentang kesehatan," Linda mengadu dengan nada manja yang dibuat-buat.
Wijaya terkekeh, suara tawanya berat dan penuh kepuasan sosial. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompet kulit buaya, dan menarik selembar uang seratus ribu rupiah. Ia menjatuhkan uang itu di atas nampan medis yang dibawa Kenzo.
"Ini untukmu, Kenzo. Belilah sabun yang lebih wangi. Bau kemiskinanmu mulai mengganggu kenyamanan pasien VIP-ku di lorong ini," ucap Wijaya dingin.
Kenzo menatap lembaran uang itu. Secara fisiologis, ia merasakan lonjakan suhu di area Prefrontal Cortex-nya, kemarahan yang mencoba mendobrak kontrol dirinya. Namun, ia teringat nasihat kakeknya: Emas tetaplah emas meski terbenam di dalam lumpur, dan debu tetaplah debu meski berada di atas altar.
"Terima kasih, Dokter Wijaya," suara Kenzo tetap stabil, sebuah anomali yang membuat Wijaya sedikit mengernyit. "Tapi kalau boleh saya menyarankan, sebaiknya Dokter segera memeriksa fungsi hati Dokter sendiri. Kulit di sekitar area Sclera mata Anda sedikit menguning. Aliran Qi di meridian hati Anda tampak seperti sungai yang membeku di musim dingin, kaku dan menyumbat pori-pori kehidupan. Jika tidak segera ditangani, dalam tiga hari Dokter akan merasakan nyeri luar biasa di perut kanan bawah."
Wijaya terdiam sejenak, wajahnya mengeras. Ia merasa otoritasnya ditantang oleh seorang bawahan di depan umum. "Beraninya kau... Kau pikir kau siapa?! Keluar dari sini sekarang! Atau aku akan memastikan namamu masuk daftar hitam di seluruh rumah sakit di kota ini!"
"Saya sudah akan pergi, Dokter," jawab Kenzo sopan. Ia membalikkan badan, meninggalkan uang seratus ribu itu tetap berada di nampan medis yang ia letakkan di meja perawat.
Saat Kenzo berjalan menjauh, ia bisa merasakan tatapan Linda dan Wijaya yang menusuk punggungnya. Ia berjalan menuju pintu keluar, melewati lobi utama yang mewah. Di luar, sebuah mobil Rolls-Royce hitam tampak terparkir dengan elegan. Seorang pria tua berseragam sopir sedang berdiri di samping mobil, tampak gelisah.
Pria tua itu, Pak Mamat, mengenali Kenzo yang sering membantunya memberikan obat maag saat ia sedang menunggu majikannya. "Eh, Mas Kenzo. Mau pulang?"
Kenzo berhenti sejenak, memberikan senyum tulus yang pertama sejak pagi tadi. "Iya, Pak Mamat. Tugas saya sepertinya sudah selesai di sini."
Pak Mamat mendekat, berbisik pelan. "Mas, nona muda di dalam mobil ini... sejak tadi pagi dia mengeluh dadanya sesak. Tapi dia tidak mau masuk ke dalam. Katanya dokter di sini cuma pintar bicara tapi tidak tahu cara menyentuh rasa sakit yang sebenarnya. Mas Kenzo mau coba lihat sebentar?"
Kenzo menoleh ke arah jendela mobil yang gelap.
Menggunakan sisa-sisa konsentrasinya, ia menajamkan penglihatannya. Di balik kaca mobil itu, ia melihat sebuah siluet wanita yang dikelilingi oleh aura ungu yang redup. Aliran energinya kacau, terputus-putus seperti kabel yang mengalami korsleting di tengah badai.
"Pak Mamat," bisik Kenzo. "Katakan pada majikanmu, jika dia ingin napasnya kembali ringan, dia harus berhenti mencoba mengendalikan seluruh dunia selama lima menit saja."
Pak Mamat melongo. Sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, Kenzo sudah melangkah pergi, menghilang di antara kerumunan orang di halte bus. Ia tidak tahu bahwa di dalam mobil itu, Alana Dirgantara baru saja membuka matanya, terkejut mendengar suara napasnya sendiri yang tiba-tiba terasa sedikit lebih lega hanya karena mendengar ucapan pria asing itu dari balik kaca.
Kenzo terus berjalan, tangannya meraba kantong celananya yang kosong. Ia baru saja kehilangan pekerjaan, kehilangan kekasih, dan kehilangan harga diri di mata rekan kerjanya. Namun, di dalam dadanya, ada sebuah kehangatan yang mulai menjalar—sebuah energi kuno yang selama ini tertidur, kini mulai menggeliat bangun seiring dengan kehancuran hidup lamanya.
Dunia boleh menghinaku hari ini, batin Kenzo. Tapi esok, mereka akan memohon pada jarumku untuk menyambung napas mereka.
Akankah Alana Dirgantara mencari sosok pria yang bisa mendiagnosanya tanpa menyentuhnya?
Dan apa yang akan dilakukan Kenzo saat ia menemukan bahwa penglihatannya kini mampu menembus lebih dari sekadar kulit manusia?