Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Baby Powder

Baby Powder

wulandarizie | Bersambung
Jumlah kata
34.6K
Popular
100
Subscribe
7
Novel / Baby Powder
Baby Powder

Baby Powder

wulandarizie| Bersambung
Jumlah Kata
34.6K
Popular
100
Subscribe
7
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeKonglomeratHaremKarya Kompetisi
Yufan Xerxes Vane punya segalanya. Mulai dari kekuasaan, kekayaan, dan lima wanita sosialita yang siap melakukan apa saja demi perhatiannya. Namun, bagi Yufan, semua itu terasa hambar dan berbau sama.Bau ambisi yang menyesakkan.Segalanya berubah saat sebuah insiden ketumpahan vodka di bar eksklusif The Vault mempertemukannya dengan "Baby". Di balik topeng peraknya, bartender misterius itu menyimpan aroma yang mustahil ditemukan di dunia malam.Wangi bedak bayi yang segar dan murni. Aroma yang seketika meruntuhkan kewibawaan Yufan dan berubah menjadi obsesi gila.Yufan mulai terjebak dalam permainan kucing dan tikus. Di satu sisi, ia adalah pria berkuasa yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau. Di sisi lain, ia dibuat tak berdaya oleh sosok Baby yang selalu dingin dan sulit dijangkau.Namun, pencarian Yufan akan pemilik aroma bedak bayi itu justru membawanya ke dalam pusaran rahasia yang tak terduga. Saat topeng mulai retak dan aroma yang sama mulai tercium di tempat yang salah, Yufan harus menghadapi kenyataan yang akan memukul harga dirinya hingga ke dasar bumi. Apakah ini sekadar obsesi pada sebuah aroma, atau jebakan perasaan yang sudah lama salah alamat?
1. Aroma yang Tertinggal di Senopati

"Parkirkan mobilku dengan benar!"

"Siap, Bos!"

Malam di Jakarta Selatan tidak pernah benar-benar tidur, dan The Vault adalah jantungnya yang paling liar. Bar eksklusif di kawasan Senopati itu tersembunyi tanpa papan nama. Tempat di mana hanya mereka yang memiliki digit saldo tak terhingga yang bisa masuk.

Yufan mengerdarkan pandangannya. "Gue yakin di sini hanya dikenalin dari mulut ke mulut. Tanpa promosi aplikasi."

"Malam, Tuan Vane." Sapaan yang terus terdengar.

Di dalamnya, dentuman bass, bau asap rokok, alkohol, parfum, dan segala macam bau-bau kemewahan yang "dilebih-lebihkan" membuat udara di bar itu terasa sangat sesak.

"Silahkan, Tuan Vane," ujar seorang pelayan yang menjaga pintu VVIP.

Kelas VVIP.

Kelas teratas dan paling mewah dengan pelayanan maksimal. Kelas yang bisa dibeli Yufan hanya dengan menggores salah satu brankasnya. Hanya saja, ia tidak terlalu serius ingin membelinya, hingga ia melilih hanya "sekedar" bermain-main.

Yufan berjalan, lantas duduk seperti seorang raja yang sedang mengamati budak-budaknya. Cahaya chandelier kristal yang remang-remang memantul di wajahnya yang tegas, rahang yang tajam, hidung bangir yang sombong, dan sepasang mata elang yang tampak muak dengan dunia. Jas hitam elegan yang dikenakannya tampak kontras dengan kekacauan di sekelilingnya.

"Sedikit bermain dan menenangkan pikiran, oke kayaknya," batin Yufan meracau di tengah visualnya yang dingin.

Di kanan dan kirinya, "harem" sosialita Jakarta sedang beradu merebut perhatiannya. Mulai dari pakaian mewah nyaris terbuka, jemari lentik yang mulai berulah, hingga suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu.

Muak.

Yufan hanya menganggap kelima harem itu sebagai topping di dunia malam seperti ini.

"Yufan, kamu terlihat luar biasa malam ini. Tampan seperti biasa, tapi lebih elegan. Sini, gue pesenin Black Russian paling mahal buat lo," bisik Valerie Thorne, tangannya yang lentik dengan kuku merah darah mencoba mengusap bahu Yufan. Valerie membawa aroma musk yang sangat berat, seolah ia baru saja mandi dengan sebotol parfum jutaan rupiah.

"Sayang sekali parfum semahal itu harus tampak murahan sekarang," batin Yufan berkomentar pedas.

Kata pujian yang terlalu dilebih-lebihkan. Padahal Yufan tau, ia tidak merubah penampilannya sedikitpun ketika berkunjung ke bar ini. Selalu Kemeja putih berlapis jas hitam dan celana hitam. Meskipun satu setel itu berasal dari brand luar ternama.

Di sisi lain, Clarissa Belmont menyahut dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat, "Jangan dengerin Valerie, Yufan! Rasakan saja parfumku. Ini edisi terbatas dari Paris. Aku yakin kamu menyukainya." Clarissa mendekat, membawa wangi vanilla yang begitu manis hingga membuat perut Yufan mual.

"Minus 100 untuk tebakannya, Nona! Bahkan gue bisa mutah kalau lo kelamaan di sini," keluh Yufan mencoba menahan bau memuakkan itu.

Yufan tidak bergeming. Wanita-wanita ini hanyalah gangguan. Setiap hari, dari ruang kantornya di lantai 50 hingga bar-bar malam seperti ini, ia selalu dikepung oleh aroma yang memuakkan. Wangi bunga mawar yang terlalu matang, kayu-kayuan yang pahit, dan wangi manis yang palsu. Semuanya berbau sama.

Bau Uang dan Kepalsuan.

"Minggir," desis Yufan dingin. Suaranya rendah, namun cukup untuk membuat kelima wanita itu terdiam seketika.

Yufan merasa kepalanya mau pecah. Migrainnya kambuh. Ia merindukan sesuatu yang bersih, sesuatu yang tidak terlalu berlebihan untuk memikatnya.

Dan lucunya, malam ini Yufan malah memilih di tempat yang penuh bau alkohol, cerutu rokok, dan parfum-parfum yang di klaim "menyegarkan". Tempat yang hanya menawarkan ketenangan sesaat dan penuh kepalsuan.

Tanpa sadar, tangannya terulur ke atas meja, mencari tumpuan saat ia mencoba memijat pelipisnya sendiri.

"Seharian kepala udah mau pecah, yakali sekarang kepalaku makin pecah? Gue butuh udara segar di sini!" batinnya menggerutu.

Tepat saat itu, di tengah kegelapan dan lampu disko yang menyilaukan, seorang wanita dengan pakaian bartender hitam-hitam melangkah mendekat. Ia mengenakan topeng perak yang menutupi separuh wajahnya, menyisakan sepasang mata yang tampak tenang.

Atau terlalu tenang untuk tempat penuh tipuan dan godaan seperti ini.

"Baby!" panggil seorang pelanggan sambil melambai.

Gadis itu menoleh dan mengangguk. Lantas membawa nampan berisi pesanan meja sebelah.

"Mohon maaf, beri jalan," ujarnya lembut menyela kerumunan yang hanya memberinya jarak 10 cm, hingga ia harus mengangkat nampannya tinggi-tinggi.

Namun, karena kerumunan yang terlalu padat dan dorongan dari tamu yang mabuk, langkahnya goyah. Gelas kristal berisi vodka dengan bongkahan es besar itu mendarat tepat di atas punggung tangan Yufan yang sedang terulur.

Duk!

Cairan bening yang membeku itu membasahi tangan Yufan, meresap ke manset kemeja putih mahalnya. Dinginnya menusuk, mengejutkan saraf Yufan.

"SIALAN!"

Yufan terkejut. Dengan satu gerakan refleks yang brutal, ia menepis gelas itu dari tangannya.

PRANGGGGGG!

Suara pecahan kristal itu membelah musik. Seolah-olah waktu berhenti berputar. Seluruh bar menjadi hening total. DJ menghentikan lagunya, dan para pemgunjung bar menghentikan aktivitasnya sejenak. Pecahan kaca berserakan di bawah kaki Yufan, berkilauan di bawah lampu ungu bar.

"LO PUNYA MATA NGGAK, SIH?!" Yufan berdiri, bayangannya menjulang tinggi dan mengintimidasi. Matanya berkilat penuh amarah saat ia menatap Baby. "Gue bayar mahal buat ketenangan di sini, bukan buat disiram oleh pelayan ceroboh kayak lo!"

Baby membeku. Ia tidak gemetar, tidak menangis, dan tidak memohon ampun seperti wanita kebanyakan. Ia hanya berdiri diam, menatap mata Yufan dari balik topeng peraknya dengan tatapan datar yang justru membuat Yufan semakin geram.

"Lo cuma diem?" tanya Yufan keheranan dengan amarah yang mulai memuncak.

"Tuan Vane! Ya Tuhan, mohon maafkan kami!"

Pemilik bar, Pak Surya, berlari tergopoh-gopoh dengan wajah pucat pasi. Ia tahu betul satu panggilan telepon dari Yufan bisa meratakan bar ini menjadi tanah dalam semalam.

"Baby! Apa yang kamu lakukan?! Kamu mau saya pecat hari ini juga?! Dia ini Tuan Vane. Pelanggan VVIP kita!"

Yufan mendengus, membersihkan sisa vodka di jasnya dengan sapu tangan. "Ceroboh sekali. Pecat dia sekarang juga! Gue nggak mau liat pelayan nggak becus ini lagi di Senopati."

Pak Surya berkeringat dingin. "M-maafkan kami, Tuan Vane. Tapi, izinkan Baby minta maaf untuk kesalahannya," ujar Pak Surya hingga terbata-bata.

"Baby! Berlutut! Ayo minta maaf!" tambah Pak Surya.

Baby tidak membantah. Dengan gerakan yang elegan namun efisien, ia berlutut di lantai yang dingin. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja. Saya membutuhkan pekerjaan ini."

Yufan menaikkan sebelah alisnya, tak menjawab sedikitpun kalimat maaf Baby. Pak Surya makin overthinking.

"B-bersihkan sepatunya Tuan Vane sekarang! Jangan sampai ada setetes pun yang tersisa di sepatu Tuan Vane! Jangan berdiri sampai Tuan Vane memaafkanmu!"

Dari kalimat Pak Surya saja sudah cukup memberitau posisi Yufan di Bar ini bukan? Bahkan sang pemilik Bar saja tak berani ambil resiko.

Baby tak menolak. Ia mulai memunguti pecahan kristal tajam itu satu per satu dengan tangan kosong. Yufan mengawasinya dari atas, menunggu sebuah rintihan sakit atau tatapan penuh dendam. Namun, Baby tetap diam, menyelesaikan tugasnya seolah-olah Yufan hanyalah sebuah benda mati yang tidak penting. Bahkan Baby tak segan mengelap sepatu Yufan, tapi kaki Yufan menjauh dengan kasar.

"Cukup! Tidak perlu!" final Yufan, membuat Pak Surya sedikit bernapas lega.

"S-Sekali lagi maafkan kecerobohan pelayan kami, Tuan Vane. Sebagai gantinya, Anda bisa memesan minuman apapun hari ini."

Yufan tak mingindahkan kalimat tawaran itu. Ia lebih fokus melihat jari Baby yang mencengkeram, seolah kesal dengan keadaannya sekarang. Tapi dia tidak membantah sedikitpun.

Setelah pecahan terakhir diambil, Baby berdiri. "Sekali lagi maafkan saya, Tuan," cicit Baby. Tapi nada bicaranya tak gentar sedikitpun.

Yufan berdeham singkat. Hal itu sontak membuat Pak Surya antusias.

"Kembali ke tempatmu, Baby! Selesaikan pekerjaanmu dan jangan ceroboh lagi!" ujar Pak Surya.

Baby menundukkan kepala sekilas, sebuah gestur profesional yang terasa sangat dingin. Ia berbalik, hendak melewati celah sempit di antara kursi Yufan dan meja untuk kembali ke area bar belakang.

Saat itulah, atmosfer di sekitar Yufan berubah total.

Whuuushhh.

Saat Baby melangkah melewati sisi tubuhnya, sebuah hembusan angin membawa aroma yang belum pernah dicium Yufan seumur hidupnya. Di tengah lautan alkohol, asap rokok, dan parfum mahal, tercium sebuah aroma yang sangat kontras.

Wangi Bedak Bayi.

Aroma itu sangat murni, sangat segar, seperti bau bayi yang baru selesai dimandikan dengan air hangat dan dibalur bedak putih yang lembut. Wangi itu tidak agresif dan tidak berusaha menggoda.

"Wangi apa ini?" gumam Yufan pelan sembari menghirup dalam aroma itu, sekali pun aroma vodka mulai mendominasi.

Seketika, migrain di kepala Yufan menghilang. Paru-parunya yang tadi terasa sesak oleh polusi bar mendadak terasa plong, seolah ia baru saja menghirup udara pegunungan yang jernih di tengah kemacetan Jakarta.

Wangi itu.... Berbeda!

Yufan terhenyak. Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi. Ia merasa jantungnya berdegup kencang karena satu hal.

Penasaran!

Dan ini adalah hal yang langka bagi Yufan. Bahkan bisa dibilang tidak mungkin.

"Wangi apa ini?" pikirnya dalam hati dengan panik. "Kenapa wangi sesederhana ini bisa bikin gue merasa... hidup?"

Refleks, sebelum Baby melangkah lebih jauh, tangan Yufan melesat secepat kilat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Baby dengan kuat, memaksa wanita itu berhenti di tempatnya.

"Tunggu!" suara Yufan tidak lagi berteriak. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan tuntutan obsesif yang tidak bisa dijelaskan.

Baby tersentak. Bahunya menegang, namun ia tetap tidak mau memutar tubuhnya. Denyut nadinya terasa di bawah jari-jari Yufan yang dingin.

"Tuan Vane, saya mohon maaf-" Pak Surya mencoba menengahi, tapi Yufan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang diam.

Yufan menarik napas panjang, sengaja mendekatkan hidungnya ke arah tengkuk Baby yang tersembunyi di balik helaian rambut hitamnya. Ia memejamkan mata, menyesap aroma bedak bayi itu dalam-dalam, mencoba mengukirnya ke dalam memorinya.

Tentunya orang-orang yang melihat cukup terkejut melihat pemandangan itu. Pemandangan yang lebih mirip disebut "Yufan yang sedang mencium tengkuk Baby" daripada hanya sekedar mencium aromanya saja. Baby bergerak risih, tapi ia mencoba menahan kerisihannya itu sejenak.

"Lo..." bisik Yufan tepat di telinga Baby, suaranya terdengar lapar dan berbahaya. "Lo pake parfum apa?"

Baby terdiam sejenak. Ia sedikit menoleh, memperlihatkan sedikit garis rahangnya yang halus di balik topeng perak. Mencoba memaklumkan keadaan bahwa ia sedang berada di kawasan Bar.

"Saya tidak pakai parfum, Tuan. Mungkin itu hanya bau deterjen," ujarnya singkat.

Yufan tertawa sinis, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata. "Deterjen? Jangan bohong!"

Baby mengangguk. "Untuk apa saya membohongi Anda, Tuan?"

Yufan tersenyum kecil. Ia menyingkirkan anak rambut Baby di belakang telinganya. "Segar sekali. Wangi ini... ini satu-satunya hal yang nggak bikin gue mau muntah di tempat ini."

Heran.

Seluruh penonton dibuat heran dengan perlakuan Yufan yang 180 derajad berbeda dari sebelumnya pada Baby.

Yufan semakin mempererat cengkeramannya, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, sumber ketenangan itu akan hilang selamanya. "Mulai malam ini, lo milik gue."

Baby mundur sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan Yufan. "Maaf, Tuan. Saya di sini adalah bartender dan pelayan. Dan melayani pelanggan lebih intens bukan pekerjaan saya."

Yufan tersenyum sinis. "Nggak peduli. Dan topeng itu..."

Yufan ingin memegang topeng silver itu, tapi pemiliknya auto memalingkan wajah, tanda penolakan. "Tidak, Tuan. Saya tidak mau melanggar peraturan Bar ini."

Yufan tersenyum miring. Ia kemudian menghela napas. "It's oke. Gue akan cari tahu siapa lo, bahkan kalau gue harus bongkar bar ini sampai ke akarnya. Hal yang mudah buat gue."

Baby tidak menjawab. Dengan satu gerakan sentakan yang tidak terduga, ia melepaskan diri dari tangan Yufan dan menghilang dengan cepat di balik tirai hitam area staf, meninggalkan Yufan yang masih berdiri mematung dengan sisa aroma bedak bayi yang kini menghantui setiap sel di otaknya.

Yufan mencium tangannya. Aroma itu masih tertinggal di telapak tangannya. Masih segar, sama seperti bau tengkuk gadis itu. "Baru kali ini gue terpikat dengan wangi ini."

Di sudut lain, kelima harem Yufan menatap dengan mata melotot dan bibir terkatup rapat. Mereka tidak tahu bahwa malam itu, sebuah perang besar baru saja dimulai. Perang melawan aroma sederhana yang akan menghancurkan kewarasan seorang Yufan Xerxes Vane.

Lanjut membaca
Lanjut membaca