

Bismillaah
Suara knalpot memekakkan telinga memecah sunyi malam.
Raka menunduk di atas motor, tangannya mencengkeram gas seolah dunia hanya soal siapa yang paling cepat. Jalanan sepi menjadi arena adu nyali. Lampu-lampu toko yang sudah tutup memantulkan bayangan dua motor yang melaju berdampingan.
“Gas, Rak! Jangan kalah!” teriak Bima dari motor sebelah.
Raka tersenyum miring.
Kepalanya ringan karena minuman keras yang baru saja mereka tenggak di belakang warung tua.
“Siapa takut!” balasnya.
Angin malam menghantam wajahnya, membawa bau aspal dan debu. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena takut—tapi karena sensasi yang selalu ia cari. Ia tak tahu lagi bagaimana rasanya hidup tanpa kebisingan, tanpa teriakan, tanpa adrenalin.
Hidup Raka memang seperti itu sejak lama:
malam, rokok, minuman, balapan liar, dan perkelahian.
Ia tak ingat kapan terakhir kali shalat.
Tak ingat kapan terakhir kali membuka Al-Qur’an.
Yang ia ingat hanya satu: dunia ini keras, dan ia harus lebih keras.
Motor melaju semakin kencang.
Sampai suara klakson panjang dari arah berlawanan memecah malam.
Sebuah truk muncul di tikungan.
“Bima!” teriak Raka.
Terlambat.
Bima membanting setir. Motor oleng. Tubuhnya terlempar, menghantam aspal dengan suara mengerikan.
Brak!
Motor Raka berhenti mendadak. Ia melompat turun, kakinya gemetar.
“Bim! Bim!”
Darah mengalir di jalan. Lampu motor masih menyala, memantulkan warna merah yang membuat dada Raka terasa diremas.
“Bima… bangun… bangun, Bi…” suaranya bergetar.
Bima tak menjawab. Matanya terbuka, tapi kosong.
Orang-orang mulai berdatangan. Suara gaduh. Ada yang memanggil ambulans. Ada yang berteriak menyalahkan mereka.
Raka tak mendengar apa-apa.
Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri.
Yang ia lihat hanya wajah sahabatnya yang tak lagi bernyawa.
Malam itu, dunia Raka runtuh.
---
Pemakaman Bima berlangsung keesokan harinya. Matahari terik, tapi tubuh Raka dingin.
Ia berdiri jauh dari kerumunan. Tak sanggup mendekat ke liang lahat. Setiap kali tanah ditimbun, dadanya sesak.
“Ini salahku…” bisiknya.
Ibunya Bima menangis keras. Ayahnya berdiri terpaku, wajahnya pucat. Raka ingin mendekat, ingin meminta maaf, tapi kakinya seolah menolak melangkah.
Bagaimana mungkin ia berkata apa-apa?
Anaknya mati karena ikut dengannya balapan.
Malamnya, Raka tak bisa tidur.
Setiap memejamkan mata, ia melihat darah di aspal. Mendengar suara benturan. Mendengar teriakan yang tak pernah sempat keluar dari mulut Bima.
Ia duduk di tepi kasur, rambutnya kusut.
“Kenapa… kenapa aku masih hidup?” gumamnya.
Botol minuman di meja diambilnya, lalu dilempar ke tembok.
“Bodoh!” teriaknya.
Ia keluar rumah tanpa tujuan.
Langkahnya membawanya ke tempat yang tak pernah ia rencanakan: sebuah masjid kecil di ujung gang. Lampunya redup. Pintu terbuka sedikit. Dari dalam terdengar suara seseorang membaca Al-Qur’an dengan pelan.
Raka berhenti di depan pintu.
Sudah berapa tahun ia tak menginjakkan kaki di masjid?
Dadanya terasa sesak. Kakinya berat. Tapi entah kenapa, ia melangkah masuk.
Lantai dingin menyentuh telapak kakinya yang kotor. Bau karpet bercampur wangi kayu. Seorang lelaki tua duduk bersila di depan mimbar, menutup mushafnya perlahan.
“Assalamu’alaikum,” ucap lelaki itu lembut.
Raka terdiam.
Lama tak ada suara dari mulutnya.
“…Wa’alaikum salam,” jawabnya akhirnya.
“Silakan duduk,” kata lelaki itu, tersenyum tipis.
Raka duduk di saf paling belakang. Kepalanya tertunduk.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya lelaki itu.
Raka menggeleng.
Hening.
Kemudian, tanpa sadar, suaranya keluar.
“Saya… orang jahat, Pak.”
Lelaki itu tak terkejut.
“Semua orang punya masa lalu,” jawabnya pelan. “Nama saya Salim.”
Raka menelan ludah. “Teman saya… mati tadi malam.”
Ustadz Salim mengangguk pelan. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Raka mengepalkan tangan. “Itu salah saya.”
“Yang sudah terjadi tak bisa diulang,” kata Ustadz Salim. “Tapi hidupmu masih ada.”
Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Saya takut tidur… takut sendiri… saya nggak tahu mau ke mana.”
Ustadz Salim bangkit, mengambil sajadah kecil, lalu meletakkannya di depan Raka.
“Kalau kamu tidak tahu mau ke mana,” katanya, “datanglah ke Allah.”
Raka menatap sajadah itu lama.
“Aku nggak bisa shalat…”
“Belajar,” jawab Ustadz Salim singkat.
Hujan turun di luar. Tetesannya terdengar jelas di atap masjid.
Raka berdiri perlahan. Gerakannya kaku. Ia mengikuti apa yang dicontohkan Ustadz Salim.
Tak sempurna.
Tak hafal bacaan.
Gerakannya canggung.
Tapi ketika dahinya menyentuh lantai, air mata jatuh.
“Allah… kalau Engkau masih mau nerima aku…” bisiknya terbata, “…aku capek jadi orang seperti ini…”
Tangisnya pecah.
Masjid kecil itu menjadi saksi pertama taubat seorang pendosa.
---
Di luar, hujan semakin deras.
Di dalam, hati Raka mulai basah oleh sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ini:
harapan.
Ia tak tahu jalan ke depan seperti apa.
Tak tahu apakah masa lalunya akan benar-benar melepaskannya.
Tak tahu apakah dunia akan memaafkannya.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Raka pulang ke rumah dengan langkah pelan.
Bukan menuju dunia lama.
Tapi menuju sesuatu yang baru.
Bersambung...
---