

Pagi di kampung kecil itu selalu berjalan lambat, seolah waktu sengaja ditahan agar tak terlalu cepat menua bersama warganya. Kabut tipis masih menggantung rendah di atas tanah ketika suara ayam jantan bersahutan dari berbagai penjuru.
Di antara rumah-rumah kayu yang berdiri seadanya, satu rumah tampak paling sederhana, dindingnya kusam, atap sengnya berderit pelan ketika angin pagi menyentuhnya.
Dari rumah itulah Juned memulai harinya. Ia terbangun bahkan sebelum adzan Subuh berkumandang. Kebiasaan itu sudah melekat sejak lama. Tubuhnya yang tinggi dan tegap bergerak ringan, meski wajahnya masih menyimpan sisa lelah hari-hari kemarin.
Juned menggulung tikar tipis yang menjadi alas tidurnya, lalu berjalan ke belakang rumah untuk menimba air dari sumur.
Air dingin menyentuh kulitnya, membuat matanya terbuka sempurna. Dalam diam, Juned menatap bayangan dirinya di permukaan air. Ia bukan siapa-siapa. Hanya anak lelaki yatim dari kampung kecil yang sering dijadikan bahan perbandingan dan olok-olokan.
Sementara di dapur, ibunya sudah sibuk sejak dini hari. Bu Sari berdiri di depan tungku minyak panas, tangannya cekatan membalik gorengan. Rambutnya yang mulai memutih digelung sederhana. Wajahnya menua lebih cepat dari usianya, tapi sorot matanya tetap hangat, dan selalu begitu setiap kali memandang Juned.
"Kamu bangun cepat sekali, Ned." Ucapnya lembut.
Juned tersenyum tipis. "Biar ibu nggak capek sendirian. Aku akan membantu Ibu."
Setelah waktu Subuh, mereka mulai menata dagangan. Pisang goreng, tempe, tahu isi, kue cucur, dan onde-onde dimasukkan ke dalam keranjang bambu.
Tak banyak, tapi cukup untuk mengisi hari. Juned mengangkat dua keranjang itu tanpa mengeluh. Beban fisik bukan apa-apa dibandingkan beban hidup yang mereka jalani bertahun-tahun.
Langkah mereka menyusuri jalan kampung selalu sama. Tanah merah yang mulai mengeras, pagar bambu, dan wajah-wajah yang sudah hafal keberadaan mereka. Tetapi tak semua menyambut dengan senyum.
"Masih jualan keliling juga, apa gak bosan?" Celetuk seorang tetangga sambil tertawa kecil.
Juned pura-pura tak mendengar. Ia menunduk, melangkah mantap. Bu Sari hanya tersenyum sopan, meski Juned tahu senyum itu sering kali dipaksakan.
Sejak ayahnya meninggal bertahun-tahun lalu, hidup mereka berubah drastis. Tak ada lagi sandaran. Tak ada lagi pembela. Yang ada hanya bertahan, hari demi hari.
Mereka berhenti di beberapa rumah. Ada yang membeli, ada yang hanya melihat. Uang receh berpindah tangan, tak seberapa, tapi cukup untuk membeli beras hari ini.
Pasar desa menjadi tujuan berikutnya. Tempat itu selalu ramai, penuh suara tawar-menawar dan aroma khas sayur serta gorengan. Juned berdiri di dekat ibunya, menawarkan dagangan dengan suara sopan.
"Gorengan... Gorengan... Gorengannya masih hangat, Bu."
Beberapa pedagang mengenal mereka, membeli sekadar untuk membantu. Juned bersyukur atas itu, meski ia tak pernah ingin dikasihani.
Di sela-sela waktu menunggu pembeli, ingatan Juned melayang ke masa lalu. Lapangan tanah di belakang sekolah. Seragam taekwondo yang warnanya sudah memudar. Tendangan yang dilatih berulang kali hingga kaki gemetar.
Taekwondo bukan sekadar olahraga baginya. Itu adalah pelarian. Tempat ia merasa berharga, dimana di sana, ejekan tak berarti apa-apa. Yang dinilai hanyalah usaha dan disiplin.
Dari SMP hingga SMA, Juned bertahan. Meski sering pulang dengan badan lebam, ia tak pernah berhenti. Tetapi setelah lulus, kenyataan hidup menamparnya keras. Tak ada biaya untuk melanjutkan mimpi. Yang ada hanya tanggung jawab.
Menjelang siang, dagangan mereka hampir habis. Bu Sari terlihat kelelahan. Nafasnya sedikit tersengal saat berjalan pulang.
"Ibu istirahat sebentar." Ucapnya pelan.
Juned segera menopang lengannya. Hatinya mencelos. Ia benci perasaan tak berdaya itu.
Sore hari setelah ibunya tertidur, Juned pergi ke lapangan kecil di ujung kampung. Ia membuka sandal, mengatur napas, lalu mulai berlatih. Tendangan demi tendangan dilepaskan dengan penuh fokus. Peluh mengalir, napasnya memburu.
Beberapa anak kecil menonton dengan mata berbinar. Tetapi suara sumbang selalu ada.
"Percuma jago, tapi hidup tetap saja miskin." Ujar seseorang.
Juned berhenti. Ia menatap langit jingga, lalu tersenyum kecil.
Malam datang dengan kesederhanaannya. Mereka makan seadanya. Nasi, sayur bening, sambal terasi dan tempe goreng.
"Ibu cuma ingin kamu hidup lebih baik, Ned." ucap Bu Sari lirih.
Juned menggenggam tangan ibunya. "Aku akan cari jalan, Bu. Aku berjanji akan membahagiakan Ibu."
Di rumah kecil itu, tekad Juned menguat. Ia tak tahu kapan. Tapi ia tahu, hidupnya tak akan berhenti di sini.
**
Pagi itu terasa berbeda bagi Juned. Udara kampung masih sama, dingin dan lembap, tetapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia duduk di beranda rumah kecil mereka, menatap jalan tanah yang membentang lurus menuju luar desa.
Jalan itu tak hanya menghubungkan kampung dengan dunia luar, tetapi juga menjadi batas antara hidup yang ia jalani sekarang dan hidup yang ingin ia kejar.
Di dalam rumah, Bu Sari sedang merapikan dagangan seperti biasa. Keranjang bambu masih tersusun rapi, tetapi kali ini Juned tak segera mengangkatnya.
"Bu..." Panggilnya pelan.
Bu Sari menoleh. Wajahnya menyiratkan kelelahan, tapi sorot matanya tetap lembut. "Ada apa, Ned?"
Juned menarik napas dalam-dalam. Kata-kata itu sudah berhari-hari berputar di kepalanya, tetapi baru hari ini ia memberanikan diri untuk mengucapkannya. "Aku ingin ke kota, Bu."
Seketika tangan Bu Sari berhenti bergerak. Sunyi sejenak mengisi ruangan sempit itu. Hanya suara ayam dan angin pagi yang menyusup melalui celah dinding kayu.
"Ke kota?" Ulang Bu Sari lirih.
Juned mengangguk. "Aku mau cari kerja disana, Bu. Apa saja. Aku nggak mau selamanya begini."
Bu Sari duduk perlahan di bangku kayu. Matanya menatap lantai, seakan mencari sesuatu di antara serat-serat papan tua itu. Juned bisa melihat kegelisahan di wajah ibunya, antara ingin menahan dan ingin merelakan.
"Kota itu keras, Ned. Ibu takut kamu kenapa-kenapa." Ucap Bu Sari akhirnya.
Juned berlutut di depan ibunya. Ia menggenggam tangan kurus itu dengan erat. "Justru karena itu aku harus pergi, Bu. Kalau aku di sini terus, aku hanya akan menunggu ibu semakin capek."
Kata-kata itu menancap dalam. Mata Bu Sari berkaca-kaca.
Hari itu, mereka tetap berjualan. Tetapi langkah Juned terasa begitu berat. Setiap sudut kampung mendadak terasa asing, seolah ia sedang berpamitan dalam diam. Tatapan tetangga yang biasa saja kini terasa seperti penilaian terakhir.
Sore harinya, Bu Sari mengeluarkan sebuah amplop kecil dari dalam lemari. Isinya uang yang tak seberapa, hasil ia menabung sedikit demi sedikit.
"Bawa ini, Ned." Katanya sambil menyodorkan amplop itu.
Juned terdiam. "Ibu..."
"Sudah... Jangan banyak bicara. Ibu nggak bisa ngasih apa-apa selain ini dan doa." Potong Bu Sari.
Malam itu, Juned hampir tak bisa tidur. Ia memandang langit-langit rumah, mendengarkan napas ibunya yang teratur dari balik tirai tipis. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar akan melangkah sendirian.
Pagi berikutnya, Juned berdiri di depan rumah dengan satu tas ransel kecil. Isinya hanya pakaian ganti, ijazah SMA, dan sabuk taekwondo yang sudah lusuh.
Bu Sari memeluknya lama. Tangannya gemetar. "Jangan lupa shalat. Jangan sombong jadi orang. Kalau capek, ingat ibu." Ucapnya dengan terisak.
Juned menahan air mata. "Aku akan pulang sebagai orang yang lebih baik, Bu. Aku minta doa dan restu Ibu."
Ia melangkah pergi.
Perjalanan ke kota memakan waktu berjam-jam. Juned duduk di bus tua yang sesak. Gedung-gedung tinggi mulai menggantikan sawah dan pepohonan. Jantungnya berdebar, antara takut dan bersemangat.
Sesampainya di kota, dunia seolah berlari lebih cepat. Klakson bersahutan. Orang-orang berjalan tanpa saling menatap. Juned merasa kecil.
Hari-hari pertama ia habiskan dengan berjalan kaki mencari pekerjaan. Dari toko ke toko, dari bangunan ke bangunan. Jawabannya hampir selalu sama.
"Lowongan sudah penuh."
"Pengalaman?"
"Maaf."
Uang di sakunya menipis. Ia tidur di mushala atau emperan toko. Tetapi setiap pagi, ia berusaha bangkit dan mencoba lagi.
Suatu siang, langkahnya membawanya ke sebuah mal besar. Bangunan itu menjulang, berkilau, dan terasa sangat jauh dari dunia yang ia kenal. Juned berdiri canggung di pelataran, hanya berniat berteduh.
Di situlah semuanya berubah.
Keributan kecil terjadi tak jauh darinya. Seorang pria paruh baya dan istrinya tampak kebingungan. Beberapa orang berdesakan.
Juned melihat tangan-tangan mencurigakan bergerak cepat. Tanpa berpikir panjang, tubuhnya bergerak. Refleks yang terlatih selama bertahun-tahun mengambil alih. Ia menangkap satu tangan, memutar pergelangan, lalu menjatuhkan tubuh lawan ke lantai.
Kerumunan terkejut. Dua orang lainnya mencoba kabur, tetapi Juned sudah lebih dulu menghadang. Tendangan lurusnya membuat satu orang tersungkur. Satunya lagi menyerah ketika petugas keamanan datang.
Pria paruh baya itu menatap Juned dengan mata terbelalak. "Terima kasih, Nak." Ucapnya.
Juned hanya mengangguk, napasnya masih memburu. Ia tak tahu, pertemuan singkat itu akan menjadi titik balik dalam hidupnya.
Sementara di kejauhan, seorang pria paruh baya bernama Pak Sumitro memandang Juned dengan penuh ketertarikan, melihat sesuatu yang selama ini ia cari.
Tanpa Juned sadari, langkah pertamanya di kota ini, akan membawanya menuju jalan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
>>>