

"Tidak, tolong lepaskan aku," rintih Silvana saat dirinya hampir mati ditangan para berandal jalanan.
Malam itu, Silvana, gadis miskin yang beruntung bisa bersekolah di Victoria Internasional school baru saja pulang dari sekolahnya. Ada begitu banyak kegiatan di sekolah yang membuat Silvana harus pulang agak malam. Saat berada di sebuah lorong yang cukup gelap, Silvana tiba-tiba dihadang oleh beberapa preman yang sangat menyeramkan.
"Malam ini kita akan puas," ucap salah satu preman.
"Puas bermain dengan gadis cantik," jawab yang lainnya.
Hahah....
Mereka tertawa terbahak-bahak saat melihat Silvana yang sudah cukup mengenaskan. Bahkan untuk menyelamatkan diri sendiri saja Silvana tak akan sanggup.
"Apa ini akhir hidupku?" rintih Silvana di dalam hati. Dia benar-benar tak menyangka jika akhir hidupnya begitu tragis.
"Tidak sia-sia kita menerima pekerjaan hari ini. Dia pasti masih perawan," ucap bos preman yang sudah bersiap untuk menghajar Silvana.
Wajah mereka begitu menakutkan. Selain menyeramkan, wajah para preman itu juga terlihat begitu mesum. Hingga Silvana tidak lagi berharap dirinya akan selamat sekarang ini.
"A-apa yang kalian katakan?" tanya Silvana penasaran. "Tugas?" tanyanya lagi.
"Iya, tentu saja kami dibayar untuk membunuh kamu!" ucap salah satu preman.
Hey...
Sang bos menegur anak buahnya, dia tak ingin ada rahasia yang diketahui oleh siapapun. Sebab hal tersebut bisa saja menjadi ancaman untuk mereka dalam beberapa waktu kedepan.
"Si-siapa yang menyuruh kalian?" tanya Silvana.
"Kamu tak perlu tau," ucap sang bos.
"Alah," sang anak buah menyela. "Lagipula sebentar lagi dia akan mati. Dia tak akan bisa menjadi ancaman untuk kita," lanjutnya lagi.
Bos preman itu menganggukkan kepalanya, benar apa yang dikatakan oleh anak buahnya. Lagipula sebentar lagi mereka akan membunuh Silvana. Hingga gadis itu tak akan mendapatkan kesempatan untuk mengancam mereka.
"Benar juga," jawab sang bos. "Jadi begini anak manis," lanjutnya sembari duduk dan menyentuh dagu Silvana. Hal itu sukses membuat Silvana merasa jijik pada dirinya sendiri.
"Jangan menyentuhku," ucap Silvana.
"Jual mahal," celetuk anak buah preman.
"Kamu mengenal Lyn? Salah satu teman mu yang kamu buat malu kemarin," ucap bos preman.
"Lyn? Lyana Pratama?" tanya Silvana.
“Benar! Kamu tidak seharusnya mengganggu orang yang tak pantas kamu dekati! Tetapi kamu malah cari mati,” ucap bos preman.
“Lyn? Apa yang aku lakukan padanya?” tanya Silvana yang tak tahu apapun.
Silvana tak merasa memiliki salah apapun pada pewaris tunggal keluarga Pratama itu. Mengapa gadis itu selalu saja mencari celah untuk mencelakai dirinya?
Ah…
Bos preman itu nampak sudah sangat kesal. Dia ingin segera menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Lyana Pratama untuknya. Kemudian mengambil hasil kerjanya dan berfoya-foya dengan uang haram itu.
“Jangan terlalu banyak basa-basi, ayo kita selesaikan sekarang,” ucap bos preman dengan nada yang sudah tidak main-main.
“Ja-jangan, ak-aku mohon lepaskan aku,” ucap Silvana memelas. Dia benar-benar tak ingin mati dalam keadaan seperti itu.
Namun para preman itu tak peduli dengan rintihan Silvana. Meskipun wajahnya sudah penuh luka, beberapa goresan juga mulai menghiasi tubuh Silvana. Hingga darah membasahi pakaian yang dia pakai. Namun para preman itu tak merasa kasihan sama sekali pada calon korbannya.
Akhh…
“TOLONG!” teriak Silvana
Silvana berteriak sekencang yang dia bisa, berharap akan ada yang mau menolongnya. Sekecil apapun itu, Silvana berharap ada keajaiban yang membantunya melewati situasi genting ini.
“Ada yang mendengar suara teriakan?” tanya Ranendra. Seorang pewaris tunggal keluarga Hans yang tampan dan begitu mempesona. Namun sayang sekali, dia adalah seorang berandalan yang sangat dingin dan terkenal kejam.
“Dari arah sana, mungkin para preman itu sedang menjalankan aksinya,” jawab Gyo, teman Ranendra yang paling dekat dengannya.
Oh…
Ranendra hanya menganggukkan kepalanya, dia tak ingin mengganggu orang lain. Apalagi tidak ada hubungan dengan dirinya.
“Ayo lanjut,” ucap Ranendra.
“Tidak bantu cewek itu? Sepertinya dia terluka cukup parah,” usul Arash.
“Urusan mereka, kita tak tau apa yang dia lakukan sampai bisa berurusan dengan para preman itu,” ucap Ranendra di depan gang tempat Silvana di siksa oleh orang-orang suruhan Lyn.
“Baiklah, ikuti apa katamu,” jawab Arash.
Arash melirik ke arah gang sempit yang gelap gulita itu. Dia melihat siluet seorang wanita yang tengah dihajar habis-habisan oleh para preman.
“Gadis yang tangguh, dia bahkan masih mencoba untuk melawan,” ucap salah satu preman.
“Biarkan saja, semakin ganas aku semakin suka,” ucap bos preman.
“Ne-nendra, ka-kamukah i-itu?” ucap Silvana terbata-bata.
Meskipun tidak begitu dekat, namun Silvana mengenal Ranendra dan teman-temannya. Sebab mereka berada di satu kelas yang sama. Silvana yang cuek dan tidak peduli pada lingkungan cukup menarik untuk Arash. Namun tak ada keinginan dalam diri Arash untuk menyatakan ketertarikannya pada Silvana.
“Suaranya?” ucap Arash. “Seperti familiar,” lanjutnya lagi.
“Siapa?” tanya Gyo.
“Sok tau,” ucap Ranendra tak peduli. Dia terus berjalan menjauhi gang tempat Silvana di siksa. Hingga akhirnya Silvana memanggilnya dengan nada tinggi. Silvana berpikir jika itu adalah kesempatan emas yang diberikan Tuhan untuk dirinya.
“RANENDRA, TOLONG AKU!” teriak Silvana.
Ranendra langsung berbalik, menatap ke arah gang yang gelap gulita. Bertanya pada kedua temannya, siapa wanita yang memanggilnya dari dalam gang gelap itu.
“Siapa?” tanya Ranendra.
“Silvana!” teriak Arash yang berlari tanpa peduli apapun. Dia berlari mengejar Silvana yang saat ini sudah sangat parah.
“Silvana?” tanya Gyo yang ikut penasaran. Otaknya berpikir untuk mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri.
“Teman satu kelas, cewek yang dingin itu,” jawab Gyo.
“Ayo kita bantu,” ucap Ranendra langsung menyusul Arash untuk membantu Silvana.
“Siapa kalian!” bentak bos preman.
“Ranendra, Ranendra Hans Pratama,” jawab Ranendra yang langsung membuat para preman itu melotot. Tentu saja mereka tak akan mencari masalah dengan pewaris tunggal keluarga Hans.
“Pergi!” teriak Ranendra.
“Silvana? Silvana?” ucap Arash sembari mencoba menyadarkan Silvana.
“Tu-tutupi a-aku,” ucap Silvana pelan.
Dia tak ingin ada orang yang melihatnya dalam keadaan seperti itu. Sebab saat ini seragam yang dia pakai terlihat compang-camping dan hampir mengekspos tubuhnya.
“Baiklah,” jawab Arash kemudian memakaikan jaketnya pada Silvana. Sedangkan Ranendra melepaskan jaketnya dan menutupi bagian bawah tubuh Silvana.
“Te-terima kasih,” ucap Silvana sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
“Silvana,” ucap Arash lembut.
“Ayo bawa dia pergi,” ucap Ranendra kemudian mengambil alih tubuh Silvana dari pelukan Arash. Arash tak bisa melakukan apapun, dia memberikan kesempatan untuk Ranendra menyelamatkan nyawa Silvana.
“Aku tau kamu berkuasa, tetapi kamu tak layak ikut campur dalam masalah kami!” ucap bos preman yang tak terima dengan perlakuan Ranendra dan teman-temannya
“Urusan kita belum selesai, jangan mengancam ku!” ucap Ranendra yang pergi membawa Silvana tanpa memperdulikan ancaman yang diberikan oleh bos preman.
“Bagaimana ini?” tanya anak buah preman. “Dia tau siapa yang membayar kita,” lanjutnya lagi.
Shit!
Bersambung.