

Di sebuah kota aman damai, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang memiliki sepasang anak kembar. Mereka selalu tersenyum dan tertawa bersama.
Keesokan harinya pemuda tampan terbangun dari tidurnya, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, walaupun tetap rapi dan bersih.
"Jam berapa, sih, ini?" Arya menyambar ponselnya.
"Sial, udah jam sembilan! Kok Bunda nggak bangunin, sih?"
Arya bangkit dengan tergesa. Dengan rambut awut-awutan dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia melangkah keluar kamar sambil menguap lebar. Namun, langkahnya mendadak kaku.
"Bun? Bunda udah ke pasar?" suaranya bergema di lorong.
"Yah? Ayah masih tidur?" sambungnya mulai merasa bingung.
Ada yang salah. Rumah itu terlalu sunyi. Tidak ada denting sudip dari dapur, tidak ada suara TV, bahkan Aruna, adik kembarnya yang biasanya menonton anime Jepang dengan volume maksimal setiap pagi entah ke mana. Keheningan itu terasa mencekam, disusul oleh aroma amis yang menyengat, menusuk hidung hingga membuat perutnya mulas.
Arya mempercepat langkah menuju ruang tengah. "Bunda? Ayah? Jangan bercanda, deh. Ini nggak lucu!"
Begitu sampai di sana, dunianya runtuh. "Bunda! Bangun, Bun! Ayah!" teriaknya histeris.
Arya merosot ke lantai, memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin tak bernyawa, tanpa luka, tanpa memar. Ia mengguncang-guncang bahu ayahnya yang kaku, berharap ini hanya mimpi buruk.
"Runa! Aruna! Sialan, mana anak itu?!"
Tangis Arya pecah. Dengan tangan gemetar, ia merangkak menuju kamar adik kembarnya. Ia mendorong pintu yang sedikit terbuka itu dengan sisa tenaganya, takut melihat pemandangan serupa di sana. Kosong. Kamar itu rapi, tapi hampa.
"Run... Runa... Aruna!" teriaknya menggelegar ke seluruh penjuru rumah. Nihil. Aruna lenyap.
Kesedihan itu sekejap menguap, berganti menjadi kemarahan yang membakar dada. Matanya yang merah menatap nanar ke sekeliling. "Siapa... siapa yang ngelakuin ini?!" raungnya. Dendam mulai mengakar di hatinya.
"Abang bakal cari kamu, Runa. Kemanapun, dimanapun... Abang bakal temuin kamu dan habisi bajingan itu!"
Pemuda tinggi mengepalkan kedua tangan, mengucapkan sumpah pada dirinya sendiri akan mencari adik perempuannya yang hilang sebelum memakamkan jasad kedua orang tuanya di belakang rumah lalu memberi penghormatan untuk terakhir kalinya. Air mata mengalir deras, tidak memahami mengapa cobaan berat harus terjadi padanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang melakukan semua ini? Apakah ini takdir yang harus diterima?
"Ayah, bunda, maaf. Arya tidak becus menjaga kalian dan adik. Sekarang, Aruna juga hilang ... aku tidak tahu harus mencarinya kemana?"
Tetangga sekitar berdatangan, ikut merasakan duka yang dirasakan pemuda tersebut.
"Arya, kami turut berduka cita atas kepergian orang tuamu dan hilangnya adik kembarmu," ucap perwakilan tetangga mendekap pemuda tengah berkabung.
"Terima kasih, Pak," responsnya singkat dengan air mata kembali mengalir di wajahnya.
Tak hanya tetangga, polisi berdatangan menyematkan police line sekaligus melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
"Tidak ditemukan sidik jari," celetuk salah satu anggota polisi meneliti berbagai benda.
"Tidak ditemukan juga barang pelaku," sambung rekan pihak berwajib dengan heran.
Kapten polisi ikut merasa heran, bagaimana bisa pelaku melakukan kriminal dengan rapi, tanpa meninggalkan jejak apapun. Apakah semacam makhluk ghaib atau orang pintar?
"Ini tidak masuk akal," tuturnya mengerutkan keningnya, berpikir keras.
"Tuan, Arya... kami sudah menggeledah seisi rumah dan sekitar pekarangan rumah, tapi tidak ada petunjuk," katanya menjelaskan pada Tuan muda.
"Jangan khawatir, kami akan tetap membantu mencari pelakunya," sambungnya menenangkan pemuda dihadapannya.
Pihak berwajib kembali ke kantor, menjadikan kasus ini sebagai prioritas. Mencari ke seluk kota Bogor dan sekitarnya berusaha dan terus berusaha menelusuri petunjuk di kota bawah tanah.
*********
Setiap pagi, Arya berdiri di depan cermin retak yang seolah membelah wajahnya menjadi dua. Selama bertahun-tahun, pantulan itu bukan lagi sekadar rupa, melainkan tanah gembur tempat dendamnya dipupuk hingga menggunung. Ia menyentuh bekas luka di rahangnya, lalu berbisik pelan, nyaris seperti doa yang perih.
"Bagaimana rupamu sekarang, Dek? Apa kau masih mirip denganku?" suaranya pecah, menggantung di udara yang dingin. Kerinduan itu seperti sembilu, makin ia mencoba mengingat wajah Runa, makin tajam rasa sakitnya. Namun, rasa sakit itulah yang memberinya nyawa.
Tanpa Runa, waktu bagi Arya hanyalah deretan jam untuk menempa diri. Ia tidak hanya berlatih; ia sedang menyiksa dirinya menuju kesempurnaan. Di bawah guyuran hujan badai atau di tengah terik yang membakar kulit, Arya terus bergerak, pedang atau hantaman tinjunya ke batang pohon adalah amarah yang disalurkan.
Tangannya kapalan dan luka permanen menjadi bukti bisu dedikasinya saat tubuhnya menjerit minta istirahat, ia justru memaksa otaknya bekerja. Mempelajari strategi, anatomi manusia untuk mencari titik mematikan, dan memetakan setiap pergerakan musuhnya.
"Aku harus jadi kuat," bisiknya di tengah napas yang tersenggal.
"Lebih kuat dari iblis manapun, agar aku bisa membawa Runa kembali."
Suatu kali, saat ia mencoba melatih ketangkasannya di tebing curam dalam kondisi badai, pijakannya hancur. Arya jatuh. Tubuhnya menghantam karang tajam sebelum terempas ke tanah yang keras. Tulang rusuknya retak, darah merembes membasahi tanah kering.
Namun, alih-alih merintih, Arya justru tertawa parau di ambang kesadarannya. Ia menyeret tubuhnya yang mati rasa, kuku-kukunya menancap ke tanah demi bisa bangkit berdiri.
"Hanya segini?" geramnya pada semesta.
"Runa mungkin menderita lebih hebat di luar sana."
Ia tidak peduli pada luka yang menganga. Baginya, rasa sakit fisik adalah pengalih perhatian yang sempurna dari rasa sakit di hatinya.
Setiap tetes keringat dan darah yang jatuh hanya mempertebal tekadnya. Arya sangat yakin, di suatu tempat di bawah langit yang sama, Runa masih bernapas, menunggunya.
"Abang akan membawamu pulang, Runa. Segera."
Kini, Arya bukan lagi pemuda yang dulu mereka remehkan. Ia telah menjelma menjadi badai yang tenang. Ia membentuk ototnya untuk menjadi perisai bagi adiknya, dan mengasah kecerdasannya untuk menjadi algojo bagi mereka yang telah menghancurkan keluarganya. Siapapun yang terlibat, tidak akan ada tempat untuk bersembunyi.
Setelah kondisinya kembali pulih, ia mengambil peta dan menjabarkannya di meja, mengambil pensil dan mulai berpikir kritis, memindai setiap nama kota yang memiliki potensi keberadaan adik kembarnya. Tak berhenti di sana, seorang abang protektif mulai mempelajari tujuh kota yang akan ia kunjungi, mulai dari kedaulatan, budaya serta adab di tempat-tempat keramat melalui sumber internet terpercaya.
Dua jam berlalu begitu cepat, catatan perjalanan sudah berada dalam genggaman tangannya. "Bersabarlah, dik. Abang akan menemukanmu, aku berharap kau tetap bertahan sampai waktu itu tiba," lirihnya disertai melantunkan keinginannya dalam doa.
"Aku akan membawamu kembali ke rumah," sambungnya sembari memandang bingkai foto Aruna di dinding. Senyuman manis, wajah imut serta kerlingan mata gadis kecil dalam potret masa kecil membangkitkan sifat pantang menyerah.
Pendekar muda memasuki ruang senjata, tempat dimana keluarganya menaruh berbagai macam cadangan perlengkapan perang. Di sudut ruangan terlihat pedang, keris dan gelang yang memiliki kesaktian mandra guna tersimpan rapi dalam kotak kaca.
"Apakah ini saatnya aku menggunakan kekuatan sinar keadilan abadi?" tanyanya pada diri sendiri, jelas ragu mengingat tak sembarangan orang mampu menaklukkan kekuatan besar milik kakek moyangnya.
Zaman dulu, kakek buyutnya harus mengikuti pelatihan super ketat untuk menguasai ilmu tersebut. Latihan pernapasan, bela diri, kelihaian dan ahli membaca situasi di setiap pertarungan untuk memberantas orang-orang fasik tak beretika.
Kini Arya mengikuti jejak beliau demi bersatu kembali dengan adik kembarnya lantaran saat ini hanya dialah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Hari berubah menjadi minggu, pekan bergulir menjadi satu bulan, tatapannya tajam menuju langit biru cerah diiringi awan putih.
"Waktunya sudah tiba!"
Pemuda berkulit sawo matang mengemasi barang-barangnya tanpa lupa membawa tiga benda penting terselip di pinggang dan tangannya.
"Aku sudah berhasil menguasai kekuatan sinar keadilan abadi. Saatnya mencaritahu kebenaran, menuntut keadilan atas apa yang mereka berani lakukan pada keluargaku!"
Amarahnya memuncak meski berusaha tetap tenang, menekan batin agar memilih hati nurani dibanding pikiran bengkok balas dendam, jelas tidak mau membungkuk ke tingkat rendah penjahat. Arya menarik napas panjang sebelum menghembuskannya keluar perlahan, memandang rumah sederhana yang akan ia tinggal entah sampai kapan sebelum melangkah menjauh dari rumah.
Harapan dan keadilan selalu hadir kemanapun ia pergi, pedangnya tertanam dengan aman di tempatnya, siap sedia jika harus digunakan. Ia tahu perjalanannya akan panjang dan tidaklah mudah, tapi bermodalkan kemahiran bela diri, kepintaran, tekad, keyakinan serta semangat menghadirkan rasa percaya bahwa bisa terus maju.
Di tengah perjalanan, pengembara mendengar kabar burung tidak mengenakkan saat ia sedang makan di salah satu kedai. Tiga orang di meja seberang membicarakan tentang insiden di kota lain yang juga terasa janggal.
"Tau gak, sih kabar di Kota Hujan? Ada yang bilang lihat kejadian di luar nalar," celetuk pemuda berkacamata dengan gaya anak kuliahan.
"Tahu! Ada yang bilang melihat sekte sesat melakukan ritual aneh," ungkap gadis yang terlihat cerdik.
"Kurasa ada penyihir yang ingin menguasai tanah air kita, Indonesia," respons laki-laki muda mengenakan topi merah asal bicara.
"Amit-mait jabang bayi! Jangan sampai begitu. Indonesia sudah pernah di jajah berabad-abad, masa mau di jajah lagi sama penyihir, sih!" geram satu-satunya perempuan di sana, memutar bola matanya malas seraya melipat kedua tangan di dada.
"Kok marah? Aku cuma mengatakan opini. Lagi pula di dunia ini mana ada penyihir," jawab lawan bicara sedikit ketus.
"Masalahnya omongan itu doa! Bisa, gak kalau bicara yang baik-baik aja?" tutur pemuda berkacamata menasihati.
"Dunia ini penuh misteri tak terpecahkan, jadi mungkin penyihir benar-benar ada," sambungnya.
"Oh, iya benar juga. Maaf, aku janji gak akan asal ngomong lagi" keluh pemuda bertopi merah menyadari kesalahannya.
Mendengar percakapan tersebut dengan kekuatan kalung merah dilema, pengembara meninggalkan beberapa uang kertas di atas meja sebelum teleportasi menuju kota pertama, Bogor.
"Aruna, perjalananku dimulai dari sini. Aku janji tidak akan pernah menyerah sebelum berada di sampingmu lagi. Aku bersumpah pada diriku sendiri, setelah menemukanmu abang akan berusaha keras menjadi saudara yang lebih baik lagi. Semoga kamu masih menginjakkan kaki di dunia ini, adikku tersayang."
Di balik tujuh kota pada langit yang sama menunggu kehadiran pengembara. Tinta takdir menggoreskan perjalanan penuh lika-liku mengarungi dunia penuh misteri. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, hanya berpegang teguh pada pepatah setelah gelap terbitlah terang.