

Di desa Seri Makmur, yang terletak di kaki gunung Berapi Tidur dengan hamparan sawah yang membentang seperti kain hijau yang direntangkan rata, ada seorang pemuda bernama Rian yang baru saja menginjak usia dua puluh tahun. Ia tinggal di rumah kayu tua yang berdiri kokoh di pinggir desa, tepat di belakang kebun sayuran yang dikelolanya sendiri. Rumah itu adalah warisan dari kakeknya, Buya Soleh, yang wafat tiga tahun lalu setelah menghabiskan hampir tujuh puluh tahun hidupnya di desa yang damai ini. Dinding rumah masih dipenuhi dengan ukiran kayu yang dibuat oleh Buya Soleh sendiri—gambaran burung-burung yang terbang, pepohonan yang menjulang tinggi, dan pola-pola geometris yang mengingatkan pada keindahan alam sekitar desa.
Rian bukanlah orang yang suka mencari perhatian atau terlibat dalam urusan orang lain. Kebanyakan hari, ia akan bangun saat suara ayam jantan pertama kali menyambut fajar, sekitar pukul lima pagi tepatnya. Ia akan keluar ke teras rumah sambil mengusap mata yang masih mengantuk, mengambil ember bambu yang sudah siap, lalu pergi ke sumur tua di belakang rumah untuk mengambil air bersih. Sumur itu sudah ada sejak zaman nenek moyangnya, dengan tembok yang dibangun dari batu bata merah yang telah mengeras seperti batu alam. Airnya selalu dingin dan segar, bahkan di hari-hari terik musim kemarau yang membuat tanah desa mengering dan retak.
Setelah mengisi ember dengan air, Rian akan memasak air untuk membuat teh hangat. Ia biasanya menggunakan daun teh yang dikeringkan dari pohon teh yang tumbuh di sudut kebun, dicampur dengan sedikit bunga melati yang memberikan aroma harum yang khas. Sambil menikmati tehnya, ia akan duduk di teras yang dilapisi dengan tikar anyaman bambu, melihat ke arah gunung yang puncaknya sering tertutup kabut putih. Kadang-kadang ia bisa melihat kawanan monyet kecil yang melompat-lompat dari satu pohon ke pohon lain di lereng bawah gunung, atau burung elang yang terbang perlahan di atas awan, mencari mangsa di hamparan hutan yang lebat di kaki gunung.
Setelah sarapan—biasanya nasi hangat dengan lauk sederhana seperti tempe bakar atau telur balado yang dibuatnya semalam—Rian akan pergi ke kebun sayurannya yang terletak tidak jauh dari rumah. Kebun itu tidak terlalu luas, hanya sekitar setengah hektar, namun di dalamnya ada berbagai jenis tanaman yang tumbuh subur: kubis berwarna hijau tua yang kepalanya besar dan padat, kangkung yang tumbuh di kolam kecil yang dibuat secara manual, tomat yang berwarna merah cerah menggantung di rantingnya, cabai yang hijau dan merah membentuk tandan, serta berbagai jenis sayuran lain seperti bayam, mentimun, dan kacang panjang. Rian merawat kebun itu dengan penuh cinta dan kesabaran—ia tidak pernah menggunakan pupuk kimia atau pestisida, seperti yang diajarkan oleh Buya Soleh. Alih-alih itu, ia menggunakan pupuk kompos dari kotoran sapi yang diperoleh dari peternakan Pak Slamet yang tinggal di ujung desa, dan menggunakan larutan daun pepaya untuk mengusir hama yang mungkin menyerang tanamannya.
Hari itu berbeda dari biasanya. Saat Rian sedang menyiram kubis dengan selang air yang terbuat dari bambu berlubang, ia mendengar suara yang aneh—suara seperti tangisan yang lembut namun jelas terdengar di antara kebisingan daun-daun yang bertiup angin. Ia berhenti menyiram dan mendengarkan dengan cermat, mencoba mencari sumber suara itu. Setelah beberapa saat, ia mendengarnya lagi, kali ini lebih jelas dan tampaknya berasal dari arah pagar bambu yang membatasi kebunnya dengan hutan kecil di belakangnya.
Rian meletakkan selang bambunya dengan hati-hati dan berjalan menuju pagar bambu itu. Pagar yang terbuat dari bambu yang dikeringkan dan diikat dengan tali rotan sudah mulai sedikit lapuk di beberapa bagian, dengan beberapa celah yang cukup besar untuk memungkinkan hewan kecil masuk ke kebun. Saat ia mendekati salah satu celah yang lebih besar, ia melihat seekor burung kecil berwarna biru muda yang sedang terbaring di tanah, sayap kirinya tertekuk dan tidak bisa digerakkan. Burung itu terus mengeluarkan suara tangisan yang lembut, matanya yang besar dan hitam penuh dengan kesusahan.
"Oh sayang sekali," ucap Rian dengan lembut, merendahkan tubuhnya agar bisa melihat burung itu dengan lebih jelas. Ia tidak langsung menyentuhnya—Buya Soleh pernah mengajarkannya bahwa hewan yang terluka biasanya akan merasa takut dan bisa menggigit atau menyengat jika disentuh secara tiba-tiba. Alih-alih itu, Rian pergi ke rumah untuk mengambil kain bersih yang biasanya digunakan untuk mengeringkan pakaian setelah dicuci, dan sepotong kayu kecil yang bisa digunakan sebagai tempat untuk membawa burung itu.
Ia kembali ke tempat burung itu berada dengan berjalan perlahan, berbicara dengan suara yang lembut agar burung itu tidak merasa terancam. "Tenang saja ya... aku tidak akan menyakitimu," katanya sambil perlahan-lahan mendekati burung itu. Setelah merasa burung itu sudah lebih tenang, ia menggunakan kain bersih untuk menyelimuti tubuh burung itu dengan hati-hati, lalu mengangkatnya dengan lembut dan meletakkannya di atas potongan kayu kecil yang sudah disiapkan.
Saat ia memeriksa kondisi burung itu dengan cermat, ia menemukan bahwa salah satu kakinya patah—tulangnya sudah keluar sedikit dari kulitnya dan terdapat bekas luka yang sudah mulai mengeluarkan darah sedikit. Rian merasa prihatin melihatnya, tapi ia tidak panik. Buya Soleh pernah mengajarkannya cara merawat hewan yang terluka, terutama burung yang sering terluka karena terjebak di pagar atau terkena serangan dari hewan lain.
Ia membawa burung itu ke rumah dan meletakkannya di atas meja kayu yang biasa digunakan untuk mengukir. Ia mengambil kotak pertolongan pertama kecil yang disimpan di lemari kayu di dapur—kotak itu berisi berbagai peralatan sederhana seperti kapas, alkohol untuk membersihkan luka, tali kecil yang kuat, dan tusuk gigi yang sudah tidak terpakai. Rian membersihkan luka pada kaki burung itu dengan hati-hati menggunakan kapas yang dibasahi alkohol, berhati-hati agar tidak menyakiti burung itu lebih jauh. Setelah luka bersih, ia menggunakan dua tusuk gigi kecil sebagai penyangga untuk tulang yang patah, lalu mengikatnya dengan tali kecil yang kuat namun fleksibel. Ia membungkus bagian luka dengan kain bersih yang sudah dibasahi dengan air hangat, lalu mengikatnya dengan hati-hati agar tidak terlalu ketat tapi cukup kuat untuk menjaga posisi tulang yang sedang sembuh.
Setelah selesai merawatnya, Rian membuat sebuah kandang kecil sementara dari bambu dan anyaman rotan. Ia menempatkan beberapa daun segar dan sedikit biji-bijian di dalam kandang, serta ember kecil yang diisi dengan air bersih. Ia meletakkan burung itu di dalam kandang dengan lembut, lalu menempatkan kandang itu di sudut teras yang teduh agar tidak terkena sinar matahari langsung.
Selama beberapa hari berikutnya, Rian memberikan perawatan yang penuh perhatian pada burung itu. Ia mengganti pembalut luka setiap hari dengan hati-hati, memberikan makanan dan air yang cukup, dan sering berbicara dengan burung itu dengan suara lembut agar ia tidak merasa kesepian. Kadang-kadang ia bahkan menyanyi lagu-lagu rakyat yang diajarkan oleh Buya Soleh, lagu-lagu yang memiliki irama santai dan lirik yang bercerita tentang alam dan kehidupan desa.
Hari demi hari berlalu, dan kondisi burung itu mulai membaik. Mulai dari hanya bisa berdiri dengan sulit, akhirnya ia bisa berjalan sedikit di dalam kandang, bahkan kadang-kadang mengepakkan sayapnya dengan hati-hati. Rian merasa senang melihat perkembangan burung itu—setiap kemajuan yang dicapai oleh burung itu membuat hatinya merasa hangat dan puas. Ia merasa seperti sedang merawat bagian dari alam yang perlu diperhatikan dan dijaga.
Pada hari kelima setelah merawat burung itu, Rian menemukan bahwa burung itu sudah bisa berdiri dengan stabil dan mengepakkan sayapnya dengan lebih kuat. Ia memutuskan bahwa sudah saatnya untuk melepaskannya kembali ke alam bebas. Ia membawa kandang itu ke kebun, di tempat di mana ia pertama kali menemukan burung itu, lalu membuka pintu kandang dengan hati-hati.
Burung itu keluar dari kandang dengan perlahan, berpijak di atas pagar bambu yang tingginya cukup untuk membuatnya bisa terbang. Ia mengepakkan sayapnya beberapa kali, lalu menoleh ke arah Rian seolah-olah mengucapkan terima kasih. Rian tersenyum dan mengangguk perlahan. "Pergilah... kembali ke keluarga dan teman-temanmu ya," katanya dengan lembut.
Namun, burung itu tidak langsung terbang pergi. Sebaliknya, ia terbang mendekati Rian dan hinggap di bahunya dengan hati-hati. Rian merasa sedikit terkejut tapi tidak bergerak, membiarkan burung itu berada di bahunya. Setelah beberapa saat, burung itu membuka paruhnya dan mengeluarkan sebutir biji kecil yang berwarna keemasan dan memiliki kilauan yang indah seperti permata. Biji itu jatuh dengan lembut ke telapak tangan Rian yang secara naluriah terbuka untuk menerimanya.
Setelah memberikan biji itu, burung itu mengepakkan sayapnya dengan kuat dan terbang menjauh, terbang tinggi ke arah langit yang biru cerah. Rian berdiri diam sejenak, menatap burung itu hingga akhirnya hilang di balik awan putih yang melayang di atas puncak gunung. Ia menatap biji keemasan di telapak tangannya—biji itu tidak terlalu besar, sekitar sebesar ibu jari, dengan permukaan yang halus dan memiliki pola yang indah seperti goresan alam itu sendiri.
Ia tidak tahu apa artinya biji itu atau dari mana asalnya, tapi ia merasa bahwa ini adalah sesuatu yang penting dan berharga. Buya Soleh pernah bilang bahwa alam tidak pernah memberikan sesuatu tanpa alasan—setiap hadiah yang diberikan oleh alam memiliki makna dan tujuan yang harus dihargai dan dijaga dengan baik.
Rian memutuskan untuk menanam biji itu. Ia berpikir bahwa jika biji itu berasal dari alam, maka tempat yang paling tepat untuknya adalah kembali ke dalam tanah. Ia pergi ke sudut kebun yang jarang ia sentuh—sudut yang terletak di paling belakang kebun, di dekat pagar bambu yang menghadap ke hutan. Tempat itu cukup teduh karena ada beberapa pohon besar yang tumbuh di sana, dan tanahnya tampak subur dengan banyak daun yang sudah membusuk dan menjadi pupuk alami.
Ia mengambil cangkul kecil yang biasa digunakan untuk menggali tanah di kebun, lalu menggali lubang kecil dengan hati-hati. Ia tidak menggali terlalu dalam, hanya sekitar sepuluh sentimeter saja, seperti yang diajarkan untuk menanam biji-bijian besar. Ia meletakkan biji keemasan itu di dalam lubang dengan hati-hati, lalu menutupinya dengan tanah yang sudah diambil tadi. Setelah itu, ia menyiramnya dengan air dari sumur tua, memberikan cukup air untuk membuat tanah lembab tapi tidak terlalu basah.
Setelah selesai menanam bijinya, Rian duduk di tanah sambil bersandar pada salah satu pohon besar di sekitarnya. Ia melihat ke arah langit yang masih cerah, berpikir tentang burung itu dan biji yang diberikan padanya. Ia tidak tahu apa yang akan tumbuh dari biji itu—mungkin hanya pohon biasa, atau mungkin sesuatu yang luar biasa. Tapi apa pun yang akan terjadi, ia berkomitmen untuk merawatnya dengan sebaik mungkin, sama seperti cara ia merawat burung itu beberapa hari yang lalu.
Keesokan paginya, seperti biasa, Rian bangun saat fajar masih belum terbit. Ia pergi ke sumur untuk mengambil air, lalu menyiapkan teh hangat untuk sarapan. Setelah itu, ia berjalan ke kebun seperti biasa, berniat untuk menyiram tanamannya dan memeriksa kondisi sayuran yang tumbuh di sana. Namun, ketika ia melewati sudut kebun tempat ia menanam biji keemasan semalam, ia terpaku dengan apa yang dilihatnya.
Biji itu telah tumbuh menjadi pohon kecil yang sudah setinggi pinggangnya. Batangnya berwarna coklat keemasan dengan permukaan yang halus seperti kayu mahkota, dan daun-daunnya berwarna hijau muda dengan kilauan seperti permata yang bersinar saat terkena sinar matahari pagi. Di ujung ranting terkecil yang tumbuh dari batang utama, ada sebuah buah bulat yang berwarna putih keemasan dengan permukaan yang licin dan mengkilap seperti mutiara. Pohon itu bahkan mengeluarkan aroma harum yang khas, seperti campuran bunga melati dan buah mangga yang matang.
Rian berdiri diam sejenak, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menggosok matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi, tapi pohon kecil yang indah itu tetap ada di depannya. Ia mendekati pohon itu dengan langkah yang sangat perlahan, seolah-olah takut akan menghancurkan sesuatu yang rapuh dan berharga. Ia menyentuh daunnya dengan ujung jari—rasanya seperti kain sutra yang paling lembut yang pernah ia sentuh, dengan suhu yang sedikit lebih hangat dari suhu udara sekitarnya.
Tiba-tiba, suara lembut dan merdu terdengar dari arah pohon itu, seolah-olah angin yang sedang berbisik: "Terima kasih telah merawat burung itu, anak muda. Kamu telah menunjukkan kebaikan dan kesabaran yang jarang ditemukan pada orang-orang di zamannya."
Rian melompat sedikit karena terkejut, melihat sekelilingnya untuk mencari sumber suara. Tak seorang pun ada di kebun selain dirinya dan pohon kecil yang ajaib itu. Ia melihat kembali ke arah pohon itu, matanya penuh dengan keheranan dan rasa ingin tahu yang mendalam.
"Jangan takut," lanjut suara itu, kali ini terdengar lebih jelas dan penuh dengan kehangatan. "Saya adalah Pohon Keajaiban dari Dunia Lain—dunia yang berada di balik tirai alam yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa. Burung yang kamu rawat adalah utusan kami, yang dikirim untuk mencari orang yang memiliki hati yang baik dan bersih untuk menerima pesan kami."
Rian menelan ludahnya dengan susah payah, merasa sedikit tertegun tapi tidak merasa takut. Malahan, ia merasa rasa penasaran yang semakin besar dan keinginan untuk tahu lebih banyak tentang pohon ajaib itu dan dunia lain yang disebutkannya. "Apa yang kamu maksud dengan pesan?" tanyanya dengan suara yang sedikit gemetar tapi tetap jelas.
"Buah yang kamu lihat di ranting saya adalah buah pintu—buah yang bisa membuka jalan menuju Dunia Lain yang saya sebutkan tadi. Namun, kamu tidak bisa mengambilnya begitu saja atau memasuki dunia itu tanpa persiapan. Kamu harus menyelesaikan tiga tugas kecil sebelum buah itu matang dan siap untuk dibuka. Tugas-tugas itu tidak sulit, tapi membutuhkan kesabaran, kehati-hatian, dan hati yang tulus."
Rian mengangguk perlahan, merasa bahwa ini adalah panggilan yang tidak bisa ia abaikan. Buya Soleh pernah bilang bahwa setiap orang akan mendapatkan kesempatan khusus dalam hidupnya—kesempatan yang bisa mengubah jalannya hidup jika mereka berani untuk menerimanya. Mungkin ini adalah kesempatan yang dimaksud oleh kakeknya. "Apa saja tugas yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan suara yang lebih tenang dan yakin.
"Tugas pertama akan saya beritahu padamu sekarang. Kamu harus mencari tiga jenis bunga yang sangat langka dan hanya tumbuh di lereng gunung Berapi Tidur di sebelah timur desa. Bunga-bunga itu memiliki nama yang unik: 'Matahari Malam', 'Bulan Pagi', dan 'Bintang Siang'. Setiap bunga memiliki ciri khas yang berbeda dan tumbuh di tempat yang berbeda pula. Kamu harus mengambilnya dengan hati-hati, tanpa menyakiti akarnya atau merusak lingkungan sekitar tempat mereka tumbuh."
Rian mengangguk lagi, mengingat bahwa ia pernah mendengar tentang lereng gunung di sebelah timur desa dari cerita Buya Soleh. Lereng itu tidak terlalu tinggi atau berbahaya, tapi jarang ada orang yang pergi ke sana karena dianggap sebagai tempat yang suci oleh sebagian penduduk desa. Ia pernah melihat beberapa jejak jalan yang tidak terawat saat ia pergi mencari kayu bakar beberapa tahun yang lalu, jadi ia memiliki gambaran umum tentang arah yang harus ditempuh.
"Baiklah," katanya dengan suara yang penuh keyakinan. "Saya akan mempersiapkan diri dan pergi besok pagi. Saya akan mencari bunga-bunga itu dengan sebaik mungkin."
"Baiklah, anak muda. Semoga kamu berhasil. Ingatlah—kesabaran adalah kunci utama dalam setiap perjalanan yang berharga. Saat kamu kembali dengan tiga bunga itu, saya akan memberitahu kamu tentang tugas kedua yang harus kamu lakukan."
Suara itu kemudian menghilang, dan hanya terdengar suara angin yang bertiup lembut melalui daun-daun