

Lampu neon di langit-langit berdengung rendah. Zzzt… Zzzt…
Suaranya seperti mesin tua yang sedang standby. Menunggu pemicu.
Jam dinding digital menunjukkan pukul 02:17.
Jakarta sedang dalam mode hening. Tidak ada klakson, hanya suara knalpot racing dari motor bebek yang melintas jauh di jalan raya, terdengar seperti raungan monster yang kesepian.
Arya berdiri tegak di lorong minuman. Posturnya kaku, dadanya membusung sedikit—bukan karena sombong, tapi karena postur yang buruk adalah musuh ketertiban.
Di matanya, dunia adalah grid. Garis-garis imajiner membentang.
Botol teh kemasan itu miring 3 derajat.
Koreksi.
Tangannya bergerak cepat, patah-patah, namun presisi.
Geser. Putar. Kunci.
"Sempurna," bisiknya.
Di meja kasir, Bimo tidur dengan mulut terbuka. Liurnya menetes. Bagi Arya, Bimo hanyalah NPC (Non-Playable Character) yang sedang glitch.
Tidak perlu dipedulikan.
Tiba-tiba, udara berubah.
Dingin AC terasa lebih menusuk. Bau ozon—seperti bau kabel terbakar—tercium samar.
KRING!
Pintu kaca otomatis terbuka. Bukan didorong, tapi seolah terhempas oleh aura yang masuk.
Seorang pria masuk. Jaket kulit imitasi, helm full face kaca gelap yang tidak dilepas. Langkahnya berat.
Dug. Dug. Dug.
Setiap langkahnya membuat lantai keramik bergetar halus. Seperti ada pemberat timah di kakinya.
Arya tidak menoleh secara langsung. Ia melirik dari pantulan kaca lemari pendingin.
"Helmnya, Mas," tegur Arya tanpa berbalik. Suaranya datar tapi bertenaga.
Pria itu tidak menjawab. Dia berjalan lurus ke arah kasir, menabrak rak chiki.
BRAK!
Bungkus makanan ringan berhamburan. Tatanan warna yang sudah Arya susun selama dua jam, hancur dalam sedetik.
Darah Arya berdesir panas.
Bukan takut.
Marah.
Pria itu mencengkeram kerah baju Bimo yang sedang tidur, mengangkat tubuh gempal itu dengan satu tangan seolah Bimo adalah boneka kapas.
"UANG... MANA... ENERGI..."
Suara dari balik helm itu terdengar ganjil. Seperti suara radio rusak yang diputar di dalam kaleng. Terdistorsi. Bukan suara manusia Jakarta biasa.
Bimo menjerit, kakinya menendang-nendang udara. "TOLONG! ARYA! SETAN!!"
Pria berhelm itu melempar Bimo ke arah tumpukan kardus mi instan.
DUAGH!
Kardus penyok. Bimo pingsan seketika.
Lantai kotor. Barang rusak. Rekan kerja dilukai.
Ketidaktertiban tingkat maksimal.
Arya memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Saat matanya terbuka, tatapannya tajam.
Ia memutar lehernya. Krek.
Memutar pergelangan tangan. Krek.
Gerakan pemanasan yang kaku, tapi ritmis.
Seperti aktor yang bersiap melakukan adegan berbahaya tanpa kabel pengaman.
"Woi," panggil Arya.
Pria berhelm itu menoleh. Kaca helmnya hitam pekat, tapi Arya bisa merasakan tatapan lapar dari baliknya.
"Lu ngerusak toko gue," kata Arya sambil melangkah keluar dari lorong.
Langkahnya tegap. Tidak lari. Ia berjalan mendekat dengan tempo yang stabil.
Pria berhelm itu menggeram, lalu berlari menerjang. Tangannya terayun lurus—pukulan hook liar yang bisa mematahkan rahang.
Di mata orang biasa, itu cepat.
Di mata Arya, itu adalah koreografi yang buruk.
ZOOM.
Arya merendahkan kuda-kuda, memiringkan kepala sedikit ke kiri.
Tinju berbalut sarung tangan kulit itu lewat satu inchi di samping telinganya. Angin pukulan mengibarkan rambut poni Arya.
COUNTER.
Tanpa melihat, tangan kanan Arya menghantam ulu hati pria itu.
Pukulan lurus. Padat. Efektif.
BUAGH!
Pria itu mundur tiga langkah, memegangi dadanya. Suara benturannya terdengar berat, seperti memukul karung pasir basah. Ada percikan bunga api imajiner di titik benturan.
"Cuma segitu?" tanya Arya. Dia mengibaskan tangannya, seolah membuang debu.
Pria itu meraung—kali ini suaranya jelas bukan manusia. Seperti gabungan suara serigala dan gesekan besi. Dia mencabut pisau belati dari pinggang. Bilahnya menyala merah samar di bawah lampu neon.
"MATI... KAU...!"
Dia menerjang lagi. Kali ini membabi buta.
Sraak! Sraak!
Ujung pisau menyayat udara, memotong bungkus roti di rak.
Arya melompat mundur. Backflip pendek, mendarat dengan satu lutut di atas meja kasir.
Posisi tinggi. High ground.
Lampu neon di atasnya berkedip gila-gilaan. Strobo light. Menciptakan efek stop-motion pada setiap gerakan mereka.
"Di Jakarta..." Arya berdiri tegak di atas meja kasir, bayangannya memanjang menutupi si perampok. "...kita antre kalau mau bayar."
Arya melompat.
Tubuhnya melayang di udara. Kaki kanannya lurus ke depan, membidik dada lawan. Gravitasi dan momentum bersatu.
Gaya Showa klasik. Tanpa efek CGI berlebihan. Hanya fisika murni dan niat membunuh.
"HAAAA!!"
KICK!
Tumit sepatu kets Arya menghantam dada pria berhelm itu tepat di tengah.
DUAARR!
Bukan ledakan api, tapi ledakan tenaga.
Pria itu terpental deras ke belakang, menghantam pintu kaca hingga pecah berantakan—PRANG!—dan berguling sampai ke aspal parkiran.
Alarm toko meraung. Wiu-wiu-wiu.
Arya mendarat dengan pose sempurna. Satu lutut di lantai, satu tangan menopang tanah. Kepala menunduk.
Hening sejenak.
Hanya suara pecahan kaca yang jatuh satu per satu.
Pria berhelm itu tidak bangun lagi. Tubuhnya berasap samar, lalu meleleh menjadi cairan hitam berbau oli bekas.
Arya berdiri perlahan, menepuk-nepuk celananya.
Dia menatap cairan hitam itu.
"Sampah jenis apa lagi itu?" gumamnya jijik.
"Susah dibersihinnya."
Tiba-tiba, suara dengungan lampu berubah menjadi nada digital yang jernih.
Suara yang tidak datang dari telinga, tapi langsung ke dalam otak.
Suara Belt Driver yang ikonik.
[ SYSTEM DETECTED ]
[ JUDGEMENT: COMPLETED ]
Sebuah sabuk cahaya melingkar muncul samar di pinggang Arya. Hologram berwarna merah menyala, berputar seperti turbin mesin jet.
[ LOGIN: ARYA WIBOWO ]
[ CODE NAME: SATRIA ]
[ DO YOU WANT TO INSTALL? ]
Arya menatap pinggangnya. Cahaya itu menerangi wajahnya yang kaku.
Bagi orang lain, ini gila.
Bagi Arya, antarmuka sistem itu... sangat rapi. Font yang simetris. Warna yang seimbang.
Sudut bibirnya terangkat. Dia mengangkat tangan kanannya, menyapu udara di depan dada, lalu mengepalkan tinju di samping pinggang. Pose siaga.
"Kalau ini bisa bikin Jakarta lebih rapi..."
Mata Arya bersinar dalam gelap.
"...Ayo mulai."