Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
KSATRIA PENJAGA SELIR - SELIR CANTIK

KSATRIA PENJAGA SELIR - SELIR CANTIK

Esme Aldaris | Bersambung
Jumlah kata
21.3K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / KSATRIA PENJAGA SELIR - SELIR CANTIK
KSATRIA PENJAGA SELIR - SELIR CANTIK

KSATRIA PENJAGA SELIR - SELIR CANTIK

Esme Aldaris| Bersambung
Jumlah Kata
21.3K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
FantasiIsekaiNagaPedangIsekai
Mahessa Anggara, pemuda polos yang harus menerima kenyataan, kedua orang tuanya dan adik perempuannya, dibunuh secara brutal oleh kawanan perguruan tengkorak, yang saat itu mengincar anak gadis perawan. Mahessa berlari kencang dengan air mata deras, dan suatu ketika tubuhnya masuk ke sebuah jurang , dan saat sadar dia melihat sebuah goa besar dan masuk ke dalamnya tembus menuju istana megah yang dikelilingi oleh naga, disitulah dia berguru dan menjadi murid terkuat, namun dia harus mengemban banyak tugas untuk melindungi warga dari serangan kawanan siluman tengkorak. Akankah Mahesaa berhasil mengemban tugas ini, baca kelanjutan ceritanya di setiap babnya ya.
BAB.1 DARAH DI TANAH LELUHUR

Angin sore membawa bau tanah basah dan rumput liar ketika Mahesaa Anggara berjalan pulang melewati hutan kecil di belakang rumahnya. Pemuda tujuh belas tahun itu masih mengenakan baju kerja ladang, peluh menempel di pelipis, namun senyum kecil tak pernah hilang setiap ia membayangkan wajah adik perempuannya, Kirana, yang pasti akan menyambutnya sambil berlari kecil.

Namun hari itu…

Tak ada suara adiknya.

Tak ada aroma masakan ibunya.

Tak ada lantunan hum pelan yang biasanya keluar dari jendela dapur.

Yang ada hanya… sunyi.

Sunyi yang terlalu dingin untuk ukuran sebuah rumah.

Mahesaa berdiri terpaku di depan pintu yang terbuka setengah. Helaan napasnya terhenti ketika angin mengibaskan tirai dari dalam… membawa sesuatu yang seolah menggelayut di udara: bau anyir.

“Bu?”

Tak ada jawaban.

“Ayah?”

Kesunyian menelan suaranya.

Dengan langkah ragu ia masuk.

Dan di sanalah dunia Mahesaa runtuh.

Di tengah ruang keluarga, ibunya tergeletak. Matanya membelalak kosong, seolah masih memohon seseorang datang menolong. Darah menghitam menggenang di bawah tubuhnya. Tubuh halus yang selalu memeluk Mahesaa saat ia takut kini tercerai-berai oleh kekejaman yang tak manusiawi.

Mahesaa tidak bisa bergerak. Tenggorokannya tercekat oleh sesuatu yang bukan hanya rasa sakit, tapi ketakutan yang membatu.

“Bu…?”

Suara itu pecah, lirih, nyaris bukan suaranya sendiri.

Ia menunduk, menahan mual, lalu berlari mencari dua orang lain yang paling ia cintai.

Di dapur.

Terlihat kaki ayahnya yang terbujur dari balik meja makan. Mahesaa menjerit dan berlutut, mengguncang tubuh ayahnya yang penuh luka sabetan. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah ayahnya yang masih hangat, namun sudah tak bernyawa.

“Ayah bangun, Ayah… tolong…”

Namun bahkan dunia seperti sedang menertawakannya, karena tak ada yang tersisa untuk diselamatkan.

Dan… Kirana.

Mahesaa nyaris pingsan ketika mendapati pintu kamar adiknya terbuka, dan lantai kayu penuh jejak langkah penuh darah. Di sudut kamar, Kirana menghilang, dan ada bekas gaun yang sudah disobek paksa. Sementara di dinding, simbol yang Mahesaa kenali dari cerita rakyat setempat tergores dengan darah:

Simbol Tengkorak Merah. Sebuah tda perguruan iblis pemuja gadis perawan.

Mahesaa hanya bisa memeluk bantal dan guling Kirana, sampai tubuhnya bergetar hebat, matanya terus mengelilingi area rumahnya, entah dibawa kemana, Kirana.

“Maaf… Kirana… Kakak terlambat… Kakak nggak ada di sini buat lindungi kamu…”

Tangisnya pecah, keras dan pilu, namun hutan di luar tetap sunyi… seolah menjadi saksi betapa kecil dan rapuhnya seorang pemuda yang baru saja kehilangan segalanya.

Mahesaa menoleh tiba-tiba ketika mendengar suara langkah dari luar rumah, suara berat, seret, dan berirama.

Ia berdiri perlahan.

Bayangan-bayangan hitam memenuhi halaman.

Mata mereka merah menyala.

Kulit mereka seputih tulang.

Di tangan mereka, senjata logam bengkok memantulkan warna darah di sore yang terbenam.

Perguruan Tengkorak.

“Lihat, bocah itu selamat.”

“Dia pasti anak yang kabur tadi. Bunuh saja.”

Mahesaa tak berpikir panjang. Ia meloncat keluar jendela, lari sekuat tenaga, menembus semak dan akar pohon, napasnya saling melukai paru-paru.

Tangisan masih mengalir, namun kini berubah menjadi teror murni.

Di belakang, suara langkah para pemburu itu menghantam tanah seperti gong kematian.

Teriakan mereka menggema, hampir menelan suara jantung Mahesaa sendiri.

“Kejar! Jangan biarkan dia kabur!”

Mahesaa berlari sampai kakinya nyaris lumpuh.

Sampai dadanya seperti ditusuk-tusuk.

Sampai penglihatannya mengabur oleh air mata dan rasa kehilangan.

Namun hutan malam tidak memberi belas kasihan.

Sebuah akar pohon menyambar kakinya, membuat tubuhnya terlempar ke depan—

Dan tiba-tiba, tanah di bawahnya hilang.

Mahesaa jatuh.

Ia terjun ke dalam gelap.

Angin memekakkan telinga ketika tubuhnya merosot ke dalam jurang berbatu.

Rasa sakit menghantam setiap inci tubuhnya.

Bayang-bayang wajah ibu, ayah, dan Kirana berkelebat sebelum semuanya berubah hitam total.

Ketika Mahesaa membuka mata, ia tidak lagi berada di tanah, hutan, atau tempat yang ia kenal.

Sebuah lorong batu membentang di depannya.

Dindingnya berwarna perak kehijauan, memantulkan cahaya entah dari mana.

Suara tetesan air memecah hening, bergema panjang dan dalam seperti sebuah ritual kuno.

Mahesaa bangkit dengan susah payah. Luka terasa di sekujur tubuhnya, namun rasa sakit hatinya jauh lebih parah dari luka apa pun.

Ia melangkah masuk.

Di ujung lorong itu, sebuah goa raksasa terbuka,

dan di tengahnya berdiri gerbang megah berwarna emas, mengarah ke sebuah istana berkilap. Atapnya menjulang, ukiran naga melingkar di setiap tiang.

Namun hal yang membuat Mahesaa membeku bukanlah kemegahannya.

Melainkan makhluk-makhluk raksasa yang mengitari istana itu,

para naga yang sisiknya berpendar dalam cahaya gaib.

Salah satu dari mereka membuka mata, pupilnya seperti matahari merah yang murka.

Suara bergemuruh memenuhi seluruh goa.

“Manusia kecil… kenapa kau datang membawa aroma kematian?”

Mahesaa tak mampu menjawab.

Lututnya lemas. Namun rasa sakit dalam dadanya meledak, keluar dalam bentuk suara yang serak dan patah.

“Tolong aku… keluargaku… mereka dibunuh… Aku tidak punya siapa-siapa lagi…”

Para naga saling menatap, seolah menilai jiwa Mahesaa. Dari balik cahaya istana, terdengar lagi suara dari dalam sebuah patung besar hampir mirip patung Dewa.

Suara itu semakin mendekat, seolah - olah merasakan perasaan sakitnya Mahesaa.

“Jika kau masuk gerbang ini, hidupmu tak akan pernah sama lagi.”

“Jalanmu akan penuh darah dan penderitaan.”

“Namun juga… kekuatan.”

Mahesaa mengangkat wajahnya, mata yang dipenuhi kehilangan kini berubah menjadi sesuatu yang berbeda, api dendam yang baru saja lahir dari tragedi.

“Ajari aku…

Buat aku cukup kuat untuk membunuh mereka semua.”

Mahesaa hanya mengangguk.

Patung itu tiba - tiba mengeluarkan sinar merah di matanya.

“Mulai saat ini… kau adalah murid istana naga.

Dan kelak… dunia akan bergetar mendengar namamu.”

Mahesaa mengepalkan tangan, menggenggam rasa sakit yang seolah tidak akan pernah hilang.

Di baliknya, di ujung lorong gelap, suara bisikan para naga menggema:

"Mahesaa Anggara… murid terkuat yang akan datang…”

Dan dari dunia luar yang masih berlumur darah keluarganya, bayangan perguruan tengkorak menanti.

Sementara di lain lokasi, tepatnya di lembah perguruan tengkorak mereka tidak menyadari, kalau suatu saat akan ada harga yang harus mereka bayar karena sudah banyak membantai manusia yang tidak bersalah, di tanah leluhur.

Sering kali Mahesaa pun masih sering memimpikan keluarganya yang sudah terkapar dengan lumuran darah, wajah adik perempuannya yang begitu polos pun juga dibantai secara brutal oleh perguruan tengkorak, dilecehkan dah diruda paksa oleh para murid - murid perguruan tengkorak, mereka mempercayai jika darah perawan segar bisa membangkitkan stamina mereka dan sebagai penguat ilmu mereka.

Dendam yang membara di hati Mahessa begitu mendidih dan dia sudah tidak sabar ingin segera balas dendam dan menghabisi semua perguruan tengkorak.

Lanjut membaca
Lanjut membaca