Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kebangkitan Sang Pemulung

Kebangkitan Sang Pemulung

Qorisky | Bersambung
Jumlah kata
143.4K
Popular
1.3K
Subscribe
429
Novel / Kebangkitan Sang Pemulung
Kebangkitan Sang Pemulung

Kebangkitan Sang Pemulung

Qorisky| Bersambung
Jumlah Kata
143.4K
Popular
1.3K
Subscribe
429
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalSpiritualDunia Masa DepanMisteri
Kevin adalah pemuda desa yang beruntung mendapatkan beasiswa di SMA Nusantara Internasional, sekolah paling bergengsi di kota. Namun, keberuntungan itu berubah menjadi neraka. Karena status sosialnya yang rendah dan penampilannya yang kampungan, Kevin menjadi target bullying utama oleh geng Farhan, anak seorang konglomerat. Untuk bertahan hidup, Kevin harus memulung barang bekas sepulang sekolah, yang membuatnya berkonflik dengan anak jalanan. Situasi memburuk ketika kedekatannya dengan Clarissa, primadona sekolah, memicu kemarahan Farhan lebih jauh. Puncaknya, Farhan dan gengnya mendatangi desa Kevin dan menunjukkan video penyiksaan Kevin kepada ayahnya yang sakit jantung, menyebabkan sang ayah meninggal dunia. Di titik nadir kehancurannya, Kevin mendapatkan 'Sovereign Wealth System'. Kini, dengan kekayaan tanpa batas dan kekuatan sistem di tangannya, Kevin memulai misi balas dendam sistematis untuk menghancurkan mereka yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Bullyan di Sekolah

Hal pertama yang Kevin rasakan adalah porselen putih yang sedingin es menyentuh wajahnya. Namun, rasa dingin itu segera berganti dengan sensasi tercekik saat air keruh berbau kaporit dan urine menusuk masuk ke hidung dan mulutnya. Sebuah tangan besar mencengkeram rambut belakangnya dengan kasar, menekan kepalanya lebih dalam ke dalam lubang toilet yang menjijikkan itu.

"Gimana, Vin? Segar, kan? Bau-bau yang cocok orang miskin seperti kamu!"

Suara tawa meledak di ruangan sempit itu. Kevin berusaha meronta, tangannya mencakar lantai keramik yang licin, mencari tumpuan untuk menarik diri. Namun, sepasang sepatu bot bermerek menginjak punggung tangannya, meremukkan jemarinya ke lantai hingga Kevin ingin berteriak, tapi yang keluar hanya gelembung udara dan air toilet yang tertelan ke tenggorokannya.

"Tahan dulu, Han! Jangan sampai mati sekarang, nggak seru kalau nggak ada mainan besok," celetuk sebuah suara lain, diikuti suara jepretan kamera ponsel.

Brengsek. Mereka merekamnya.

Cengkeraman di rambutnya tiba-tiba dilepaskan. Kevin terbatuk-batuk hebat, menghirup oksigen seolah itu adalah emas yang sangat berharga. Ia tersungkur di lantai toilet, tubuhnya gemetar, seragam putihnya yang sudah kusam kini basah kuyup dan kotor. Di depannya, berdiri tiga orang remaja dengan seragam SMA Nusantara Internasional yang rapi dan mahal. Di tengah mereka, Farhan Adiguna berdiri dengan angkuh, menyisir rambut klimisnya ke belakang sambil menatap Kevin seolah Kevin adalah kotoran yang menempel di sepatunya.

"Kenapa, Vin? Kok diem? Biasanya pemulung kan rajin, ini kok malah tiduran di lantai?" Farhan bertanya dengan nada mengejek yang sangat kental.

Kevin mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Kenapa? Kenapa harus begini lagi? "Gue... gue nggak salah apa-apa, Han..."

"Nggak salah?" Farhan berjongkok di depan Kevin, mencengkeram dagu Kevin dengan kekuatan yang membuat rahangnya terasa mau lepas. "Lo pikir gue buta? Gue lihat tadi di depan perpustakaan. Lo berani-beraninya nyentuh tangan Clarissa."

Kevin menggeleng lemah, matanya perih karena air toilet. "Enggak... bukunya... bukunya jatuh. Gue cuma balikin..."

"Pake pegangan tangan segala?!" Farhan membentak, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Kevin hingga kepalanya terhentak ke samping. "Lo itu sampah, Kevin! Ngaca! Lo itu cuma anak kampung yang beruntung dapet belas kasihan beasiswa di sini. Clarissa itu primadona, dia masa depan Adiguna Group. Orang kayak lo bahkan nggak pantes napas di udara yang sama kayak dia!"

Tapi dia tersenyum padaku tadi, batin Kevin perih. Clarissa adalah satu-satunya orang di sekolah ini yang tidak menatapnya dengan tatapan jijik. Saat Kevin mengembalikan buku sejarahnya yang terjatuh, Clarissa sempat mengucapkan terima kasih dengan tulus. Hanya itu. Hanya interaksi dua detik yang ternyata menjadi tiket menuju neraka pribadinya sore ini.

"Han, lihat nih sepatunya," Raka, salah satu antek Farhan, menunjuk sepatu kain Kevin yang sudah bolong di bagian ujungnya. "Bukannya ini hasil dari tempat sampah yang dia ubel-ubel kemarin sore?"

Farhan tertawa kecil, matanya berkilat jahat. "Oh, iya? Wah, Kevin, lo bawa kuman ke sekolah elit ini? Lo mau nularin penyakit ke kita semua?"

"Gue cuma kerja, Han... Gue butuh uang buat obat Bapak..." Kevin mencoba membela diri, suaranya parau dan bergetar.

Mendengar kata "Bapak", Farhan justru tertawa lebih keras. Ia bangkit berdiri dan tiba-tiba menendang perut Kevin dengan keras. Bugh!

Kevin meringkuk, memegangi perutnya yang terasa seperti dihantam palu godam. Rasa mual menghantamnya seketika. Ia ingin muntah, tapi tidak ada apa pun di perutnya selain air toilet yang tadi tertelan.

"Jangan bawa-bawa bapak lo yang penyakitan itu di depan gue! Orang miskin emang selalu pake kartu keluarga buat cari simpati, ya?" Farhan menginjak bahu Kevin, menekannya ke lantai toilet yang becek. "Denger ya, Sampah. Clarissa itu milik gue. Siapa pun yang berani deketin dia, apalagi orang udik kayak lo, bakal dapet balasan seribu kali lipat."

"Gue... gue nggak deketin dia..." Kevin berbisik, air mata mulai mengalir di sela matanya yang terpejam.

"Masih mau mengelak?" Dino, teman Farhan yang sedari tadi diam, ikut menendang kaki Kevin. "Lo itu nggak tahu diri. Udah numpang di sini, malah berulah. Harusnya lo itu sujud syukur bisa sekolah di sini, bukannya malah sok pahlawan balikin buku."

Farhan mengambil botol air mineral dari tasnya, membukanya, lalu menyiramkan isinya ke kepala Kevin yang sudah basah kuyup. "Tuh, gue kasih air bersih biar lo nggak bau toilet banget. Kasihan gue lihat lo."

Kevin hanya bisa diam. Ia merasa martabatnya sudah hancur berkeping-keping di lantai toilet ini. Ia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa melawan. Ia membenci tubuhnya yang lemah, membenci kemiskinannya, dan membenci fakta bahwa ia sangat membutuhkan beasiswa ini agar bisa mengubah nasib keluarganya.

"Ayo, cabut. Bau di sini makin lama makin nggak enak gara-gara ada dia," ajak Farhan sambil menyeka tangannya dengan tisu basah, lalu melempar tisu bekas itu tepat ke wajah Kevin.

Farhan berhenti di depan pintu toilet, lalu menoleh sedikit. "Oh, satu lagi, Kevin. Besok, kalau lo masih berani masuk kelas atau bahkan berani papasan sama Clarissa, gue pastiin hidup lo bakal lebih menderita dari hari ini. Mungkin bapak lo di desa perlu dapet kabar kalau anaknya di sini jadi bintang film... film dokumentasi toilet."

Tawa mereka bergaung di lorong sekolah yang mulai sepi saat mereka melangkah pergi.

Kevin tetap tergeletak di sana untuk waktu yang lama. Punggungnya terasa nyeri, perutnya melilit, dan hatinya... hatinya terasa kosong sekaligus penuh dengan api yang membara. Ia mengepalkan tangannya yang gemetar di atas ubin dingin.

Kenapa dunia begitu tidak adil?

Setiap tetes air yang jatuh dari rambutnya ke lantai terasa seperti ejekan. Ia teringat wajah ayahnya yang pucat di desa, menaruh harapan besar pada pundaknya. Ayahnya bekerja keras di sawah orang meski jantungnya sering kumat, hanya agar Kevin bisa memakai seragam ini. Tapi sekarang, seragam yang diperjuangkan dengan keringat dan darah itu telah dikotori oleh orang-orang yang merasa diri mereka dewa hanya karena punya uang.

"Brengsek..." Kevin berbisik lirih. Suaranya pecah.

Ia mencoba bangkit, tapi tangannya yang terinjak tadi terasa sangat kaku. Dengan susah payah, ia menyeret tubuhnya ke dinding toilet, bersandar di sana sambil mengatur napas. Bayangan Farhan yang tertawa terus berputar di kepalanya. Bayangan Clarissa yang menatapnya dengan kasihan juga ikut muncul.

Aku benci dikasihani, pikir Kevin tajam.

Dendam itu mulai tumbuh, berakar kuat di dasar jiwanya yang paling dalam. Namun, saat ini, ia hanyalah seorang pemuda desa yang tidak punya apa-apa. Tidak ada kekuatan untuk melawan, tidak ada uang untuk menantang. Ia hanya bisa menelan kepahitan ini bulat-bulat.

Setelah beberapa menit, Kevin memaksa dirinya untuk berdiri. Ia berjalan menuju wastafel dengan langkah gontai. Saat melihat pantulan dirinya di cermin, ia hampir tidak mengenali sosok itu. Wajahnya pucat, pipinya merah bekas tamparan, dan matanya memerah menahan tangis.

Jangan menangis, Kevin. Jangan pernah menangis di depan mereka, ia memperingatkan dirinya sendiri.

Ia membasuh wajahnya dengan air bersih berkali-kali, mencoba menghilangkan bau toilet yang seolah sudah meresap ke dalam pori-porinya. Setiap kali ia menyentuh wajahnya, rasa sakit akibat hantaman Farhan mengingatkannya pada posisinya saat ini.

Ia adalah seorang pecundang. Seorang pemulung. Seorang babu yang bisa diinjak kapan saja.

Kevin merogoh saku celananya, mencari ponsel lamanya yang layarnya sudah retak seribu. Beruntung, ponsel itu tidak terkena air tadi. Ia melihat jam di layar. Sudah jam empat sore. Ia tidak boleh lama-lama di sini. Jika terlambat pulang ke kontrakannya, ia tidak akan punya cukup waktu untuk mencari barang bekas sebelum hari gelap.

Obat ayahnya harus dibeli minggu ini. Jika ia tidak mendapatkan uang tambahan, ayahnya bisa kolaps lagi.

Kevin melepas seragamnya yang basah, mencoba memerasnya sebisanya di atas wastafel. Suara air yang diperas itu terdengar begitu menyedihkan di kesunyian toilet. Ia kemudian mengenakan jaket kumalnya yang ia simpan di dalam tas untuk menutupi seragamnya yang basah kuyup.

Besok, pikirnya saat melangkah keluar dari toilet dengan kaki yang masih agak pincang. Farhan bilang aku tidak boleh masuk kelas besok.

Kevin tahu Farhan tidak main-main. Farhan punya segalanya untuk menghancurkan hidupnya. Namun, jika Kevin tidak sekolah, beasiswanya akan dicabut. Dan jika beasiswanya dicabut, harapan ayahnya akan mati.

Ia menatap koridor sekolah yang megah itu untuk terakhir kalinya sore ini. Lantai marmer yang mengilap, pilar-pilar besar, dan suasana mewah yang selalu membuatnya merasa asing. Tempat ini seharusnya menjadi pintu menuju masa depannya, namun saat ini, tempat ini lebih terasa seperti sangkar yang penuh dengan predator.

Ia harus bertahan hidup. Ia harus tetap masuk besok, apa pun risikonya.

"Tunggu saja, Farhan," gumam Kevin saat ia melewati gerbang sekolah, angin sore yang dingin menusuk kulitnya yang masih lembap. "Suatu saat nanti, gue yang bakal bikin lo berlutut di bawah kaki gue."

Meski saat itu ia tahu, kata-kata itu hanyalah sebuah mimpi kosong dari seorang pemuda yang bahkan tidak punya cukup uang untuk makan malam yang layak. Kevin Wijaya berjalan menuju gudang tua di dekat pasar, tempat ia akan menanggalkan martabat pelajarnya dan menggantinya dengan karung butut di punggungnya.

Roda nasib mungkin sedang berada di titik terendah baginya, tapi ia belum tahu bahwa dalam waktu dekat, sebuah kekuatan yang tak terbayangkan akan mengubah segalanya. Untuk sekarang, ia hanyalah seorang scavenger, seorang pemulung yang harus mengais sisa-sisa dunia agar tetap bisa bernapas satu hari lagi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca