Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Komandan Mutlak: Sistem Triliuner

Sistem Komandan Mutlak: Sistem Triliuner

hollow cube | Bersambung
Jumlah kata
70.8K
Popular
282
Subscribe
81
Novel / Sistem Komandan Mutlak: Sistem Triliuner
Sistem Komandan Mutlak: Sistem Triliuner

Sistem Komandan Mutlak: Sistem Triliuner

hollow cube| Bersambung
Jumlah Kata
70.8K
Popular
282
Subscribe
81
Sinopsis
PerkotaanAksiGangsterTeknologiMiliarder
Bagi Arga, dunia ini hanya mengenal satu hukum: Siapa yang kaya, dia yang berkuasa. ​Sebagai mekanik miskin yang jujur, Arga kehilangan segalanya dalam satu malam. Pacarnya, Vania, berselingkuh dengan Kelvin, pewaris tunggal Aditama Group yang arogan. Bukan hanya hatinya yang dihancurkan, bengkel dan rumah warisan orang tuanya dibakar habis. Arga dipukuli hingga koma dan dibuang ke jalanan seperti sampah. ​Namun, saat Arga membuka mata di ambang kematian, sebuah suara mengubah takdirnya selamanya. ​[DING! Sistem Komandan Mutlak Aktif] [Saldo Awal: Rp 1.000.000.000.000] ​Arga mendapatkan akses ke sebuah Toko Semesta (Universal Shop) yang menjual APA SAJA. Mulai dari jam tangan mewah, Supercar edisi terbatas, Pulau Pribadi, hingga satu batalyon Pasukan Khusus bersenjata lengkap—semuanya tersedia. ​Syaratnya? Arga hanya perlu menyuplai bahan mentah dari dunia nyata. Sepotong besi tua bisa ditukar menjadi modal miliaran. Sekarang, Arga bukan lagi mekanik rendahan. Dia adalah Supplier terbesar sekaligus pembeli paling berkuasa di muka bumi.
bab 1

Bau oli bercampur keringat menyengat hidung Arga, tapi baginya, itu adalah aroma perjuangan. Ia mengelap tangannya yang hitam legam dengan kain majun, lalu meraba saku celana jins-nya. Kotak cincin beludru kecil itu masih ada di sana.

​"Tiga tahun," gumam Arga sambil menatap bengkel kecil peninggalan ayahnya. "Akhirnya tabunganku cukup."

​Deru mesin halus memecah keheningan malam. Bukan suara motor bebek butut pelanggan setianya, melainkan raungan mesin V12 yang angkuh. Sebuah supercar merah menyala berhenti tepat di depan bengkelnya yang berdebu, menciptakan kontras yang menyakitkan mata di jalanan kumuh itu.

​Pintu mobil bergaya scissor door terangkat. Sosok yang sangat ia kenal turun dari kursi penumpang.

​"Vania?" Arga melangkah maju, senyumnya merekah lebar. "Kamu kok tumben ke sini naik—"

​"Kita putus, Ga," potong Vania cepat. Wajah cantiknya datar, dingin, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

​Senyum Arga kaku di udara, seolah waktu berhenti mendadak. "Apa? Van, bercanda kamu nggak lucu. Aku baru aja mau—"

​"Aku serius," Vania melipat tangan di dada, matanya menatap jijik ke arah baju kerja Arga yang dekil. "Lihat dirimu, Ga. Kamu bau oli. Tanganmu kotor. Tiap hari aku harus nunggu kamu ngumpulin receh cuma buat makan di pinggir jalan. Aku capek hidup miskin."

​Sebelum Arga sempat mencerna kalimat itu, pintu pengemudi terbuka. Seorang pemuda dengan setelan jas mahal keluar sambil tertawa pelan. Ia merangkul pinggang Vania dengan santai, seolah wanita itu adalah properti miliknya yang baru dibeli.

​"Masih belum paham juga, 'Mekanik'?" tanya pemuda itu—Kelvin Aditama. Ia menatap Arga seperti melihat kecoa di ujung sepatunya. "Vania itu berlian. Dan berlian nggak pantas ditaruh di tempat sampah kayak bengkel ini."

​Arga mundur selangkah, jantungnya berdegup menyakitkan. Ia memandang wajah Vania, mencari sisa-sisa cinta yang dulu ada. "Vania... Apa maksudnya ini? K-kita kan sudah janji tiga tahun yang lalu. Kenapa? Aku salah apa? Kita kan—"

​"Cukup, Ga!" potong Vania tajam. "Aku bilang 'iya' tiga tahun lalu, bukan berarti aku mau hidup susah selamanya sama kamu! Janji itu konyol!"

​"Vania..." Suara Arga bergetar. Ia nekat merogoh saku celananya, mengeluarkan kotak beludru merah itu dan membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, sebuah cincin emas sederhana berkilau di bawah lampu jalan yang remang.

​"K-kamu sayang aku kan? Lihat, aku sudah beli cincin buat kita. Ini hasil tabunganku selama ini, Van. Tolong jangan begini... Aku cinta mati sama kamu."

​PLAK!

​Tamparan keras mendarat di pipi Arga. Tenaganya begitu kuat hingga Arga terhuyung dan kotak cincin itu terlempar, jatuh menggelinding ke tanah yang becek oleh oli.

​"Goblok! Kamu harusnya sadar posisi!" teriak Vania, napasnya memburu. "Kamu itu orang rendahan, Arga! Miskin, naif pula! Cinta nggak bisa dimakan! Cinta nggak bisa beli masa depan!"

​Kata-kata itu lebih sakit daripada tamparannya. Namun, Arga yang dikuasai emosi mencoba maju, hendak meraih tangan Vania untuk memohon sekali lagi. "Van, dengar dulu—"

​BUGH!

​Sebuah bogem mentah menghantam rahang Arga sebelum ia sempat menyentuh Vania. Seorang bodyguard bertubuh kekar muncul entah dari mana, langsung menghalanginya.

​Arga mencoba melawan, tapi tenaganya yang terkuras setelah kerja seharian tak sebanding. Dalam hitungan detik, ia dibanting ke aspal keras. Lutut sang bodyguard menekan punggungnya, menahannya di tanah seperti binatang tangkapan.

​"Vania... Kenapa?! KENAPA TIGA TAHUN INI SIA-SIA?!" teriak Arga, wajahnya tertekan ke aspal, matanya menatap nanar ke arah sepatu hak tinggi Vania.

​Kelvin melangkah maju, lalu dengan santai menginjak kepala Arga, menekannya lebih kuat ke tanah.

​"Arga... Arga... udahlah," ujar Kelvin dengan nada mengejek yang kejam. "Kamu nggak akan pernah selevel sama Vania. Dan satu lagi, kalau aja kamu setuju jual tanah gembel ini ke Aditama Group minggu lalu, hal ini nggak perlu terjadi."

​Mata Arga membelalak. "Apa...?"

​Sebelum otak Arga bisa memproses, ia melihat dari sudut matanya, dua bodyguard lain menyalakan sumbu kain pada botol kaca berisi bensin.

​"HEI... HEI!! KALIAN MAU APA?!" teriak Arga panik, tubuhnya memberontak hebat.

​PRANG! PRANG!

​Dua bom molotov itu dilemparkan ke dalam bengkel kayunya. Api dengan cepat menyambar tumpukan oli dan bensin di dalam.

​"TIDAK!! BAJINGAN!! ITU PENINGGALAN AYAHKU!! HEI, BINATANG!!"

​Arga meraung. Itu bukan sekadar bangunan. Itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa dari almarhum ayahnya. Foto-foto masa kecil, sertifikat tanah, dan sisa uang tabungan tunai... semuanya ada di sana.

​"BERISIK!" bentak bodyguard yang menahannya.

​DUAK!

​Sebuah pukulan keras menghantam belakang kepala Arga. Pandangannya langsung kabur, telinganya berdenging hebat.

​Dua orang bodyguard lain turun dari motor, tongkat pemukul baseball sudah tergenggam di tangan mereka.

​"Habisi. Sisakan napasnya sedikit," perintah Kelvin datar sambil membawa Vania masuk ke dalam mobil.

​"Kalian—" Arga mencoba bangkit, tapi tubuhnya sudah terlalu lemah.

​Malam itu menjadi neraka. Arga dipukuli habis-habisan. Suara tulang retak tertutup oleh suara api yang melahap bengkelnya. Tidak ada warga yang berani keluar.

​Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, samar-samar ia melihat bengkelnya runtuh menjadi arang. Mobil Kelvin sudah menjauh, meninggalkan asap knalpot dan tawa kemenangan.

​"Kurang ajar..." gumam Arga, darah mengalir dari pelipisnya menutupi mata.

​"Kubalas kalian semua..."

​"Aku bersumpah... akan kuciptakan neraka di hidup kalian..."

​Dunia Arga pun menjadi gelap gulita.

​Aroma obat-obatan yang tajam menyadarkan Arga.

​Ia membuka mata perlahan, mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit bangsal kelas 3 yang sepi. Tubuhnya terasa remuk redam, setiap tarikan napas terasa menyakitkan.

​"Akh..." Arga memegang kepalanya yang diperban.

​Ia menatap telapak tangannya yang gemetar. Ingatan itu langsung menghantamnya seperti ombak pasang. Vania. Kelvin. Api. Peninggalan ayahnya yang hangus.

​"Mereka... Bajingan..." desis Arga, air mata kemarahan menggenang di sudut matanya. Ia kehilangan segalanya. Cinta, harta, dan harga diri.

​Tiba-tiba, suara aneh bergema, bukan di telinganya, melainkan langsung di dalam otaknya.

​DING!

​[Sistem Online]

[Memindai Host... Identitas Terkonfirmasi: Arga]

​Arga tersentak kaget. Di depan matanya, sebuah panel hologram berwarna biru transparan muncul melayang di udara.

​[Saldo Awal: Rp 1.000.000.000.000]

​"Hah?" Arga mengerjap, mengira gegar otak membuatnya berhalusinasi. Namun, tulisan itu tetap ada, bersinar terang dengan angka nol yang berderet panjang.

​Di bawah saldo fantastis itu, ada ikon amplop berkedip. Dengan tangan gemetar, Arga menekan ikon itu di udara. Sebuah pesan terbuka:

​"Selamat Datang di Sistem Komandan Mutlak."

​Host yang terhormat, kami menyediakan modal awal bagi Anda untuk menguasai dunia. Gunakan fitur SHOP untuk membeli KEBUTUHAN APAPUN.

​Di sini, segalanya tersedia. Mulai dari sebatang jarum, mobil mewah, pulau pribadi, hingga aset militer kelas berat. Tidak ada yang tidak bisa dibeli.

​PANDUAN PENGGUNA:

Agar siklus ekonomi Sistem tetap berjalan, Anda harus menyuplai bahan mentah dari dunia nyata. Jual barang fisik apapun (Logam, Mineral, Zat Kimia) ke Sistem. Kami akan membelinya dengan harga tinggi, menduplikasinya, dan memprosesnya menjadi Produk Jadi yang bisa Anda beli kembali dengan harga sangat murah.

​Arga membaca pesan itu berulang kali. Jantungnya berpacu cepat. "Apa ini? Nggak ada bedanya sama marketplace... tapi isinya..."

​Ia menutup pesan itu dan melihat menu utama. Ada tombol [TARIK TUNAI] dan [TRANSFER].

​Masih setengah tidak percaya, Arga menekan tombol [TARIK TUNAI]. Ia memasukkan nominal kecil: Rp 500.000.

​ZING!

​Sebuah cahaya partikel muncul dari hologram itu, memadat di telapak tangannya. Detik berikutnya, lima lembar uang kertas seratus ribuan berwarna merah jatuh ke pangkuannya. Uang itu nyata. Terasa kasar di jari, baunya khas uang baru.

​Arga ternganga. Ia beralih menatap panel hologram lagi. Saldonya kini berubah menjadi:

​[Rp 999.999.500.000]

​Senyum kecil perlahan terukir di wajah Arga yang babak belur. Senyum yang mengerikan. Ia menggenggam erat uang lima ratus ribu itu sampai remuk.

​"Alam semesta memihakku," gumamnya dingin. "Kelvin, Vania... tunggu tanggal mainnya."

Lanjut membaca
Lanjut membaca