

"Kamu ini kerjanya gimana sih?!" bentak Pak Praba tak puas. Suaranya menggelegar hingga membuat pekerja lain refleks menunduk ketakutan.
"Cuma menyusun jadwal perawatan taman saja kok masih becus. Masih mau kerja atau nggak?"
Jaya hanya bisa menunduk, meremas jemarinya sendiri.
Kesalahan kecil dalam mencatat waktu pemangkasan pohon di halaman depan menjadi alasan Pak Praba untuk melampiaskan kekesalannya pagi-pagi.
Pria itu memang sedang mencari pelampiasan, dan Jaya adalah sasaran yang paling mudah.
"Maaf, Tuan Pak Praba. Sa-saya akan segera memperbaikinya," ucap Jaya pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Memperbaiki? Jangan harap aku memberimu tugas ringan lagi hari ini!" Pak Praba maju selangkah, menunjuk wajah Jaya dengan telunjuk yang gemetar karena emosi.
"Atap bungalow di ujung perkebunan itu bocor. Sekarang juga, kamu pergi ke sana dan perbaiki! Jangan kembali sampai semua beres atau angkat kaki dari sini tanpa pesangon sepeser pun!"
Tanpa menunggu jawaban, Pak Praba berbalik pergi dengan langkah angkuh. Jaya menghela napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang liar.
Menjadi pelayan di keluarga ini memang seperti berada di neraka, tapi ia tidak punya pilihan lain demi menyambung hidup.
Jaya berjalan gontai menuju gudang peralatan. Matahari mulai meninggi, menyengat kulit lehernya yang masih terasa perih akibat tempelengan tadi.
Langkahnya membawa pria itu melewati bangunan tua di pojok area perkebunan yang jarang dilewati orang—sebuah gudang penyimpanan barang-barang antik yang sudah berdebu.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti.
"Jaya ...."
Jaya menoleh dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang. Suara itu tidak terdengar seperti bisikan manusia, melainkan seperti gema yang muncul langsung di dalam kepalanya.
Ia memandang pintu gudang tua yang sedikit terbuka, memperlihatkan kegelapan pekat di dalamnya.
"Siapa di sana?" tanyanya, namun hanya keheningan yang menyambut.
Rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya. Jaya melangkah masuk, menghirup aroma kayu tua dan debu yang menyesakkan.
Di sudut ruangan, di atas sebuah peti kayu yang sudah lapuk, ada sesuatu yang berkilau. Sebuah benda kecil yang seolah-olah menyedot seluruh perhatiannya.
Ia mendekat dan menemukan sebuah kalung. Rantainya berwarna hitam pekat dengan liontin batu merah darah yang dikelilingi ukiran perak kuno berbentuk kepala serigala.
Entah mengapa, kalung itu terlihat begitu gagah dan memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan.
"Bagusnya.." gumamnya tanpa sadar.
Tanpa berpikir panjang, Jaya melingkarkan kalung itu di lehernya. Ia sempat terdiam sejenak, menunggu kalau-kalau pemiliknya datang.
Namun ternyata tidak ada.
Jaya lantas menyelipkan liontin itu di balik bajunya dan bergegas menuju bungalow untuk menyelesaikan tugas sebelum Pak Praba kembali mengamuk.
Bungalow yang dimaksud Pak Praba terletak di area privat, dikelilingi pohon-pohon rindang yang menutupinya dari pandangan luar.
Seharusnya tempat ini kosong karena Pak Praba sedang ada urusan di kota. Namun, saat Jaya mendekat, pintu bungalow itu sedikit terbuka.
Ia bermaksud memanggil untuk permisi, tapi suara-suara yang keluar dari dalam menghentikan kata-kata di tenggorokannya.
Jaya melangkah pelan, mengintip melalui celah pintu yang terbuka dan saat itu pula matanya terbelalak.
Di atas sofa kulit besar itu, Dinar, menantu Pak Praba yang terkenal anggun, sedang bergumul hebat dengan Ardi, kakak iparnya.
Dinar tampak begitu liar. Rambutnya yang biasa tersanggul rapi kini berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang memerah karena gairah.
Wanita itu melengkingkan suara saat Ardi menghujamnya tanpa ampun.
Kulit mereka yang berkeringat tampak berkilat di bawah lampu remang-remang, menciptakan pemandangan yang sangat erotis.
"Ah, Mas Ardi ... lebih cepat ... Danu nggak pernah sehebat ini," rintih Dinar, tangannya mencengkeram bahu Ardi hingga kuku-kukunya memutih.
Ardi terkekeh rendah, suaranya berat dan penuh dominasi. "Si brengsek itu cuma tahu memerintah orang. Mana tahu dia cara memuaskan perempuan kayak kamu?"
Pemandangan itu begitu panas. Jaya terpaku di tempat, tidak sanggup memalingkan wajah dari lekukan tubuh Dinar yang bergerak liar di bawah kungkungan Ardi.
Namun, malang baginya, saat ia sedikit menggeser posisi untuk melihat lebih jelas, papan lantai yang ia pijak berderit keras.
Kriet!
Suara itu memecah suasana panas di dalam ruangan. Ardi seketika berhenti. Matanya yang tajam menoleh ke arah pintu dengan kilatan amarah yang mengerikan.
Ia segera menarik selimut untuk menutupi Dinar dan menyambar celananya dalam satu gerakan cepat.
"Siapa di sana?!" raungnya.
Jaya mencoba lari, tapi terlambat. Pintu bungalow tiba-tiba ditendang terbuka dari dalam. Ardi sudah berdiri di sana, dadanya yang bidang naik turun, wajahnya menakutkan seperti iblis yang tertangkap basah.
"Kamu ... pelayan rendahan!" Ardi melangkah maju dan langsung mencengkram kerah baju Jaya. "Berani-beraninya kamu mengintip kami!"
"Tuan, aku tidak ... sa-saya cu-cuma mau benerin atap ...."
Bugh!
Satu pukulan keras mendarat di rahang Jaya. Pria itu tersungkur ke lantai teras.
Ardi tidak berhenti di situ. Ia kembali menarik Jaya dan menghantamkan tinjunya berkali-kali ke perut dan wajah pemuda itu hingga cairan hangat mengalir deras dari hidung Jaya.
"Kamu akan mati hari ini karena matamu yang nggak tahu diri itu!" Ardi berteriak, matanya gelap penuh niat membunuh.
Dinar muncul di ambang pintu dengan pakaian berantakan, wajahnya pucat pasi, tapi matanya menatap tajam.
"Habisi dia, Mas! Jangan biarin dia bicara pada Danu!"
Ardi mengangkat kakinya, bersiap menginjak kepala Jaya yang sudah lunglai di lantai. Jaya memejamkan mata, pasrah pada nasibnya.
Namun, tepat saat sepatu itu hampir mengenai wajahnya, sesuatu yang sebelumnya mati mendadak menjadi sangat hidup di dadanya.
Kalung itu.
Batu merah di balik bajunya mendadak terasa panas membara, seolah ada logam cair yang menempel di kulitnya.
Panas itu menjalar dengan kecepatan kilat ke setiap saraf, membakar rasa sakit dan menggantinya dengan kekuatan yang sangat asing sekaligus mengerikan.
Jaya merasakan otot-ototnya menegang hebat, dan penglihatannya mendadak berubah menjadi kemerahan.
Dan mendadak, tangan Jaya melayang dengan sendirinya ke arah Ardi!