Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
GEMA DAN GARIS

GEMA DAN GARIS

Lina Marcelin | Bersambung
Jumlah kata
28.7K
Popular
100
Subscribe
11
Novel / GEMA DAN GARIS
GEMA DAN GARIS

GEMA DAN GARIS

Lina Marcelin| Bersambung
Jumlah Kata
28.7K
Popular
100
Subscribe
11
Sinopsis
PerkotaanSlice of life21+
Andres Laksamana Atmodjo adalah laki-laki berumur 27 tahun dan merupakan mantan seorang arsitek yang sedang burnout sehingga ia memilih untuk menghilang dari kehidupan lamanya dan beralih menjadi kurir pengantar makanan atau barang. Andres selalu sinis terhadap kisah percintaan, namun saat dirinya bertemu dengan Ayudia Paramitha keadaan seolah berubah. Jejak-jejak masa lalu saat menjadi arsitek lama-kelamaan mulai mencuat kembali. Andres rindu dengan dirinya yang dulu saat masih mendalami dunia arsitek. Apakah dengan kehadiran sosok baru di hidup nya akan merubah sudut pandang Andres mengenai percintaan? Atau justru kisah lama akan terulang kembali?
BAB 1 - PERTEMUAN PERTAMA

Siang hari yang terik, kemacetan Jakarta yang tak terhindarkan serta bunyi klason dari berbagai kendaraan saling bersahutan yang memekakkan telinga.

Untuk sebagian orang hal tersebut sudahlah biasa, walaupun tetap ada rasa kesal karena orang-orang seperti terlihat egois. Keras nya kota Jakarta memanglah seperti itu. Apalagi untuk yang orang-orang yang bekerja di jalanan. Jika terlihat lemah orang lain akan menganggap kita remeh.

Sama seperti Andres, ia juga sebagian besar bekerja di jalanan. Dengan mengendarai motor CB150R dan di punggungnya membawa tas berisi pesanan makanan. Andres setiap hari bekerja menjadi kurir makanan atau barang. Ia mengelilingi kota Jakarta dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari Jakarta yang panas bahkan sampai hujan deras, tetap di lalui oleh Andres.

Setiap hari Andres melewati gedung-gedung tinggi perkantoran di Jakarta, terkadang mengantar makanan di salah satu gedung tinggi tersebut. Setiap kali melihat gedung-gedung tinggi nan mewah tersebut Andres selalu tersenyum masam. Dirinya yang dulu sempat berada di salah satu gedung tinggi itu, bahkan beberapa gedung tinggi tersebut adalah hasil dari kerja kerasnya sebagai arsitek.

Gawai milik Andres berbunyi, ada satu notifikasi pesanan makanan masuk ke aplikasi miliknya. Dengan memakai jaket berwarna hijau cerah dan helmet hitam, Andres segera melajukan kendaraan milik nya kesalah satu kedai makanan yang ada di pesanan aplikasinya. Tak menunggu lama pesanan makanan tersebut sudah selesai dibuat, Andres langsung mengendarai motor nya dengan kecepatan sedang. Jangan sampai konsumennya menunggu lama hingga ia di berikan rating yang rendah. Karena rating yang rendah akan sangat berpengaruh pada performa keuntungannya dalam mencari konsumen. Semakin rendah ratingnya, maka akan semakin sulit untuk mendapat konsumen. Untungnya selama ini Andres tidak pernah mendapatkan rating yang rendah.

Andres mengecek kembali alamat pengantaran yang ada di aplikasi miliknya. Tertulis disitu alamat di tujukan pada toko "Del Amore Florist". Sebuah toko bunga yang terletak di gang kecil, yang tidak terlalu jauh dari jalan raya, dan tentu nya toko tersebut sulit untuk dijangkau dengan motor miliknya. Mau tidak mau Andres harus memarkir motornya di pinggir jalan raya dan harus berjalan kaki beberapa ratus meter ke dalam gang tersebut. Gang itu terlihat sunyi, tak banyak orang yang berlalu lalang.

Andres sampai di depan toko bunga tersebut. Toko bunga itu kecil dan sepi. Ada berbagai macam bunga yang terpajang di depan toko bunga tersebut dan dikelilingi tanaman rambat, serta ada wangi bunga mawar yang segar. Sungguh terlihat kontras sekali dengan hiruk pikuk kendaraan yang ada di jalan raya dan bau asap knalpot dari kendaraan yang melintas.

Andres masuk ke dalam toko tersebut. Lonceng yang berada di atas pintu berbunyi dengan cukup keras. Tak jauh dari pintu masuk ada meja kasir dengan seorang wanita yang ada di balik meja tersebut dan membelakangi pintu, terlihat wanita itu sedang sibuk merangkai bunga.

"Permisi, pesanan atas nama Ayudia Paramitha?" Tak ada sahutan dari wanita tersebut. "Permisi, Kak. Pesanan atas nama Ayu." Andres mengulang ucapannya dengan suara semakin dikeraskan. Masih tidak ada sahutan. Andres mulai merasa wanita itu sombong sekali.

Karena sudah kepalang kesal akhirnya Andres melangkahkan kakinya mendekati meja kasir, lalu ia mengketuk-ketukkan meja dengan cukup keras. Wanita itu tersentak, lalu berbalik dengan wajah terkejut. Seketika Andres terpaku. Wanita di depannya tidak terlihat marah, justru sebaliknya. Wanita itu mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil mengucap kata maaf, lalu mengambil buku kecil yang ada di atas meja.

Wanita itu menunjukkan tulisan yang ada di buku kecil tersebut kepada Andres. "Maaf, ya, saya tidak bisa mendengar suara kamu. Itu pesanan makanan untuk saya?"

Andress justru terdiam sesaat, lalu membaca ulang setiap kata yang ada di kertas tersebut sembari menatap wanita yang ada di depannya. Andres mengangguk kecil sebagai isyarat bahwa benar pesanan makanan yang ia antar memang untuk wanita tersebut. Andres seperti baru saja terkena pukulan yang amat besar.

Helmet hitam yang masih berada di kepalanya mendadak terasa berat dan terlihat konyol. Ia merasa bersalah karena sudah salah sangka terhadap wanita dihadapannya yang masih berdiri dengan senyum tulus nan merekah.

Tiba-tiba Andres merasakan badannya panas yang menjalar dari leher hingga ke telinganya. Bukan karena sengatan sinar matahari yang masuk melalui jendala toko tersebut, melainkan karena rasa malu yang kian lama terasa seperti menghimpit dadanya. Andres segera melepas helmetnya dengan gerakan canggung, seolah benda tersebut adalah sebuah bukti konkrit dari rasa ketidaksabarannya yang sangat memalukan.

"Maaf, saya tidak tahu," gumam Andres dengan pelan. Ia tahu kata-kata yang ia ucapkan tidak akan mungkin sampai di dengar oleh wanita tersebut.

Wanita tersebut justru semakin tersenyum lebar, sepertinya ia bisa membaca raut penyesalan dari wajah Andres. Ia kembali menuliskan sesuatu di buku kecil tersebut, lalu membalikkan buku itu ke Andres untuk dibacanya. Tulisan nya rapi sekali.

"Tidak apa-apa, mas. Banyak kok yang juga sering kaget. Terimakasih sudah diantarkan pesanannya."

Andres membaca tulisan itu dengan perasaan semakin campur aduk. Ia yang sejak tadi menggerutu mengenai jalanan yang macet, bisingnya jalanan kota Jakarta, polusi udara yang kian menebal, serta gedung-gedung tinggi perkantoran yang seolah mengejeknya setiap kali ia melewati gedung-gedung itu, mendadak toko bunga kecil tersebut membuatnya merasa sedang berada di tempat yang sangat amat sunyi dan damai. Bukan karena tidak ada suara, melainkan karena senyum tulus dan ketenangan yang di pancarkan oleh pemiliknya.

Kemudian Andres mencari-cari pulpen di saku jaket miliknya. Ia menuliskan sesuatu di bawah tulisan wanita itu.

"Sama-sama. Maaf juga tadi saya mengetuk meja terlalu keras sampai kakaknya kaget. Saya kira tadi kakaknya sengaja mengabaikan saya."

Wanita itu kembali tersenyum melihat apa yang di tulis oleh Andres, lalu tertawa kecil dan tentunya tanpa suara. Ia menggelengkan kepala, lalu memberikan isyarat menggunakan jari tangannya - ibu jari menyentuh dagu lalu bergerak maju - itu adalah sebuah tanda ucapan "terimakasih" dalam bahasa isyarat yang sederhana.

Sambil menunggu diberikan uang oleh pemilik toko itu, Andres kembali memperhatikan keadaan di sekeliling toko tersebut. Aroma bunga mawar segar semakin menyeruak berkali-kali lipat dibandingkan di luar toko. Tidak ada suara radio, tidak ada suara televisi, bahkan tidak ada suara bising mesin. Yang ada hanya sinar-sinar matahari yang menyerobot masuk melalui jendela toko mengenai beberapa bunga yang ada di dalam toko.

Wanita itu menyerahkan selembar uang berwarna biru dan sebelum Andres berbalik pergi, ia meraih setangkai bunga mawar kecil yang sudah di rangkai dan menyodorkannya kehadapan Andres.

Lagi-lagi wanita itu menuliskan sesuatu di buku kecil miliknya. "Bunga ini untuk mas kurir. Have a nice day."

Andres menerima bunga itu dengan perlahan, lalu tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya dengan sopan dan melangkah keluar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya saat menjalani pekerjaan yang melelahkan ini, ia benar-benar tersenyum dengan tulus.

Begitu pintu tertutup dan lonceng yang berada di atas pintu kembali berdenting, hiruk pikuk jalanan kota Jakarta kembali terasa, Andres seakan baru saja kembali ke realitas kehidupan. Anehnya, kali ini Andres tidak merasa kesal. Andres menatap bunga mawar yang ada ditangannya, lalu menoleh ke arah jendela toko bunga yang tenang itu sekali lagi dan setelahnya Andres kembali berjalan ke arah motornya yang terparkir di pinggir jalan raya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca