Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Batu Wasiat Janda Muda

Batu Wasiat Janda Muda

Kopi_Item | Bersambung
Jumlah kata
22.8K
Popular
100
Subscribe
32
Novel / Batu Wasiat Janda Muda
Batu Wasiat Janda Muda

Batu Wasiat Janda Muda

Kopi_Item| Bersambung
Jumlah Kata
22.8K
Popular
100
Subscribe
32
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPria MiskinHaremUrban
'Satu cincin untuk kekuasaan, satu sentuhan untuk kenikmatan.' Gio hanyalah seorang ahli komputer pengangguran yang terpaksa menumpang di kosan murah milik Saodah, janda muda cantik yang tak lain adalah mantan kekasihnya masa SMA. Niat hati ingin hidup tenang, Gio justru terjebak dalam pusaran gairah dan bahaya saat menemukan sebuah cincin Merah Delima misterius di bawah ranjang Saodah. Cincin itu bukan sekadar perhiasan peninggalan almarhum suami Saodah. Di dalamnya terkunci roh Nyai Sasmita, janda muda legendaris dari masa lalu yang memiliki aura kecantikan abadi. Kutukannya jelas, siapa pun pria yang memakainya akan diberikan kekayaan melimpah dan kekuatan luar biasa, namun harus siap melayani nafsu liar sang penghuni batu yang haus akan energi. Namun, semakin kuat Gio, semakin banyak musuh yang mengincar nyawanya. Mampukah Gio mengendalikan gairah Merah Delima di tangannya, atau justru ia akan hancur dalam pelukan para wanita yang memperebutkannya? Di dunia ini, harta dan wanita adalah milik mereka yang berani menggenggam wasiat terlarang.
1. Desahan Kamar Sebelah

“Aaah!”

Suara itu terdengar jelas di telinga Gio. Desahan seorang wanita dari kamar di sebelahnya, Saodah Prikitiu, janda muda pemilik rumah kos yang juga menjadi tempat tinggalnya.

Jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul 13.00. Siang bolong seperti ini memang membuat rumah kosnya sepi, karena semua penghuni merupakan mahasiswa dan karyawan yang bekerja di siang hari—kecuali Gio.

Bisa dibilang Gio adalah seorang pengangguran; meskipun sebenarnya dia seorang ahli komputer yang memilih untuk tidak terikat dengan perusahaan mana pun. Pekerjaan lepas adalah pilihannya.

Seperti hari ini. Dia tidak punya jadwal pekerjaan di mana pun dan memutuskan untuk tidur sampai larut malam. Suara-suara aneh yang sesekali terdengar dari kamar sebelah menyadarkannya dari tidur.

“Oooh.”

Suara itu kembali terdengar, dan Gio bergegas bangun dari tempat tidurnya. Perlahan, seperti seorang detektif, dia mulai mencari tahu apa yang terjadi dengan suara itu.

Dia menempelkan telinganya pada tembok pembatas antara kamarnya dan kamar Saodah. Mungkin ini suatu kesialan atau keberuntungan, Gio mendapatkan kamar yang persis bersebelahan dengan kamar Saodah, janda muda yang sudah menyandang status tersebut.

Menurut info yang didengarnya, suami Saodah adalah petugas penjaga gerbang jalan tol yang mengalami kecelakaan. Sebuah truk bermuatan penuh mengalami rem blong dan menabrak gardu jaga di mana suaminya sedang bekerja. Suami Saodah langsung meninggal di tempat kejadian. Padahal, usia pernikahan mereka hanya sebulan.

Semua uang santunan yang diterima Saodah dibelikan sepetak tanah dan dibangun rumah kos yang sekarang ditempati Gio. Mungkin 10 kamar dengan tarif 1 juta per bulan bisa menutupi kebutuhan Saodah, ditambah dengan gaji pensiunan suaminya yang masih ia terima setiap bulan.

Hal ini pula yang mungkin menjadi pertimbangan Saodah untuk tidak menikah lagi. Jika dia menikah, uang pensiunan suaminya akan dihentikan. Mengandalkan uang sewa kos, Gio rasa tidak akan cukup untuk membeli kosmetiknya.

Menyandang status janda memang tidak mudah. Dalam waktu kurang dari setahun, Gio sudah tidak bisa menghitung berapa banyak lelaki yang mencoba mendekati Saodah. Wajar saja, wanita itu cantik, seksi, dan masih muda. Gio rasa usianya hanya selisih satu tahun dengannya. Jika sekarang usianya 26 tahun, mungkin usia Saodah kisaran 25 atau 24 tahun. Masih sangat muda.

“Ah ... Ah!”

Desahan Saodah kembali terdengar. Kali ini semakin cepat, diiringi suara-suara berderit dari tempat tidurnya. Pikiran jahat Gio berkelana liar. Jangan-jangan ... Saodah sedang mengalihkan hasrat alaminya sebagai wanita yang ditinggal suaminya. Tapi dengan siapa? Lelaki mana yang begitu beruntung bisa menikmati tubuh mulusnya?

Gio menjauh dari tembok, matanya berkeliling mencari celah untuk mengintip ke dalam kamar Saodah.

“Sial! Semuanya rapat. Tak ada sedikit pun lubang yang bisa aku gunakan,” gumamnya dalam hati. Terlalu konyol jika dia harus nekat naik plafon, menjebol eternit, dan mengintip dari atas. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah keluar kamar dan mengintip dari lubang kunci atau ventilasi udara di atas pintu kamarnya.

“Sudahlah! Mungkin belum rezeki.” Gio memutuskan untuk mengabaikan suara-suara itu. Suasana yang mulai gerah membuatnya ingin segera mandi. Setelah melepas semua pakaiannya, hanya dengan handuk melilit di tubuhnya, dia melangkah keluar dari kamar.

Selain kamar Saodah, semua kamar di rumah kos tidak memiliki kamar mandi di dalam. Seluruh penghuni hanya mengandalkan dua kamar mandi bersama yang terletak di ujung lorong rumah kos, di sebelah dapur.

Saat Gio sudah memegang hendel pintu, tiba-tiba dia mendengar suara pintu kamar Saodah terbuka.

“Ah, rezeki memang enggak ke mana,” pikirnya. Dia mengurungkan niat untuk membuka pintu. Dipenuhi rasa penasaran yang besar, Gio mengintip keluar dari balik lubang pintu. Ia layaknya seorang maling yang menunggu kesempatan untuk mendapatkan situasi aman.

Beberapa saat menunggu, dari lubang kunci pintu, dia melihat sosok tubuh seksi yang hanya berbalut baju ketat setinggi paha melangkah melewati kamarnya.

Beberapa saat menunggu, dari lubang kunci pintu, dia melihat sosok tubuh seksi yang hanya berbalut baju ketat setinggi paha melangkah melewati kamarnya.

"Wow ... tubuh yang indah," pujinya. Tapi dia melihat sesuatu yang ganjil dari langkah Bu Saodah. Entah apa yang membuat langkah janda muda itu seperti diseret. Sebagian tubuhnya yang terlihat masih berkeringat. Padahal, ruangan di kamarnya memakai AC.

"Keluar ... Enggak! Keluar ... Enggak!"

Gio menghitung dengan jarinya untuk menentukan apakah harus keluar menuju kamar mandi, mengikuti janda itu, atau tetap bertahan di dalam kamar walau tubuhnya sudah merasa kegerahan.

"Ah ... Peduli setan." Akhirnya dia memutuskan untuk keluar kamar meski berisiko kepergok oleh lelaki yang bersama Bu Saodah atau Bu Saodah sendiri. Bukan salahnya. Dia tidak sengaja mendengar desahannya, kok. Lagi pula, salah sendiri main di siang bolong tanpa memikirkan ada penghuni lain di rumah kos ini.

Pikiran siapa yang tidak akan liar mendengar desahan-desahan yang mengharukan. Kesimpulan pertama pasti Saodah telah melakukan hajat manusiawinya dengan seorang pria.

Dengan sangat hati-hati nyaris tak bersuara Gio melangkah keluar kamar.

Wait ... Pintu kamar Saodah terbuka lebar, jika dia habis berhubungan badan, pasti masih ada lelaki berada di kamarnya. Mungkin masih telanjang, atau bahkan mungkin sedang menyiapkan ronde berikutnya.

Dia berinisiatif untuk mencari tahu, matanya langsung menerobos celah-celah pintu masuk ke dalam kamar mencari sosok lelaki yang dicurigainya. Kosong. Tak ada siapa pun. Masih tak percaya dengan mata detektifnya, dia melangkah mendekat pintu kamarnya yang terbuka.

"Huh ...." Gio menghela napas panjang. Memang tidak ada siapa-siapa di dalam kamar. Bahkan dia sampai menunduk barangkali lelaki itu bersembunyi di kolong ranjang, "Ah sudahlah, kenapa aku jadi penasaran seperti ini."

Dia meneruskan niatnya ke kamar mandi. Benar saja, kamar mandi sebelah memang tertutup. Saodah pasti masih berada di dalam kamar mandi yang tertutup itu. Namun, saat dia melewati pintu kamar mandi itu, suara merdu Saodah kembali terdengar.

"Aaaah!" Lenguhnya lebih keras dan lebih berirama. Jantung Gio berdegup kencang membayangkan apa yang sedang dilakukan wanita itu.

"Jangan-jangan aku melewatkan sesuatu. Mungkinkah lelaki itu sudah keluar lebih dulu dan meneruskan di dalam kamar mandi?"

"Bisa saja yang aku lihat dari balik lubang kunci tadi hanya Saodah, sementara lelaki yang bersamanya sudah keluar terlebih dulu?"

Syaraf-syarafnya menegang. Otaknya diracuni oleh pikirannya sendiri. Perlahan, langkahnya yang sudah melewati pintu kamar mandi itu, bergerak mundur. Tepat di depan pintu itu dia berjongkok. Mata elang pasti kalah dengan mata detektifnya saat ini. Pendengarannya ditajamkan.

KREK!

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Posisi tubuhnya yang separo berjongkok, membuat pandangannya lurus, menatap perut di balik pintu yang terbuka. Bagian atas dan bawah perut itu, hanya tertutup kain tipis yang ketat seperti yang biasa dipakai wanita-wanita yang biasa berolahraga.

"Gio?" Saodah melotot ke arahnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca