Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

author geje | Bersambung
Jumlah kata
71.3K
Popular
292
Subscribe
63
Novel / Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

author geje| Bersambung
Jumlah Kata
71.3K
Popular
292
Subscribe
63
Sinopsis
18+PerkotaanAksiGangsterMonsterMafia
Ketika kematian jadi awal kebangkitan, dan dendam jadi satu-satunya alasan hidup.Dua nyawa. Dua kematian. Satu kesempatan kedua yang terkutuk.Kaisar dikhianati keluarga sendiri. Ibunya diracun, ayahnya diam, adiknya menyiksa. Kaiser mati ditikam sahabat di jalanan gelap.Sekarang mereka satu. Dengan sistem misterius yang tawarkan kekuatan tanpa batas. Harganya? Jiwa.Nadira sang hacker dingin. Aluna dokter yang setia menunggu 8 tahun. Serena ibu tiri berbahaya yang ternyata terobsesi. Dan wanita misterius yang datang tanpa diduga.Empat wanita. Satu pria. Dendam yang tak termaafkan.Arena underground. Organisasi mafia. Konspirasi keluarga konglomerat. Semuanya harus dibayar dengan darah.Pertanyaannya bukan "bisakah dia menang?" Tapi "apakah dia masih manusia saat menang?"
# **BAB 1: MALAM KEMATIAN**

##

Hujan mengguyur jalanan kumuh Jakarta Utara seperti air comberan yang tumpah dari langit. Got-got penuh sampah meluap, bau pesing bercampur darah segar memenuhi udara malam yang pengap. Di sudut gang sempit antara dua bangunan ruko tua yang hampir roboh, Kaiser Rahmadi terbaring.

Darah. Di mana-mana darah.

Mengalir dari tujuh lubang tusukan di perutnya, punggungnya, pahanya. Merembes keluar dari sudut bibirnya yang sobek. Matanya yang dulu tajam seperti elang sekarang redup, menatap langit gelap yang tertutup asap pabrik dan kabut polusi.

"Hah... hah... sial..."

Napasnya tersengal. Paru-parunya seperti ditusuk ribuan jarum setiap kali dia mencoba menarik udara. Tubuhnya yang biasanya keras seperti batu sekarang terasa berat, asing, seperti bukan miliknya lagi.

Ini bukan pertarungan fair. Kaiser tahu itu dari awal. Harusnya dia tahu. Tapi keserakahan, kepercayaan bodoh pada orang yang salah, semua itu membuatnya lengah.

"Lo... lo pikir gue bakal... mati... semudah ini...?"

Suaranya parau, tapi masih ada api di sana. Masih ada kemarahan yang membara walau tubuhnya sudah jadi bangkai setengah mati.

Di hadapannya, bayangan seseorang berdiri. Wajah yang dia kenal. Wajah yang pernah dia percaya.

"Maaf, Bung Kaiser," suara itu terdengar datar, tanpa emosi. "Ini cuma bisnis. Lo terlalu berbahaya. Orang-orang di atas nggak suka sama lo yang terlalu kuat. Lo ancaman."

"Bisnis... keparat lo..."

Kaiser mencoba bangkit. Tangannya gemetar memegang tanah basah, kuku-kukunya mencakar aspal kasar. Tapi tubuhnya tidak merespons. Kaki-kakinya mati rasa. Darah terus mengalir, membentuk genangan kecil yang bercampur air hujan.

"Lo... pikir gue... lupa... nama lo... Rio... gue bakal... balas... gue bersumpah... gue akan—"

Tapi kata-kata itu tidak pernah selesai.

Matanya mulai gelap. Dingin merayap dari ujung jari-jarinya, naik ke lengan, ke dada, mencengkeram jantungnya yang berdetak lemah.

*Sial. Sial. SIAL!*

*Gue belum selesai!*

*Gue belum balas dendam!*

*Gue belum... gue belum...*

Gelap.

Kosong.

Sunyi.

---

**Di sisi lain kota yang sama, di dunia yang berbeda tapi sama kelamnya...**

Ruang bawah tanah mansion Adiwangsa tidak pernah disinggahi tamu. Tempatnya tersembunyi, kedap suara, dengan dinding beton tebal yang bisa meredam jeritan sekeras apa pun.

Kaisar Adiwangsa berbaring di lantai dingin. Wajahnya bengkak. Bibirnya robek. Matanya hampir tidak bisa terbuka karena lebam yang menghitam di sekitar kelopaknya.

"Kau... kau pikir kau siapa, hah?!"

Rafka Adiwangsa, adik tirinya yang tampan dan sempurna di mata semua orang, berdiri di atasnya dengan napas terengah-engah. Buku jari tangannya berdarah. Darah Kaisar.

"Kau cuma sampah! Kau dengar?! SAMPAH!"

Tendangan keras mengenai rusuk Kaisar. Tulangnya retak. Rasa sakit menjalar seperti petir ke seluruh tubuhnya.

"Ugh... ahh..."

Kaisar tidak bisa berteriak. Suaranya sudah habis sejak satu jam yang lalu. Sejak pukulan pertama. Sejak ibunya—bukan, ibu tirinya, Serena Kusuma—memandangnya dengan mata penuh kebencian dan berkata, "Lakukan apa pun. Aku tidak peduli. Dia bukan anakku."

*Kenapa...?*

*Kenapa aku dilahirkan di keluarga ini...?*

*Kenapa aku harus menanggung semua ini...?*

Kaisar tidak pernah melawan. Dia tidak pernah berani. Setiap kali dipukul, diinjak, direndahkan, dia hanya bisa menunduk, menelan air matanya, dan berdoa agar semuanya cepat berakhir.

Tapi malam ini berbeda.

Malam ini, Rafka tidak berhenti.

"Kau tahu apa yang Papa bilang tadi? Dia bilang kau gagal lagi! Investasi yang kau tangani bangkrut! Kau memalukan keluarga ini!"

Tendangan lagi. Kali ini ke kepala.

Pandangan Kaisar berputar. Dunia jadi kabur. Rasa logam darah memenuhi mulutnya.

"Kau... kau nggak berguna... kau cuma beban..."

Suara Rafka mulai menjauh.

Atau mungkin Kaisar yang mulai pergi?

Dingin. Sangat dingin.

Lantai beton terasa seperti es. Tangannya kebas. Napasnya dangkal.

*Ibu... maafkan aku...*

*Aku tidak bisa jadi anak yang ibu banggakan...*

*Aku... lemah...*

*Aku... pecundang...*

Air mata mengalir dari sudut matanya yang bengkak.

*Kalau saja... kalau saja aku punya keberanian...*

*Kalau saja aku bisa melawan...*

*Kalau saja...*

Gelap.

Kosong.

Sunyi.

---

**Dalam kegelapan tanpa ujung...**

Tidak ada cahaya.

Tidak ada suara.

Tidak ada apa pun.

Hanya kehampaan mutlak yang membuat dua jiwa tersesat tanpa arah.

Kaiser Rahmadi melayang dalam kekosongan itu. Tubuhnya tidak ada. Tangannya tidak terasa. Tapi kesadarannya masih ada, terjaga, seperti hantu yang terjebak di antara hidup dan mati.

*Gue... mati?*

*Sial.*

Amarah masih membara di dadanya yang tidak ada. Dendam yang belum terbalaskan seperti api yang tidak mau padam.

*Gue belum selesai, brengsek!*

Dan di tempat yang sama tapi entah bagaimana terasa berbeda, Kaisar Adiwangsa juga melayang. Jiwanya lelah. Hancur. Tidak ada lagi keinginan untuk bertahan.

*Akhirnya... berakhir...*

*Akhirnya aku... bebas...*

Tapi di tengah kegelapan itu, sesuatu berbunyi.

**TING!**

Suara dingin. Suara logam. Suara yang tidak seharusnya ada di tempat ini.

**[SISTEM PENDETEKSI JIWA AKTIF]**

**[MENCARI KANDIDAT...]**

**[KANDIDAT DITEMUKAN: 2]**

**[JIWA 1: KAISER RAHMADI - Tempur: SSS | Mental: A | Dendam: MAX]**

**[JIWA 2: KAISAR ADIWANGSA - Kecerdasan: S | Potensi Tersembunyi: SSS | Kesedihan: MAX]**

**[KOMPATIBILITAS: 99.8%]**

**[MERGER DIMULAI...]**

"APA—?!"

Kaiser tidak punya mulut tapi dia berteriak.

Kaisar tidak punya suara tapi dia menjerit.

Dua jiwa itu tertarik oleh kekuatan yang tidak terlihat, ditarik ke satu titik yang sama, dipaksa bersatu dalam pusaran energi yang menyiksa.

Memori bercampur.

Rasa sakit bercampur.

Amarah bercampur dengan kesedihan.

Dendam bercampur dengan penyesalan.

Dan dalam pusaran kekacauan itu, satu suara berbunyi. Suara yang terdengar seperti bisikan iblis sekaligus janji malaikat.

**[SELAMAT DATANG, TUAN BARU.]**

**[SISTEM PENGACUR TELAH MEMILIH ANDA.]**

**[APAKAH ANDA SIAP MEMBAYAR HARGANYA?]**

---

Mata terbuka.

Napas masuk dengan paksa, seperti tenggelam lalu tiba-tiba terseret ke permukaan.

**"UWEKKK—!"**

Kaisar—tidak, bukan Kaisar lagi, atau mungkin masih Kaisar tapi dengan sesuatu yang lain di dalamnya—terbatuk keras, muntah darah segar ke lantai marmer kamar mewah yang asing.

Tangannya gemetar. Tubuhnya sakit di mana-mana. Kepalanya berdenyut seperti ada ribuan palu memukul tengkoraknya dari dalam.

"Sial... sial... apa... apa yang..."

Suaranya serak, bukan suara Kaiser yang berat dan kasar, tapi suara Kaisar yang lebih muda, lebih lemah.

Dia merangkak ke cermin besar di sudut ruangan. Tangannya berdarah, meninggalkan jejak merah di lantai putih bersih.

Dan ketika dia melihat pantulan di cermin itu...

Wajah asing.

Wajah yang lebih muda. Lebih tampan. Tapi pucat. Penuh lebam. Mata yang... kosong.

"Ini... ini bukan gue..."

Tapi di dalam kepalanya, memori itu datang seperti tsunami.

Memori Kaisar Adiwangsa. Kehidupan yang menyedihkan. Keluarga yang toxic. Penderitaan yang tidak pernah berakhir.

Dan juga memori Kaiser Rahmadi. Pertarungan brutal. Pengkhianatan. Kematian yang tidak adil.

"Apa... apa yang terjadi pada gue...?"

**[MERGER SELESAI.]**

**[HOST BARU: KAISAR ADIWANGSA]**

**[JIWA PENDATANG: KAISER RAHMADI]**

**[STATUS SAAT INI:]**

**- Kekuatan Fisik: 12/100 (Tubuh Rusak)**

**- Kecerdasan: 78/100 (Warisan Kaisar)**

**- Skill Tempur: 89/100 (Warisan Kaiser)**

**- Mental: RETAK - Perlu Stabilisasi**

**- Reputasi: -45 (Dibenci)**

**[MISI PERTAMA AKTIF]**

**[BERTAHAN HIDUP: 7 HARI]**

**[REWARD: UNLOCK SKILL + 500 POIN]**

**[HUKUMAN GAGAL: KEMATIAN PERMANEN - TIDAK ADA KESEMPATAN KEDUA]**

Kaisar—atau siapa pun dia sekarang—menatap tulisan transparan yang melayang di depan matanya. Tulisan yang hanya dia bisa lihat.

Tangannya mengepal. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri sampai berdarah.

Dan untuk pertama kalinya sejak dua jiwa itu menyatu...

Dia tersenyum.

Senyum yang mengerikan. Senyum yang tidak seharusnya ada di wajah orang yang baru saja hampir mati.

"Sistem... lo bilang lo bisa kasih gue kekuatan?"

**[BENAR.]**

"Lo bisa kasih gue kesempatan buat balas dendam?"

**[BENAR.]**

"Terus... apa harganya?"

Keheningan sejenak.

Lalu sistem itu menjawab dengan nada yang entah kenapa terdengar seperti... senang?

**[JIWA ANDA.]**

**[SEDIKIT DEMI SEDIKIT, SETIAP MISI YANG ANDA SELESAIKAN, KEMANUSIAAN ANDA AKAN TERKIKIS.]**

**[PADA AKHIRNYA, ANDA AKAN MENJADI SESUATU YANG BUKAN LAGI MANUSIA.]**

**[APAKAH ANDA TETAP BERSEDIA?]**

Kaisar tidak ragu sedetik pun.

"Gue terima."

**[KONTRAK DISEGEL.]**

**[SELAMAT DATANG DI NERAKA ANDA SENDIRI, TUAN.]**

Pintu kamar terbuka dengan keras.

Serena Kusuma berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh jijik.

"Kau masih hidup? Menyedihkan."

Kaisar menatapnya. Mata yang dulu kosong sekarang menyala dengan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang berbahaya.

Dan Serena, untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Merasa takut pada tatapan anak tiri yang selama ini dia anggap sampah.

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca