

Malam itu hujan lebat disertai hembusan angin kencang dan petir yang menggelegar. Seketika suasana kampung menjadi sunyi. Tak satupun ada penduduk yang berada di luar rumah. Seorang wanita dengan perut besarnya berjalan tertatih menembus derasnya air hujan. Dia nampak begitu kesakitan dan mencari tempat untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya yang mulai melemah. Nafasnya tersengal-sengal, sepertinya dia hendak melahirkan.
Argh...., dia mengejan, tak tahan dengan rasa sakit yang dialaminya. Tubuhnya gemetar, tak tahan lagi untuk melangkah.
"Sepertinya aku hendak melahirkan. Ini sakit sekali." Dia mengerang dengan tertatih menuju ke sebuah saung kosong yang tidak begitu jauh dari rumah penduduk, namun sayangnya tak satupun ada orang yang bisa dimintainya pertolongan.
"Ya Dewa, haruskah aku melahirkan di tempat ini? Aku tak tahan lagi." Wanita bernama Dewi Setyawati itu akhirnya pasrah dengan kondisinya saat ini. Dia merebahkan diri di saung dan siap melahirkan tanpa bantuan siapapun.
Tiga jam setelahnya lahirlah seorang bayi berjenis laki-laki. Diiringi suara petir yang menggelegar bayi itu lahir dan menangis. Dewi Setyawati memeluk sang bayi sembari berkata. "Anakku, maafkan ibu yang tidak bisa merawatmu di tempat yang layak. Ibu juga tidak bisa membawamu kembali ke tempat tinggalku. Di sinilah tempat tinggalmu, kelak kau akan menjadi manusia yang hebat. Kau akan bertemu dengan orang-orang yang baik dan menyayangimu." Sang Dewi menangis sembari mengecup pipinya. Dia merasa bersalah karena tidak bisa merawat bayinya layaknya seorang ibu. "Mustika ini kelak akan menjadi pelindungmu anakku." Dewi Setyawati memasukkan mustika kecil kedalam mulutnya. Mustika keramat yang dimiliki oleh keluarganya sebagai pelindung kini terbagi untuk keturunannya. Ia hanya bisa melihatnya dari kejauhan, tak bisa membawanya kembali karena keluarganya tak memberinya izin dengan alasan bayi yang dilahirkannya adalah keturunan bangsa manusia, sedangkan dirinya terlahir dari bangsa siluman. " Sudah saatnya ibu pergi nak. Ibu janji akan melindungimu dari kejauhan. Andai saja aku dengan ayahmu terlahir dari bangsa yang sama, mungkin kau akan diterima oleh keluarga kami. Hubungan kami berakhir karena terhalang oleh restu orang tua, dan kamulah yang harus menjadi korbannya. Tapi ibu janji, suatu saat nanti kau akan kupertemukan dengan ayah kandungmu, kau pasti akan diterima dengan baik olehnya." Dewi Setyawati meletakkan bayi itu di saung dan ditutupi dengan selendangnya. Dia langsung pergi sebelum matahari terbit.
***
Di pagi hari suasana kampung digemparkan oleh tangisan seorang bayi. Penduduk kampung berkumpul untuk mencari di mana asal suaranya.
"Kalian dengar kan, suara bayi itu?"
"Iya, suaranya sangatlah jelas, tapi kira-kira bayi siapa ya? Bukankah di daerah ini tidak ada bayi ataupun wanita yang tengah melahirkan?"
"Apa jangan-jangan ada bayi dibuang?"
Warga kampung cukup panik ingin segera mengetahui asal muasal suara itu, karena menurut mereka penduduk di sekitarnya tidak ada wanita yang tengah melahirkan, atau ada bayi kecil yang baru dilahirkan.
"Apa nggak sebaiknya kita berpencar saja? Barang kali dengan kita berpencar kita bisa menemukannya," usul salah satu warga.
"Setuju. Aku juga berpikir seperti itu."
Setelah sama-sama setuju merekapun sepakat berpencar untuk mendapatkannya. Tidak selang waktu lama salah satu warga berteriak meminta pertolongan. Satu persatu orang berdatangan menuju sebuah saung yang biasanya dijadikan tempat ronda. Malam itu hujan lebat disertai angin kencang, tak satupun ada warga yang keluar. Kini mereka dihebohkan oleh salah satu dari warganya yang tengah menemukan seorang bayi di saung.
"Ada apa pak Komar?" tanya mereka bersahutan.
"Ini ada bayi ditinggalkan di sini," jawab pria paruh baya bernama Komar.
"Apa? Bayi? Bayi siapa yang ditaruh di sini? Apa sudah gila orang tuanya?"
Mereka langsung mengerubunginya. Dilihatnya bayi itu masih dipenuhi oleh darah yang sudah mengering.
"Siapa pemilik bayi ini? Kenapa dibuang di sini?" seru pak Kasun yang juga datang untuk melihatnya.
"Sepertinya bukan warga kampung ini. Mungkin dari luar daerah," sahut salah satu warga.
"Hm..., bisa jadi bayi ini dilahirkan dan ditinggalkan di sini. Miris sekali, ngapain dibuat kalau hanya untuk disakiti. Memangnya bayi punya dosa apa? Dia terlahir dalam kondisi suci, yang berdosa itu orang tuanya. Bukannya bertobat malah menumpuk masalah."
Warga dibuat geram dengan kejadian itu. Sudah beberapa kali terjadi pembuangan bayi. Mereka berharap ini yang terakhir kalinya.
"Lihatlah, bayi setampan ini dibuang, bodoh sekali orang tuanya!"
Bayi yang terbalut selendang itu digendong oleh salah satu warga. Mereka malah berebut ingin mengadopsinya.
"Pak Kasun, berhubung selama ini aku mengharapkan keturunan dan masih belum kudapatkan, bagaimana jika bayi ini aku yang rawat? Aku janji akan memberinya kenyamanan. Aku juga akan menyayanginya seperti anak kandungku sendiri," celetuk Komar.
Komar yang sudah puluhan tahun menikah tak juga mendapatkan keturunan. Mungkin dengan cara ini dia bisa mendapatkan keturunan meskipun bukan terlahir dari rahim istrinya.
"Hm..., kurasa tidak ada salahnya jika bayi ini kamu rawat pak Komar? Di sini kan yang belum memiliki anak itu cuma pak Komar. Jadi kurasa memang orang yang paling tepat untuk merawatnya adalah pak Komar. Bagaimana dengan warga yang lain? Apa kalian setuju jika pak Komar yang merawatnya?" Sebelum mengambil keputusan untuk memberikan bayi itu kepada Komar, Pak Kasun meminta izin dari warganya, dan mereka rupanya tidaklah keberatan.
Warga serempak menyetujuinya. Mereka kasihan pada Komar yang hari-hari hanya menghabiskan waktunya berdua saja dengan istrinya, tidak ada bocah yang dirawat, mungkin dengan adanya bocah itu pasangan Komar dan istrinya tak menjadi gunjingan warga.
"Baik, kami setuju!"
Komar bernafas lega setelah mendapatkan persetujuan dari warga. Dia pun mengusap dahi bayi itu dengan berucap. "Mulai sekarang kau akan menjadi putraku nak, kau akan kuberi nama Arya Sanca." Terimakasih Dewa, engkau telah mendengarkan doa-doaku. Aku janji akan merawat bayi ini dengan baik."
"Nanti malam, aku undang kalian ke rumahku buat menyambut putraku Arya Sanca. Dia akan menjadi putra kebanggaan penduduk di sini. Kalian juga bisa menganggapnya sebagai putra kalian, karena kita bersama-sama menemukannya."
"Baik, terimakasih Pak Komar, terimakasih atas undangannya, dan kami usahakan untuk datang ke rumahmu. Semoga kelak Arya Sanca menjadi pemuda yang gigih berani. Dia terlahir bersamaan dengan hujan petir. Anggaplah dia keturunan Dewa yang dianugerahkan kepada kita."
Setelah cukup lama berada di saung, mereka memutuskan untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Namun salah satu warga dikejutkan oleh keberadaan sisik ular yang ada di bawah saung.
"Loh, bukannya ini sisik ular?"
"Mana?"
Semua warga langsung tertuju ke bawah. Bola mata mereka terbelalak melihat sisik ular dengan ukuran yang lumayan besar dan panjang. Bulu kuduk mereka seketika berdiri. Mereka pun bertanya tanya, kenapa ada sisik ular bersamaan dengan adanya bayi di situ? Atau jangan-jangan bayi itu?