Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
MUKHTAR KULI BANGUNAN JADI BOS

MUKHTAR KULI BANGUNAN JADI BOS

Mumtazd | Bersambung
Jumlah kata
40.2K
Popular
100
Subscribe
10
Novel / MUKHTAR KULI BANGUNAN JADI BOS
MUKHTAR KULI BANGUNAN JADI BOS

MUKHTAR KULI BANGUNAN JADI BOS

Mumtazd| Bersambung
Jumlah Kata
40.2K
Popular
100
Subscribe
10
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeBalas DendamPria MiskinAnak Yatim Piatu
Di bawah terik matahari dan debu semen yang menyesakkan, Mukhtar hanyalah angka yang tak dianggap. Setiap peluh yang jatuh adalah saksi bisu penghinaan yang ia telan bulat-bulat. Dicampakkan karena kemiskinan dan dikhianati oleh cinta yang ia perjuangkan dengan tulang kering, Mukhtar dipaksa berdiri di titik nadir. ​Namun, ketika dunia terus menginjaknya, ia berhenti memohon. Dari reruntuhan harga diri yang hancur, ia membangun kerajaannya sendiri. Kini, ia kembali bukan untuk meminta kasihan, melainkan untuk menunjukkan bahwa tangan yang dulu penuh kapalan, kini mampu menggenggam dunia. ​"Dulu mereka meludahi jejak kakiku, sekarang mereka harus mendongak hanya untuk melihat bayanganku."
1 SEGENGGAM BERAS, SELAUT HINAAN

Matahari baru saja naik sepenggalah di Desa Karang Jati, tapi peluh sudah membanjiri kaos oblong Mukhtar yang sudah tipis dan berlubang di bagian bahu. Remaja tujuh belas tahun itu baru saja meletakkan dua pikulan kayu berisi tumpukan batu kali di pinggir jalan setapak.

​"Sudah semua, Pak?" tanya Mukhtar sambil menyeka keringat dengan punggung tangan yang kasar.

​Pak Haji Mamat, pemilik lahan, keluar dari teras rumahnya yang megah. Ia menatap tumpukan batu itu dengan mata menyipit, lalu beralih menatap Mukhtar dari ujung kaki hingga ujung kepala.

​"Baru segini, Tar? Kamu ini lelet sekali. Katanya butuh uang buat makan?"

​Mukhtar menunduk, nafasnya masih terengah.

"Maaf, Pak Haji. Tadi saya harus memandikan Ibu dulu sebelum berangkat. Adik-adik juga belum sarapan, jadi saya agak telat."

​Pak Haji mendengus, ia merogoh saku celananya dan melemparkan selembar uang sepuluh ribu ke tanah. Uang itu mendarat tepat di dekat kaki Mukhtar yang hanya beralaskan sandal jepit putus yang disambung peniti.

​"Ambil itu! Cukup buat beli beras satu liter dan tempe."

​"Tapi Pak... janji tadi kalau dua pikul saya dapat dua puluh ribu," bisik Mukhtar lirih, tangannya bergetar.

​"Kamu mau protes? Sudah untung saya kasih kerjaan! Anak yatim sepertimu itu harusnya tahu diri. Di desa ini, kalau bukan saya yang kasihan, kamu itu sudah mati kelaparan sama adik-adikmu!" bentak Pak Haji Mamat.

​Mukhtar terdiam. Rahangnya mengeras, tapi ia tak punya pilihan. Dengan perlahan, ia membungkuk, memungut uang sepuluh ribu itu dari atas tanah.

"Terimakasih, Pak Haji."

​Mukhtar berjalan pulang melewati jalanan depan balai desa. Di sana, langkahnya terhenti. Di bawah pohon beringin yang rindang, seorang gadis dengan seragam SMP yang rapi sedang berdiri menunggu jemputan. Dia adalah Sarah. Cantik, bersih, dan sangat kontras dengan Mukhtar yang berlumur debu tanah.

​"Mukhtar?" panggil Sarah lembut.

​Mukhtar sempat ingin lari, ia malu dengan bau keringatnya.

"Eh, Sarah. Belum pulang?"

​"Lagi nunggu Bapak jemput. Kamu... habis kerja lagi?" Sarah mendekat, raut wajahnya penuh rasa iba.

"Tar, wajahmu pucat sekali. Kamu sudah makan?"

​Mukhtar memaksakan senyum, meski perutnya terasa melilit karena sejak kemarin hanya minum air putih.

"Sudah kok. Tadi sarapan banyak di rumah Pak Haji."

​"Bohong," potong Sarah cepat. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah kotak makan kecil.

"Ini, ambil. Aku sengaja nggak makan tadi di sekolah buat kamu."

​"Nggak usah, Sar. Nanti kalau ketahuan Bapakmu, aku bisa celaka."

​"Ambil, Mukhtar! Sebelum Bapak datang!" paksa Sarah sambil menyodorkan kotak itu ke tangan Mukhtar.

​Saat tangan mereka bersentuhan sesaat, sebuah klakson motor nyaring mengejutkan mereka. Sebuah motor matic baru berhenti tepat di depan mereka. Pria paruh baya dengan batik rapi dan kopiah hitam turun dengan wajah merah padam. Pak Lurah.

​"Sarah! Masuk ke motor sekarang!" teriak Pak Lurah.

​"Bapak, Sarah cuma mau kasih..."

​"Masuk!" Pak Lurah menarik lengan Sarah kasar, lalu menatap Mukhtar dengan tatapan jijik seolah melihat bangkai.

"Kamu lagi, kamu lagi. Sudah saya bilang berapa kali, jangan dekati anak saya!"

​"Saya tidak bermaksud apa-apa, Pak Lurah. Saya cuma lewat," jawab Mukhtar pelan.

​"Halah! Anak tukang sapu, nggak punya bapak, miskin, mau coba-coba goda anak Lurah? Kamu itu kuli, Tar! Selamanya bakal jadi kuli! Jangan mimpi mau naik kelas. Lihat bajumu, lihat baumu! Kamu itu pengganggu di desa ini!"

​"Bapak, jangan bicara begitu! Mukhtar orang baik!" Sarah berteriak, matanya mulai berkaca-kaca.

​"Diam kamu! Orang baik tidak akan membiarkan ibunya sakit-sakitan dan adiknya minta-minta di pasar! Tar, dengar ya, sekali lagi aku lihat kamu bicara sama Sarah, aku pastikan kamu dan keluargamu diusir dari tanah tumpangan itu!"

​Kendaraan itu melesat pergi, meninggalkan debu yang masuk ke mata Mukhtar. Ia berdiri mematung. Kotak makan dari Sarah jatuh ke tanah, isinya tumpah ke debu. Nasi goreng yang harum itu kini kotor.

​Mukhtar sampai di rumah, sebuah gubuk reyot dengan dinding bambu yang banyak lubangnya.

​"Kak Mukhtar pulang!" teriak Siti, adiknya yang paling kecil, berlari mem3luk kaki Mukhtar. "Kak, lapar... Siti lapar."

​Di sudut ruangan, Andi (10 tahun) sedang duduk sambil memijat kaki Ibunya yang terbaring lemah di atas dipan bambu beralaskan tikar pandan.

​"Andi, ini uang sepuluh ribu. Cepat ke warung Bu Asih, beli beras setengah kilo saja, sisanya beli telur satu butir dan kerupuk," perintah Mukhtar sambil menyerahkan uang lecek tadi.

​"Telurnya cuma satu, Kak?" tanya Andi polos.

​"Buat Ibu sama Siti. Kakak sudah kenyang di tempat kerja tadi. Cepat!"

​Setelah Andi pergi, Mukhtar mendekati Ibunya. Tangan Ibu yang tinggal tulang membungkus kulit itu meraih tangan Mukhtar.

​"Mukhtar... maafkan Ibu, Nak," bisik Ibu dengan suara parau. Air mata menetes dari sudut matanya yang cekung.

​"Ibu bicara apa? Ibu nggak salah."

​"Ibu yang buat kamu susah. Harusnya kamu sekolah, main sama teman-temanmu... tapi kamu malah memikul batu."

​Mukhtar menggenggam tangan Ibunya erat, lalu menciumnya. Aroma minyak kayu putih dan keringat Ibu menyeruak.

"Tugas Mukhtar jaga Ibu, Siti, dan Andi. Mukhtar janji, suatu saat nanti, kita nggak akan dihina lagi. Mukhtar bakal bangun rumah yang bagus buat Ibu. Bukan dari bambu, tapi dari batu bata yang kuat."

​Ibu hanya tersenyum getir, seolah tahu janji itu terlalu berat untuk seorang anak tanpa koneksi dan tanpa harta.

***

​Malam itu, setelah membagi sebutir telur menjadi dua untuk Siti dan Andi, Mukhtar duduk di depan pintu rumahnya yang tak bisa dikunci rapat. Ia menatap bintang, perutnya menjerit minta diisi, tapi hatinya jauh lebih sakit.

​Ia teringat kata-kata Pak Lurah: “Kamu itu kuli, Tar! Selamanya bakal jadi kuli!”

​Mukhtar mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih.

"Aku mungkin mulai dari tanah, tapi aku nggak akan membiarkan kalian menguburku di sini."

***

Setelah Andi pergi ke warung, suasana hening yang menyesakkan kembali menyelimuti gubuk itu. Hanya terdengar suara napas Ibu yang pendek-pendek dan derit bambu lantai yang diinjak Siti.

​"Kak, tadi di sekolah Siti ditanya guru," bisik Siti sambil menarik ujung baju Mukhtar.

​Mukhtar menoleh, mencoba menyembunyikan guratan lelah di wajahnya.

"Tanya apa, Ti?"

​"Ditanya kapan bayar uang buku. Katanya kalau minggu depan belum bayar, Siti nggak boleh ikut ujian," Siti menunduk, memainkan jari-jarinya yang kecil.

"Siti bilang sama Ibu, tapi Ibu malah nangis. Jadi Siti nggak berani tanya lagi."

​Hati Mukhtar seperti diremas. Ia meraba sakunya yang kini benar-benar kosong. Sepuluh ribu tadi adalah nyawa mereka untuk hari ini. Untuk uang buku? Rasanya seperti mimpi yang terlalu tinggi.

​"Nanti Kakak cari tambahan ya, Sayang. Siti jangan sedih, yang penting Siti belajar yang rajin," hibur Mukhtar sambil mengelus rambut adiknya yang agak kusam.

​"Benar, Kak? Kakak nggak akan disuruh pikul batu lagi sampai malam kan? Kemarin Siti lihat bahu Kakak berd4rah..."

​Mukhtar tertegun. Ia segera menarik kerah bajunya untuk menutupi luka lecet akibat gesekan kayu pikulan yang kasar.

"Enggak, itu cuma merah sedikit. Sudah, sana bantu Andi di dapur kalau dia sudah datang."

​Tak lama, Andi kembali dengan wajah lesu. Di tangannya hanya ada bungkusan kecil beras dan satu butir telur.

​"Kak... Bu Asih bilang utang kita yang bulan lalu harus dicicil. Tadi uangnya dipotong dua ribu sama dia. Jadi berasnya nggak sampai setengah kilo," ujar Andi dengan suara bergetar.

​Mukhtar memejamkan mata sejenak. Cobaan seolah datang bertubi-tubi tanpa jeda untuknya bernapas. Di desa ini, kemiskinan adalah dosa yang tak termaafkan. Orang-orang melihat mereka bukan sebagai tetangga, tapi sebagai beban pandangan mata.

​"Nggak apa-apa, Ndi. Masak saja yang ada. Masukkan air yang banyak biar nasinya jadi bubur, supaya cukup buat kita semua."

​Saat aroma bubur mulai tercium, Mukhtar keluar sebentar ke sumur tua di belakang rumah untuk membersihkan diri. Air sumur yang dingin menusuk tulang, tapi tak sedingin ucapan Pak Lurah yang terus terngiang di telinganya. Ia melihat bayangannya di air keruh. Wajah seorang remaja yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Mata yang harusnya bersinar penuh ambisi, kini meredup oleh beban hidup yang tak masuk akal.

​Ia teringat Sarah lagi. Gadis itu mungkin sekarang sedang makan malam mewah dengan lauk daging di meja jati yang mengkilap, sementara ia di sini harus menghitung butiran beras agar cukup untuk tiga perut.

​"Dunia ini tidak adil, Ayah," bisik Mukhtar pada langit yang mulai menggelap.

"Kenapa Ayah pergi terlalu cepat? Kenapa Ayah tinggalkan kami di sarang serigala seperti ini?"

​Tak ada jawaban. Hanya suara jangkrik dan batuk Ibu yang terdengar dari dalam rumah, memecah kesunyian malam yang dingin. Mukhtar tahu, besok ia harus bekerja dua kali lebih keras, atau mereka benar-benar akan habis dimakan kelaparan.

Next...

Lanjut membaca
Lanjut membaca