

Malam hari telah tiba, dikediaman Aksara Bimantara.
Regan yang baru saja keluar dari dalam kamarnya, dan turun menuju lantai satu, kakinya melangkah ke ruang makan.
Seketika Regan mengernyitkan dahinya. Saat melihat pemandangan yang tidak biasa terlihat disana.
Regan melihat sang papa nampak tersenyum ke arah wanita yang berada di sampingnya.
Tampak terlihat mereka sedang duduk di ruang makan, sambil bersendah gurau, bersama dua wanita yang kemungkinan berbeda usia.
Tap tap tap
Langkah kaki Regan semakin mendekat ke arah mereka, seketika membuat Aksara menatap anak tunggalnya sambil tersenyum hangat.
"Boy, sini duduk ! Ayo kita makan terlebih dahulu." Ucapnya dengan nada yang tidak bisa di bantah.
Sedangkan Regan hanya diam, tapi dia menarik kursi sebelah papa nya, dan menatap kedua wanita yang berbeda usia itu dengan tatapan yang tajam.
Kedua wanita itu terpaku, dan terpesona dengan ketampanan Regan yang tidak ada obat.
Sampai membuatnya melongo bak orang bego.
Melihat istri dan anaknya yang bengong, papa Aksa berdehem, dan menyadarkan mereka berdua.
"Ekhmmmm !"
Seketika membuat mereka tersadar, dan kembali fokus dengan makanannya.
Dan situasi disana berubah menjadi kaku.
Hingga beberapa saat kemudian, makan malam pun telah selesai.
Regan hendak meninggalkan ruang makan, tapi terdengar suara Aksa menginterupsi.
Sehingga membuat Regan mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana.
"Boy. Papa akan berbicara dengan kamu, dan sekarang ayo kita ke ruang keluarga."
Ucapnya tegas, tanpa bisa dibantah. Sedangkan Regan hanya menganggukkan kepalanya saja.
Dan dia juga penasaran dengan kedua wanita yang mengekor di samping papa Aksa.
Seketika Regan mendengus, dan menatap nyalang ke arah mereka.
Bahkan fikirannya sudah kemana mana, dan menerka nerka tentang keduanya.
Setibanya di ruang keluarga yang tampak mewah dan luas itu, mereka sudah duduk di posisinya masing masing.
"Ekhmm ! Regan, perkenalkan ini mama Yunita, mama baru kamu. Dan ini Citra, sekarang akan menjadi adik kamu."
Deg !
Regan mematung, jantungnya seakan berdetak dengan kencang. Saat mendengar penuturan sang papa yang memperkenalkan istri dan adik tirinya.
Regan terdiam, dan mengeraskan rahangnya.
Aksa yang melihat itu hanya menatap tajam ke arah Regan.
"Kenapa diam Regan? Papa sudah memberitahu kamu soal pernikahan papa.
Tapi kamu sendiri tidak datang di acara itu, jadi sekarang kamu tidak boleh protes, saat papa membawa mama, dan adik kamu untuk tinggal disini bersama kita."
Ucap Aksa tegas dan tanpa bisa dibantah, sedangkan Regan menganggukkan kepalanya saja.
Toh berdebat pun percuma, karena kedua wanita yang berada dihadapannya sekarang ini sudah menjadi keluarganya.
"Sudah kan, pah? Kalau begitu saya permisi."
Ucapnya dan berlalu dari sana, meninggalkan mereka yang masih diam terpaku melihat punggung Regan yang menghilang di atas undakan tangga.
Papa Aksa menghela nafasnya, dan menatap istrinya itu dengan penuh cinta.
"Sayang, maafkan sikap anak mas ya." Aksa terlihat sangat lembut saat memperlakukan sang istri.
"Iya mas, aku tidak merasa tersinggung kok. Aku akan mencoba mendekatinya dengan pelan pelan, agar dia bisa menerima kehadiran aku dan Citra di keluarga kecil kita ini, mas."
Sahut Yunita dengan senyum yang manis, dan tidak pernah luntur dari wajah cantiknya itu.
"Terimakasih sayang sudah mengerti aku dan anak ku."
Sahut Aksa sambil merangkul pinggang ramping istrinya.
"Sama sama Mas." Sahut Yunita dengan menduselkan kepalanya di dada bidang Aksa.
Citra yang berada disana mengerucutkan bibirnya.
"Hareudang, hareudang, panas, panas.
Haisss, aku sudah seperti nyamuk saja."
Keluhnya sambil mengipasi wajahnya dengan tangan, yang membuat pasangan suami istri itu terkekeh gemas. Saat melihat tingkah Citra yang merajuk.
Yunita wanita yang berusia 35 tahun, dan masih terlihat sangat muda. Di persunting oleh Aksara Bimantara seorang pengusaha properti yang memiliki beberapa cabang perusahaan.
Aksa sendiri sekarang berusia 42 tahun.
Dan saat ini Yunita sudah resmi menjadi mama sambung Regan.
Tidak lupa Yunita juga membawa anak pertamanya, dari pernikahan pertamanya dulu yang bernama Citra, yang kini masih berusia 17 tahun.
Dan masih duduk dibangku SMA.
Yunita memiliki wajah yang cantik, dan body yang aduhai, semlehoi pokoknya.
Yang membuat siapa saja pasti terkagum kagum, saat melihatnya.
Tubuhnya yang proporsional, dan indah membuat pesonanya tidak bisa diragukan lagi.
Semua yang ada di diri Yunita terlihat sangat enak di pandang. Dan tidak ada celah sedikitpun. Meskipun Yunita pernah melahirkan.
Tapi tidak membuatnya terlihat jelek. Karena Yunita pandai menjaga kesehatan tubuhnya.
Tatapan teduh, dan terlihat tulus sangat membuat aura Yunita terpancar dengan jelas.
Begitupun dengan Citra, gadis manis yang masih duduk di bangku SMA itu, yang memiliki kecantikan yang di warisi oleh sang mama.
Wajah Citra yang lembut, dan putih bersih, mata hazel yang begitu indah membuatnya semakin terlihat menggemaskan.
Dan badannya pun tidak kalah indah, dan terlihat seperti gitar spanyol.
Di usianya yang masih menginjak remaja itu.
Citra di kenal sebagai sosok yang ceria, bar bar dan manja. Kadang dia juga pelupa.
Entah bagaimana nanti ceritanya jika mereka hidup dalam satu atap.
"Sayang wajah kamu kenapa?" Tanya Yunita, saat melihat pipi sang anak yang memerah.
"Panas ma, lihat mama sama om Aksa bermesraan di depan aku."
Sahutnya, sambil bersedekap dada dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
Seketika Yunita dan Aksa saling pandang, dan mereka tersenyum tipis.
Lalu bergegas menjaga jarak, tersadar kalau tindakannya di lihat anak mereka.
Keduanya merasa tidak enak dengan Citra.
"Maafkan mama sayang."
"It's oke ma. Oh iya ma, om aku mau istirahat dulu ya."
Ucapnya lalu beranjak dari duduknya saat itu juga.
"Nak, bisa panggil papa saja. Kan sekarang kamu juga anak papa."
Pinta Aksa menatap ke arah anak sambungnya itu.
Citra menghentikan langkahnya, dan menatap ke arah mereka secara bergantian.
Seketika mata Yunita berkaca kaca, karena ketulusan suaminya yang dapat menerima dirinya dan Citra di keluarganya itu.
Bahkan Aksa tidak mempermasalahkan asal usul dirinya, yang berlatar belakang dari kalangan orang yang tidak mampu.
Citra menatap ke arah mama nya, dan Yunita pun menganggukkan kepala tanda sebagai jawaban.
"Baiklah papa." Sahut Citra agak kaku, sambil tersenyum.
Yang membuat Aksa ikut tersenyum juga.
"Baiklah nak, kamu istirahat sana. Mama sama papa juga mau istirahat.
Tidak lupa kan arah menuju kamar kamu?"
Tanya Aksa yang di anggukki Citra.
"Tidak pah, aku masih ingat kok.
Kan tadi sore sudah berkeliling. Jadi mudah mudahan aku tidak nyasar. He he."
Sahutnya sambil terkekeh.
Yang membuat mereka ikut terkekeh juga.
Setelah kepergian Citra ke kamarnya, keduanya pun menyusul untuk beristirahat.
Pernikahan keduanya sudah berjalan dua hari yang lalu.
Tapi siang tadi, Yunita dan Citra baru di ajak pindah ke rumah besar Aksara Bimantara.
Karena kesibukan Aksa, yang baru sempat menjemput keluarganya.
Dan Yunita wanita yang sabar, dan mengerti kondisi dan situasi suaminya itu, yang merupakan seorang pengusaha.
Begitupun dengan Regan yang baru pulang ke rumah itu, setelah tiga hari menginap di apartemennya, jadi dia tidak tau tentang kedatangan anggota keluarga barunya itu.
Sehingga dia menjadi agak sedikit syok dengan kedatangan keduanya.
Tapi Regan sempat terpaku dengan kecantikan mereka.
Dan itu pun hanya sesaat saja, setelah kesadarannya kembali, dan mengingatkan kalau mereka adalah keluarganya sekarang.
Citra berjalan menuju kamarnya, tapi dia seketika menghentikan langkahnya.
"Astaga, kamar gue yang mana ya. Gue lupa lagi." Ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dan menatap beberapa pintu kamar itu yang terlihat berjejer dengan rapih.
Sifat pelupanya kumat, sehingga membuat Citra menghela nafas kesal.
"Yang itu kali ya. Akh coba buka aja satu satu."
Gumamnya lalu mendekat ke salah satu pintu kamar, dan membukanya perlahan.
"Hhmmm bukan yang ini." Gumamnya.
Lalu beralih membuka pintu sebelahnya.
Ceklek
"Ekh !"
Deg !