

PRAANG!!! Sebuah piring jatuh tergelincir dari tangan Vita saat mencuci.
" Ma?? " teriak Rendy anak tirinya yang berada dalam kamar.
" Iya ga papa " sahut Vita terbebas dari lamunannya.
Sejak ditinggal Pram suaminya untuk selamanya karna kecelakaan mobil di jalan tol dua tahun lalu, Vita sering melamun. Dia dinikahi oleh Pram yang sudah memiliki seorang anak berusia dua tahun, dan mereka hidup bahagia.
Ibunya Rendy meninggal saat melahirkannya, wajar jika anak itu sangat manja kepada Vita.
" Aduuh " erang Vita saat pecahan piring menggores jari telunjuknya.
Rendy segera berlari mengambil tissue dan membalut luka mama tirinya itu, tapi darah masih terus mengalir.
" Lain kali aku aja yang beresin ya, Ma "
" Iya "
CLUP... Tiba tiba Rendy memasukkan jari telunjuk mamanya kedalam mulutnya.
" Eh..Ren.. " ucap Vita agak terkejut
" Ga papa, emang gini biar ga pendarahan " jawab Rendy lalu melanjutkan mengulum jari mamanya.
Sedangkan mama muda itu mulai agak risih apalagi pandangan mata Rendy tak berkedip melihat tubuhnya yang terlihat seksi. Seperti biasa setelah tutup toko di malam hari, Vita mengikuti senam aerobik di YouTube. Kali ini dia mengenakan baju singlet yang tampak kekecilan seakan tak mampu menahan buah melonnya yang menyembul, dan rok senam mini yang hanya berapa senti saja dari atas pinggang. Sengaja dia tak memakai legging karna malam itu terasa gerah, tapi penampilannya malah menjadi pemandangan nan indah bagi seorang remaja yang baru lulus SMA.
" Sudah.. sudah "
" Iya, Ma.. emm biarin Rendy yang beresin aja "
Vita lalu bangkit berdiri lalu berjalan membelakangi anak tirinya itu menuju kamar mandi, setelah dua langkah ia berhenti sejenak membungkuk mengambil pecahan kaca yang hampir mengenai kakinya. Dan dari cermin ia baru menyadari bongkahan bulat padat bagian belakangnya tidak luput dari pandangan mata Rendy.
Pagi itu seperti biasa Vita mulai membuka toko kelontong dari modal warisan suaminya, dan hasil penjualannya juga cukup besar untuk hidup mereka berdua.
" Ma, aku berangkat dulu ya. Mau liat kampus sama temen-temen, sapa tau kalo ada yang cocok " kata Rendy yang sudah tampak rapi.
" Iya, anak mama yang ganteng. Ati ati dijalan ya "
" Berangkat dulu, Ma "
CUP! Sebuah kecupan mendarat di bibir Vita, membuatnya tertegun sambil melihat Rendy yang berlalu begitu saja. Jemarinya meraba bibirnya yang sudah sekian lama tak tersentuh, ia juga heran baru kali ini Rendy menciumnya. Bukan didahi, bukan dipipi, tapi dibibir. Biasanya cium tangan saja. Apakah Rendy lupa atau salah sasaran harusnya ke pipi atau dahi?
Pikiran mama muda berusia 38 tahun itu berkecamuk, dadanya berdegup agak kencang.
" Jeng Vita, heh! "
" Oh iya, Jeng Neni..maaf "
" Minyak goreng yang satu liter ya "
" Eh iya, sebentar "
Vita tersadar dari kebengongannya buru buru melayani Jeng Neni tetangganya terkenal genit. Usianya mungkin setahun dua tahun diatas Vita tapi untuk body tidak kalah seksi, hanya Vita lebih unggul untuk paras wajahnya yang lebih cantik dan kulit yang mulus.
" Ini kembaliannya ya, Jeng. Terimakasih "
" Eh, Jeng.. Rendy makin ganteng aja ya, udah kliatan dewasa. Oh iya, nanti kalo ga ngrepotin minta tolong benerin lampu dirumah ya, Jeng? Maklum Mas Seno dinas luar kota baru minggu depan pulangnya "
" Baik, Jeng. Nanti saya suruh Rendy kesana ya "
" Okay, makasih ya "
Jeng Neni tetangga yang hanya berjarak beberapa rumah saja itu berjalan melenggang dengan goyangan pinggulnya yang menggoda setiap mata lelaki. Suaminya sering keluar kota, punya dua anak perempuan, yang pertama kuliah diluar kota sedangkan yang kedua masih kelas 2 SMA.
Jam 12 siang toko tutup sementara dan buka lagi jam 16.00 hingga jam 21.00. Vita membuka smartphone nya seperti kebanyakan wanita scroll scroll tiktok. Tapi kebosanan mulai merasukinya, teringat Rendy mengulum jari dan mengecup bibirnya. Hawa panas mulai merasuki sekujur tubuh membuatnya gelisah, sebuah kondisi yang seharusnya ada suami disisinya.
Jarinya segera menekan sebuah situs yang dulu biasa dia lihat dengan suaminya hanya untuk mencari sensasi lain sebelum foreplay. Vita duduk bersandar disofa dengan senyaman mungkin, tatapan matanya fokus ke layar ditangan kirinya. Adegan demi adegan makin membuatnya gerah, keringat mulai mengalir dari leher ke belahan dadanya. Daster yang ia kenakan mulai terasa sesak, kedua lututnya terangkat keatas dan kakinya bertumpu dipinggir sofa memperlihatkan betis hingga pangkal pahanya yang putih mulus.
PLUK! Smartphone terjatuh dari genggaman tangannya, tubuh Vita bergetar kepalanya mendongak keatas. Bayangan bibir Rendy mulai menyentuh bibirnya yang sudah merekah, tanpa sadar kedua pahanya terbuka lebar-lebar dan jemarinya mulai menari dibalik kain segitiga yang telah basah kuyup.
Ssst.. Aaaakkhhhh... Mama muda itu memekik merasakan hawa panas yang seakan keluar dari tubuh membuatnya langsung terkulai lemas lalu tertidur diatas sofa.