

Udara di rumah sakit terasa begitu menusuk dingin, bahkan meskipun kipas angin yang sudah tua hanya menghembuskan udara yang hangat dan bercampur aroma obat yang menyengat. Doni menatap wajah ayahnya yang sudah pucat seperti kain putih tanpa warna, kedua tangannya menggenggam erat tangan ayahnya yang mulai membeku dingin. Denyut nadi yang lemah di pergelangan tangan itu semakin lama semakin sulit dirasakan, seperti nyawa yang perlahan-lahan melayang menjauh dari jasad yang sudah lelah bertarung.
“Ayah… ayah jangan tinggalkan aku saja…” ucap Doni dengan suara yang tercekik, mata penuh dengan air mata yang tak kunjung berhenti menetes. Dia masih ingat betul bagaimana beberapa jam yang lalu, ayahnya tiba-tiba mengalami serangan jantung yang parah saat sedang membuka sebuah amplop berisi surat yang membuat wajahnya memucat dan tubuhnya bergoyang seperti kayu yang diterpa angin kencang. Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, ayahnya langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun kondisi tubuhnya yang sudah lemah akibat bekerja keras selama bertahun-tahun untuk mempertahankan perusahaan membuatnya tidak kuat lagi bertahan.
Saat napas ayahnya mulai menjadi pendek dan sesak, dia mengangkat tangan yang lemah untuk menyentuh pipi Doni. Jari-jarinya yang kurus bergesekan dengan kulit Doni yang masih muda, namun penuh dengan bekas luka dari pekerjaan keras yang dia lakukan sejak kecil untuk membantu ayahnya. “Doni… anakku… dengarkan baik-baik…” suara ayahnya terdengar sangat lemah, seperti bisikan angin yang hampir hilang di tengah deru mesin alat medis di kamar rawat inap itu. “PT. Jaya Wijaya… perusahaan itu… adalah warisan dari leluhur kita… telah direbut dengan cara licik oleh Ferdian dan ayahnya… kamu harus… merebut kembali… jangan biarkan mereka menikmati hasil jerih payah kita…”
Kata-kata itu seperti kilatan petir yang menyambar hati Doni. Dia mengangguk dengan penuh kesedihan dan tekad yang menyala. “Aku akan lakukan itu, Ayah. Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita.”
Sesaat setelah itu, napas ayahnya akhirnya berhenti. Mesin monitor yang menunjukkan denyut jantung ayahnya menunjukkan garis lurus yang dingin, menandakan bahwa nyawa yang sudah lama bertarung telah pulang ke pangkuan Tuhan. Tangisan Doni pun meledak bebas, menggema di kamar yang sunyi itu. Dia merasakan dunia seolah runtuh di sekitarnya – ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki setelah ibunya pergi saat dia masih kecil.
Namun penderitaan belum berhenti di situ. Hanya tiga hari setelah pemakaman ayahnya, kabar mengejutkan datang lagi seperti badai yang tak terduga. Adiknya, Dina, yang baru berusia delapan belas tahun, ditemukan tidak bernyawa di kamar tidurnya dengan sebuah catatan bunuh diri di samping tempat tidurnya. Dalam catatan itu, Dina menyatakan bahwa dia tidak bisa lagi menanggung beban pikiran setelah kehilangan ayahnya dan rasa sakit karena selalu diolok-olok oleh teman-temannya karena status keluarga yang sudah tidak lengkap. Dia juga menyebutkan bahwa dia merasa sangat kesepian karena Doni sering harus bekerja jauh untuk membantu ayahnya, sehingga tidak ada yang bisa dia ajak berbagi cerita.
Doni merasa seperti tubuhnya terkena pukulan keras di dada. Dua orang terkasih dalam hidupnya telah pergi dalam waktu yang sangat dekat. Saat dia sedang meratapi kematian adiknya, sebuah kebenaran yang menyakitkan datang menghantamnya seperti badai. Dari cerita tetangga yang merasa iba padanya, Doni mengetahui bahwa ibunya yang pergi saat dia masih kecil tidak pergi sendirian – dia pergi bersama seorang pria bernama Bambang, ayah dari Ferdian yang telah merebut perusahaan ayahnya. Dan sekarang, Ferdian adalah orang yang sedang menguasai PT. Jaya Wijaya dengan tangan besi.
“Mengapa? Mengapa semua ini harus terjadi padaku?” gumam Doni sambil menatap foto keluarga kecil yang masih dia simpan di lemari kayu yang sudah tua. Di foto itu, dia, adiknya, ayahnya, dan ibunya tersenyum bahagia. Namun kini, hanya dia yang tersisa sendirian di dunia yang dingin dan kejam ini.
Tekad dalam hati Doni semakin menguat. Dia tidak hanya ingin merebut kembali perusahaan, tetapi juga mencari tahu apakah ada hubungan antara Ferdian dengan kematian ayahnya dan adiknya. Apakah mereka hanya menjadi korban dari takdir yang kejam, ataukah ada tangan-tangan licik yang bekerja di balik semua ini?
Demi mencari jawaban dan melaksanakan janji kepada ayahnya, Doni memulai perjalanan untuk mencari tahu dimana Ferdian berada. Dia menghabiskan beberapa bulan untuk mengumpulkan informasi, bekerja sambilan sebagai tukang parkir dan buruh bangunan untuk mencukupi kebutuhan hidup dan biaya investigasinya. Dengan bantuan seorang teman yang bekerja di dunia bisnis, akhirnya Doni menemukan bahwa Ferdian tinggal di sebuah rumah mewah di kawasan elit kota Semarang, dan kini telah menikah dengan seorang wanita cantik bernama Sania.
Pada suatu sore yang panas, Doni berdiri di kejauhan melihat rumah mewah Ferdian. Rumah itu besar dengan taman yang indah dan pagar besi yang tinggi yang menunjukkan kemakmuran yang melimpah. Saat dia sedang mengamati, sebuah mobil mewah keluar dari gerbang rumah itu. Di dalam mobil, Doni bisa melihat seorang pria yang tampak sombong dengan jas mahal – itu pasti Ferdian. Sedangkan di sebelahnya duduk seorang wanita yang sangat cantik dengan wajah yang tampak penuh kesedihan dan kesepian. Wajahnya yang cantik dengan mata besar dan bibir merah tampak pucat, seolah dia sedang menghadapi beban yang sangat berat. Teman Doni memberitahu bahwa wanita itu adalah Sania, istri Ferdian.
Dari informasi yang dia kumpulkan, Doni mengetahui bahwa Sania sering ditinggal sendirian di rumah karena Ferdian selalu keluar kota dengan alasan ada proyek penting di luar kota. Beberapa kali, Ferdian bahkan tidak pulang selama berbulan-bulan, meninggalkan Sania yang kesepian di rumah besar itu tanpa siapa-siapa kecuali beberapa pembantu rumah tangga.
Ide muncul dalam benak Doni seperti kilatan cahaya di tengah kegelapan. Jika dia bisa masuk ke dalam rumah tangga Ferdian, dia akan memiliki akses yang lebih mudah untuk mengumpulkan informasi tentang bagaimana Ferdian bisa merebut perusahaan ayahnya dan apakah dia terlibat dalam kematian ayah dan adiknya. Selain itu, dengan berada di dekat Ferdian, dia bisa merencanakan langkah-langkah untuk merebut kembali perusahaan.
Setelah berpikir matang selama beberapa hari, Doni memutuskan untuk melamar menjadi sopir pribadi Sania. Dia tahu bahwa Sania sering kesulitan mencari sopir yang bisa dipercaya karena Ferdian selalu merasa tidak nyaman dengan orang-orang baru yang masuk ke dalam rumah mereka. Namun Doni merasa bahwa ini adalah kesempatan terbaik yang dia miliki.
Pada pagi hari yang cerah, Doni mengenakan baju yang paling rapi yang dia miliki dan pergi ke rumah Ferdian. Dia menghadap keamanan di gerbang rumah dan menyampaikan maksudnya untuk melamar pekerjaan sebagai sopir. Setelah beberapa saat, dia diperbolehkan masuk dan dihadapkan pada Sania yang sedang duduk di ruang tamu yang megah dengan wajah yang masih tampak lesu.
Sania melihat Doni dari atas ke bawah dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu. Wajah Doni yang tampan namun penuh dengan bekas penderitaan membuatnya merasa sedikit iba. “Anda ingin melamar menjadi sopir saya?” tanya Sania dengan suara yang lembut namun jelas.
Doni mengangguk dengan sopan. “Ya, Bu Sania. Nama saya Doni. Saya memiliki pengalaman sebagai sopir selama lima tahun dan saya bisa dipercaya. Saya melihat bahwa Anda membutuhkan sopir pribadi yang bisa membantu Anda dalam aktivitas sehari-hari, terutama ketika Bapak Ferdian sedang keluar kota.”
Sania terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Doni. Dia memang sangat membutuhkan sopir yang bisa dipercaya. Beberapa sopir yang pernah bekerja untuknya sebelumnya tidak bertahan lama karena merasa tidak nyaman dengan sikap Ferdian yang sering marah dan tidak mudah percaya. Selain itu, dia merasa sangat kesepian dan berharap ada orang yang bisa dia ajak berbincang dengan tenang. Wajah Doni yang tampak jujur membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
“Mengapa Anda memilih untuk bekerja sebagai sopir saya, bukan sebagai sopir suami saya?” tanya Sania dengan rasa ingin tahu yang lebih besar.
Doni menghela napas perlahan sebelum menjawab. “Saya melihat bahwa Anda sering kesulitan bergerak karena tidak ada yang bisa mengantar Anda kemana-mana ketika Bapak Ferdian tidak ada di rumah. Saya ingin membantu Anda, Bu Sania. Selain itu, saya mencari pekerjaan yang stabil dan bisa dipercaya, dan saya yakin bahwa bekerja untuk Anda adalah kesempatan yang baik bagi saya.”
Sania mengangguk perlahan. Dia merasakan bahwa ada sesuatu yang istimewa dari Doni – bukan hanya keinginan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga seolah ada tujuan lain yang membuatnya ingin berada di dekatnya. Namun dia memilih untuk tidak terlalu mendalam pada awalnya. “Baiklah, Doni. Saya akan memberikan Anda kesempatan. Anda bisa mulai bekerja besok pagi. Saya harap Anda bisa menjadi sopir yang dipercaya dan tidak akan mengecewakan saya.”
Doni merasa hatiinya berdebar kencang. Dia telah berhasil memasuki rumah tangga Ferdian. Sekarang, perjuangan yang sebenarnya baru saja dimulai – mencari kebenarannya tentang kematian orang tersayangnya dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Namun dalam hati dia, ada juga rasa tidak nyaman karena dia tahu bahwa dia sedang menyembunyikan kebenaran dari Sania, seorang wanita yang tampak lemah dan kesepian. Apakah dia akan bisa terus menyembunyikan rahasia itu? Ataukah kebenaran akan keluar dengan sendirinya dan merusak semua yang dia rencanakan?